Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 88. Ceurape Si Tupai Berkantong


__ADS_3

Naga Kegelapan berjalan sambil menyemburkan api hitam membakar rawa, banyak tumbuhan pemangsa mulai bergerak menyelamatkan diri sebagian tumbuhan yang tidak bisa bergerak hangus terbakar.


Hana duduk bersila di atas Naga mengontrol api hitam sembari memulihkan tenaga dalamnya yang terus terkuras. Sementara Juli terus bergerak cepat menghantam tumbuhan pemangsa yang masih bertahan dalam kobaran api hitam, bibirnya senyum setiap kali ia mendapatkan kristal hijau level 4 setelah membunuh Bunga Jarom Sisat,


‘Ah sejauh ini aku sangat beruntung, aku telah mendapatkan 560 kristal level 4 dan ratusan level 3, kurasa hutan ini adalah hutan tertua di kawasan ini, tapi Hana sudah kelelahan, padahal dia hanya membakar satu rawa saja di sekitar tempat tinggal Janeng Iblis yang telah terbunuh, huh! Aku harus mengajarinya teknik penggunaan api hitam yang lebih efektif kedepannya agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi’ batin Juli sambil mengutip kristal level 3 dan level 4, sementara level 2 dan level 1 telah berserakan di berbagai tempat dalam jumlah tak terhitung.


"Teknik Pengendali Kobaran Api Hitam!" Hana terus mengamuk membakar apapun di kawasan itu tanpa ragu, tekadnya sangat kuat untuk menghabisi semua tumbuhan pemangsa di kawasan ini.


Huuuuu…. Kriieeekk… kriieeekk…


Tanpa terasa tiga jam sudah berlalu Hana dan Juli terus mengamuk memporak-porandakan rawa Janeng Iblis sampai hari menjelang magrib, rimba terasa lebih gelap karena lebatnya kabut spora di udara.


Hana perlahan membuka mata dari konsentrasi terdalamnya, kondisi tubuhnya lemas dan hampir tidak bisa digerakkan karena kehabisan tenaga dalam,


“Ah... Ini sangat melelahkan, tapi ini sepadan dengan hasil yang kudapatkan, setidaknya seribu lebih tumbuh iblis tingkat menengah telah terbunuh oleh api Hitam ku, kuharap Senior Juli berhasil memperoleh kristal hijau yang cukup untuk kesembuhannya” suara Hana terdengar lemas dan napas terburu-buru kelelahan.


Hana telah bekerja keras sepanjang hari, area yang telah dibakar saja lebih dari 50 kilometer luasnya. Berkat kerja kerasnya membakar seratus bunga Jarom Sisat Juli berhasil mendapatkan 900 kristal dalam bentuk sempurna.


Juli pada dasarnya merasa kasihan pada Hana karena telah bekerja di atas ambang kemampuan yang dimiliki. Juli menyadari yang mendorong Hana berbuat sejauh ini semata-mata untuk kesembuhan dirinya, jadi Juli pun tidak ingin mengecewakan pengorbanannya.


Juli senyum pahit melihat kondisi Hana yang sangat lelah dan sudah kehabisan tenaga dalam berkali-kali,


“Hana, terimakasih ya, kau terlalu lelah sekarang dan pulihkan dirimu dulu, aku rasa kristal yang kita peroleh ini jauh dari cukup untuk kesembuhan ku, dan mulai malam ini aku juga akan menyembuhkan diri secepat mungkin” Juli menatap Hana dengan tatapan hangat dan penuh terimakasih.


Hana menatap wajah Juli dengan penuh kekaguman dan suka cita,


“Benarkah! Aku senang mendengarnya” Hana tidak turun dari atas punggung Naga Kegelapan karena di sana jauh lebih aman dengan kondisinya saat ini,


“Oya Senior! Aku akan beristirahat di sini” Hana menelan Kristal Hijau dan menyerap energi kristal itu kembali. Tubuh Hana segera mengeluarkan bercahaya hijau terang menerangi daerah sekitarnya.


Juli senyum, pandangan mata menatap jauh ke hutan pemangsa luas dalam kegelapan, "Kurasa disini sangat aman, mereka pasti berpikir dua kali untuk menyerang ku" gumam Juli.

__ADS_1


Malam pun mulai gelap hanya remang remang cahaya bulan yang terlihat menyinari bumi diantara tebalnya kabut spora.


Juli menghela napas panjang, ‘Baiklah. Aku pun harus mempercepat pemulihan, dan sepertinya besok akan menjadi hari yang sulit, mengingat hari ini Hana dan aku telah banyak mengusik wilayah Dewi Siluman Iblis’


Juli mulai duduk bersila pada kursi yang telah disediakan sebelumnya kemudian ia menelan kristal hijau memulai penyembuhannya. Dengan teknik khusus Juli dapat menyerap kristal beberapa kali lebih cepat dari pada teknik biasanya, begitu juga dengan kecepatan kesembuhannya.


**


Malam hari di Telaga Kera Salju


Di bawah remang-remang cahaya bulan 11 orang bertempur mati-matian melawan Kera Tumbuhan Pemangsa, kera besar setinggi 3 meter tubuhnya dipenuhi oleh tumbuhan parasit menjalar.


Kera Tumbuhan Pemangsa adalah kera yang sangat ganas mereka tidak segan mencabik-cabik mangsa hingga hancur dan memakan dangingnya hingga habis, selain serangan kera juga serangan bunga bergigi racun yang tumbuh pada bagian tubuh kera yang terus menyerang setiap waktu.


Akan tetepi yang membuat kera ini semakin ditakuti karena mereka menyerang dalam kelompok besar sehingga mangsa yang menjadi target sangat sulit bisa lolos dari cengkeramannya.


Para pasukan sangat terdesak oleh serangan brutal Kera Tumbuhan Pemangsa, tubuh pasukan penuh dengan luka cakar dan gigitan tumbuhan beracun, semua pasukan terhuyung-huyung tidak berdaya melawan Kera Pemangsa dalam skala besar di kegelapan malam.


“Aaaakkk!”


Teriakan demi teriakan terus terdengar dalam kegelapan, satu persatu pasukan roboh keracunan sebagian mengalami luka cakar dan robekan serius. Dalam gelap malam ditambah kabut spora tebal jarak pandang hanya beberapa centimeter saja itupun jika menggunakan penerangan, tapi kini justru tidak terlihat kawan maupun lawan dalam kabut tebal itu.


Jendral Wirma terus bersiul memberikan tanda keberadaannya sementara tangan kanan terus menyerang dalam kegelapan, “Pangeran! Berusaha lah untuk lari” Teriak Jendral Wirma, tidak lama kemudian suaranya pun tidak lagi terdengar dalam gelap malam.


Pangeran tidak bisa melihat apapun disekitarnya lagi selain keberadaan monster, dia terus berusaha melompat menerjang melarikan diri di gelap malam tanpa arah dan tujuan dengan rasa putus asa yang mendalam.


“Sial! Bangaimana caraku bisa bertahan hidup di rimba seperti ini, Aaakkk!” Terdengar teriakan terakhir pangeran dalam rimba gelap gulita.


**


Menjelang subuh di hutan rawa rawa.

__ADS_1


Tumbuhan pemangsa kembali melepaskan spora dari daun-daun dan bunga, alam kembali berkabut tebal hingga jarak pandang hanya beberapa meter saja.


Hana tertidur pulas di atas Naga Kegelapan tanpa ada yang mengganggunya dari semalam. Juli perlahan membuka matanya, tumpukan kristal hijau semula dikira akan lebih nyatanya semua habis terpakai dan hampir tak tersisa, tapi walaupun begitu raut wajahnya terlihat senang karena selain tenaga dalamnya telah sembuh dia juga telah naik satu tingkat, yaitu batu tingkat dua.


Secara pangkat Juli belum lah terlihat satu titik putih pun, dia membutuhkan 4 kali kenaikan peringkat lagi baru bisa berpangkat satu putih.


Juli dapat merasakan tangannya yang telah memiliki kekuatan kembali, “Hm.. Sekarang Wadah Induk tenaga dalam ku telah sembuh sempurna, namun 4 hukum dalam wadah tenaga dalamku belum bisa ku stabilkan untuk saat ini, namun ini jauh lebih dari cukup” batin Juli sambil mengeluarkan sebuah kristal kehidupan dalam cincin ruangnya.


Kristal-kristal itu didapatkan dari Mina yang berisi berbagai macam makhluk hidup hasil uji cobanya, Juli mengeluarkan satu kristal yang berisi Tupai Berkantung Ruang, tupai ini hewan ghaib kecil bergerak sangat cepat dan lincah serta memiliki kantung di perutnya yang bisa disimpan apapun, sebesar apapun, dan sebanyak apapun di dalamnya.


Juli menyalurkan sedikit kesadarannya pada Tupai Berkantong dan mengeluarkannya dari kristal kehidupan, tupai itu langsung berdiri dan berbicara pada Juli dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh Juli sendiri.


Cit cit cit


Juli senyum, ia mengerti apa yang ada di dalam pikiran tupai imut ini, “O.. Nama? Kau terlalu imut, sekarang aku menemaimu Ceurape, dan kurasa itu tidak terlalu buruk, hehehe” Juli mengelus ngelus pipi Ceurape yang terlihat menyukai nama barunya.


Juli megeluarkan satu kristal hijau level 2 dan memberikannya pada Ceurape, “Ceurape! Makanlah ini dan rajin-rajinlah meningkatkan budidaya tubuhmu, nanti kalau kau sudah berada di tingkat emas kau bisa bicara dalam bahasa manusia, tapi ingat jangan terlalu rakus” Juli memberikan wejangan pada hewan peliharaannya.


Tupai itu menganguk dan segera memakan kristal hijau yang diberikan hingga habis, Ceurape terlihat benar-benar menyukai kristal itu, kemudian Ceurape memintanya lagi, "Ciit.. Ciit!"


"Ah! Kau ini rakus juga ya?" Juli tersenyum kemudian ia pun memberikan beberapa lagi.


Setelah Ceurape makan beberapa kristal hijau Juli baru memberinya perintah. “Ceurape! Kau kumpulkan semua kristal hijau yang berada di sini kemudian berikan padaku” Juli senyum begitu melihat keterkejutan Ceurape dengan tugas barunya.


Cit cit cit (Ngeri Bos ini makan sedikit langsung di suruh bunuh diri)


Cerape melesat cepat melaksanakan seperti diperintahkan, Juli senyum kini pandangannya teralihkan pada Hana yang terlihat tertidur pulas di atas naganya.


‘Hmm… Sepertinya ini berjalan dengan aman, tapi bagaimana dengan keadaan pangeran kedua ya? Baiklah aku akan menemui mereka sebentar lagi, sekarang kabut ini sangat mengganggu ku, sebaiknya ku buat aray pelindung sebesar seratus meter, dengan demikian aku dan Hana bisa tinggal dalam udara bersih’ batin Juli sambil menjentikkan jarinya.


“Teknik Ruang! Aray Musim Semi”

__ADS_1


**


__ADS_2