
“Tebasan pedang Iblis!”
Dewi Cabak Iblis melakukan tebasan udara ke arah Juli, tebasan angin yang sangat kuat dan dapat memotong apapun yang ada di depannya.
Juli hanya diam tidak bergeming, raut wajahnya pucat, semua pasukan Cabak Iblis terlihat sangat khawatir terhadap keselamatan Juli, sebagian pasukan bahkan meremas kepala mereka karena frustasi.
“Awas nak!”
“Jangan bingung! Elak ke samping!”
“Cepat elak!”
Ratusan orang berteriak histeris mencoba membantu Juli agar dapat menguasai dirinya kembali. Mereka mengira Juli syok berat setelah melihat kehebatan Dewi Cabak Iblis sehingga ia tidak bisa menghindarinya.
Drooooom!
Hantaman dahsyat membuat kepulan debu membumbung tinggi di udara. Semua pasukan menutup mulutnya, perasaan mereka sangat gelisah, untuk sesaat menjadi hening. Semua mata terpaku pada tempat Juli berada.
Bajok beserta tiga Pemimpin lainnya terlihat kebingungan, ia sangat penasaran dengan hasil tebasan udara Dewi Cabak Iblis.
“Kekuatan Dewi Cabak Iblis memang tidak bisa diremehkan, aku tidak menduga, selama ini dia rupanya memperdalam ilmu pedang”, Raja Iblis Terbang menjadi semakin kagum, tatapannya terpaku pada kepulan debu tebal.
Beberapa saat, kepulan debu mulai menghilang dan tidak terlihat sosok siapapun berada di sana.
Semua orang saling pandang dalam kebingungan. Bajok sendiri menjadi sangat penasaran, dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Dewi Cabak Iblis! Sepertinya kekuatanmu meningkat pesat, sekarang dengan tebasan pedangmu saja kau bahkan bisa menghancurkan tubuh manusia menjadi butiran debu”. Bajok tepuk tangan dengan ekspresi wajah gembira.
Dewi Cabak Iblis menatap Bajok dengan tatapan angkuh, “Heh! Ini hanya anak kampung bodoh, Aku bahkan tidak merasa bangga sama sekali karena telah membunuhnya. Sebab! kalau dari awal aku serius, dan menggunakan kekuatan sebesar ini, aku takut kalian tidak terhibur oleh permainanku, xixixixi”. Tawa kikikan Dewi Cabak Iblis penuh kemenangan.
Sebenarnya, Dewi Cabak Iblis merasa sangat bahagia sampai ke lubuk hatinya. Rasa marah dan dendam karena perlakuan Juli sebelumnya kini telah terbayar lunas.
Rasa puas ini, berubah menjadi perasaan bangga pada diri sendiri yang tidak bisa dilukiskan, seolah dia baru saja mengalahkan seseorang Dewa tingkat tinggi.
Disisi lain, raut wajah seluruh Pasukan Cabak Iblis menjadi murung dan berduka, pahlawan kebanggaan mereka telah menghilang untuk selamanya.
“Sungguh aku melihat harapan di mata anak kecil itu, kalau seandainya dia tidak terbunuh hari ini, aku sangat yakin anak itu akan menjadi tulang punggung pendekar aliran putih di masa depan”. Seorang kakek tua dari pasukan Cabak Iblis memberi pandangannya.
“Benar! Kita ini selalu dicoba dengan berbagai keadaan pahit, aliran putih terus ditindas, anak-anak berbakat seperti ini mati sebelum menunjukkan bakatnya. Kalau begini terus, kapan dunia akan damai, jika aliran hitam terus tumbuh berkembang, sementara aliran putih terus hancur, jika begini maka manusia hanya menunggu masa kepunahannya”.
Berbagai pandangan terhadap dunia mulai terdengar dari mulut ribuan orang, wajah mereka merasakan kepedihan mendalam atas kehilangan bakat-bakat dari aliran putih.
Bajok dan petingginya senyum sinis, mereka tahu di dunia sekarang bergabung dengan siluman adalah pilihan yang tepat dan menjanjikan. Sementara aliran putih hanya mangsa dan akan diterkam kapan saja.
Dewi Cabak Iblis bisa melihat kesedihan pasukannya, ia tak ingin ini berlarut-larut dan membuang waktu.
__ADS_1
‘Dasar! Manusia sampah! Setidaknya anak itu memiliki semangat, daripada sampah-sampah ini semua, jika aku bisa memilih, aku pasti memilih anak yang tadi, daripada semua sampah ini', batin Dewi Cabak Iblis.
“Ayo! Semuanya bergegas, kita telah lama membuang-buang waktu”, ajak Dewi Cabak Iblis dengan perasaan senang. Mendengar perintah Dewi Cabak Iblis, Semua orang mulai bergerak kembali.
“Aku disini!”
Baru beberapa langkah pasukan bergerak, tiba-tiba sebuah raungan kembali terdengar memenuhi udara.
“Aku belum kalah! Ayo kita teruskan pertandingan ini”. Tiba-tiba Juli keluar dari timbunan debu.
Semua mata melongo, mereka menatap Juli dengan berbagai ekspresi, ada yang takjub, ada yang terkejut, dan ada juga yang marah, seperti yang diperlihatkan oleh Dewi Cabak Iblis.
“Bagaimana? bagaimana mungkin kau masih hidup?.” Dewi Cabak Iblis semakin penasaran, dia tidak menduga bocah ingusan seperti Juli bisa selamat dari tebasan anginnya.
‘Biasanya, manusia tingkat perak pun akan sulit menghindari tebasan anginku, apalagi hanya seorang anak bodoh yang berpangkat putih, itu sungguh sangat mustahil’ pikiran Dewi Cabak Iblis.
Akan tetapi, saat melihat kondisi Juli berlumuran debu, ini membuktikan bahwa Juli tidak menghindarinya dengan sengaja, dan mungkin ini sebuah keberuntungan belaka.
“Hahaha! Berarti anak ini belum kalah Dewi Cabak Iblis!” Bajok tertawa lepas, ia sangat senang menggoda Dewi Cabak Iblis hingga marah.
“Aku tau!” jawabnya dengan tatapan mata yang berapi-api.
“Dewi Cabak Iblis! Aku pikir kekuatanmu meningkat tajam. Eh! tidak taunya, kau bahkan tidak becus mengurus seorang bocah sekalipun, hahaha.” Ejek Bajok memancing emosi.
“Anak baik! Kamu sungguh hebat, bisa kakak tahu bagaimana caramu menghindarinya”. Dewi Cabak Iblis bertanya dengan nada lembut pada Juli seperti biasa.
Juli membeli hormatnya dengan sikap lugu, “Kakak! Aku tadi menghindar kesamping, namun kepulan debu sangat tinggi hingga membuatku jatuh tertimbun”.
Keluguan Juli membuat seluruh pasukan Cabak Iblis merasa iba padanya, sebagian orang bahkan ingin menyadarkan Juli, bahwa yang dihadapinya itu adalah monster yang sangat licik dan berbahaya.
Namun ketakutan mereka terhadap lima pemimpin Sekte Cabak Iblis lebih besar dari keberanian. Hal inilah yang membuat mereka memilih diam, daripada mengambil resiko yang lebih besar.
“Kakak! aku ada penawaran! Maukah kau mendengar penawaranku”. Juli mencoba bernegosiasi kembali dengan senyum polos.
“Hahaha, sudahlah Dewi Cabak Iblis! Aku ingin mendengarkan penawarannya! Dia sudah berusaha keras, ini membuatku semakin tidak enak hati, hahaha”. Bajok tertawa keras, dia menjadi semakin tertarik pada Juli.
“Bajok aku...”.
Dewi Cabak Iblis ingin memberi tanggapan, namun Bajok mengangkat tangan menghentikan percakapan Dewi Cabak Iblis.
Juli memberi hormat pada Bajok, “Baiklah, penawaran ku begini, Aku menginginkan semua pasukan ini dibebaskan, dan kemudian aku akan membawa pulang mereka kepada keluarganya, sebagai ganti aku akan memberikan peta yang kalian inginkan. Bagaimana? Apakah kalian setuju?”. Juli mengeluarkan peta dari balik bajunya.
Semua petinggi saling pandang, mereka tidak menduga Juli benar-benar membawa peta yang mereka inginkan.
“Bajok! Kurasa peta itu asli, Ini kesempatan kita”. Morgan memberi pendapatnya.
__ADS_1
Bajok menggaruk-garuk dagu berpikir, sesekali ia manggut-manggut sendiri karena sedang merencanakan sesuatu.
“Boleh saja! tapi dengan satu syarat, kau harus mengalahkan Dewi Cabak Iblis terlebih dahulu, kalau kau berhasil mengalahkannya maka aku akan melepaskan mereka semua, dan kau akan memberikan peta itu kepada kami! Bagaimana menurutmu Dewi Cabak Iblis? Apa kau setuju!”. Tanya Bajok meminta persetujuan Dewi Cabak Iblis.
Kondisi inilah yang diharapkan oleh Dewi Cabak Iblis, ia ingin Juli mati dan mengambil peta yang ada di tangannya.
Senyum mekar menghiasi Dewi Cabak Iblis, “Tentu saja Aku tidak keberatan, Aku masih ingin bermain-main dengan adik kecil ini, apalagi peta itu ada di tangannya, jadi biar lah aku merebutnya dengan adil, hahaha”. Dewi Cabak Iblis senyum penuh kelicikan.
Seorang kakek tua merasa sedih karena mereka telah mempermainkan anak lugu yang jujur. Ia dapat melihat kegigihan Juli dalam memperjuangkan nasib mereka.
‘Tidak! Aku tidak bisa membiarkan anak ini mati begitu saja, aku harus berjuang, aku harus berani!’
Dengan penuh tekad, kakek itu maju beberapa langkah sampai kehadapan semua pasukan.
“Dewi Cabak Iblis! Kalau kau ingin bertarung dengannya, setidaknya berikan dia senjata yang layak, kalau kau menggunakan pedang sementara dia tangan kosong, ini sungguh tidak adil!.” kata kakek tua itu berteriak lantang memberanikan diri.
Semua pemimpin kini menatap kakek itu dengan tatapan tajam, aura pembunuh dikeluarkan untuk menekan kakek itu hingga sulit bernapas. Mereka bukan tidak setuju dengan permintaan kecil itu, akan tetapi kakek itu telah lancang berbicara dengan mereka.
“Hahaha, Iriansyah! Kau si tua bangka, telah berani berbicara pada kami tanpa menundukkan kepalamu! Apa kau tidak ingat anak cucumu yang berada di tanganku, aku bisa saja menyerang Lembah Kuning kapan saja aku mau”. Raja Iblis Terbang mengancam.
“Hahaha, iblis terbang! Perkataan dia ada benarnya, lebih baik kita membiarkan saja bocah itu menggunakan pedang, supaya pertandingan menjadi lebih menarik! Hahaha”. kata Bajok diiringi tawa lantang.
Dewi Cabak Iblis mengumpat dalam hati, ‘kurang ajar kau Bajok! Kalau bocah itu menggunakan pedang, aku harus bertarung bersungguh-sungguh dalam melawannya, kalau tidak, aku bisa celaka di tangannya.” batin Dewi Cabak Iblis.
Dewi Cabak Iblis sebenarnya keberatan atas usulan ketua suku Iriansyah, namun untuk menyatakan tidak, ia menjadi malu, dan harga dirinya pasti runtuh di depan empat pemimpin lainnya.
“Adik kecil! Masak kau melawan kakak dengan pedang, kenapa tidak lawan dengan tangan kosong saja seperti sebelumnya, bukankah itu lebih menantang bagimu, apalagi kakak ini orang yang lemah.” Dewi Cabak Iblis mencoba membuat tawaran secara halus.
Juli hanya senyum, saat mendengar akal busuk Dewi Cabak Iblis, namun Juli juga punya misi tersendiri ya harus diselesaikan.
“Baiklah Kakak! Lagi pula, saya sendiri tidak punya pedang, saya kemari hanya membawa peta untuk perundingan dengan kalian”. kata Juli polos.
Semua pasukan mengumpat dalam hati atas kebusukan Dewi Cabak Iblis.
“Ini tidak benar, siapa yang memiliki pedang pendek yang sesuai dengan ukuran tubuhnya!”
“Kasian! Anak ini dimanfaatkan, pedangku sangat panjang dan ini tidak sesuai dengannya”.
Tiba-tiba, seorang pemuda pincang berlari tertatih-tatih ke arah Juli sembari menyeret pedang pendek miliknya.
“Adik kecil! Kau telah berjuang untuk kami, saya ada pedang pusaka keluarga, ambillah, Aku tidak bisa mebiarkanmu mati sia-sia, aku malu ketika menjumpai leluhur dan Tuhanku kelak.” Pemuda pincang menyerahkan senjata tingkat perang pada Juli.
Juli senyum pahit, senjata ini bisa dikatakan senjata terburuk yang pernah Juli pakai di kehidupan kedua ini.
**
__ADS_1