Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 76. Berangkat Ke Kota Raja


__ADS_3

“Ampun! Ampuni saya?”


“Ampuni saya… Saya bersumpah tidak akan berbuat dosa lagi”


Seorang Klan Kerbau yang tersisa ia bersujud-sujud menangis histeris memohon pengampunan, raut wajahnya terlihat frustasi saat mengingat bagaimana Juli menghancurkan kepala belasan Pemburu Kerbau dengan cengkraman tangan kirinya.


"Sangat mengerikan" gumam Isura beserta anaknya pucat pasi, mata mereka terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, mereka sungguh tidak menduga anak kecil sekarat itu mampu bertindak kejam seperti siluman.


Juli menggunakan tongkat pengganti kaki kirinya perlahan menghampiri anggota Klan Kerbau Hitam yang masih bersujud padanya,


“Kerbau! Kau pulanglah! Katakan pada ketua Klan Kerbau Hitam untuk segara bubar, aku beri waktu kalian tiga hari, jika dalam tiga hari Klan itu masih ada maka aku akan mendatangi Lembah Kerbau lalu membantai semua Anggota Kerbau di sana” Juli senyum dingin mengancam anggota Kerbau Hitam yang telah terkencing kencing.


“Ba.. Baik Tuan Besar! Sa.. Saya akan menyampaikannya” Pasukan Klan Kerbau gemetar perlahan ia merangkak rangkak meninggalkan tempat itu dengan trauma yang mendalam.


"Hehehe, Khuk! khuk!"


Juli senyum puas, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Isura yang terlihat saling berpelukan bersamaan kedua putrinya, dari mata mereka bertiga terlihat ketakutan terhadap dirinya,


“Paman! Kakak-kakak! Jangan takut, aku hanya ke betulan lewat, dan aku tidak menyakiti kalian” Ucap Juli senyum pahit yang menyadari ketakutan mereka terhadapnya.


“Be.. benarkah!” Ucap putri sulung Isura dengan perasaan sedikit lega sementara adiknya masih terlihat takut, lebih tepatnya anak itu menakuti bentuk tubuh Juli yang terlihat seram.


Isura menelan ludah namun ia memberanikan diri untuk berbicara, “Tuan! Apa yang anda inginkan dari kami?” suara Isura terdengar gemetar, ia perlahan merenggangkan pelukan kedua putrinya yang ketakutan.


“Hm..?”


Sejenak Juli terlihat sedikit kaget mendengar pertanyaan Isura, kemudian ia mulai berpikir-pikir,

__ADS_1


‘Mm.. Aku sekarang tidak ubahnya seperti seonggok besi tua, tidak bisa menggunakan tenaga dalam selama proses penyembuhan, Aku juga tidak bisa menggunakan teknik-teknik yang menggunakan tenaga dalam, sekarang aku hanya bisa mengandalkan kekuatan dan kecepatan ku saja, aku tidak bisa berdiam diri menunggu Air Mata Abadi memperbaiki tubuhku sampai enam bulan lamanya, ini semua karena faktor tubuhku yang sangat keras dan kerusakan amat fatal yang sedang ku alami, aku harus mempercepat pemulihan, dan bahan yang paling ku butuhkan untuk sekarang ini bisa Kristal Siluman, bisa pula jiwa manusia, baiklah! Aku akan menjadi seorang pemburu untuk mendapatkan keduanya” batin Juli senyum pahit.


Juli menghela napas panjang, matanya melihat pria kurus di depannya, “Aku ingin paman membantuku menemukan pintu portal menengah atas, karena untuk sekarang ini aku membutuhkan kristal siluman tingkat tinggi sebanyak-banyaknya, jadi bagaimana jika aku bergabung dengan Klan paman Isura saja dan mencari portal tinggi atas, apa paman keberatan?”


Untuk memulihkan kondisi tubuhnya Juli berharap bisa menemukan siluman tingkat atas secepatnya, dengan begitu ia juga bisa membantu Isura mendapatkan kristal siluman tingkat tinggi yang bisa digunakan untuk beberapa tahun kedepan sebagai nyawa.


Isura dan kedua putrinya terkejut saat mendengar permintaan Juli, “Tuan membutuhkan kristal tingkat tinggi? Dan ingin berburu siluman tingkat tinggi? Tapi tuan, kami ini pemburu kecil-kecilan yang hanya berburu di dengan tangan kosong kami tidak berani masuk portal tingkat tinggi” Jelas Isura seadanya.


“Ayah! Kali biarkan kami ikut membantumu” pinta putri bungsunya.


“Iya ayah! Aku juga ikut" Putri sulung juga tidak mau ketinggalan.


Juli mengaru-garu kepalanya mendengar permintaan kedua putrinya yang belum berpengalaman di luar Kubah Pelindung, akan tetepi Juli tidak begitu menanggapinya, karena ia juga berpikir mustahil bergabung dengan Isura apalagi kalau kedua putrinya ikut.


“Paman! dimana biasanya sering muncul portal tingkat atas belakang ini? Aku ingin keluar untuk mendapatkan batu kristal tingkat tinggi, khuk! Khuk!, tapi bagaimana caranya merebut portal dari pemburu lain tanpa pertumpahan darah” Juli terbatuk-batuk namun raut wajah terlihat sedang berpikir sesuatu.


“Ayah, di sana sangat berbahaya ayah jangan ke sana, berburu di portal biasa saja, aku tidak mau jadi yatim” potong putri sulung yang tidak ingin ayahnya mengambil resiko nyawa.


Juli menganguk pelan, “Tenang saja kakak-kakak! Aku sendiri yang akan masuk ke sana tanpa melibatkan paman” jelas Juli pada kedua remaja tanggung itu, kemudian ia mengalihkan pandangan pada Isura kembali,


“Paman, tingkat apa portal yang biasa mereka masuki?” sambung Juli.


“Berbagai tingkat! Sekarang aku dengar sebuah portal emas terbuka dekat Istana Kerajaan sudah dua hari belum tertutup, kemungkinan siluman di sana belum berhasil dikalahkan seekorpun sehingga statusnya naik ke tahap dua dan akan tertutup selama seminggu, jika dalam seminggu mereka masih gagal maka akan naik ke tahap tiga, kemunginan besar siluman akan masuk kemari, dan itu sungguh mengerikan” Jelas Isura pucat mengingat beberapa tahun lalu banyak pemburu yang mati karena tidak sanggup mengatasi sebuah Portal Perak.


"Mmm, Khuk Khuk!"


Juli mengeluarkan lima keping emas dari saku bajunya, “Paman Isura, ini ada lima keping emas, ambillah! Dan aku berharap kakak-kakak dan bibi segera pindah ke Kota Lembah Teratai Langit karena di sana lebih aman, oya… jika nanti kalian ke sana katakan pada mereka bahwa kalian telah menemui orang sepertiku” Juli menghampiri Isura dan memberikan kepingan itu pada mereka.

__ADS_1


"Orang seperti Tuan?"


Isura dan kedua putrinya terbelalak, mereka tidak percaya ada orang yang memberikan lima keping emas begitu saja pada mereka, biasanya mengutangpun dengan bunga tinggi belum tentu mau diberikan.


“Ayah! Apa ini sungguhan”


“Aku… ju… ah! Kalian ini bicara apa anakku? Tu.. tuan kami tidak sanggup membayarnya, ini terlalu banyak” Isura menolak secara halus dan enggan menerimanya.


Juli senyum, “Paman! Bagaimana kalau begini saja, ini anggap sebagai upahmu dan paman harus membantuku untuk memasuki portal Emas yang kau bicarakan tadi, bagaimana?” pinta Juli pada Isura menyodorkan kepingan itu kembali kepadanya.


Isura sejenak termenung terlihat berpikir-pikir, beberapa kali ia menyapu keringat dinginnya, “Baiklah tuan! Kurasa untuk masuk ke portal biasanya kita harus membayar sebelumnya, jika tidak, maka pihak kerajaan akan menyita setengah dari pendapatan kita sewaktu keluar, tapi aku hanya harap tuan selamat saja dari sana itu saja sudah suatu keberuntungan” kata Isura sembari mengambil kepingan emas pemberian Juli dengan penuh syukur.


Putri sulung Isura terlihat kaget, “Tuan! Ayahku tidak ikut masuk ke dalam portal itu bukan?” tanya Putri sulungnya memastikan.


Juli senyum, “Percayalah! Aku akan masuk ke sana seorang diri, oya! Paman! Ini ada dua keping emas lagi aku harap kau menyewa menyewa dua kereta kuda, untuk keperluan kita, dan tolong belikan jubah besar untukku sehingga kondisi tubuhku tidak terlihat menyeramkan lagi” pinta Juli senyum hangat.


“Baik Tuan!”


Isura kini ia bisa senyum bahagia, ia mengajak anak sulungnya untuk membantunya mencari apa yang dibutuhkan Juli dan keluarganya, sementara Juli ditemani putri bungsu segera mencari rempah-rempah seadanya di sekeliling gebuk untuk membuat obat Istri Isura yang sedang terbaring sakit.


Obat yang dirajik Juli bukanlah obat biasa, namun karena proses pembuatannya tanpa menggunakan api putih yang melibatkan tenaga dalam, jadi hasilnya tidak sebaik aslinya akan tetapi cukup untuk menyembuhkan penyakitnya sampai 50 persen.


**


Istri Isura besarta dua putrinya menggunakan kereta kuda berangkat ke kota Lembah Teratai Langit seperti yang di sarankan. Isura dan Juli akhirnya berangkat ke Kota Raja menggunakan kereta kuda, sepanjang perjalanan Juli terlihat sibuk mengambarkan pola tulisan kuno di atas kertas menggunakan darahnya, Isura hanya memperhatikannya dengan perasaan kagum dan heran namun ia tidak berani menanyakannya, karena ia tahu kalau anak didepannya adalah monster.


“Hey! Berhenti turun! Pelan pelan!”

__ADS_1


**


__ADS_2