
“Awas!”
Tiba-tiba terdengar teriak Ku-le begitu melihat Juli muncul tepat di belakang kepala Kule yang melayang di angkasa.
“Api Kegelapan! Neraka Para Dewa! Serap!”
Juli meletakkan tangan tepat di tempurung kepala U-lok dan segera menciptakan sebuah segel api kegelapan, U-lok berusaha berbalik badan untuk menyerang balik.
“Bocah! Apa yang kau lakukan padaku!” U-lok berteriak marah begitu menyadari sesuatu telah terjadi pada tempurung kepalanya.
Juli senyum sembari menghentakkan kaki di udara dengan capat hingga dia terlempar beberapa meter ke angkasa. Senyuman Juli misterius membuat dua Dewa siluman saling pandang dalam kebingungan.
“Kalian! Tidak kubiarkan kalian kabur hari ini!” Juli segera menyerap U-lok dengan cepat ke dalam telapak tangannya.
“Apa! Yang terjadi!”
“Apa yang direncanakan oleh anak itu Ju-Ngo! Kau lihatlah! Segel apa di Kepala U-lok! Api hitam itu terus menyerap U-lok!”. Ku-Le menjadi sangat penasaran, terhadap teknik misterius yang dilakukan Juli.
“Bocah sialan! Lepaskan segelmu!”
U-lok Berusaha keras untuk dapat menjatuhkan Juli sebelum rencana Juli tercapai. Semakin U-lok cepat bergerak, semakin cepat pula dirinya terserap.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku!” U-lok berteriak dalam keadaan frustasi beberapa saat sebelum ia benar-benar menghilang.
Ju-Ngo tidak percaya dengan teknik yang dilakukan oleh Juli, akan tetapi rumor tentang kemunculan anak-anak misterius di Bumi Barat selama ini telah tercium oleh mereka, namun mereka tidak pernah melihat langsung sebelumnya.
Kini mata Ju-Ngo dapat menyaksikan sendiri tentang rumor-rumor yang beredar di kekaisaran Dewi Iblis Barat.
“Gawat Ku-Le! Siapa bocah ini! Dia ini benar-benar monster! Kita tidak bisa melawan dia dengan cara ini, kita harus melaporkan masalah ini pada Yang Mulia!” Sosok siluman berperut buncit kaget begitu melihat seorang bocah mengalahkan siluman tingkat Dewa sendirian.
“Kurasa, anak di Bumi Barat tidak ada yang normal, di dalam sana kita telah melihat sendiri Tetua Agung, dan kali ini kita menemukan anak monster lainnya, kalau Tetua Agung keluar bergabung dengan mereka, maka kita tidak dapat meloloskan diri, lihatlah Sam-Bo! Dia bahkan tidak bisa menekan seorang gadis kecil, apa mungkin kita memiliki cara lainnya” Ku-le menunjuk ke arah seorang siluman berkepala botak yang sedang bertarung mati-matian dengan Dewi Yara.
“Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat kita pergi dari sini sebelum terlambat!”
“Ju-Ngo! Kau bawa si tolol U-Le yang telah tertancap di tembok itu, dan kita akan mundur untuk sekarang, melawan anak ini hanya akan membuat nyawa kita melayang! Untuk sementara waktu biarlah aku yang menahannya.” Ku-le bergerak cepat menyerang Juli dengan menggunakan tombak.
Tatapan mata Juli dingin, kakinya terus menghentakkan udara dengan sangat cepat hingga tubuhnya melayang di udara. Teknik yang dilakukan Juli tentu saja membuat mereka bingung. Akan tetapi teknik ini juga pernah dipraktekkan oleh beberapa siluman tingkat tinggi untuk menutupi tingkat kekuatannya.
“Cepatlah Ju-Ngo! Waktumu tidak banyak!” teriak Ku-le kebingungan, sambil mempercepat serangan tombak, Juli selalu mengelak serangan tombaknya tanpa mengalami kesulitan berarti.
__ADS_1
“Ingin menghentikan ku dengan tombak tingkat langitmu! Sungguh naif! Hm, lagi pula, kalau kubiarkan kalian pergi maka akan menimbulkan bencana di Kota Pelabuhan Permata, sebaiknya aku menghabisi saja kalian semua!”
Juli menangkap ujung tombak dengan cepat, mata tombak Ku-Le bukan saja tidak bisa mencelakai tangan Juli, tapi justru tangan Juli lah yang menghancurkan mata tombak milik Ku-le dengan api hitam.
“Neraka Para Dewa! Serap!”
Tombak Ku-Le segera terserap kedalam telapak tangan Juli, Ku-le mencoba menarik tombaknya tapi api kegelapan terus membakar tombak hingga ke pangkal tombak.
“Bocah Iblis! Trik apa lagi yang kau gunakan!”
Ku-le kaget dan segera melepaskan tombak, ia sadar kalau sedikit saja telat bertindak, maka bisa dipastikan dirinya pun akan bernasib sama dengan U-lok.
Juli senyum gembira, “Pusaka Langit! Tidak buruk! Apa kau memiliki pusaka lainnya? Kukira kau takkan melepaskannya hingga kau pun akan terserap ke dalam Neraka Para Dewa.” Tombak pusaka Ku-le kini terserap oleh Neraka Para Dewa hingga tak tersisa.
Ku-le sangat murka, memperoleh pusaka tingkat langit bukanlah sesuatu yang mudah, tapi kali ini dia benar-benar kehilangan tombak terbaiknya.
“Bocah manusia! Kau sungguh sombong!” Maki Ku-le geram. Rencana awal Ku-le mencoba mengulur waktu agar Ju-Ngo bisa membawa U-Le pergi, akan tetapi dalam kesempatan ini ia justru kehilangan senjatanya. Ia benar-benar tidak menduga bahwa anak dihadapannya ini sangat mengerikan.
“Kenapa bengong! Maju sini!”
Tatapan mata kegelapan Juli semakin dingin hingga membuat Ku-le bergidik, dan tidak tahu mengapa insting Ku-le mengatakan bahwa Juli adalah anak yang benar-benar berbahaya.
“Bocah! Kita akhiri saja pertempuran ini! Bagaimana?”
“Kenapa aku harus mendengarkan mu!”
Juli mengalihkan pandangan ke arah Putri Yara yang sedang bertarung dengan Sam-Bo. Pertarungan keduanya sangat dahsyat hingga menghancurkan banyak bangunan di sekitarnya termasuk restoran Angsa Langit. Putri Yara jelas terlihat lebih unggul dari Sam-Bo dengan teknik-teknik pedang yang digunakan, andai saja Putri Yara menggunakan tenaga dalam, bisa dipastikan dalam beberapa gerakan saja Sam-Bo telah berhasil dilumpuhkan.
Ku-le berpikir keras, ia dapat melihat semua rekanya telah kalah, ia yakin orang seperti Juli tidak mudah melepaskan mangsanya, di sisi lain ia juga dapat melihat kelemahan Juli sejarah samar-samar, yaitu “Masyarakat tak berdosa”.
‘Anak ini sangat kuat, anak ini benar-benar monster yang mengerikan, kalau saja dia serius melawan kami, maka bisa dipastikan dalam beberapa gerakan saja kami bisa mati di tangannya, akan tetapi, dia tidak melakukannya, mungkin salah satunya alasan karena tenaganya sangat kuat sehingga dapat menghancurkan seisi kota, Hm, atau adakah alasan lain, aku sungguh tidak bisa menduganya, mengingat dia pun seorang pengguna teknik Iblis, biasanya anak seperti itu tidak pernah menghiraukan nyawa orang lemah.’ batin Ku-Le mencoba mencari kelemahan Juli seakurat mungkin.
“Kalau pertarungan ini berlanjut, bukankah akan semakin banyak bangunan yang akan hancur, dan semakin banyak pula korban akan berjatuhan, kurasa walaupun dirimu kuat tapi kau tidak akan mampu menyelamatkan mereka semua, bukankah demikian bocah!”
“Ooo! Kau mencoba mengancam ku? Begitukah! Akan kupastikan kamu akan mengalami nasib yang sama dengan sahabatmu sebelumnya.” tatapan Juli semakin dingin, matanya semakin hitam pekat hingga Ku-le menelan ludah.
“Bukan! Bukan begitu, kami hanya ingin pertempuran ini diakhiri”. Ku-le cepat-cepat menjawab dia tidak mau Juli berubah pikiran.
Pada dasarnya Juli memang tidak ingin melepaskan mereka, Tapi saat melihat banyak warga yang bersembunyi dalam rumah karena ketakutan. Serta pasukan lemah terus berdatangan untuk membantu, jelas Juli tidak bisa menempatkan mereka dalam bahaya.
__ADS_1
“Ku-le! Aku tahu ada lebih dari 20 pasukan siluman berada di Kota Pelabuhan Permata, aku memberikan waktu kalian sehari, jika dalam sehari kalian tidak meninggalkan kota ini, maka aku akan membunuh kalian semua! Kalau tidak percaya, kalian bisa mencobanya!”
“Aku tidak bisa menjaminnya, tapi aku akan berusaha meyakinkan mereka!” Ku-Le menjelaskan dengan sungguh-sungguh.
Siluman berperut buncit yang bernama Ju-Ngo, segera terbang cepat ke arah U-Le yang ditendang oleh Juli sebelumnya dan tertancap di tembok pagar restoran Angsa Langit.
Ju-Ngo menarik kepala U-Le disela-sela pertarungan dahsyat antara Dewi Yara dengan Sam-Bo. Ju-Ngo sendiri tidak mengkhawatirkan imbas dari pertarungan Putri Yara ataupun Sam-Bo, akan tetapi ia justru mewaspadai gerakan Juli yang tiba-tiba berada di dekatnya.
Setelah melepaskan U-Le hati Ju-Ngo jadi lega karena tidak melihat keberadaan Juli di dekatnya. Dari kejauhan Ku-le mengetahui kekhawatiran rekannya. Karena hal itu juga dialami dirinya.
“Sam-bo! Sudahi pertarungan kalian, bergegaslah untuk pergi!” Ku-le memerintah dengan suara lantang.
Juli kembali jatuh ke bumi dengan kecepatan tinggi diantara Putri Yara dan Sam-Bo, sampai menciptakan gelombang kejut besar menghempas Sam-Bo dan Putri Yara beberapa langkah kebelakang.
Putri Yara terlihat kelelahan, ia tidak menduga bahwa pertarungan ini sungguh menguras tenaganya. Padahal puluhan jurus telah dia kerahkan namun tidak mampu melumpuhkan musuh yang hanya tingkat Dewa biasa.
“Putri Yara sudahlah, biarkan cecunguk ini pergi.” Juli menatap Sam-Bo yang terlihat kelelahan. Sam-Bo bisa merasakan tekanan hebat, tekanan seperti ini hanya seorang yang mampu melakukan sebelumnya, yaitu Dewi Iblis Barat.
Sam-Bo memberanikan diri menghadap Juli, “Baiklah bocah! Untuk saat ini kami akan mundur, dan besok kami akan kembali lagi. dengan pasukan yang lebih besar lagi.” Sam-Bo mencoba mengancam Juli, sebelum ia terbang mendekati Ku-le dan diikuti oleh Ju-Ngo yang membawa serta U-Le.
“Sam-Bo! Kau tidak udah memprovokasinya kalau ingin tetap hidup! Bergegaslah meninggalkan tempat ini!” Ju-Ngo mengingatkan, ia bisa merasakan hawa pembunuh belum berkurang di mata bocah manusia itu.
Tidak lama kemudian ratusan pendekar Aliran Putih terus berdatangan, begitu juga dengan pasukan elit Lembah Teratai Langit, mereka semua menggunakan zirah perang.
“Kemana perginya musuh! Apa yang terjadi?”
Sesampai mereka di sana, mereka terkejut saat melihat beberapa bangunan telah hancur berantakan akibat dari serangan energi pedang. Pertempuran tingkat ini jelas dilakukan oleh ahli tingkat dewa, mereka hanya bisa menelan ludah dan tidak bisa berbuat banyak walaupun mereka datang lebih cepat.
“Untung saja pertarungan tidak berlanjut, jika tidak, Aku tidak yakin kota ini masih berdiri sekarang”.
Selesai berkata demikian, Pemimpin pasukan Lembah Teratai Langit memerintahkan pasukannya untuk menyelamatkan orang-orang yang tertimpa di bawah runtuhan.
“Semuanya! Tolong bantu warga!”
Beberapa pasukan mendekati Juli dengan perasaan khawatir, mereka memang tidak sempat melihat pertarungan sebelumnya karena telat datang. Selain itu pertarungan Juli sendiri terjadi di angkasa, hanya pertarungan Putri Yara yang telah menghancurkan banyak bangunan. Jadi tidak ada alasan untuk mencurigai Juli sebagai dalang utama dalam pertarungan ini. Mereka justru mengira Juli adalah korban dari pertarungan ini yang harus dilindungi.
“Nak! Kau tidak apa-apa, kenapa kau ada di sini? mari, kita mengungsi ke tempat yang lebih aman”, seorang pasukan memegang tangan Juli dan membawanya pergi dari sana.
“Terima kasih Paman!”
__ADS_1
**
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankannya. Mohon Maaf lahir batin atas segala kesalahan, dan terimakasih atas dukungannya.