Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 136. Juli Vs Jendral Ramba


__ADS_3

Lima buah kapal besar perompak mendekati kapal pembawa penumpang, mereka jelas dari Aliansi Sungai Darah, aliansi perampok ini telah lama beroperasi di daerah semenanjung paus, tidak ada aliran putih atau hitam yang berani ikut campur dalam urusan mereka. Oleh karenanya banyak sekali korban-korban di pihak masyarakat, apalagi mereka memiliki banyak ahli tingkat emas dan berlian, dan bisa dikatakan bahwa Aliansi Sungai Darah adalah aliansi terbesar di lautan Bumi Barat.


Mereka tidak seperti perompak lain, mereka memiliki kekuatan armada yang besar, sehingga siapa pun yang menjadi target mereka itu tidak pernah lolos, biarpun itu berasal dari sekte besar.


Lima kapal mulai merapat, kelima kapal ini jika digabungkan akan memiliki jumlah pasukan lebih dari 500 orang yang dipimpin oleh Ramba si tinju besi.


Ramba bertubuh tinggi besar berpangkat berlian, ia tidak menggunakan senjata apa pun, tapi pukulan tinjunya dapat menghancurkan karang besar dengan mudah.


Ramba bisa mengamati puluhan orang berdiri di atas geladak kapal, puluhan orang itu rata-rata berpangkat putih dan sebagian kecil berpangkat kuning. Bagi Ramba untuk mengalahkan manusia tingkat ini bahkan Ia tidak berpikir untuk menggunakan pasukannya.


“Sekelompok manusia lemah! Kalian semua yang ada dalam kapal! Segera menyerah baik-baik! Atau kalian semua akan kami bunuh!”


Ramba memperingati belasan pasukan yang siap untuk menyerang, akan tetapi puluhan orang telah siap untuk mati, mereka segera mencabut pedang sebagai balasan atas tawaran itu.


Ramba menoleh ke arah anak buahnya, “Kalian semua jangan ikut campur, kalau aku minta kalian untuk turun tangan baru kalian bergerak, jika tidak, kalian tetap lah di sini dan nonton aku bersenang-senang dengan mereka! Apa kalian dengar!?” Ramba membentak anak buahnya.


“Siap jenderal!” anak buahnya menjawab serentak, mereka tahu kalau Ramba lebih senang bertarung seorang diri apalagi menghadapi manusia-manusia lemah dari pangkat emas ke bawah.


Ramba segera melompat ke atas kapal penumpang, tidak ada yang berani menghadapinya secara langsung, puluhan orang bahkan melompat mundur beberapa langkah dari tempatnya mendarat.


“Kurasa untuk mengalahkan kalian aku tidak harus menggunakan pasukanku, kalau kalian mampu hadapi aku saja! Hahaha!”


Ramba tertawa dengan sombong, ia sadar dengan kekuatannya saat ini, sudah lebih dari 30 tahun ia belum pernah kalah dari para pendekar mana pun di bumi Barat.


Puluhan pasukan mulai berkeringat dingin, mereka sadar kalau tubuh Ramba lebih keras daripada senjata yang mereka gunakan. Satu-satunya cara ialah dengan cara mengeroyok.


“Ayo jangan takut! Mari kita serang dia bersama-sama!” Teriak pendekar muda yang berumur 20-an tahun yang bertindak sebagai pemimpin.


Pendekar ini bernama Arga dari Sekte Elang Merah dari Kota Pelabuhan Permata. Walaupun tingkatan rendah tapi jika berkaitan dengan semangat dia patut diacungkan jempol.


“Baik! Berhati-hatilah!”


Puluhan orang menggempur Ramba habis-habisan, Ramba menggunakan tangan untuk mematahkan semua pedang yang mengarah padanya. Gerakan Ramba sangat cepat dalam beberapa detik saja beberapa orang telah dirobohkan dengan tinjunya.


“Hah! Hanya segini saja kekuatan kalian sungguh menyedihkan,”


Ramba terus menerjang maju menendang beberapa orang lain hingga terpental jauh menubruk dinding rumah kapal.


“Kurang ajar kalian perompak! Kuhabisi kau!”


Arga menjadi sangat murka, dia memutarkan pedangnya menggunakan jurus terbaik untuk menghentikan tinju Ramba.


“Teknik Rajawali Merah!”


Arga menyerang leher Ramba dengan cepat. Pedang Arga disambut dengan tangan kosong bersamaan dengan sebuah tendangan dilayangkan di perut Arga hingga terpental beberapa meter dan jatuh mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


“Aku tidak berpikir puluhan orang dapat dikalahkan dengan mudah oleh perompak ini!” Arga memegang perut merasakan kesakitan yang luar biasa.


Tekad Arga sangat kuat, ia mencoba bangkit berdiri akan tetapi ia terjatuh kembali dalam posisi duduk, kekuatannya saat ini bahkan tidak sanggup menumpang tubuh.


Tiba-tiba sebuah tangan kecil menepuk pundak Arga dengan lembut, “Pendekar Rajawali Merah! Kini saatnya senior untuk mundur sebentar, biar aku melihat seberapa kuat Ramba si Tinju Besi”.


Arga menoleh ke arah sumber suara, ternyata anak kecil yang beberapa saat lalu dia suruh bersembunyi. Mata anak kecil itu terlihat bercahaya seolah dia mendapatkan mainan baru.


Arga cepat meraih tangan kecil yang barusan menepuk pundaknya tapi tidak berhasil, karena pergerakan tangan anak itu agak cepat, dan sulit bagi Arga untuk mengejarnya dengan kondisi saat ini.

__ADS_1


“Bocah! Cepatlah kau pergi, ini bukan permainan anak-anak! Kenapa kau tidak bersembunyi!” Arga kembali dilema saat melihat anak itu terus berjalan mendekati Ramba.


Anak itu kini berhadapan langsung dengan Ramba, semua mata tertuju kepada mereka berdua, sejenak semuanya hening mencerna situasi, sebelum tawa lantang dari pasukan Aliansi Sungai Darah, sebagian orang menundukkan kepalanya karena sedih dan putus asa.


“Hahaha, lihatlah bocah itu! Dia pikir di dunia ini cukup hanya dengan berani, kalau tidak memiliki kekuatan keberanian itu hanya bertahan untuk beberapa saat saja, hahaha!”


“Di dunia yang kacau balau ini! Semua orang ingin memperlihatkan taringnya, tapi tahukah kalian kalau anak ini bertindak karena putus asa! Lihatlah senyum pasi di wajahnya itu mengatakan dia sedang takut!”


“Yang aku heran! Bukan itu, sepertinya ia mencoba mengulurkan waktu, hahaha!”


“Tidak ada tempat untuk lari, kapal ini sudah dikepung!”


Ratusan komentar senada terdengar di lima kapal perompak, hanya puluhan orang yang terjatuh lemah di atas geladak merasa kasihan terhadap bocah itu.


“Nak larilah! Dia itu tidak mengenal ampun!”


Arga mencoba bangkit berdiri, memegang perut yang terasa sakit luar biasa, “Ramba! lepaskan anak-anak! Urusan kalian dengan kami! Majulah!” Arga menegakkan tubuh bertongkatkan pedang.


Anak kecil ini seakan tidak peduli dengan kondisi sekitarnya, tatapan mata tajam. “Ramba! Apa kau masih bisa meninju? Tinju lah aku!” Anak ini perkata senyum sembari menggaruk-garuk kepalanya.


Hahahaha


Sontak semua pasukan Aliansi Sungai Darah tertawa, mereka benar-benar tidak menduga di dunia ini masih ada anak sebodoh dirinya. Ramba sendiri menggaruk-garukkan kepalanya.


“Bocah! Tidakkah kau lihat puluhan orang yang mencoba melawanku sebelumnya, mereka sudah tergeletak dengan kondisi tubuh yang sangat mengenaskan, Apa kau juga ingin seperti mereka?” Ramba menunjuk ke arah puluhan orang yang terletak di atas lantai geladak kapal.


Anak ini senyum sinis, “Coba kau lakukan kalau kau mampu? Hahaha!” Anak kecil ini tertawa menatap langit seolah tidak ada yang mendengar.


“Baiklah bocah! Bagaimana jika aku sentil saja kepala kau!” Ramba bergerak secepat kilat dan tiba-tiba sudah ada di hadapan Juli, ia langsung menyentil jidat anak itu dengan cepat.


Ting!


“Ada apa ini? Apa tadi suara lonceng!”


“Saya tidak tahu! Sepertinya tadi Ramba menyerang anak itu.”


“Itu tidak mungkin, kekuatan Ramba bahkan dapat menghancurkan batu karang sekalipun, ia juga bisa meremas pedang baja hingga berkeping-keping, tidak mungkin dia gagal dalam pukulannya”.


Beberapa pasukan Aliansi Sungai Darah mulai mengomentari, mereka tidak dapat melihat jelas jadi mereka ingin melihat tindakan Ramba selanjutnya.


Di antara semua orang yang paling merasakan keanehan terhadap anak itu ialah Ramba. ‘Anak ini memiliki tempurung kepala yang keras, Bagaimana kalau aku menambah sedikit kekuatan pada sentilanku!’ batin Ramba kembali menyentil.


Ting! Ting! Ting!


Ramba terus menyentil dengan kecepatan tinggi sampai terdengar suara nyaring mengisi udara, semua orang kini mulai menyadari bahwa Ramba mencoba menyerang dengan kecepatan tinggi, namun anak kecil itu tetap saja tidak bergeming.


“Mana tinjumu! Apa kau Si Ramba Sentil-sentil!” anak itu mengejek Ramba hingga membuat semua orang terkejut bukan main.


Semua orang kini mulai menyadari, anak itu bisa menahan serangan hamba dengan baik walaupun hanya dengan sentilan, bagi mereka yang mengetahui kekuatan sentilan Ramba mereka semua mengurutkan kening, karena sentilan itu dapat membunuh orang tingkat perak sekalipun, bahkan beberapa baja dapat dihancurkan dengan mudah, tapi kali ini ceritanya berbeda.


Anak kecil itu hanya mengeluarkan kepulan asap di dahinya menandakan dua logam sedang beradu keras. Arga sendiri menatapnya dengan wajah bingung bercampur kaget, ia tidak menyangka anak yang ingin ditolongnya memiliki tengkorak sekeras baja.


‘Bagaimana anak ini bisa sekuat itu? Apa yang dia makan?’batin Arga kebingungan.


Ramba menjadi sangat marah ia mengepalkan tinjunya kuat-kuat, amarahnya semakin memuncak.

__ADS_1


“Bocah! Sekarang rasakanlah!” Ramba meninju kepala anak kecil ini dengan tenaga penuh, hawa pembunuh Ramba tidak bisa dibendung hingga menekan siapa pun yang ada di sekitarnya.


Dalam keadaan tertekan semua orang tetap memperhatikan tinju Ramba yang memiliki daya hancur yang sangat mengerikan.


Drooom!


Asap hitam mengepul ke udara menyamarkan pandangan semua orang sehingga tidak seorang pun dapat melihat kejadian yang sebenarnya. Perlahan asap pun mulai menipis semua orang berharap cemas dengan hasil pertarungan itu.


Arga meremas kepalanya karena menyesal, karena dia tidak mampu berbuat banyak terhadap anak yang barusan dilihatnya.


‘Bocah kecil! Kau benar-benar sangat berani, namun tanpa kekuatan kita akan mati seperti ini!” Arga merapatkan gigi geram, rasa putus asa kembali menghantuinya.


“Lihatlah!”


Semua orang menunjuk ke arah kepulan asap hitam yang perlahan mulai menipis, dua sosok mulai terlihat oleh semua orang, kini Anak kecil itu berdiri dalam posisi meninju dengan tinju kecilnya menembus perut Ramba yang kini terlihat sangat menyedihkan. Darah hitam keluar dari mulut Ramba, matanya telah hitam pekat namun dia tidak bisa bergerak hanya bisa merintih kesakitan.


“Apa yang terjadi?”


“Bagaimana bisa?”


“Bukan kah tadi Ramba yang menyerang? Kenapa dia justru mengalami hal yang mengerikan seperti itu?”


Semua mata terbelalak, tidak ada senyum tawa yang terdengar dari mereka, wajah pasukan Aliansi Sungai Darah menjadi pucat, mereka tidak mengira salah satu Jenderal mereka akan mengalami kekalahan telak hari ini, yang lebih mengherankan justru ia kalah di tangan anak-anak.


“Bagaimana? Bagaimana ini bisa terjadi? Bocah siapa kau sebenarnya?” dalam menahan rasa sakit Ramba mencoba untuk bertanya.


Anak itu menarik lengannya dari perut Ramba hingga menyisakan lubang besar yang menembus punggungnya.


“Yah! Orang-orang biasa memanggilku Juli! Ya begitulah mereka memanggilku, namun untuk manusia rendah sepertimu, biasanya kalian memanggilku dengan sebutan Dewa Agung! Hahaha!” anak kecil itu tertawa lantang membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi merinding.


Semua orang kini mulai menebak-nebak identitas Juli yang sebenarnya, bahkan sebagian orang telah familiar dengan nama Juli tersebut, apalagi bagi mereka yang tinggal di Kota Pelabuhan Permata.


“Wali Juli!”


“Benar! Dia Wali Agung dari Lembah Teratai Langit!”


Begitu mendengar nama itu disebutkan, puluhan orang mulai bangkit berdiri dengan semangat yang membara, mereka tidak menghiraukan rasa sakit yang diderita sebelumnya, seolah mereka memiliki kekuatan baru yang lebih dahsyat.


“Hidup Wali Agung!”


“Hidup Wali Agung!”


“Hidup Wali Agung!”


Semua orang bersorak lantang membakar semangat juang mereka kembali, teriakan ini pada dasarnya bukan hanya membakar semangat akan tetapi juga mematahkan semangat bagi musuh-musuhnya.


“Gawat! Kenapa bisa Wali Agung dari Lembah teratai langit ada di sini, aku pernah mendengar rumor kalau dia sangat kuat!”


“Iya! Tapi aku tidak menduga bahkan Ramba sendiri tidak berdaya di hadapannya, tapi untunglah kita memiliki lawan yang sepadan untuknya kali ini, mudah-mudahan Ramba masih bisa diselamatkan”.


Tiba-tiba langit menjadi gelap, aura pembunuh mengintimidasi seluruh kapal penumpang, beberapa pendekar biasa kini kembali jatuh tidak sadarkan diri, Aura pembunuh tingkat ini bukan sesuatu yang bisa mereka atasi.


Arga sendiri merasakan seolah berton-ton batu di timpa pada pundaknya,


“Gawat sosok kuat lainnya telah muncul, kurasa ini bukan lagi pertarungan tingkat manusia biasa!” Gumam Arga mempertahankan kesadarannya.

__ADS_1


**


__ADS_2