
Sore hari di Desa Rangkong banyak anak-anak dan orang tua terlihat bahagia, mereka sangat bersyukur bisa mendapatkan Kristal Siluman dalam jumlah banyak mereka bahkan tidak pernah membayangkan kejayaan seperti ini sebelumnya.
Pangeran kedua dan Jendral duduk beristirahat di dalam rumah kepala desa sambil berbincang-bincang, mereka di jamu dengan teh dan makanan seadanya.
Sementara Juli memilih mengurungkan diri di dalam salah satu kamar tamu kepala desa guna meningkatkan budidaya tubuhnya, kamar ini disediakan untuk dia dan Hana karena menurut informasi dari Yome mereka adalah sepasang suami istri.
Hana memilih jalan-jalan menghirup udara segar sambil melihat pemandangan desa Rangkong yang kumuh. walaupun begitu bukan berarti tidak ada tempat yang indah di daerah ini, tidak jauh dari rumah kepala desa terdapat sebuah bukit tinggi yang sering digunakan para remaja untuk menikmati panorama alam dari atas sana.
Hana semula mengajak Juli untuk jalan-jalan ke puncak bukit ini, namun Juli memiliki banyak tugas yang harus diselesaikan, selain itu ia pun harus meningkatkan budidaya tubuhnya yang selama ini sempat terhambat.
Di atas puncak bukit Hana duduk di sebuah batu yang biasanya juga digunakan sebagai tempat duduk oleh orang yang mengunjungi tempat ini.
‘Hm.. Tempat ini sangat menarik, sebelumnya aku pernah kemari sekali, tempat ini sampai sekarang tidak berubah masih saja seperti sebelumnya, hanya saja wilayah ini jorok dan kumuh kerena masyarakatnya tidak menjaga kebersihan lingkungan' batin Hana menggeleng-gelengkan kepalanya.
Jauh di barat, singa menggaung...
Hingga terdengar jauh ke timur...
Jauh sangat pikiran termenung...
Tapi jiwa dan raga tetap terhubung...
Tiba-tiba terdengar syair seorang remaja berusia 12 tahun, pakaiannya terlihat rapi dan bersih, senyumnya sangat manis, sepasang golok besar menyelip silang di punggungnya.
“Adik cantik rupawan, sungguh kecantikan mu tiada duanya, langit malam akan terasa siang dengan kemunculan dirimu sayang, wahai adik cantik tersayang bolehkah kau aku pinang” kata-kata pujian rayuan remaja tanggung itu membuat Hana merinding.
Hana senyum geli, “Ah, Ada orang rupanya, sejak kapan kau bersembunyi di sana?” tanya Hana penasaran karena ia tidak bisa merasakan keberadaannya.
Remaja itu tersentak kaget, “Eh! Eh.. Eh! Eh! Eh… Adik manis jangan salah, aku ini si Jecki, Aku ini remaja pendekar, lihatlah pangkat ku, sudah satu putih, di rimba raya ini aku tersohor dengan julukan Remaja Golok Ganda, dan pastinya aku belum memiliki istri, karena aku pemilih sih, tapi untuk nona tersayang aku siap melamar mu kapan saja dirimu siap” Jecki terlihat sangat percaya diri dan ia langsung duduk di atas batu samping Hana dan melebarkan kakinya.
Hana sedikit kaget, ia tahu memang anak-anak di tempat ini agak aneh di matanya, “Eh! Jecki, kau ini aneh begitu datang berpantun pantun kau mencoba merayu ku ya? Apa kau sudah makan?” tanya Hana cepat sembari meliriknya sekilas.
“Iya! Buah siku buah singkong.. kok situ bisa tau dong!” jawab Jecki dengan semangat dalam pantun singkatnya.
Hana memijat keningnya, 'Parah nie bocah' batin Hana,
“Hey Jecki, aku ingin tahu berapa banyak anak-anak yang telah diculik oleh Walikota Rulang? Apa kau tahu apa yang dilakukan oleh Walikota Rulang terhadap anak-anak” Hana menatap Jecki dengan tatapan serius.
__ADS_1
Jecki menjadi merona wajahnya, “Ah! Demi Dewi aku akan menceritakan semuanya, Walikota Rulang sebenarnya adalah penganut ilmu siluman, namun anak-anak yang diambil Rulang bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk budidaya tubuh terlarang Pangeran Mahkota Kerajaan Embun, sementara Rulang merupakan satu-satunya walikota yang dapat dipercayakan dalam masalah ini, kami telah menyelidikinya, setiap seminggu sekali Pangeran Mahkota akan datang kemari untuk menyerap inti murni anak-anak perempuan untuk meningkatkan budidaya tubuhnya, dan itu sangat rahasia” Jecki memberikan informasi sesuai dengan hasil yang diperolehnya.
Hana kaget, 'Ah! Benar saja dia ini bagaikan seorang siluman aura keberadaannya bahkan tidak terdeteksi oleh ku, anak ini bukanlah orang sembarangan, pastinya orang seperti ini sangat mudah dalam mengumpulkan informasi' batin Hana mengelus dagunya.
“Kamu sangat pandai menyembunyikan aura keberadaan mu, bagaimana caramu melakukannya? Apa kau memiliki semacam artefak?” tanya Hana ingin tahu, sebenarnya tidak diberitahu pun ia tidak merasa tersinggung karena itu rahasia kemampuan seseorang.
Jecki mengambil sesuatu dari balik bajunya dan perlahan memperlihatkan pada Hana, “Lihatlah kunang-kunang ini, kunang-kunang ini bisa mendatangkan keajaiban, aku menempatkannya di dada ku, dan aku berkata lindungi lah aku dari musuh yang ku intai, maka sebuah pola misterius muncul di tubuhku dan melindungi ku dari musuh, sebenarnya ini juga rahasia” Jelas Jecki setengah berbisik pada Hana.
Hana kaget mendengar penjelasan Jecki, “Kau! Kau tidak boleh menangkap Kunang-Kunang Surgawi ini, ini.. ini.. dapat menyengat mu” Hana tidak bisa mengatakan kalau itu bagian dari tubuh Juli, namun dia juga tidak rela kunang-kunang itu dimanfaatkan apalagi jika disakiti.
Disisi lain dia baru sadar kalau kunang-kunang itu bisa sangat bermanfaat, sebenarnya Hana benar-benar tidak mengetahui sejauh mana kemampuan kunang-kunang Juli sebenarnya.
Jecki tersenyum bangga, “Kunang-kunang ini tidak akan menyengatmu selama kau berbuat seperti yang di perintahkannya, jika kau menolak dia benar-benar menyengatmu, hahaha” galak tawa Jecky yang membuat Hana melebarkan matanya.
“Apa kau bilang? Kunang-Kunang ini Bisa bicara? Bagaimana?” Hana benar-benar penasaran ia ingin tahu caranya, sebenarnya Hana sendiri memiliki satu kunang-kunang emas yang di simpan dibalik bajunya.
“Perhatikan ini?”
Jacki mengelus punggung kunang-kunang surgawi, sambil bertanya, “Kunang-kunang! Aku menemukan seorang Dewi! Apa yang harus kulakukan?” tanya Jecki dengan perasaan bahagia menunjukkan kemampuan terbaiknya.
“Hahaha, Bocah teengik! Berani-beraninya kau merayu Putri Rihana, untung saja dia tidak mematahkan lehermu, kau bagaikan kodok yang ingin memangsa merak, lagi pula dia.. sudah.. sudahlah! Hana kau kembali untuk latihan, nanti malam kita ada tugas, Bocah teengik! Siapkan pasukan pengintai kalian nanti malam Putri Rihana akan memimpin penyerangan”
“Ah! Nona manis kurasa kunang-kunang ini sedang ngaur, mungkin karena tidak kuberi makan beberapa hari, maaf! Maaf! Hey kunang kunang jaga bicara mu di depan tuan mu ini” ancam Jecki gaya gayaan.
Srizzz Sriizzzz
“Aaaakkkhh! Ampun! Ampun aku hanya bercanda, siap bos! Siap! Oh, Putri tercantik di dunia izinkan aku pamit du…”
Srizzz Sriizzzz
“Iya! Iya bos.. belum juga aku pa.. iya…”
Kunang-Kunang Surgawi langsung menyengatnya tanpa ampun sengat itu hanya sengatan peringatan saja, sengatan yang sebenarnya dapat membunuh dua ekor gajah sekaligus. Dengan perasaan malu di hadapan Hana sembari mangut mangut Jecki segera meninggalkan tempat itu, ia memang tidak berdaya di depan Kunang-Kunang Surgawi mematikan itu.
Hana tertawaan kikikkan melihat kunang-kunang surgawi menyengat Jecki tanpa ampun, entah kenapa perasaan Hana menjadi senang karenanya.
Kini Hana terlihat penasaran dengan kejadian tadi, perlahan ia mengeluarkan kunang-kunang surgawi dari balik bajunya, jantungnya berdebar kencang karena kunang-kunang surgawi itu tidak pernah lekang dari tubuhnya,
__ADS_1
“Kunang-kunang apa…”
“Hana kemarilah! Ada yang ingin kubicarakan”
“Senior! Apa senior bisa melihat dengan kunang-kunang ini?”
“Hana coba kau lihat apa kunang-kunang ini bermata?”
Hana mencoba memperhatikan, “Bukankan ini matanya?” Hana menunjuk pada mata majemuk kunang-kunang surgawi.
“Hana kau pikir mata ini hanya untuk hiasan saja? Sudah kemari saja”
Hana terdiam matanya terbuka lebar melihat kunang-kunang di telapak tangannya, ia benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa,
“Kunang-kunang katakan padaku sekarang apa yang harus ku lakukan padamu? Huh!” tanya Hana jengkel kemudian ia menyimpan kembali kebalik bajunya.
“Baiklah aku harus bergegas mungkin ada sesuatu yang direncanakan” Hana segera beranjak dari tempat duduknya dan melompat tinggi melayang ke udara.
**
Dalam kamar Juli duduk bersila ia telah menyerap banyak Kristal Hijau level tiga dan level 4 budidaya tubuhnya telah berhasil menerobos ketahap tiga batu. Tubuhnya kini lebih keras dari Pusaka Langit Bumi, ia ingin meneruskan penyerapan batu hijau, tapi ketukan pintu kamar memecah kosentrasinya.
“Masuklah!”
Perlahan pintu di buka, Hana memasuki kamar dan menutup pintu kembali, pandangan Hana tertuju pada Juli yang sedang meningkatkan budidaya tubuhnya.
“Senior! Apa kau benar-benar menyuruhku pulang?” Tanya Hana penasaran karena dia bisa melihat Juli baru saja selesai menyerap kristal hijau.
Juli senyum, “Duduklah Hana, benar saya yang menyuruhmu untuk kembali karena ada hal yang sedang saya rencanakan” Juli mengeluarkan kristal Hijau level tinggi dari dalam cincin ruangnya.
“Apa rencanamu senior! Apa kau ingin menyerang Walikota Rulang!” Tebak Hana.
Juli hanya senyum dia bangkit dari duduk menghampiri Hana dan meraih tangan Hana dan meletakkan Kristal Hijau ditangannya.
“Bukan aku! Tapi dirimu Hana yang akan membasmi mereka semua, sementara aku sedikit ada bisnis dengan Putra Mahkota, karena bagaimanapun Putra Mahkota adalah sepupu Pangeran Ke-dua, dan kamu tidak bisa membunuhnya secara langsung karena bisa memacu peperangan antar kekaisaran, sekarang tugasmu adalah meningkatkan budidaya tubuh di sini dan aku akan membicarakan ini dengan Pangeran ke-dua”
“Tapi senior!”
__ADS_1
“Hana! Kekuatanmu belum cukup untuk menghadapi Rulang! Dan kau perlu meningkatkan budidaya tubuhmu sebelumnya” Jelas Juli sembari melangkah keluar dari ruangan.
**