Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 40. Mengajari Hana


__ADS_3

Trang! Trang!


Hana memperhatikan gerakan pedang Juli secara seksama gerakan yang sangat cepat dan sangat mustahil ditiru dan sulit diikuti oleh pandangan matanya, setiap tebasan Juli mengenai sasaran dengan sangat tepat bahkan sambil tertawa tawa Juli menebas lima orang sekaligus, dalam waktu itu pula ia menangkis puluhan serangan pedang dan panah gelap terhadap dirinya.


Yang sangat mengherankan Hana, dalam beberapa tarikan napas saja Juli telah memenggal dua ratus lebih Anggota Pemburu Iblis tanpa terkena setetes pun darah pada dirinya.


Juli senyum melihat keheranan Hana terhadap teknik pedangnya, namun ia tetap menjaga jarak agar Hana dapat memperhatikan gerakan pedangnya dengan akurat,


Swuu swuus... Aaakkk... Aaakkk...


Juli menerobos bagai peluru matanya melirik ke segala arah dengan tajam dan cepat, namun mulutnya terus memberi arahan niat pedang pada Hana.


“Hana! Ingat lah, dalam setiap gerakan selalu ada aura serangan yang tersembunyi kau harus peka terhadap itu, lihat lah cara ku bagaimana mengelak serangan mereka sementara mereka belum menyerang ku” Juli terus menebas setiap musuh dengan cepat sekaligus mengelak dan menangkis setiap serangan yang datang padanya secara bersamaan.


Hana terpaku sampai pedang jatuh dari tangannya tanpa terasa, matanya terbelalak dia benar-benar tidak menyangka akan melihat teknik Dewa sesungguhnya di depan mata.


“Ba.. bagaimana dia bisa sehebat itu teknik tingkat Dewa... ti-tidak ini lebih dari itu semua, aku tidak melihat celah sedikit pun di sana.. Ba.. bagaimana bisa? Aku bahkan tidak melihat dia menoleh terhadap ratusan anak panah melesat cepat secara bersamaan mengarah padanya dan puluhan serangan pedang dan golok namun semuanya dapat dihindari dengan mudah seolah dia bayangan yang tak tersentuh” Hana tertekun kagum bahkan dia belum pernah bermimpi melihat teknik serumit itu.


Juli senyum, ia mengeluarkan kain penutup mata sehingga Hana semakin gemetar dan takjub dengan teknik-teknik yang diperagakan Juli, sementara itu Anggota Pemburu Iblis menelan ludah kaki mereka gemetar sebagian telah ter-kencing-kencing di celana padahal Juli tidak mengeluarkan aura pembunuh sedikit pun agar mereka leluasa menyerangnya secara bersamaan.


“A-apa A-apaan lawan kita ini?” ucap mereka menelan ludah saat melihat ratusan rekan-rekan mereka terbang kepalanya.


“Ma.. Mak..  A.. Aku tidak mau mati secara mengenaskan seperti ini.. ke.. kenapa anak ini begitu cepat gerakannya aku sudah tua malahan seperti siput” terdengar teriakan musuh dan mereka gemetar hebat mulai melirik jalan untuk kabur.


"Bro! Apa yang terjadi Bro..? Kenapa anak itu menutup mata? Aku semakin curiga, bagusnya kita kabur aja.. mumpung lagi sempat" ajaknya pada kawan lainnya.


Semua orang terlihat berkeinginan sama dibenaknya yaitu kabur dari monster mengerikan, sebagai taktik mereka memilih mundur perlahan dulu.


Perlahan Juli menutup mata mulutnya senyum ia dapat merasakan trauma mendalam serta gemetaran ketakutan para Pemburu Iblis, cara ini Juli belajar di kehidupan sebelumnya pada gurunya yang buta. (Baca Episode 1: Kembalinya Kaisar Langit dan Bumi)


“Hana! Dengarkan baik-baik setiap manusia memiliki aura keberadaannya, bagaimanapun cara mereka menyembunyikannya akan tetap terasa, kecuali dia bersembunyi diantara ruang dan waktu, selain itu jangan lah kau takut, lihatlah bagaimana aku menyembelih ayam-ayam ini hingga habis” ajar Juli sambil menerjang maju agak berjauhan karena para Anggota Pemburu Iblis yang telah ketakutan terhadapnya.


“Lari!” Teriak semua pasukan itu sambil ter-kencing-kencing dan ter-kentut-kentut melarikan diri dari sana.


“Huh?”


Juli kaget dan kembali membuka penutup matanya ia dapat melihat semua Anggota Pemburu Iblis melarikan diri,


“Eh mau lari kemana?.. padahal pelajaran ku belum habis…” Teriak Juli kesal segara mengeluarkan aura pembunuhnya untuk menekan mereka semua,


Wham.. Wahm..

__ADS_1


"Aaakkk!! apa yang terjadi? kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?"


"Ia? tubuhku juga begitu terasa Gunung Bayu menimpa tubuhku"


Ratusan orang itu tiba-tiba tidak bisa menggerakkan badannya, Juli mengeluarkan Cairan Kutukan Budak Darah lalu disiram pada mata pedangnya,


“Tersisa sekitar enam ratus orang lagi ya..? berarti aku harus menyiram pedang ku beberapa kali dengan cairan kutukan ini” ucap Juli senang dan segera menerjang cepat menebas batang leher satu persatu dengan gerakan sangat cepat.


Swass swuuss


"Mami.....! Toloooong!


Hana terkejut saat melihat Juli kini menebas batang leher orang-orang yang bahkan tidak bergerak sama sekali, hatinya meronta tidak terima berbuat brutal dan kejam terjadi di depan matanya.


“Senior hentikan! Mereka sudah tidak melawan… tangkap saja mereka jangan kau membunuh mereka secara keji seperti itu.. jalan mu ini bukanlah jalan pendekar sejati..” Teriak Hana tidak percaya dengan keganasan yang ditunjukkan oleh Juli padanya.


Namun aneh, semua yang ditebas batang leher oleh Juli tetap berdiri tegak, darah terus bercucuran dari lehernya namun seolah mereka masih hidup seperti biasa, “Ce..Celaka! Ru..rupanya penjaga pintu gerbang itu juga ulahnya, ini sangat mengerikan.. dia bahkan menciptakan ratusan mayat hidup sekarang, ba-bagaimana aku harus menghentikan kegilaan ini” Hana terjatuh lemas, keterkejutan itu rupanya masih belum berakhir.


“Apa?!”


Tiba-tiba seluruh orang yang dibunuh Juli sebelumnya kini bangkit berdiri sambil mencari kepala masing-masing setelah mereka dapatkan mereka pegang kepalanya dengan tangan kiri lalu di hadapkan pada Hana, semua kepala terlihat senyum senang seperti yang sering ditunjukkan oleh Juli, secara bersamaan semua kepala itu berkata,


Keringat dingin membasahi punggung Hana, "Aku tidak menyangka keadaan akan sangat mencekam seperti ini, apa yang harus kulakukan?" Tanya Hana pada dirinya kebingungan namun matanya terus mengawasi para mayat-mayat hidup di depannya.


Semua kepala itu memandang bulan dalam pengangan tangan masing-masing, Hana kembali menelan ludah kejadian ini memang sangat mengerikan,


“Ini benar-benar sangat mengerikan, pemandangan seperti ini bahkan tidak ada dalam mimpi burukku” batin Hana tidak dapat berkomentara apapun lagi.


“Hahaha”


Tiba-tiba semua kepala itu tertawa secara bersamaan dan kemudian mencampakkan kepala itu kembali begitu saja, semua tubuh yang tidak berkepala tiba-tiba semuanya berlarian ke segala arah seperti ada orang yang mengejarnya,


Hana tidak tahu lagi apa yang terjadi, “Kemana mereka semua lari? Apa yang terjadi?” Hana terus berkeringat dingin matanya terus mengawasi ke segala arah.


Wuss wuss


Tiba-tiba di bawah cahaya bulan malam dua sosok manusia terlihat berjalan dari kejauhan mendekati Hana, dua sosok yang terlihat sangat mengerikan,


“Hahahah! Ku pikir siapa yang berani menyerang Lembah Iblis, rupanya hanya seorang bocah perempuan” ujar seorang kurus berwajah putih sambil mengipas tubuhnya.


"Itu kah anak itu?" tanya seorang pria memegang arit sambil makan tangan manusia hidup-hidup ia menatap Hana dengan tatapan yang sangat mengerikan,

__ADS_1


“Oh! Rupanya ini anak ajaib yang diburu oleh seluruh Klan, aku sangat menyukai dagingnya, ini pasti terasa nikmat” Mado membuang tangan yang sedang dimakannya lidahnya kembali dijulurkan liar sehingga menimbulkan kesan jijik.


“Mado kanibal.. lihat lah darah yang berceceran disini.. ini pasti ulah anak iblis itu, apa kau berani maju? Kau mundurlah lihat kepala-kepala berceceran tak bertubuh ini membuktikan dia pengguna teknik kegelapan, hehehe aku semakin menyukainya” Senyum Hantu Muka Putih dengan aura pembunuh yang sangat kuat menekan Hana.


Hana berkeringat dingin melihat dua orang didepannya sangat mengerikan apalagi saat aura pembunuh menekannya sungguh Hana sulit bernafas,


“Gawat! Kemana senior, aku bahkan tidak mampu menahan aura pembunuh yang dipancarkan si wajah putih itu” Gumam Hana berusaha melompat mundur beberapa langkah.


Plok! Plok!


Hantu wajah Putih menepuk tangan kagum melihat kelincahan Hana, “Hahaha, sungguh menarik! Kau bahkan masih bisa melompat mundur dari tekanan aura pembunuhku, sungguh hebat! Namun kau masihlah bocah, jadi untuk menghadapi ku kau setidaknya butuh seratus tahun lagi” ucapnya seraya menutup kipasnya kini tatapan matanya berubah menjadi sangat dingin.


“Serangan kipas maut! Garakan Maut dua puluh langkah!”


Teriak Hantu Muka Putih disertai serangan yang sangat cepat kearah jantung Hana dalam keadaan tidak siap,


‘Apa? Sangat cepat aku bahkan tidak bisa berpikir’ Batin Hana secara relflek memperagakan gerakan teknik pedang Kaisar Langit dan Bumi yang baru dilihatnya namun Hana tidak sedang memegang pedang.


“Hindaran para dewa! Serangan pemenggal”


Teriak Hana sekaligus menghindar serangan Hantu Muka Putih secara cepat dengan menggeserkan tubuh ke kiri disertai serangan tangan kearah leher Hantu Wajah Putih dengan sangat cepat tanpa disadari oleh hantu wajah putih, serangan Hana masih jauh dari kata mahir tapi cukup untuk mengejutkan Hantu Muka Putih sampai membuatnya harus menghindari serangan tangan kecil Hana hingga membuat Hantu Muka Putih tersungkur jatuh ke tanah.


Melihat gerakan Hana membuat Mado terbelalak kagum, “Hahaha, untung bocah perempuan itu tidak memegang pedang hanya serangan tangan kecilnya, tapi jika dia memegang pedang apa kau masih hidup Hantu Muka Putih.. hahaha, Hari ini Jurus kebangganmu itu telah berhasil dipatahkan oleh anak-anak apa kau masih mau sombong dengan jurus itu… hehehe, sungguh tangan bodohmu itu sangat enak kawan” Mado menatap Hantu Muka Putih dengan tatapan dingin.


Hantu Muka putih perlahan bangkit berdiri sorot mata tajam tertuju pada Hana, ‘Benar seperti dikatakan Mado, seandainya dia memengang pedang maka kepalaku telah melayang malam ini, tapi aku harus berhati-hati melawan anak ini, aku tidak boleh ceroboh lagi’ batin Hantu Muka Putih mulai waspada dan bersiap-siap dengan serangan selanjutnya,


“Mado! Untuk serangan selanjutnya aku tidak akan meleset” teriak marah Hantu Muka Putih dengan raut wajah serius.


"Hahaha"


Tiba-tiba suara tawa terbahak-bahak anak kecil terdengar,


“Hahaha, sungguh tidak tahu malu, seorang bocah perempuan mau dikeroyok oleh dua orang ahli” Kelakar seorang bocah laki-laki berumur delapan tahun yang tiba-tiba muncul tepat dibelakang Mado.


“Apa?!”


Mado terkejut bukan main ia bahkan tidak merasakan kehadiran bocah laki-laki itu sedikit pun sebelum bocah itu tertawa, Anak itu berjalan santai ke arah Hana dan Hantu Muka Hitam melewati Mado dengan santai seolah ia berjalan ditaman saja tanpa ada bahaya yang mengancam jiwanya.


Mado senyum dingin melihat Juli mengacuhkan dirinya, “Anak naif! Kau bahkan tidak tahu monster yang sebenarnya ada di sini” Gumamnya pelan dengan lidah dijulurkan liar penuh niat membunuh.


**

__ADS_1


__ADS_2