
Didepan Pintu Gerbang Lembah Seribu Warna
Hana merasa bersalah kepada semua orang disekitarnya, sebab semua masalah ini bersumber dari dirinya, dan ia merasa tidak patut melibatkan orang lain yang tidak berdosa untuk mati karena melindunginya.
Yuyun dapat melihat kesedihan Hana, ia menghampirinya menepuk pundak Hana dengan lembut.
“Jangan takut, kami akan melindungimu bagaimanapun caranya” Yuyun senyum memberi semangat.
Hana kembali pasrah pada keadaan, sementara musuh telah sampai di hadapan mereka hanya berjarak lima puluh meter jauhnya.
Hana diam-diam memperhatikan satu persatu orang-orang yang berusaha melindunginya.
‘Apa?! Kakek Husen sampai berkeringat dingin saat berhadapan dengan mereka, berarti pastilah musuh-musuhku sekarang sudah bukan lagi dari Pemburu biasa’ Batin Hana semakin gelisah, ia kembali melirik Risa, Ruyu, Yuyun, Dolah, dan Mija namun semuanya telah pucat pasi.
Hana semakin putus asa, perlahan ia menoleh kearah Juli, ia sangat penasaran bagaimana sikap anak aneh itu di saat-saat tegang seperti ini, ‘Apa? Anak ini malah tersenyum gembira…’ mata Hana terbelalak, ‘Apa anak ini tidak tahu, jika kami mati maka diapun akan dibunuh juga oleh mereka, dia benar-benar gila’ batin Hana semakin kaget.
Di sisi lain, Husen sebenarnya berkeringat dingin saat melihat seorang kakek kurus menunggangi Hyena dalam kelompok musuhnya, ia berada di belakang Aboki yang bertindak sebagai penunjuk jalan.
Kakek tua itu menyeringai saat beradu pandang dengan Husen, “Husen, Majikan Lembah Seribu Warna… Aku senang kita dapat bertemu lagi, Hm.. Pangkat mu masih sama seperti sepuluh tahun lalu, Apa kau masih tidak mampu menerobos pangkat mu ke tahap perak? Hehe.. terkadang dunia ini tidak adil, ya kawan” ejek Kakek tua kurus itu memasang wajah dingin.
Husen senyum pahit saat mendengar sindiran itu, sebenarnya, Husen tidak bisa menerobos ke Pangkat perak karena tidak cukup sumber daya, tidak seperti rekannya yang telah menjadi Pemburu Kegelapan dan memperoleh banyak sumber daya dari hasil merampok dan membunuh,
“Hm.. Jadi ada gerangan apa, hingga sampai membawa Bomo si Petapa Tua Gunung Hantu kemari, sebenarnya, aku sangat berharap untuk orang-orang seperti kita agar tidak lagi mencampuri urusan dunia persilatan ini”
Bomo langsung tertawa saat mendengar pernyataan Husen, “Hahaha, Husen! Kau salah! Karena keras kepala mu lah hingga membuatmu masih pangkat lima perunggu hingga saat ini, sekarang lihatlah pangkat ku” Bomo memperlihatkan lengannya yang telah dua titik perak.
HAHAHAHA
HAHAHAHA
Galak tawa semua pasukan Hyena penuh semangat, mereka tahu bahwa Pangkat Bomo jauh lebih tinggi dari pada Husen, realita ini semakin membuat mereka congkak dan angkuh.
Aboki menatap tajam dengan penuh ancaman, “Tua bangka majikan Lembah Seribu Warna, cucumu telah membuat mandul Batok, kini dia harus dirawat di rumah tabib dan menurut tabib, dua telornya hancur total, burungnya mati, ia tidak bisa jalan lagi, dan dipastikan cacat seumur hidup, kau harus bertanggung jawab, tapi.. kali ini aku masih mau berdamai denganmu, serahkan anak perempuan itu baik-baik, dan kami akan melepaskan mu, dan ku anggap semuanya impas, tapi kalau tidak!? Maka lembah ini akan kami bumi hanguskan hingga rata dengan tanah!” Tawar Aboki dengan nada marah dan angkuh.
Husen senyum pahit dan semakin putus asa ia dapat merasakan bahwa tidak mungkin bisa menang dalam pertarungan, namun dia juga enggan menyarahkan Hana pada mereka,
__ADS_1
“Kalau begitu keputusan mu, majulah! Akan ku pastikan kalian juga tidak akan kembali secara utuh” Husen nekat mencabut dua pedangnya dan menghunus kearah musuh-musuhnya, ia menyadari kesempatan menang adalah nol namun setidaknya ada beberapa orang yang menyusul ke neraka bersamanya.
Risa terlihat sangat gelisah begitu mengetahui musuh kakeknya telah berpangkat perak, dan itu jauh di atas kakeknya,
“Kakek! Kita tidak ada peluang untuk hidup, lawan kita sangat kuat” Risa semakin putus asa dengan kondisi ini.
Mendengar tantangan Husen, Aboki menjadi sangat marah, dia segera memberi isyarat pada anak buahnya agar menyerang,
“Semuanya…! Dengarkan aku.. Bunuh mereka semua! dan sisakan bocah jenius itu”
“SERANG!!”
Puluhan Pemburu dari Klan Hyena langsung menyerang kearah pasukan Husen secara bersamaan yang dipimpin langsung oleh Aboki
“Serang!?”
Teriakan mereka secara bersamaan, semakin mematahkan semangat Husen dan anggotanya.
Di sisi lain, Bomo masih duduk santai di atas Hyena tunggangannya, matanya menatap tajam ke arah Husen yang telah siap menyambut serangannya.
WUUSSS WUUUSSS
Tiba-tiba, Pintu Portal warna perak muncul di tempat itu, ukurannya juga sangat besar sehingga semua Pemburu Klan Hyena langsung mundur karena terkejut, begitu juga dengan Husen dan Pasukannya.
“Apa?!”
“Kenapa muncul portal tingkat tinggi di saat seperti ini?”
“Portal Perak! Ini portal tingkat berbahaya, kalau telah masuk besok baru bisa keluar lagi!” Ucap salah satu Pasukan Hyena.
Aboki mengerutkan alisnya, “Pintu Portal perak jumlahnya tidak banyak, selama ini tidak ada orang yang berani memasukinya kecuali Para Pemburu Elit dari kekaisaran” Terang Aboki pada pasukannya.
Aura pembunuh yang dikeluarkan oleh Pintu portal itupun sangat kuat bahkan bisa menekan siapapun yang berada di sana, termasuk Bomo.
Berdecak kesal “Ck! Kemunculannya sungguh tidak tepat!” ucapnya jengkel.
__ADS_1
Sementara itu, Hana bisa merasakan semua orang termasuk Bomo sepertinya takut untuk masuk ke dalam portal perak, dan ia mulai berpikir, ‘Aku dapat merasakan detak jantung semua orang yang ada disini, jantung mereka berdetak kencang, mereka semua takut untuk masuk ke dalam Portal ini, ini kesempatan ku, karena bagiku sama saja, berada disini aku akan mati atau diculik oleh mereka, kalau aku masuk ke sana, setidaknya yang lain akan selamat, karena mereka hanya mengincar ku, baiklah! Tuhan memang telah menunjukkan jalan, inilah jalan yang harus ku tempuh untuk saat ini” Pikir Hana seraya melesat cepat bergerak kearah pintu portal.
Wuusss Wuuusss
Risa terkejut begitu melihat Hana bergerak cepat menuju kearah Pintu Portal, ia dapat menduga tindakan yang akan dilakukan oleh Hana dalam keadaan seperti ini.
“Hana Jangan masuk!”
“Jangan masuk Hana!”
Semua orang terkejut, kini semua mata teralihkan pada Hana yang berdiri di depan pintu portal,
Aboki tidak tahu harus berbuat apa begitu melihat Hana tepat di depan Pintu Portal, “Hey! Apa yang akan kau lakukan? Menjauhlah dari sana” Teriak Aboki marah.
Hana membalikkan badan, pandangan tertuju pada Klan Hyena, “Kalau kalian mau menangkap ku, maka masuk lah kemari, itu pun jika kalian berani” ucapnya,
Husen mengangkat tangannya, “Tunggu Hana! Jangan masuk ke sana!” Husen mencoba menghentikannya.
Namun hana tetap mundur perlahan ke dalam Pintu Portal, “Kakek! Paman dan kakak-kakakku semuanya, selamat tinggal” ucapnya terus menghilang dalam Portal itu.
“Hana tidak!”Risa langsung bergerak cepat menyusulnya “Hana Jangan lakukan hal yang bodoh!” Teriak Risa, namun terlambat.
Husen memijat keningnya, “Sudahlah Risa!” Husen merasa bingung harus bagaimana.
Risa terlihat berpikir sejenak, “Kakek! Aku akan ke sana untuk melindungi Hana sekarang!” ujar Risa seraya menerjang maju ikut masuk ke dalam Pintu Portal tanpa mendengar jawaban kakek Husen.
“Sial! Aku juga harus membantu mereka” Ujar Dolah juga menyusul.
“Aku juga ikut!”
“Aku Juga!”
“Ayo! kita semua ikut bersama!”
**
__ADS_1