
ROOOAAARRR!!
Di angkasa depan istana misterius, seekor Naga Kegelapan terbang melayang di udara belum melakukan perlawanan apapun terhadap Siluman Bangkai justru Siluman Bangkai sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan Naga Kegelapan dari angkasa.
Bomo dari tadi melihat Naga Kegelapan terbang terus-terusan hatinya menjadi penasaran, ‘Kenapa Hana belum menyerang Siluman Bangkai? Apa dia belum berhasil mengendalikan Naganya? Benar, dia pasti belum bisa mengendalikannya, Aku sungguh tidak menyangka bocah perempuan itu sangat beruntung sekarang, Aku yakin ini semua tidak terlepas dari bantuan Dewa Juli’ Batin Bomo saat melihat ke arah Naga Kegelapan yang terbang mengintari langit medan perang.
Mija seorang yang lebih jenius dari mereka semua ia terlihat mencurigai sesuatu, ‘Ini sepertinya ada yang tak beres, mana si Juli ya?’ batinnya, Ia kembali menyipitkan matanya mencoba melihat kearah sosok penunggang Naga Kegelapan dari jarak jauh ia hanya melihat Hana seorang diri tidak terlihat Juli bersamanya saat itu juga ia sadar akan satu hal,
“Eh! Mana Si Juli? Aku tidak melihatnya dari tadi atau jangan-jangan Naga tunggangan
Hana itu lah perubahan wujud Juli yang sebenarnya?” Tebak Mija spontan hingga membuat semua orang geger.
“Apa? Apa kau bilang?”
“Apa kau bilang Naga itu si Juli?!”
“Benarkah?!”
“Kenapa Bisa begitu?”
Semua orang mulai berspekulasi dengan pernyataan Mija hingga semuanya terlihat bimbang dan bertanya-tanya tentang kebenarannya walaupun ada kemungkinan salah, namun begitulah pikir mereka untuk saat ini.
“Hey! Apa yang sedang di ributkan?”
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari arah belakang mereka, “Kalian sungguh malas memalingkan wajah kalian ke mari, dan hanya terfokus ke langit melihat Naga milik Hana.. lalu berbicara seenaknya, aku ada disini lihat lah!” Juli terlihat kesal.
“Eh kau di sini..?” Tanya Mija senyum sambil menggaruk-garuk kepalanya, sontak semua orang juga ikut menoleh kearah Juli yang telah menegur mereka.
“Juli?!” Ucapan spontan mereka secara bersamaan.
“Iya..ini aku”
Juli berpakaian compang-camping layaknya gembel seperti biasa sambil bersandar di pintu Istana sekilas ia tak terlihat berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Akan tetapi ada sedikit perbedaan pada saat ini, itu terletak pada penampilan Juli sendiri, kali ia memakai banyak kalung emas permata hingga memenuhi lehernya, pedang berjejeran terselip di pinggang telah dibungkus kain sehingga tidak terlihat tingkatannya, pisau-pisau, busur-busur disangkutkan dipundak dan kepalanya, semua orang begitu melihatnya langsung tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha Hahaha”
“Hahaha.. Anak Gila, kau telah jadi kaya raya ya!”
“Hahaha.. Orang kaya baru, baju compang camping perhiasan penuh dileher”
“Kau.. kau benar.. itu benar.. kau hebat, hahaha”
“Hahaha, Kamu mengambil kalung berlian sangat banyak sampai-sampai lehermu penuh, kau jadi orang kaya raya sekarang ya?!” canda Ruyu tertawa terbahak-bahak
“Hahahaha… Pedang mu itu seolah pedang pusaka semua sehingga di bungkus kain agar tidak di curi ya.. hahaha.. itu harganya pasti tidak ternilai.. apa kau mau memberikan untuk paman satu” canda Dolah tertawa.
“Kau sungguh terlihat lucu nak, Hahahaha, kau seperti pendekar gembel kaya raya.. dan misterius seolah pedang-pedangmu itu pedang pusaka yang harus di balut kain seperti pendekar-pendekar ternama di kekaisaran, itu sungguh lucu, Hahaha”ujar kakek Husen tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Apa Hana yang memberikan mu semua itu... kau sungguh beruntung” Risa menambahkan.
Mereka terus tertawa terbahak-bahak seraya menggoda Juli dengan berbagai candaan, itu karena melihat sikap Juli seperti gembel baru kaya, tapi entah mengapa semua orang terlihat bahagia saat melihat Juli selamat, mereka semua terus melangkah menghampiri Juli sebagian memukul-mukul pundaknya dengan perasaan bangga, sementara gadis-gadis mencubit-cubit pipinya dengan gemas sambil tertawa kikkikan.
Hahaha Hahaha
Sementara Juli hanya menatap mereka dengan tatapan mata bodohnya, ‘Apa yang ditertawakan oleh orang-orang bodoh ini? Melihat kondisi mereka yang hampir mati saja sudah membuatku iba’ batin Juli seraya mengambil semua pedang terbalut rapi yang terselip di pinggang lalu diserahkan semua pada mereka.
“Ini semua untuk kalian ambillah!” Ucap Juli sambil membagi-bagikan Tingkat Pusaka Tinggi pada mereka satu persatu.
“Eh!”
Mereka membuka balutan pedang Juli sambil tertawa namun wajah mereka terlihat penasaran, akan tetapi begitu kain kotor pembalut pedangnya dibuka mereka semua tercengang, mata mereka terpelotot hingga termundur-mundur beberapa langkah.
“Pe.. Pedang pusaka? Ti.. tidak.. ini pedang pusaka teratas.. pedang pusaka tingkat terbaik” gumam keterkejutan Husen saat melihat pedang mengeluarkan bercahaya kuning pada matanya.
Bomo lama terbelalak, “Pedang Kematian… seumur hidup aku selalu bermimpi memiliki pusaka menengah kali ini aku mendapatkan pusaka terbaik.. Dew… nak.. terimakasih”
Bomo segera bertekuk lutut karena sangat senang, namun Juli segera menendang lututnya pelan
“Bangunlah bocah!” tegur Juli pelan, kejadian itu tidak dilihat oleh siapapun karena semuanya terlalu sibuk dengan pusaka baru mereka.
“Adik… ini aku tidak tahu nama pedang ini.. tapi saat aku mengayunnya aku bisa merasakan kekuatan pedang ini menjalar di seluruh tubuhku.. dan aku memiliki tanbahan kekuatan puluhan kali dari sebelumnya” Risa terkagum-kagum perasaannya bahagia yang tidak terukur, dan ia segera membalutkan pedang pusakanya kembali.
Begitu juga dengan yang lainnya mereka terlihat luapan kebahagia karena pusaka yang diberikan oleh Juli,
Kakek Husen menatap wajah Juli yang terlihat santai, ‘Bagaimana anak gila seperti Juli dengan mudah membagi-bagikan tingkat Pusaka Tinggi untuk kami begitu saja, padahal dalam dunia persilatan satu pedang ini saja akan menjadi perebutan di dunia persilatan’ batin Husen menjadi terharu melihatnya.
Tingkat Senjata Biasa,
Tingkat Senjata Menengah,
Tingkat Senjata Baik
Tingkat Senjata Sangat Baik
Tingkat Senjata Perang
Tingkat Pusaka Rendah
Tingkat Pusaka Menengah
Tingkat Pusaka Tingggi,
Tingkat Pusaka Bumi,
Tingkat Pusaka Langit
__ADS_1
Tingkat Pusaka Langit Bumi
Tingkat Pusaka Surgawi,
Dst
Mereka seakan tidak percaya dengan pemberian Juli terhadapnya, “A.. Apa?! Apa ini serius untuk kami.. kamu sendiri mana?” Tanya Kakek Husen penasaran karena Juli telah membagikan semua pedang pusaka sementara untuk dirinya bahkan tidak tersisa sebilah pedang pun.
Juli senyum sambil melepaskan semua belati dan busur dipundaknya, “Hehe, ukurannya tidak cocok untukku, ini ada lagi.. ada pisau, belati, busur kurasa ini semua lumayan bagus jadi ambillah..”, Juli kembali membagi-bagikan barang-barangnya secara adil lagi, berikut dengan emas permata yang tadinya dikalungkan di lehernya.
“Apa apaan ini?”
Semuanya hampir pingsan saat menerima anugrah besar yang diberikan Juli pada mereka yang pastinya tidak diimpikan seumur hidup, mereka tidak menyangka Juli sangat bermurah hati pada mereka, padahal mereka bahkan tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan pedang pusaka tingkat tinggi,
Diantara mereka semua hanya Bomo dan Mija yang memiliki senjata tingkat pusaka itu pun tingkat Pusaka Rendah.
Karena di Bumi Barat pusaka tingkat menegah dan tingkat tinggi sudah seratus tahun lebih tidak terdengar kemunculannya, melihat kemurahan hati Juli semua orang mulai meneteskan air mata, terutama Risa.
“Ah! engkau memang anak gila.. kau memberikan semua pada kami sementara dirimu tidak tersisa apapun, kau sungguh anak baik, padahal semua orang pasti tidak akan membagi-bagikan harta temuannya didalam Portal, begitulah peraturan para Pemburu selama ini” jelas Risa merasa kasihan pada Juli, sebab anak berwatak seperti Juli hampir punah di muka bumi ini.
“Nak! Ini dunia persilatan.. dunia yang sangat kejam, kau harus menyimpan sedikit untuk dirimu sendiri” Dolah mengingatkan sambil mengembalikan beberapa.
Ucapan senada juga di ucapkan oleh yang lainnya sementara Juli hanya menatap mereka dengan tatapan mata bodohnya,
“Kalian jangan menangis terharu begitu, aku memang tidak butuh pedang, apalagi emas.. karena bagiku.. ketapel ini saja sudah cukup buatku..” ucap Juli memperlihatkan ketapelnya.
“Apa ketapel? Ketapel itu bahkan tidak ada harganya” Kakek Husen menjelaskan.
“Apa.. Ketapel? Di sini bahkan tidak ada batunya? Yang ada batu besar-besar seperti ini.. ini semua semua kan lantai, mencari di tempat lain tidak mungkin lihatlah.. di depan kita banyak Siluman” Jelas Yuyun menunjuk kearah ribuan Siluman Bangkai yang masih terlihat kebingungan.
Juli senyum, “Tidak.. aku banyak membawa batu kok, lebih seribu dalam bingkisan baju ku ini ” jawab Juli santai. “Oya! Silumannya itu banyak sekali, kanapa kalian tidak melawan siluman-siluman itu.. ini malah kalian mengerumuni ku.. lihatlah siluman-siluman lagi bingung melihat ke langit, ini kesempatan untuk menyerang siluman-siluman mumpung lagi ada kesempatan” Juli mengingatkan.
Bomo langsung menjawab dengan penuh semangat, “Ah benar! Ayo kita lawan siluman ini dulu.. kita harus melihat sejauh mana kemampuan kita setelan mendapatkan Pusaka Terbaik” Seru Bomo antusias.
“Benar! Ayo maju!!” Teriak Husen sambil mencabut pedang Pusaka Terbaik dengan semangat tinggi dia menerjang maju.
“SERANG!!”
Semuanya kembali mencabut padang pusaka barunya da bergerak secara bersamaan untuk menyarang kembali Siluman Bangkai, teriakan serangan itu Justru menarik perhatian Siluman bangkai kembali ke arah kelompok Husen sehingga para siluman bangkai pun akhirnya menyerang kelompok husen kembali.
ROOOAAARR!!
Kek! Kek! Kek!
Disisi lain Juli melalui tangga besi naik keatas atap Istana Misterius, ia duduk santai di puncak atap sambil menggoyang goyangkan ketapelnya,
“Sudah mulai ya.. Mari kita berpesta sejenak, hehehe..”
__ADS_1
**