Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 41. Juli vs Hantu Muka Putih dan Mado


__ADS_3

Juli berjalan perlahan mendekati Hantu Muka Putih yang terlihat senyum dingin,


“Apa Kamu yang bernama Hantu Muka Putih?” Tanya Juli seraya menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah belakang menatap Mado yang masih berdiri tegap,


“Hm.. dan kau Mado Kanibal! Bukan kah kalian kemari ingin memakan daging-daging si pengganggu seperti ku? Kalau begitu kenapa kalian berdua tidak maju sekaligus untuk melawan ku?” Juli senyum gembira seperti sorot mata singa melihat dua kelinci imut.


“Hahaha” Tawa Mado penuh gairah lidah panjangnya terus dijulurkan liar, “Bocah! Daging mu sungguh enak, otakmu sungguh sedap apalagi di campur dengan darah mu, aku tidak terkejut seseorang mengenal nama ku tapi yang mengejutkan mereka bahkan berani sombong di depan ku, dasar! Bocah yang gurih” ucapnya dengan tatapan sangat dingin.


Hantu Muka Putih menutup mulutnya dengan kipas, perlahan ia berjalan mendekati Juli dengan niat pembunuh yang tinggi, kali ini Hantu Muka Putih mengabaikan Hana yang masih berdiri terpaku kebingungan,


“Hahaha, Bocah gembel yang menarik, kau berani sekali menantang kami berdua sekaligus, aku mau lihat apakah kau layak untuk itu? hehehe, tapi tenang lah, itu akan ku anggap kayak jika kau bisa menghindar dari serangan ku, huh! Ingat! Kalau kau harus berhasil menghindar maka akan ku pertimbangkan perkataan mu tadi” Hantu Muka Putih senyum dingin menyembunyikan kemarahannya yang tidak bisa dibendung terhadap perkataan Juli yang dianggap sebuah penghinaan besar terhadap dirinya.


Juli senyum gembira, “Hehehe, Apa Hantu Muka Putih telah kehilangan akal sehat hingga hanya ngoceh saja dan tidak berani maju, maju lah nak” Juli memanggilnya dengan isyarat menggerak-gerakkan jari telunjuknya.


"Apa yang dipikirkan senior?" Hana kembali berkeringat dingin saat melihat Juli mempermainkan dua pendekar tingkat perunggu di hadapannya,


‘Aku sudah tidak bisa apa-apa lagi aku hanya berharap senior bisa mengatasinya, karena keadaan sangat rumit dan menegangkan’ batin Hana seraya melompat mundur beberapa langkah ke belakang dengan perasaan tidak menentu.


"Apa kau bilang bocah!" Hantu wajah putih sangat murka tatapan mata dingin, ia melesat cepat mengarahkan ujung kipas ke jantung Juli dalam jarak sepuluh meter, teknik gerakan cepat ini hampir tidak pernah bisa dipatahkan, karena gerakan cepat itu mengandung tenaga dalam yang tinggi serta dipadukan dengan aura pembunuh kuat yang berfungsi untuk menekan pergerakan lawan.


“Serangan Kipas Maut! Gerakan Maut Dua Puluh Langkah!”


Juli senyum melihat gerakan cepat itu, “Gerakan maut dua puluh langkah ya?” gumam Juli saat merasakan aura pembunuh benar menekannya diiringi serangan cepat kipas ke jantungnya, Juli bukannya mengelak tapi ia justru menangkap tangan Hantu Muka Putih dengan kecepatan sepuluh kali lipat dari kecepatan si Hantu, lalu secepat kilat Juli kembali melemparkan Hantu Muka Putih kearah Mado dengan kecepatan sepuluh kali lipat dari kecepatan sebelumnya.


“Oh tidak…!!” Hantu Wajah Putih melesat secepat kilat mengarah pada Mado yang masih berdiri terpaku se jarak tiga puluh langkah jauhnya, Mado terkenal lambat dalam gerakan ia tidak mungkin menghindar dengan kecepatan setinggi itu dalam keadaan terdesak Mado terpaksa mengandalkan keahlian satu satunya yaitu Tubuh Berlian.


“Pertahanan Tubuh Berlian!”


Mado membusungkan dada sampai perut kempes mencoba menahan benturan yang datang, namun diluar perkiraan Mado, kepala Hantu Muka Putih malah menabrak kepalanya dengan dahsyat sehingga keduanya terpental sejauh seratus meter dengan keadaan mengenaskan, Mado beruntung memiliki kepala berlian, jadi kondisinya tidak separah Hantu Muka Putih yang kini retak kepalanya akibat benturan dahsyat tadi,


“Sialan! Hantu sialan!” teriak Mado marah, perlahan Mado bangkit berdiri wajahnya bringas dengan terhuyung-huyung ia menghampiri tubuh Hantu Muka putih yang terkulai lemas,

__ADS_1


“Pergilah ke neraka sialan!!” Teriak Mado seraya menendang tubuh Hantu Muka putih dengan dahsyat kearah Juli kembali.


Tubuh Hantu Muka Putih kembali meluncur cepat kearah Juli walaupun tidak secepat sebelumnya tapi cukup untuk membuat tubuh Hantu Muka Putih mendarat dihadapan Juli.


Juli jongkok di depan wajah Hantu Muka Putih yang terlihat sangat mengenaskan, Juli mengeluarkan sebotol cairan Kutukan Budak Darah dalam cincin ruangnya lalu dimasukkan botol itu kedalam kerongkongannya dengan paksa hingga Hantu Wajah Putih menjerit kesakitan


"Hahaha"


Juli tertawa terbahak-bahak melihat kondisi mengenaskan Hantu Muka Putih,


“Hahaha, Selamat menikmati perjalanan ke Neraka Para Dewa, Hantu!” Juli mengarahkan telapak tangannya pada Hantu Muka Putih, telapak tangan Juli mengeluarkan asap hitam yang berputar-putar menyerap tubuh Hantu Wajah Putih dengan cepat ke dalam telapak tangannya yang terhubung langsung ke Neraka Para Dewa.


Suasana hening, Mado terbelalak dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Hantu Muka Putih, namun sesungguhnya suatu kengerian dan siksaan paling mengerikan yang tidak terbayangkan sedang dirasakan oleh Hantu Muka Putih dalam Matahari Kegelapan,


Hantu Muka Putih dalam matahari kegelapan berteriak dengan suara mengerikan ia selalu memohon untuk segera mati, adakalanya ia memohon dan bersedia dicincang kecil-kecil di bumi sampai mati untuk menebus kesalahan, daripada ia menahan rasa sakit yang sangat mengerikan dan bahkan tidak pernah dia bayangkan seumur hidupnya,


Di Neraka Para Dewa orang yang telah masuk kedalamnya tidak akan mati sebelum kutukan dipatahkan, sehingga walaupun Api Kegelapan membakar Hantu Muka Putih hingga jadi abu-abu tapi dia akan terus hidup dan sadar, siksaan terus berlanjut tiada akhir sehingga teriakan mengerikan terdengar dahsyat tiada yang menolong.


“Kanibal.. Maju lah sekarang giliran mu, angkatlah sabit mu, kemari lah” bujuk Juli bergerak cepat kearah Mado yang masih berdiri tegak,


Wusss


“Baiklah sekarang kau coba hentikan serangan ku..” Juli senyum dengan gerakan secepat kilat Juli telah berada di depan Mado tanpa disadarinya.


Mado tercengang ia melompat mundur sambil menebas sabit kearah Juli, mata Mado kembali terbelalak, saat dia melompat mundur Juli bahkan masih berada didepan matanya bahkan tebasan sabit seperti menebas angin saja,


Mado semakin pucat “Anak Iblis! Siapa kau? Bagaimana orang sehebat dirimu tidak berpangkat, huh?” tanya Mado sangat penasaran seraya terus menebas sabit ke wajah Juli yang bahkan tidak terlihat bergerak sama sekali.


Juli senyum senang, “Mado.. aku melihat lidah mu sangat liar dan aku menyukainya” terdengar suara Juli dalam udara, secepat kilat tangan Juli menarik lidah Mado hingga terlepas dari kerongkongannya.


“Aaakkh!” terdengar teriakan kesakitan Mado termundur-mundur jatuh tersungkur ke tanah, Mado memegang kerongkongannya yang terus mengeluarkan darah segar karena lidah panjangnya telah terada dalam genggaman tangan Juli.

__ADS_1


Senyum gembira menghiasi mulut Juli saat mengangkat lidah panjang Mado hampir sebesar pergelangan tangan kecilnya,


“Mado, Berapa banyak rakyat miskin yang telah kau makan dengan lidah ini, huh? Aku memang tidak bisa mengembalikan orang yang telah kau makan sebelumnya, tapi aku akan memberikan mu sedikit pelajaran, bagaimana sakitnya orang yang kau makan itu”


Juli senyum gembira sambil melangkah mendekati Mado perlahan, sementara Mado menyeret mundur tubuhnya dengan wajah pucat berkeringat dingin, ia terus mengeleng-gelengkan kepala berharap Juli tidak lagi menyiksanya.


“Kenapa Mado! Jangan khawatir, aku tidak memakan mu.. aku hanya ingin memasukkan lidahmu kembali ke dalam perut mu.. hehe” Juli bergerak cepat mencengkram rahang Mado hingga mulutnya terbuka lebar, mado terus meronta kesakitan, Juli kembali memasukkan lidahnya kedalam mulut mado hingga ke kerongkongannya,


Mata mado terpelotot hebat kesakitan tiada tara dirasakan ia tidak menyangka akan menghadapi seorang psikopat lainnya yang lebih brutal darinya, “Aaakk!!” Teriak kesakitan Mado yang membuat Juli semakin tersenyum senang.


Juli mengeluarkan pisau dari cincin ruangnya, “Mado Kanibal! Pernahkan kau berpikir bagaimana matamu di tusuk perlahan hingga menembus otakmu? Huh? Seperti yang sering kau lalukan pada rakyat jelata yang tidak berdosa” ucap Juli sambil menusuk perlahan bola matanya hingga menembus otak.


“Akkhh!” teriakan Mado terus terdengar Juli terus melakukan hal yang sama pada mata kedua sambil tertawa gembira, tidak sampai disitu Juli dengan sebatang pisau merobek-robek isi perut Mado dengan sangat brutal, namun aneh Mado hanya berteriak kesakitan yang tiada tara namun dia tidak mati sama sekali.


Hana berdiri pucat ia telah muntah beberapa kali begitu melihat keganasan monster kecil yang sedang melakukan penyiksaan brutal terhadap lawannya, sementara Mado Kanibal terlihat kejang-kejang setelah semua organ dalamnya berhamburan keluar,


“Senior cukup! Cukup kataku!” Hana terlihat marah terhadap tindakan Juli, “Kita kemari bukan untuk menyiksa mereka.. aku lebih suka melihatmu memenggal kepalanya secara langsung dari pada menyiksanya begitu” teriak Hana protes.


Juli senyum, “Baiklah! Hana baiklah, Ayo kita ke Sumur Iblis! Hehehe” Juli mengakhiri aksinya seraya menyerap Mado ke dalam Neraka Para Dewa.


Juli menghampiri Hana, “Maaf Hana, tadi saya terlalu bersemangat, karena aku telah mengambil semua memorinya aku menjadi tahu berapa ribu rakyat jelata yang telah dibunuhnya dengan sadis, jadi kali ini ku harap mereka akan bertobat dengan sedikit pelajaran dari Neraka Para Dewa” Juli membantu membangunkan Hana yang telah duduk lemas.


Hana memegang tangan Juli, “Berjanji lah padaku untuk tidak melakukan hal gila seperti itu lagi!” Pinta Hana dengan nada serius, Juli senyum menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Hana! Kau menyuruhku berjanji dan itu tidak masalah.. tapi aku akan selalu melupakan janjiku ketika bertemu dengan orang seperti mereka.. Percayalah berjanji atau tidaknya aku kan selalu seperti ini! Aku akan selalu mengeluarkan isi kepala mereka yang busuk itu” Juli senyum senang.


Hana terbelalak, “Kau Monster Senior! Baiklah ayo kita menyelamatkan kak Zahra dan yang lainnya” Hana terus berjalan mendahului Juli dengan perasaan jengkel dan marah.


Juli senyum gembira, “Ada ayam yang hanya butuh disembelih.. ada ayam yang butuh sampai dikuliti dan bahkan dibersihkan beserta jeroannya? Apa salahnya bagi tukang sembelih profesional yang menikmati pekerjaannya” ucap Juli senyum ringan.


**

__ADS_1


__ADS_2