Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 70. Juli Meninggal


__ADS_3

Maneho Si Penyihir Kegelapan tersadar dari pingsannya, beberapa saat yang lalu dia beserta tongkatnya diterbangkan 6 kilometer jauhnya menghantam beberapa pohon kayu hingga tengkorak dan tulang belakangnya retak, kini dia bangkit berdiri memandang di sekitarnya, matanya tertegun saat melihat pemandangan baru di bawah cahaya rembulan, sejauh mata memandang sampai ke pintu gerbang Kota Teratai Langit telah terbentang luas hamparan es.


“Apa? Apa ini? Kemana semua pasukan?” tanyanya penasaran lalu ia mencoba melihat ke arah pepohonan di belakangnya, “Apa mereka tersangkut di mana-mana? Tapi kurasa jumlah yang tersisa tidak sampai seratus ribu orang lagi, dan mereka terlihat dalam kondisi terluka” gumamnya kaget saat melihat ratusan orang terdampar di pohon-pohon akibat gelombang kejut dahsyat beberapa saat lalu, sementara ratusan ribu pasukan lainnya merenggang nyawa akibat malapetaka itu.


Sisi lain, Bordu setelah berusaha keras bertahan dari gelombang kejut beberapa waktu lalu, akhirnya gelombang kejut besar yang datang silih berganti berhasil membuatnya terhempas jauh bersama bawahannya.


“Aaaakkhh! Meteor sialan! Aku tidak menyangka meteor sialan itu bisa mengeluarkan petir dan es yang sangat dahsyat, ratusan ribu pasukan ku merenggang nyawa karenanya, tapi sepertinya kali ini semua itu telah berakhir, aku akan memimpin serangan besok pagi”


Bordu menoleh ke arah belakangnya empat petinggi lain dalam keadaan terluka menghampirinya bersama puluhan ribu pasukan yang tersisa.


“Bordu apa yang harus kita lakukan?” tanya Boulan yang terlihat tangannya telah patah akibat benturan keras.


Bordu memalingkan wajahnya melihat ke arah jatuhnya meteor seraya menyipitkan mata, “Aku bisa melihat di antara pantulan cahaya indah di tengah pada hamparan es, ada dua sosok anak kecil.. tidak! Tepatnya seorang Dewi cahaya dengan seorang anak kecil…” tatapan mata Bordu seketika terbuka lebar.


“Apa?”


"Bagaimana bisa?"


Semua orang terkejut, namun mereka hanya bisa melihat kilauan cahaya indah seperti sebuah berlian penuh warna, namun mereka tidak dapat melihat wujud aslinya karena jarak yang sangat jauh.


Maneho Si Penyihir Kegelapan segera mengeluarkan Teropong Kristal dari dalam cincin ruangnya, ia ingin melihat secara langsung karena penasaran apa yang dikatakan Bordu.


Begitu meneropong Maneho matanya terbelalak, karena penglihatannya seperti berjarak tiga meter saja dari objek yang dilihatnya,


“Dewi… Dewi… Itu Dewi yang turun dari langit bukan meteor, tubuh cantik mungilnya bercahaya terang, ia benar-benar sangat cantik jelita, sepasang sayap cahaya indah yang tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata menyatu indah di punggungnya, tapi… bukankah dia masih anak-anak? Dewi mungil itu sedang berduka, dan, jasad anak-anak hangus siapa yang dipeluknya itu? Jasad anak kecil yang sebaya dengannya, Anak itu telah mati dalam kondisi yang sangat mengenaskan” ucap Maneho menelan ludah seraya memalingkan wajahnya ke arah empat petinggi lain.


Dewi Maut dari Klan Hyena segera merebut Teropong Kristal dari tangan Maneho, ia segera meneropong membuktikan apa yang dikatakan oleh Maneho, mata Dewi Maut kembali terbelalak saat melihat apa yang dilihat oleh Maneho sebelumnya.


“Apa! Dewi mungil itu berpangkat dua emas, dua hukum paling kurang berada di tangannya, apa kita akan menyerangnya? Kita tidak tahu dia musuh atau kawan, kita jangan bertindak gegabah, sebaiknya aku mendekatinya dulu untuk membujuk, mengingat jasad anak kecil dalam pelukannya juga terlihat sama berserangam dengan pasukan kita, siapa tahu itu Dewi Iblis yang turun sendiri membantu kita, atau setidaknya itu adalah anak angkatnya Putri Mina” ucap Dewi Maut menelan ludahnya.


Bamli si Iblis Timur menarik teropong dari tangan Dewi Iblis, ia segera meneropong kembali namun teropongnya ke arah Pintu Gerbang Kota Teratai Langit,


“Gawat! Aku melihat pintu gerbang Lembah Iblis sudah terbuka dan sekitar sepuluh orang berada di depan pintu, aku yakin mereka juga ingin mendatangi Dewi, kita lebih baik bergegas sebelum terlambat, Dewi Maut! Kau dan Aku akan ke sana dan kita akan membawa seratus pasukan elit yang tersisa” kata Bamli setengah mememerintah.


“Baiklah! Ayo kita ke sana!”

__ADS_1


Dewi maut dan Bamli segera mengumpulkan pasukan yang masih sehat, dan bergegas bergerak menuju pusat jatuhnya meteor di tengah-tengah hamparan es.


**


Di tengah hamparan es.


Sesosok anak kecil yang telah hancur tubuh bagian kanan dan kaki kirinya, dalam posisi duduk tangan kirinya masih merangkul erat anak peri bercahaya. Sepasang sayap cahaya emas kebiru-biruan sesekali mengerpak dalam keadaan tidak sadarnya sampai membuat tubuh anak laki-laki yang merangkulnya bergoyang namun rangkulannya begitu erat tidak menjatuhkan menjatuhkan tubuh peri kecilnya.


Anak peri mungil itu perlahan tersadar, matanya terbuka perlahan, sesosok yang pertama dilihatnya ialah wajah yang sangat dirindukannya selama ini,


“Tuan” gumannya pelan, wajah anak kecil yang dipanggil "Tuan" terlihat senyum, matanya menatap sayu ke arah peri kecil namun tidak ada napas yang biasa terhembuskan seperti biasanya,


Mata peri kecil mungil kembali melebar saat menyadari dirinya berada dalam pelukan tangan kiri tuannya yang tidak lagi bernyawa, ia bangkit duduk cepat, perasaannya kaget tidak menentu.


“Apa ini? Apa ini ilusi? Ataukah ini mimpi buruk ku?” Peri cantik itu memukul-mukul pipinya untuk menyadarkan.


“Tidak! Ini tidak nyata?”


Batinnya langsung memberontak saat merasaka pipinya sakit oleh pukulan tangan kecilnya, Peri kecil itu melihat sekelilingnya yang penuh hamparan es sejauh mata memandang, tidak jauh dari sana terlihat sebuah kota besar dalam remang-remang cahaya rembulan malam.


“Kekuatan Mata Peri!”


Matanya kembali mengeluarkan cahaya emas yang dapat menghapus semua ilusi, bahkan jika itu ilusi tingkat Dewa.


Jantungnya seakan berhenti berdetak, mulutnya tergagap begitu menyadari ini semua nyata,


“Apa... I.. Ini bukan ilusi?” tanyanya tergagap, perlahan wajahnya kembali dialihkan pada wajah anak yang sangat dirindukannya, air mata jatuh berderai tanpa terasa olehnya,


“Tu.. Tuan! Apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya? Aaaaaaaaa” Tangis histeris peri kecil itu seraya mendekap tubuh tuannya, getaran tagisan sampai meretakkan es di sekitarnya.


Peri kecil yang bisanya tegar kini terlihat rapuh, wajahnya kini dibenamkan pada dada kiri tuannya yang tidak lagi bernyawa,


“Tuan! Apa yang terjadi? Tuan jangan tinggalkan aku lagi, aku benar-benar hilang arah sekarang! Kenapa tidak aku saja yang mati menggantikan dirimu, Aaaaaa” tangisnya, peri kecil terus berharap apa yang terjadi adalah sebuah mimpi.


**

__ADS_1


Di Pintu Gerbang Kota


Setelah ledakan dahsyat semua petinggi Kota Teratai Langit terbelalak melihat pemandangan di depannya, semua mata kini terpaku pada dua sosok anak yang berada di tengah-tengah hamparan es, semuanya terdiam saling mencari tahu apa yang terjadi.


Aira biasanya tenang kini ia meneteskan air mata hal itu menjadi menarik perhatian semua orang yang berada di sana,


“Guru! Telah tiada, takdir akan berubah… aku benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan oleh guru, namun dia benar-benar mengorbankan dirinya kali ini, aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena ini semua adalah keputusannya, aku selalu berpikir kalau guru akan terus membimbingku, nyatanya di sinilah tempat pembaringan terakhirnya” air mata Aira terus mengalir membasahi kedua pipinya.


Hana melebarkan matanya, ia bisa melihat kejujuran di mata Aira,


“Aira! Bicara yang jelas! Apa maksud mu itu?” tanya Hana dengan jantung berdebar-debar.


Penyihir Rioh menarik napas panjang menundukkan kepalanya dengan perasaan sedih,


“Ketua Juli telah tiada, itulah kenyataannya” Rioh membantu Aira untuk menjawab pertanyaan Hana.


“Apa?!”


“Wali telah tiada?”


“Apa?”


Jawaban itu bagi Hana bagai ribuan pisau menusuk jantungnya, matanya terbelalak jantungnya tidak berdetak untuk beberapa detik pandangan matanya mulai gelap ia jatuh melayang tidak sadarkan diri, dan ditangkap cepat oleh Bahri yang berdiri disisinya.


“Ah! Gawat, Anak ini syok berat!” Bahri merasa menyesal dan kasihan.


Semua petinggi kaget dan syok, air mata mereka meneteskan tanpa terasa, Husen selaku orang paling tegar, kini ia terlihat sangat frustasi matanya terus berair,


“Anak gila! Kenapa kau segila ini menyerang sendirian tanpa memberitahu kami… kenapa kau nekat? Kenapa anak sepertimu tidak berumur panjang, kenapa tidak orang tua seperti ku saja yang mati…” Husen menutup matanya menagis terisak.


Bahri bisa melihat kegelisahan dan kesedihan semua orang, ia mengendong Hana yang telah tidak sadarkan diri dan mulai mengambil kepemimpinan.


“Pasukan buka pintu gerbang! Kita akan ke sana untuk mengambil Jasad Wali!” Teriaknya pada pasukan Suku Padri penjaga pintu gerbang.


“Baik! Tuan!”

__ADS_1


**


__ADS_2