Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 49. Dodep Merayu


__ADS_3

Di bawah penerangan remang-remang bulan dan obor-obor yang di pasangkan pada dinding-dinding gua semua orang terlihat sibuk berbenah-benah diri.


“Ayo semuanya keluar!”


“Lekaslah keluar!”


Berbagai macam teriakan perintah terdengar dari beberapa orang yang telah menerima perintah dari Mado, Hantu Muka Putih dan Toru, perintah ini tidak terlepas dari rincana Juli yang ingin membakar seluruh isi gua dengan api kegelapannya.


“Semuanya keluar dari gua ini, tolong semuanya keluar dari gua.. karena tempat ini akan dibakar!” Teriak Mado bergegas keluar gua membawa serta beberapa anak-anak bersamanya.


Semua orang berhamburan berlari keluar dari gua iblis, ada yang berlari keluar sendirian, ada pula dari mereka yang membantu mengangkat kawan-kawan lain dan bergegas meninggalkan tempat terkutuk itu.


Hantu Wajah Putih menggendong dua orang anak sekaligus menggunakan kecepatannya untuk mempercepat mengangkut anak-anak,


“Gadis gadis.. Anak-anak, ingatlah! Jangan pergi berkeliaran, kalian hanya tinggal ditenda tidak boleh jauh dari sini” Hantu Muka Putih mengingatkan, ia khawatir anak-anak dan gadis-gadis akan melihat hal yang mengerikan lainnya pada pertarungan yang berjarak lima ratus meter dari depan Gua berada.


Toru terus bergerak cepat memeriksa agar tidak ada yang tersisa dalam penjara sebelum semuanya dibakar habis oleh Juli dengan api kegelapannya.


Dalam gua terlihat orang terus berlari berduyun-duyun meninggalkan tempat itu, banyak diantara mereka telah memiliki kristal merah dikalung mereka, kristal yang tidak diketahui tingkat serta berapa lama kristal itu bisa digunakan,


Tangisan bahagia terlihat diwajah orang-orang malang itu, walaupun mereka baru lepas dari sana dan belum tahu bagaimana nasib setelahnya namun untuk sementara waktu mereka telah terlepas dari neraka.


Di antara kesibukan, ada lima orang gadis memanfaatkan situasi ini untuk mengambil tonggak kayu dan menghajar Dodep yang terkulai lemas karena patah tulang di depan pintu gua. Mereka menendang memukulnya sekeras yang mereka bisa, Dodep terlihat sangat murka namun dia tidak berdaya untuk melawan balik karena tangan dan kakinya telah mati rasa.


“Mampusss.. kau Dodep!”


“Bunuh dia…”


“Congkel matanya dulu…”


Ucapan-ucapan kebencian terdengar jelas dari mulut para gadis kurus itu, kemurkaan tak terbayangkan terlihat pada raut para gadis sambil terus memukul Dodep sekuat tenaga hingga mereka merasa puas setelahnya.


Dari kejauhan Juli melihat kearah Helga seorang gadis cantik duduk menangis tersendu-sendu memeluk kedua lututnya ditemani oleh Zahra seorang gadis kurus yang berdiri membisu sampingnya, wajah cantik Helga disembunyikan diantara kedua lutut seakan ia tidak mau lagi memperlihatkan wajahnya.


Tidak lama kemudian Helga didatangi oleh anak perempuan berusia enam tahun dengan senyum manis seolah selalu melekat di bibirnya.


“Aira!”


Terdengar suara panggilan pelan Zahra sembari mengosok-gosokkan matanya seakan tidak percaya dengan pandangan matanya, karena selama ini Zahra terus berhalusinasi tentang wajah adik-adiknya dan ia kira kali ini juga demikian sehingga ia hanya memilih diam membisu dan tidak memberi tahu Helga yang duduk memeluk lutut didepannya.


Aira perlahan membelai rambut Helga dengan lembut, ia menyadari kakaknya pasti syok atas kematian dirinya.


“Kak Helga, apa kakak baik-baik saja” terdengar suara lembut Aira saat membelai rambutnya.


Helga dengan cepat menoleh kearah suara yang dikenalnya, matanya yang sembab kini terbuka lebar saat melihat sosok adik kecil yang dirindukannya,

__ADS_1


“Aira… Aaaa… Aira adikku… Syukurlah kau masih hidup.. kakak pikir kau telah tiada…” Tangis histerisnya sambil terus mendekap adik bungsunya.


Mata Zahra terbuka lebar, “Ah! Rupanya benar, aku tidak sedang halusinasikah..” gumam Zahra yang kini ikut menagis bahagia saat melihat kakak beradik itu saling berpelukan.


Aira ikut menangis dalam pelukan kakaknya, “Kakak Helga, Kak Zahra! Mari kita keluar dari tempat ini, sepertinya guruku ingin membakar tempat ini” Suara Aira terdengar lembut pada telinga kakaknya.


Helga merenggangkan pelukannya dan ia segera menyeka air matanya, ia menatap Aira dengan pandangan yang berbeda karena ia baru menyadari Aira telah memiliki mata kembali dengan warna pupil mata merah darah yang sangat indah terlihat olehnya,


“Adik! Kau bisa melihat? Kenapa matamu merah! Apa kau benar-benar adikku? Dan siapa guru yang kau sebutkan tadi?” Pertanyaan Helga bertubi-tubi membuat Aira harus menarik nafas panjang untuk menjawabnya.


Aira perlahan menunjukkan kearah Juli yang berdiri jauh dari tempat mereka, “Kakak lihatlah! Itu guru ku” Aira senyum senang,


Helga perlahan menoleh kearah yang ditunjukkan oleh adiknya dengan wajah penasaran,


“Ah! Itu? Bukankah anak itu yang tadinya menyelamatkan kami dan menghajar Dodep dengan mudahnya, anak itu bahkan bisa menghancurkan belenggu leher kami bagaikan merobek secarik kertas saja, Aira? Apa kau yakin dia akan menjadi gurumu, atau lebih tepatnya apa dia mau menerimamu sebagai muridnya, tapi bukankah dia masih terlalu muda untuk ada mur..” Belum habis Helga bertanya karena rasa penasaran, Aira telah menutup mulut kakaknya.


Aira senyum “Kakak! Tempat ini sungguh sangat bau, guruku sudah lama menunggu kita keluar, ayolah” Ajak Aira lembut.


Helga baru menyadari perkataan adiknya benar, bahwa hanya mereka bertiga yang masih berada disana sementara orang lain semuanya telah keluar,


“Oh! Baiklah! Tapi dimana abang mu?” tanya Helga dia tidak melihat Yori di dekatnya.


“Yori disini tadinya, tapi sekarang dia sudah keluar setelah dia memberikan batu kristal merah ini untuk kita” Zahra memberi komentar sambil menunjukkan Kristal Merah yang diberikan Yori padanya.


Aira senyum dan membantu kakaknya berdiri, “Benar seperti kak Zahra bilang, Bang Yori mendapatkan tugas dari guru, guru menyuruhnya membagi-bagikan Kristal Siluman dalam jumlah ratusan, sudah pasti Bang Yori sangat sibuk sekarang mungkin dia di luar, ayolah kita membantunya” Ajak Aira berjalan keluar bersama Zahra dan kakaknya.


“Tempat ini sungguh sangat bau! Aku akan membakar semuanya sampai tak tersisa”


Juli mengetahui persis, jika tempat ini tidak dibakar maka akan menimbulkan wabah penyakit menular dikemudian hari, selain itu tempat ini juga telah menjadi mimpi buruk bagi sebagian orang.


Juli segera mengeluarkan api kegelapan dari telapak tangan, kemudian diarahkan ke berbagai tempat kotor itu, dalam sekejap saja api kegelapan telah melahap apapun didalamnya termasuk mineral-mineral keras.


**


Wajah Dodep dan tubuhnya penuh memar karena dihajar oleh beberapa gadis didepan pintu gua, tapi kini para gadis yang memukulnya justru menyelamatkan Dodep dari nyala api hitam yang membakar apapun dalam gua ruang Gua Iblis.


Dodep merasa lega dan senyum mekar diwajahnya karena telah diselamatkan oleh korban-korbannya, ‘Dasar gadis bodoh! Bagus! Memang beginilah seharusnya, bagiku tidak masalah dengan luka memar dan patah tulang ini, asalkan mereka tidak membunuhku aku tetap akan membuat perhitungan dengan mereka, sekarang aku akan memelas sedikit pada mereka agar mereka melindungi ku’ Batin Dodep mulai berpikir cara bersandiwara.


“Oh! Sakit sekali maafkan aku.. kumohon.. berikan aku kesempatan bertobat, aku bersumpah akan bertobat kalau aku ingkar biarlah Tuhan mengutuk ku, ampuni lah aku aku bersumpah akan bertanggung jawab atas apa yang telah ku perbuat selama ini.. jadi kumohon” Dodep mulai berlinang air mata sehingga beberapa gadis menjadi kasihan kepadanya.


Para gadis kurus-kurus itu memiliki hati yang lembut sehingga mereka cepat memaafkan Dodep, walaupun dihati mereka masih menyimpan rasa dendam yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


“Sudahlah! Kalau dia mau bertobat biarkan dia pergi dari sini, siapa tahu kelak dia akan menjadi orang baik”


“Iya! Aku melihat dia sudah menangis menyesali perbuatannya tidak ada salahnya kan kita memaafkannya, apalagi kaki dan tangannya telah patah”

__ADS_1


“Baiklah! Dodep berjanjilah kau akan menjadi orang baik dan kelak kau tidak melakukan hal tercela lagi?”


Dodep terus menangis menganguk kepalanya memelas, “Saya akan bertobat! Saya menyesali perbuatan terkutuk yang telah ku lakukan selama ini, jadi ampunilah saya” Dodep terus terisak tangis sehingga semua orang menjadi iba padanya.


Juli baru keluar dari dalam Gua Iblis ia melihat Dodep sedang dikerumuni para gadis sementara dodep terus menagis seraya bersumpah-sumpah tidak mengulangi perbuatan terkutuknya.


Juli senyum melihat tingkah Dodep, tingkah itu sangat manjur untuk menipu gadis-gadis lugu namun bagi Juli hal itu hanya sebuah lelucon belaka.


Juli mengeluarkan pisau tumpul dari cincin ruangnya perlahan mendatangi Dodep,


“Kakak-kakak minggir lah! Urusan kalian telah selesai dengan Dodep dan kalian juga telah mengampuninya, sekarang aku melihat tulang-tulangnya patah dan segera harus dioperasi, percayalah bagian operasi itu keahlian ku” Juli menatap wajah Dodep dengan senyum gembira.


"Apa?"


Saat itu juga Dodep berkeringat dingin, tatapan anak kecil itu sungguh diluar perkiraannya, 'Celaka anak ini adalah iblis, aku takut sandiwara ku tidak mampan padanya, namun aku harus berusaha lebih keras lagi' batin Dodep mulai frustasi.


“Adik kecil yang manis! Aku telah memohon ampun pada mereka dan mereka juga mengampuni ku, jadi sekarang kumohon padamu ampunilah aku, jika dipikir-pikir kembali aku tidak bersalah apapun pada mu! Aku bersumpah aku akan bertaubat, berilah aku kesempatan kedua,” Dodep kembali menagis memohon pada Juli dengan merendah.


Juli senyum senang, “Oh! Paman Dodep! Kau sungguh sangat bersalah padaku, aku dengar gelar mu sangat tercela selaku anak-anak aku tidak mau gelar itu ada lagi di dunia ini, jadi aku berharap kau akan mendapatkan kesempatan kedua, dan kupastikan itu, tapi sebelumnya seperti sebuah pepatah, ‘Potonglah leher burung sampai habis dengan dua telurnya, hingga dia menjadi kambing betina’ ya.. begitulah pepatah yang ku dengar, namun aku masih sangat muda, maukah kau menjelaskan padaku maksud pepatah itu?” tanya Juli sambil melihat ujung pisau tumpul.


Dodep berkeringat dingin ia mencoba tersenyum walau senyuman terlihat sangat buruk, “Ah! Anak baik.. orang yang mengajarkan mu pepatah itu bukanlah orang baik, percayalah!” Dodep memasang wajah menyesal.


Juli mendekati pinggang Dodep yang masih terbaring lemas dan pucat, Juli segera menjongkok sambil menutup hidungnya dengan tangan kanan karena sangat bau apek, tangan kiri memegang pisau segera diangkat tinggi-tinggi, Dodep dapat menebak tindakan yang akan dilakukan Juli padanya pasti sangat merugikan cita-cita dan masa depannya.


Dodep meronta dengan sisa-sisa tenaganya, “Bocah! Apa yang akan kau lakukan?” tanya Dodep kaget, raut wajahnya langsung berubah menjadi murka,


Juli menoleh kearah Dodep, mulutnya senyum gembira dan mulut Dodep ditutup rapat-rapat, “Aku sedang mencari burung mu, ingin menebas habis sesuai dengan pepatah yang kusebutkan”


Wuusss


Dengan cepat pisau tumpul dilanyangkan tepat sasaran hingga menghancurkan burung serta telurnya sampai tak tersisa sedikit pun.


"Kuakkkhh!"


Teriakan Dodep sungguh mengerikan mengalahkan teriakan para gadis-gadis yang menyaksikan kejadian itu, pandangan Juli mengarah pada mata satu Dodep yang kini telah pingsan sepenuhnya,


Juli sambil tertawa-tawa segera melemparkan pisau kearah matanya hingga Dodep kembali kejang-kejang.


Beberapa gadis yang sempat menyaksikan kejadian ini menjadi sangat pucat sehingga mereka memutuskan untuk melarikan diri dari tempat penyiksaan Dodep.


Juli senyum, “Dodep Si Pencabut Kehormatan Wanita, Hah! Perbuatanmu sungguh akan terbalas, sekarang kau akan jadi betina seumur hidupmu dalam bayangan” Juli segera menyerap Dodep ke dalam Neraka Para Dewa dimana penyiksaaan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.


Juli menyipitkan mata melihat jauh ketempat pertarungan terjadi,


“Boris! Sekarang giliran mu! Percayalah, aku tidak ingin melewatkan makanan utama ku” Juli kembali menjentik jarinya.

__ADS_1


“Tik!”


**


__ADS_2