Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 51. Akhir Cerita Boris Si Iblis Barat


__ADS_3

“Wurat Si Gorila ya? Hobi mu dulu membakar orang hidup-hidup bukan? Berapa ribu orang tidak bersalalah yang telah kau bakar? Huh? Sekarang aku ingin kau merasakan bagaimana sakitnya saat aku membakar mu hidup-hidup” Anak itu segera mengangkat telapak tangannya dan menyerap Wurat Si Gorila sampai habis ke dalam telapak tangannya.


“Aaakkk! Tolong! Ampun...” Teriakan mengerikan Wurat kembali terdengar dalam Naraka Para Dewa,


Juli terlihat senyum senang ia terus melangkah mendekati arah pertempuran yang terdengar dahsyat tidak jauh dari tempatnya, semua orang tak berkepala memberi jalan padanya sambil membungkukkan badan.


Swuss swus..  Troomm!


Hiak..! Trang! Tring!


Juli kini bisa menyaksikan langsung pertarungan Irawan melawan Boris dengan sangat dahsyat sementara lima petinggi yang tersisa menjadi bulan-bulanan sepuluh pahlawan suku Padri, walaupun demikian Juli terkesan pada lima Petinggi Boris, dalam keadaan hampir mati mereka masih bertarung mati-matian memberikan perlawanan dengan gigih tidak gentar sedikit pun.


Juli senyum senang, “Pertunjukan yang menarik! Api aku memiliki banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan”


Juli mengeluarkan lima pisau dari dalam cincin ruangnya, tatapan matanya tertuju pada lima petinggi Boris yang kini tidak memiliki harapan untuk hidup,


‘Kalian berterimakasih lah padaku karena aku akan menyelamatkan kalian’ batin Juli seiring terbangnya 5 pisau sekaligus mengenai tepat di leher para Petinggi Boris tanpa meleset sedikit pun.


“Aaakk! Apa ini?” Terdengar jeritan kesakitan kelima Petinggi Boris melengking-lengking mata mereka menatap ke berbagai arah dengan wajah penasaran.


Bima sekilas melihat lima pisau melesat cepat mengenai leher Petinggi Boris, ia segera memberi perintah pada pasukannya untuk mundur.


“Mundur! Ada serangan Gelap!”


Ke-sepuluh suku Padri serentak melompat mundur setelah semuanya menyadari ada serangan gelap terhadap 5 Petinggi Boris dari arah yang tidak mereka ketahui.


"Ehem! ehem!"


Terdengar suara anak laki-laki kini berjalan santai menghampiri sepuluh Suku Padri yang terlihat wapada terhadapnya, anak itu senyum ramah,


“Para senior sekalian! Tenanglah, aku datang kemari ingin memberi sedikit pelajaran pada meraka, dan kurasa para senior lebih dibutuhkan di depan gua ketimbang di sini, karena di sana sangat banyak orang malang yang membutuhkan pertolongan para senior” ucapnya memberi hormat dengan santun.


Ke-sepuluh suku Padri menelan ludah, mereka dengan wajah pucat membalas penghormatan dengan sedikit membungkuk, "Trimakasih atas arahannya" mereka bekata serentak.


Bima sangat berpengalaman ia telah banyak melalang buana di dunia Pemburu, sehingga inderanya sangat peka, dalam sekali lihat saja ia bisa merasakan kekuatan besar yang dimiliki oleh bocah di depannya, walaupun pada kenyataannya anak ini hanya setinggi pahanya dan tidak berpangkat sama sekali, tapi menurut insting Bima anak didepannya bisa membunuh mereka semua dalam beberapa gerakannya saja.


“Tuan Kecil! kami sepuluh pahlawan suku Padri dan yang sedang bertarung melawan Boris itu namanya Irawan keponakan ku sendiri, yang aku ingin tanya kan.. Mmm.. apa benar anda ini bernama Juli, seorang senior dari nona Hana yang menyelamatkan kami tadi?” Bima bertanya dengan sungguh sungguh dan santun.


Juli senyum, “Apa dia bicara begitu? Ya.. kalau begitu benar, hehe” Juli senyum seraya mendatangi kelima Petinggi Boris yang telah jatuh ke tanah dan kejang-kejang karena pisau mengenai saraf leher mereka.

__ADS_1


Bima memberi hormat, “Tuan kalau demikian aku serahkan keselamatan nak Irawan pada mu, dan kami akan segera ke sana”


Bima mengangkat palunya keatas pudak serta memberikan isyarat tangan agar semua pasukan mengikutinya.


Juli hanya menganguk pelan beriringan dengan gerakan lautan manusia tanpa kepala membuka jalan bagi mereka, semua Pahlawan Suku Padri segara bergerak menuju tenda yang berada di depan gua tanpa merasa khawatir.


Juli segera menyerap semua Petinggi Boris ke dalam Neraka Para Dewa, tindakan Juli diam-diam menarik perhatian Boris yang sedang bertempur dengan Irawan.


“Gila! Bocah iblis itu kemari lagi! Aku lebih suka memenggal kepala bocah ini bila dibandingkan aku menghabisi seluruh keluarga si Raden Legendaris” terdengar teriakan murka Boris saat melihat semua petingginya hilang secara misterius di depan matanya,


Boris meninggalkan pertempurannya dengan Irawan, kini ia berbalik arah dan kembali menyerang Juli, dengan gerakan cepat Boris menebas batang leher Juli dengan Tombak Goloknya.


“Tebasan tombak Golok Maut!”


Tebasan Boris sangat cepat, Irawan berencana menghentikannya namun terlambat karena tebasan golok itu tepat mengenai leher Juli dengan gerakan kilat.


Trang! Bruak!


Golok tingkat perang ditangkis oleh Juli dengan jari telunjuknya hingga membuat senjata tingkat perang itu hancur berantakan, Juli senyum santai, sementara Irawan dan Boris melebarkan mata mereka benar-benar tidak percaya dengan kekuatan anak di depannya.


Wuss


Wuss.. Bruaaaakk!


Boris mati mematung kepalanya bolong, Juli perlahan menarik kembali tinjunya,


“Ah! kukira dia akan terpental jauh, sungguh tidak kukira tanganku menembus tengkoraknya, apa aku terlalu bersemangat tadi ya?” Juli melihat langannya berlumuran darah.


Irawan hanya bisa berdiri terpaku dengan mata terbelalak sampai-sampai palu besarnya jatuh di tangan tanpa ia sadari.


“Si-siapa sebenarnya anak ini?”


Juli senyum melihat keheranan Irawan namun ia memilih untuk tidak menjelaskan apapun karena semuanya tidak menbutuhkan penjelasan, Juli membalikkan badan mau meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba sebuah portal putih muncul tidak jauh dari tempatnya.


"Tik!"


**


Di luar pintu gerbang Kota Lembah Iblis

__ADS_1


Dalam remang-remang cahaya rembulan Sekelompok anak-anak terus bergerak bersama masuk ke dalam pintu gerbang Kota,


Seorang anak perempuan menggendong adiknya yang baru berusia tiga tahun, ia terus memimpin jalan dengan perasaan khawatir dan takut, sesekali ia menoleh ke belakang memastikan keselamatan adik-adiknya yang mengikuti.


“Mina! Kami takut, karena setiap saat di dalam kota selalu terdengar suara jeritan kesakitan orang-orang, apa kita tidak apa-apa kalau kita masuk sekarang? Atau lebih bagusnya kita tunggu saja tuan Juli dan Nona Hana kembali” terdengar ucapan anak perempuan itu sambil membenarkan gendongan adiknya.


Mina senyum, seperti ciri khas senyuman Juli, “Jangan takut Kak Hasnah, di dalam sudah aman, semua pasukan Pemburu Iblis sudah pergi berburu melalui pintu portal yang muncul secara tiba-tiba, dan mereka tidak akan kembali untuk selamanya, jadi untuk sekarang tidak ada lagi Pemburu Iblis di kota ini” Hana menjelaskan berdasarkan kesadaran Juli yang diberikan kepadanya.


Hasnah masih terlihat ragu namun hanya ini satu-satunya jalan yang harus ia tempuh, Hasnah menoleh kearah adik-adiknya, “Adik-adik ayo bergegaslah!” Hasnah mengajak adiknya agar tidak berlama-lamaan,


ROOAR!


Tiba-tiba terdengar suara raungan keras dalam gerbang kota hingga membuat anak-anak ketakutan, “Kak! Suara apa itu?” Seorang anak laki-laki berlari cepat kearah depan berusaha melindungi yang lainnya dengan sebatang ranting di tangannya.


Mina senyum, “Yogi! Apa yang kau lakukan? Hehehe” tanya Mina merasa lucu ia senyum sambil menutup mulutnya.


Yogi sedikit jengkel merasa di ejek Mina, “Aku ini pendekar pedang, bang Juli saja kalah dengan ku, hanya saja aku tidak berani melawan monyetnya” Yogi berbicara sambil memukul dadanya dengan bangga.


Mina senyum sembari menunjukkan kearah suara raungan, “Benarkah! Tapi lihat lah! Bukan kah itu kingkong? Dia bahkan sedang makan orang sepertinya” Mina tawa kikikkan melihat ekspresi ketakutan Yogi sambil menelan ludahnya.


Raut wajah Hasnah juga berubah pucat saat menyadari kingkong duduk menjaga pintu gerbang membelakangi mereka, pergerakan tangga kingkong dari kejauhan terlihat sedang makan, dan itu justru sangat menggangu pikiran Hasnah, apalagi kalau mengingat yang dimakannya adalah manusia.


Akan tetapi Hasnah sadar kalau kingkong pasti tidak akan menyentuh mereka, karena, walau bagaimana pun kingkong masih lah hewan peliharaan Juli, sehingga Hasnah terus maju memberanikan diri menghampirinya.


“Kingkong! Kami mau masuk kota!” ucap Hasnah dengan jantung yang berdebar-debar.


Kingkong membalikkan badannya matanya terbelalak melihat anak-anak yang dikenali di depannya, daging lembu telah dipotong ditusuk rapi pada pedangnya yang telah dibakar hingga menimbulkan bau harum,


Dengan wajah pucat kingkong berbicara setengah berbisik pada anak-anak, “Aku lagi makan sate, dari lembu curian.. tapi tolong jangan katakan pada tuan ya!” pinta kingkong berwajah pucat.


Yogi dengan wajah pucat menemani Hasnah sambil menghunus rantingnya, “Baiklah! Asal kamu jangan makan kami, kami juga akan menjaga rahasia ini” ucap Yogi sembari menarik tangan Hasna untuk segera masuk ke kota,


Sebagian anak-anak ketakutan segera berlari menjauhi kingkong, sementara Mina hanya berjalan santai mengawasi mereka,


“Kingkong! Kalau yang kau sate itu lembu warga maka kau akan kena hukuman, hehehe, ku harap itu bukan milik warga” ucap Mina bergerak mempercepat langkahnya mengikuti anak-anak.


Kingkong menjadi hilang selera makannya, “ilfil aku jadinya, Aku baru datang kemari mana aku kenal warga atau bukan, yang pastinya ini makanan enak” ucap kingkong mulai makan sate kesukaannya.


**

__ADS_1


__ADS_2