Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 54. Aku Dewi Arway Barat


__ADS_3

Nuryin menyeringai, “Tadi aku hanya menggunakan 50 persen kekuatan ku, jika tenaga penuh ku aku takut kau akan mati seketika, tapi melihat tubuh mu bisa menahannya jadi tidak salahnya aku mencoba kekuatan penuh ku” ucap Nuryin kembali menggenggam tangannya kuat-kuat hingga menimbulkan desir angin ringan di sekeliling tubuhnya.


Juli senyum melihat keseriusan Nuryin, ‘Anak ini pasti telah berlatih dengan gigih, tapi sayang orang-orang seperti mereka lebih cepat terbunuh sehingga tidak bisa melihat perkembangan dunia selanjutnya’ batin Juli terlihat santai.


Muska melihat sikap Juli yang bahkan tidak siaga ia langsung menegurnya, “Bocah! Berusahalah menghindar, jangan kau kira hantamannya tidak akan membunuhmu, aku yakin sebelumnya kau menggunakan artefak pelindung, namun di bawah pukulannya tidak akan menyelamatkan nyawamu kali ini” Muska memperingatkan Juli.


“Apa?!”


Nuryin bergerak sangat cepat melompat tinggi berputar-putar di udara sampai tubuhnya berasap seraya meninju udara dengan teknik pengembangan sendiri, Juli terbelalak sebelumnya ia belum pernah melihat suku Padri menggunakan teknik semacam itu,


‘Wah! Ini sangat mengerikan kalau seandainya anak kurus itu memiliki palu di tangannya, maka ia bisa mengalahkan pemburu pangkat kuning dengan sangat mudah’ batin Juli sambil menunggu pukulan menghantam kearahnya.


“Putaran Palu Dewa Penghancur Udara!”


Pheeng!


Hantaman itu menimbulkan gelombang kejut yang sangat besar sehingga anak-anak suku padri harus melompat beberapa langkah ke belakang, mata mereka terbelalak mereka tidak menyangka Nuryin sehebat itu, Muska bahkan menelan ludahnya saat melihat kehebatan Nuryin.


DROOOM


Tapi sayang hantaman dahsyat Nuryin hanya mengenai udara kosong, sementara Juli hanya berdiri santai beberapa langkah dari arah belakangnya, kini Justru Nuryin yang terlihat terhuyung-huyung tidak bisa berdiri tegak karena kehabisan tenaga dalam.


Semua anak-anak yang melihatnya menjadi sangat marah terhadap Juli, ingin mencampuri pertempuran Nuryin, itu akan mencemar nama baik Nuryin sendiri dan bahkan nama baik suku Padri, membiarkan Nuryin kalah juga menjadi momok bagi mereka.


Juli menyeka keringat dingin di keningnya, ‘Anak-anak ini sungguh keras kepala’ batin Juli menggaruk-garuk kening, seandainya saja Juli bukan lagi menunggu para pembesar ia sudah pasti lari dan kabur dari tempat itu.


“Apa yang kalian lakukan di sana? Senior Muska!”


Tiba-tiba seorang anak berumur lima tahun bermata merah bertongkat ranting perlahan berjalan menghampiri anak-anak suku Padri itu, Muska berserta yang lainnya menjadi pucat seketika saat menyadari anak kecil itu menghampiri mereka.


“Nona Aira!” Mereka serentak memberi Hormat, termasuk Nuryin yang masih berdiri herhuyung-huyung, Aira melihat tanah sekitar Juli yang telah menjadi kawah kecil, Aira menganguk-anguk kepalanya tanda ia mengerti situasi.


“Apa yang kalian lakukan di sini para senior?” tanya Aira dengan tatapan serius menyapu seluruh anak-anak itu.


Muska menggaruk-garuk kepalanya mencari-cari alasan yang tepat dan masuk akal untuk menjelaskan situasi, “Anu.. Aku menduga anak ini adalah penyus…”


“Diam! Pergilah dari sini? Renungkan kesalahan kalian”


Belum habis penjelasan Muska, Aira telah memotong pembicaraannya hal itu sering dilakukan oleh Aira untuk menjaga salah bicara sukunya, Aira pada dasarnya sangat lembut namun kali ini Aira berlaku keras pasti ada alasan kuat di dalamnya sehingga Muska, Nuryin dan lainnya segera pergi dari sana tidak berani memperpanjang urusan.


Juli senyum, “Ah! Aira trimakasih ya” ucap Juli senang dengan kemunculan Aira tepat waktu, hal itu bukan tidak beralasan, Juli sangat takut karena sedikit saja hawa pembunuhnya keluar itu akan berakibat fatal bagi anak-anak.


Aira bertekuk lutut memberi hormatnya, “Guru! Maafkan anak anak tadi, mareka masih terlalu muda dan tidak mengerti apa-apa” suara Aira terdengar lembut.


Juli terkekek senyum senang, Juli mengenang kehidupan sebelumnya beberapa ratus tahun lalu, “Muridku bangkit lah! Aku sangat bangga memiliki murid seperti mu, sini.. sini.. aku ada kitab untuk mu, kitab ini sangat berguna untuk mu” ucap Juli segera mengeluarkan sebuah kitab dari dalam cincing ruang dan disodorkan pada Aira dengan perasaan bangga.

__ADS_1


“Rahasia Pukulan Para Dewa”


“Eh! Guru?” Aira terkejut dengan kitab tingkat Dewa yang didapatkannya perlahan Aira membuka kitab melihat isinya, Aira semakin tercengang begitu menyadari kitab itu ditulis dengan menggunakan darah misterius.


“Guru! Apa ini ditulis menggunakan tinta darah, tapi ini tidak bau sama sekali” Aira mencoba mencium kitab pemberian Juli.


Juli senyum menggaruk-garukan kepalanya, “Kau hanya perlu mempelajarinya setelah semua kamu kuasai maka teteskan lah darahmu pada tulisan kitab itu, selesai” Jelas Juli senyum ringan.


“Ah! Baiklah guru! Murid akan mematuhi” Aira segera menyimpan kitab itu dibalik jubahnya.


**


Di depan mulut gua para pembesar baru berkumpul atas perintah Juli, mereka terlihat duduk melingkar di atas puing-puing batu secara sederhana, Juli berada ditengah-tengah memimpin rapat, Juli memang anak kecil yang bahkan tidak setinggi paha suku Padri yang tingginya rata-rata mencapai dua tiga meter.


“Senior sekalian, kali ini aku mengundang kalian kemari, tepatnya ada bayak hal yang mau ku bicarakan dengan kalian, ini semua berkaitan dengan lembah ini” Juli membuka pembicaraan yang dapat didengar oleh mereka dengan jelas.


Irawan terlihat penasaran terhadap rencana Juli, sebenarnya irawan juga memiliki keinginan tersendiri terhadap tanah kelahirannya,


“Tuan Juli! Pertama aku ucapkan terimakasih ku padamu karena telah menyelamatkan keluarga ku, namun terlepas dari itu semua, saya sendiri memiliki rencana dan cita-cita tersendiri terhadap lembah ini, dan itu telah kami rancang jauh sebelum tuan Juli memanggil kami kemari” Jelas Irawan dengan santun.


Juli senyum, “Senior Irawan katakan lah! Aku ingin mendengarnya” Juli menyanyakan langsung pada irawan.


Semua para pahlawan saling pandang, mereka terlihat sedang memutuskan sesuatu, kemudian Bima menganguk memberi persetujuan pada Irawan untuk meneruskan pembicaraannya,


“Begini, Tuan Juli, kami terlalu lama ditindas, dibunuh, sehingga kami hanya memiliki sepuluh orang Pemburu sementara kebutuhan Kristal Siluman sangat banyak, sebenarnya kami tidak bermimpi bisa membasmi Boris di tanah kelahiran kami, kami telah berjuang bertahun-tahun namun kami gagal, karena kekuatan sesungguhnya bukanlah kekuatan Boris yang mengancam kami tapi pihak kerajaan barat lah di balik semua ini, boris hanya dijadikan sebagai alat oleh mereka” jelas Irawan dengan nada sedih.


Juli mengerti maksud Irawan dan pahlawan lainnya, mereka ingin mengangkat Juli menjadi raja di Lembah Iblis,


Juli senyum, “Dengarkan! Jika kalian menginginkan ku jadi raja, jelas-jelas aku menolak, karena aku tidak mau repot-repot mengurus sebuah kerajaan, namun aku berjanji akan melindungi kalian semampuku” ucap Juli dengan nada serius.


Mendengar pernyataan Juli sontak semua suku Padri bertekuk lutut didepannya, hingga Juli kaget dan kebingungan melihat sikap mereka.


“Kuharap senior jangan memelas padaku, ini sudah keputusan ku” Juli tahu betul bagaimana menjadi seorang Raja atau Wali kota, dan itu sungguh sangat merepotkan baginya.


Kali ini Aira bangkit berdiri menghampiri Juli dengan wajah tak menentu, “Guru! Perkataan guru sebelumnya telah diramalkan oleh mendiang ibu ku, dan itu sudah sangat jelas” ucap Aira seraya mengambil sehelai kain yang ditulis dengan darah seorang Ahlul Nujum tingkah tinggi.


Juli bisa melihat kain sakral itu, setidaknya itu sebuah sumpah bersama yang telah disiapkan oleh seorang peramal hebat, Aira perlahan membuka kain itu dan membacanya dengan perlahan.


Aku Dewi Arway Barat,


Aku melihat bumi terbakar..


Pembantaian umat manusia terjadi


Raja-raja akan membunuh rakyatnya sendiri

__ADS_1


Kerajaan siluman akan bangkit kembali..


Aray-aray dihancurkan..


Kalian akan dibinasakan..


Tangisan bayi dan orang tua tiada yang dengar..


Umat manusia berada dalam lembah putus asa..


Tiada kekuatan yang kalian miliki..


Selain menunggu kematian..


Di saat bulan purnama muncul tahun bakda..


Saat jejok-jejok surgawi akan bernyanyi kembali..


Setelah ratusan tahun mereka membisu…


Saat itulah harapan kalian datang…


Rupanya tidak kau sangka..


Penampilannya tidak kau duga..


Terlihat kecil mungil yang bisa menipu mata..


Jika kalian Anak ku si Dewi Arway Barat,


Maka hormatilah dirinya,


Seorang wali jangan kau rendahkan..


Karena dia tidak mau kalian kekang…


Seorang wali harus kalian hargai..


Walaupun dia tidak mintanya..


Setelah habis membaca puisi Aira langsung menubuk memeluk Juli sampai ia kaget, “Guru! Tolonglah kami.. hik.. hik.. Begitu banyak suku Padri di bunuh kini hanya tinggal beberapa ribu orang saja, kami benar-benar tidak bisa bertahan, kalau guru tidak membantu maka suku Padri akan tinggal kenangan” tangis anak lima tahun itu memeluk Juli seakan tidak mau dilepaskan lagi.


Juli membelai rambutnya dengan kasih sayang, “Ah! murid ku, kenapa pula aku tidak mau membantu kalian..” ucap Juli pelan menyeka air matanya yang tiba-tiba keluar.


"Ah! Guru kau cengeng!"

__ADS_1


"Eh! Enak saja!"


**


__ADS_2