Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 133. Dewa Siluman Vs Juli


__ADS_3

Restoran Angsa Langit menjadi sepi, semua orang telah melarikan diri setelah mendengar kegaduhan di lantai dasar, beberapa orang dari mereka bahkan belum sempat membayar makanan yang telah mereka makan.


Kepala pelayan tidak berani meminta pertanggungjawaban pada siapapun, mengingat orang yang tersisa juga bukanlah orang yang bisa mereka sentuh.


Beberapa pelayan berbisik-bisik dengan perasaan bingung, Karena bagaimanapun mereka hari ini telah mengalami kerugian besar.


Juli menyadari hal itu dan segera mengeluarkan 5 keping emas kemudian meletakkannya di atas meja. Juli tidak mau merugikan siapa pun, mengingat kejadian ini juga berkaitan dengannya.


Ketua Pelayan Tua terlihat sangat berterima kasih atas kedermawanan Juli yang rela membantu menanggung kerugiannya.


Ketua pelayan tua sempat berpikir bahwa setelah kejadian ini tidak ada lagi yang mengganggu, akan tetapi pemikirannya tidak tepat.


Selang beberapa menit saja, lima orang berseragam hitam memasuki restoran Angsa Langit, kelima orang ini memiliki tanduk kecil di kepalanya, sekilas saja siapa pun dapat menebak bahwa kelima orang ini berasal dari ras siluman.


“Sudah kuduga, mereka pasti akan muncul,” Juli kembali menghabiskan sisa tehnya.


Dugaan Juli tidak meleset, hal inilah yang dikhawatirkan sebelumnya, kemunculan siluman Tingkat Dewa. Hawa pembunuh kelima siluman ini sangat kuat, mereka dengan mudah dapat mengintimidasi siapapun di dalam ruangan.


Kepala pelayan tua beserta pelayan lain langsung jatuh tidak sadarkan diri.


“Kurang Ajar! Siluman ini sangat lancang”.


Putri Yara bangkit dari tempat duduk dengan tatapan dingin, ia dapat menebak,kekuatan siluman ini seimbang atau mungkin sedikit di bawahnya. Akan tetapi, kali ini mereka berjumlah lima orang dan akan sulit untuk dihadapinya secara langsung, apalagi jika pertarungan dilakukan di tengah-tengah Kota Pelabuhan Permata yang padat penduduk. Maka jatuh korban di pihak masyarakat tidak bisa dihindarkan.


“Katakan! Siapa Di Antara kalian yang dijuluki Tetua Agung! Selain Tetua Agung kalian boleh pergi,” salah satu dari Lima Dewa siluman memerintah.


Lie baru mau pulih dari shock, sekarang 5 ahli tingkat Dewa Siluman kembali mencarinya, ia rasanya mau mati, untung semangat hidup sangat tinggi membuat dia terus bertahan.


“Jawab! Siapa diantara kalian yang dijuluki Tetua Agung!” Teriak salah seorang siluman dengan nada tinggi mengulangi.


Lie menelan ludah dan tidak berani berkata sepatah kata pun, dia bisa menebak kalau saja dia salah menjawab, maka nyawanya akan segera melayang.


Kakek Boman senyum dengan semangat yang membara, ia sangat yakin bahwa Tetua Agung dapat mengalahkan ke-lima siluman ini dengan mudah. Ia bangkit dengan gagah sambil membakar tembakau dalam pipa.


“Kalian mau mencari Tetua Agung! itu dia!” Menunjuk ke arah bocah yang duduk lemas di atas kursi. Sontak wajah lie kembali pucat matanya melotot melebihi sebelumnya.


“Hahaha, lihatlah Tetua Agung telah mengeluarkan teknik matanya, kalau kalian berani mendekati, bisa dipastikan kalian semua akan meledak menjadi butiran debu,” Amran tertawa terbahak-bahak dengan penuh keyakinan, terhadap mata merah yang terpelotot itu.


“Apa?”


Para Dewa siluman menjadi waspada terhadap Lie, mereka saling pandang untuk mencari sebuah kesepakatan.


“Aku dengar bocah ini sangat berbahaya, dia memang tidak berpangkat tapi memiliki teknik-teknik yang paling misterius di dunia,”


“Aku dengar juga demikian, kalian berhati-hatilah! Jangan sampai mati konyol di tangannya, ingat misi kita masih banyak”.


“Ku-Le! Kau lawanlah dulu! Berhati-hatilah terhadap teknik matanya”, salah seorang siluman menyuruh kawannya yang memiliki postur badan tinggi kurus.


Amran mengikuti tingkah gurunya, ia datang menghampiri ke-5 Dewa siluman, “Apa kalian mau mencoba-coba, Apa kalian memiliki banyak nyawa! Silakan maju siapapun boleh, hahaha.” Amran mempersilahkan.


Di sisi lain, Lie sudah serangan jantung hebat, detak jantung berdenyut kencang, wajahnya berubah menjadi pucat pasi, matanya merah, keringat dingin membasahi seluruh tubuh.


‘Sialan! Anak bahlul ini, kenapa pula dia memprovokasi semua orang untuk melawanku, Apa yang harus kulakukan, kenapa nasibku selalu buruk seperti ini. Aku! Melotot apaan? Aku bahkan tidak bisa memejamkan mata karena terlalu shock, Aku bahkan tidak bisa lagi berdiri karena kakiku gemetar hebat!’ Batin Lie yang sudah putus asa.


“U-Le! Coba kau gunakan mata siluman, sepertinya Tetua Agung ini sedang melakukan pergerakan mikro, aku bisa menyadari pergerakannya!” perintah Ku-le pada salah satu rekannya.


Tiba-tiba mata U-Le menjadi hijau bercahaya, dia dapat melihat gerakan cepat seluruh tubuh Lie, gerakan itu sangat cepat. Sebenarnya, itu getaran tubuh Lie karena terlalu takut sehingga bergerak di atas kewajaran.


“Benar! Kita tertipu olehnya, kalau kau tidak mengingatkanku, mungkin aku telah mati terbunuh oleh jebakan ini, Dia tidak sedang duduk, tapi dia bergerak sangat kencang sehingga tubuhnya bergetar hebat,” U-Le menjelaskan.


“Kalau begitu ayo kita kepung dia dari berbagai sisi, kita harus mengalahkannya bersama-sama”.

__ADS_1


Lie dari tadi hanya diam, sekarang ia mau berbicara dan memohon ampun pada lima Dewa siluman. Namun giginya terkancing, hingga menciptakan senyum yang sangat mengerikan, senyum yang membuat siapapun melihatnya menjadi merinding.


Kelima siluman kembali terkejut, “Setan! Anak ini sangat berbahaya, cepat! kepung dia dari berbagai arah.”


Kelima siluman bergerak cepat mengepung, namun Lei tidak bergeming, matanya semakin merah, senyumnya semakin mengerikan, detak jantungnya mulai terdengar hebat


Dug dug dug


Kelima siluman tidak ada yang berani menyerang duluan, “U-le! Kau serang lah dia, pakai saja pisau terbangmu!” salah seorang rekannya memberi masukan.


Kakek Boman perlahan menghampiri kelima siluman dengan tatapan merendah, “Apa kalian pikir, pangkat seperti kalian bisa menandinginya, sungguh naif! Kalian telah buang-buang tenaga, Tetua Agung, dari ujung barat sampai ujung timur telah tersohor, membunuh siapa saja yang berani melawannya, kalian hanya lima cecunguk! Masih berani berdiri di sini!” kakek Boman senyum sinis.


“Sial! Tua Bangka tidak sadar untung!”


U-Le menjadi marah, dalam sekejap mata dia membalik badan dan menendang Kakek Boman dengan cepat, kakek Boman tidak sempat melihat pergerakan cepat itu, hingga tendangan itu mengenai perut dan ia pun melesat cepat bagai peluru terbang keluar Restoran Angsa Langit.


Wuus! Broom


“Guru!” Amran menjadi histeris, ia mencabut pedang menyerang U-Le dengan kecepatan tinggi.


“Bebasan Bangau Putih!”


Gerakan Amran terhitung cepat, akan tetapi bagi U-Le yang telah berpangkat bintang, pergerakan seperti ini bahkan dianggap sebuah lelucon.


“Bocah nakal! Terimalah ini!”


Dengan kecepatan tinggi U-Le menendang perut Amran, Amran pun melesat cepat menyusul gurunya.


“Hahaha!”


Juli kembali tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja, ia bisa melihat Amran dan gurunya tertancap pada tumpukan tanah di halaman depan Restoran Angsa Langit. Mereka tidak terluka parah, karena Juli diam-diam melindunginya dengan teknik ruang, akan tetapi bagaimanapun itu tetap terlihat lucu baginya.


“Kenapa bocah itu malah tertawa saat temannya celaka?”


“Bocah! Bergabunglah dengan dua rekanmu,” U-Le kembali menendang Juli dengan kecepatan tinggi.


Swuus!


U-Le sangat terkejut saat menyadari hanya menendang ruang kosong, ia penasaran kemana bocah yang ditendangnya berada. Sebelum U-Le bisa mencerna situasi, tiba-tiba sebuah tendangan kaki kecil mengenai perutnya dengan kecepatan dua kali kecepatan dirinya.


Swuus!


U-Le melesat cepat bagai peluru keluar pintu Restoran Angsa Langit dan menancap ditembok bagai anak panah.


“Hahaha!”


Juli kembali tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya, dia bisa melihat kepala U-Le lebih keras dari tembok.


Andai saja, Kakek Boman dan Amran mengalami kejadian seperti U-Le, maka keduanya pasti akan tewas seketika. Putri Yara melihat sikap Juli menjadi sangat terhibur. Putri Yara tidak mengira Juli akan mempermainkan mereka layaknya mainan.


Keempat pasukan siluman yang tersisa mata mereka terbelalak, mereka tidak menduga salah satu rekannya ditendang seperti bola oleh seorang anak kecil.


“Anak ini sangat berbahaya!”


Kini perhatian mereka tidak lagi tertuju pada Lie, tapi justru terhadap Juli yang baru saja membuat mereka tercengang.


“Ya, sepertinya kita memiliki lawan lain, ayo habisi anak itu terlebih dahulu,” Ku-le memerintah rekannya.


Mereka berempat langsung menyerang Juli secara bersamaan, Juli langsung menyambut serangan mereka dengan pukulan tangan dan pertarungan pun tidak bisa terelakkan.


Putri Yara, dengan cepat menyerang salah satu Dewa Siluman, karena Putri Yara tidak menggunakan tenaga penuh membuat ia sedikit kesulitan dalam menghadapi lawannya.

__ADS_1


Juli dapat mengimbangi ketiga lainnya, namun tanpa teknik-teknik terlarang ia sangat sulit untuk mengalahkan mereka bertiga sekaligus.


Juli menyadari, kalau pertempuran diteruskan dalam ruangan ini maka akan banyak korban berjatuhan, terutama para pelayan yang telah bersembunyi karena ketakutan.


“Hahaha! Tempat ini tidak cocok untuk pertarungan, bagaimana kalau kita bertarung di luar saja,” tanpa mendengar jawaban dari para siluman, Juli segera melompat keluar dengan cepat.


“Bocah sialan! Beraninya kau mengatur kami!”


Ketiga siluman bergerak cepat menyusul Juli dengan wajah bringas. Di luar restoran Angsa Langit semua masyarakat mulai panik, mereka dapat menyaksikan seorang anak kecil kini mulai dikepung oleh tiga siluman tingkat dewa.


Melihat Juli beranjak keluar, Putri Yara juga cepat menyusulnya, kalau dia bertarung di dalam restoran Angsa Langit bisa dipastikan bangunan ini akan segera roboh.


Tenaga dalam mereka sangat dahsyat, Bahkan mereka tidak leluasa bertarung di Kota Pelabuhan Permata, akan tetapi ini diluar dugaan.


Ku-le dan dua rekan mulai terbang, mereka memanfaatkan kelebihannya untuk menekan lawan. Juli tanpa menggunakan teknik-tekniknya jelas tidak bisa terbang, jika ia memaksa maka kehancuran Kota Pelabuhan Permata sudah bisa dipastikan, Juli menjadi dilema saat memikirkannya.


“Dasar Siluman! Turunlah! Lawan Aku secara adil, jangan bilang kalian sebenarnya menakuti ku, hahaha.” Juli kembali memancing emosi.


Ku-le menjadi murka, di satu sisi dia lebih unggul jika bertarung di angkasa, karena Juli tidak bisa menggapainya, disisi lain, mereka juga akan menjadi bahan tawaan karena pertarungan yang tidak adil.


“U-lok! Kau turun saja, biar kami berdua mengamati pertarungan kalian dari atas, tenang saja anak itu tidak bisa terbang, kau bisa memanfaatkan senjata jarak jauhmu.” Ku-le menjelaskan.


Siluman yang dipanggil U-lok mengerutkan keningnya, pertarungan adil itu memang bukan gayanya sejak dulu, di dunia ini tidak ada yang kata adil.


“Bocah! Kami memang lebih unggul darimu! Apa salahnya menggunakan keunggulan masing-masing. Ini pertarungan hidup mati, bukan permainan. Jadi tujuan kami hanya membunuhmu dan tidak penting tentang cara yang akan kami tempuh!” U-Lok bertubuh kecil hitam angkat bicara, di antara semua, U-Lok inilah yang terlihat lebih pintar.


Juli mulai melihat sekitarnya, semua orang mulai berlarian menyelamatkan diri, anak-anak mulai menangis di pelukan ibunya, orang tua mulai masuk ke rumah karena ketakutan, beberapa Pendekar Aliran putih terus berdatangan.


Pendekar ini yang paling ialah tingkat perak, tidak ada di antara mereka yang bisa terbang, kedatangan mereka memang untuk membantu mengamankan situasi, Tapi saat melihat musuh bisa terbang di langit akhirnya ciut nyalinya.


“Saiton! Musuh pada bisa terbang semua, masa mau berkelahi pakek galah! Gila nie musuh!”


“Panah saja! Siapa tau kena!”


“Nah!yang jadi masalah kan kita tidak ada panah.”


“Buset dah kalian orang! Sepertinya itu bukan lawan kita!”


Beberapa Pendekar mulai panik, sebagian pendekar biasa malah mengambil batu untuk melemparnya, walaupun jauh panggang dari ayam.


Juli sedikit bingung untuk melawan mereka tanpa menyebabkan korban jiwa, “Baiklah! Aku akan menggunakan mata kegelapan, mudah-mudahan bisa mengatasi kelima siluman ini dengan cepat.”


Pupil mata Juli berubah pekat, api hitam mulai keluar, telapak tangan terciptakan pusaran api hitam, tatapan mata dingin menatap tiga orang yang melayang di langit.


Ketiga siluman menatap Juli dengan pandangan berbeda, “U-lok, Cepat! Serang dia!”. Ku-le berteriak lantang memperingati.


U-lok segera mencabut pedang menyerang dengan energi pedangnya, energi pedang berbentuk bulan sabit ketajamannya dapat memotong baja sekalipun.


Juli terkejut, “Gawat! Siluman ini memang berencana menghancurkan kota, aku benar-benar harus bertarung serius,” Juli mengangkat tangannya.


“Kegelapan Tiada Batas!”


Sebuah pusaran api kegelapan mulai membesar ditangan Juli, dengan cepat ia menghentikan tebasan Ulok. Ketika energy pedang U-lok berbenturan dengan pusaran api hitam, seluruh Energi Pedang dilahap hingga tak tersisa.


Semua siluman terkejut, Ku-le bisa merasakan kalau kegelapan itu dapat menelan apa saja, tapi berbeda dengan energi pedang tingkat dewa, dan tentunya tidak dapat dipatahkan dengan mudah.


“Teknik Iblis! Aku tidak menduga, teknik ini, kami bangsa siluman pun enggan untuk menggunakannya!” U-lok menjadi sangat marah.


Mata Juli semakin pekat, api hitam semakin menyala-nyala, “Kalian telah datang, aku rasa kalian sudah tidak ingin lagi pergi!” Juli senyum dingin, Juli mengacungkan tangan kepada U-lok, “U-Lok! Kau yang pertama!”


Juli tiba-tiba menghilang ditelan oleh api kegelapan, U-lok menjadi kaget, ia mencoba mengawasi berbagai arah di sekitaran udara tempatnya melayang, tapi sosok anak kecil itu benar-benar menghilang, hawa keberadaannya tidak dapat terdeteksi oleh Siluman Tingkat Dewa sekalipun.

__ADS_1


“Awas!”


**


__ADS_2