Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 66. Penyerangan


__ADS_3

Di Istana Lembah Teratai Langit


“Eh! Anak gila ini lagi?”


“Iya… Ngapain dia duduk dalam istana bersama tamu tamu penting, ke nama wali kotanya”


“Kalian jangan mengganggunya, dia anak yang benar-benar gila, jangan sampai kalian berurusan dengannya”


“Mari kita hampiri mereka dulu”


“Mari tuan tuan dan nona nona, mari saya antar”


“Ah! Iya.. Mari"


"Ah! Itu kan ada Hana”


“Ah benar! Benar seperti yang di informasikan bahwa Hana di sini”


Tujuh orang Hunter dipimpin oleh seorang kakek tua bertubuh kurus sepasang pedang terselip di pinggangnya, mereka di kawal oleh seorang Jendral yang membawa mereka untuk memasuki Istana Teratai Langit.


Hana begitu melihat tujuh orang yang masuk ke ruangan itu ia langsung bangkit berdiri,


“Selamat datang… Kakek Husen, paman-paman dan kakak-kakak aku sangat senang kalian datang kemari, silahkan duduk” sapa Hana senyum ramah, kemudian ia menoleh ke arah dua orang tamu berseragam putih hitam,


“Oya... lni dua orang dari Organisasi Dewa Pil Dunia” Hana menyambut rombongan itu dengan hangat seraya memperkenalkan dua orang yang telah berada di ruangan itu sebelumnya, dan mereka pun saling memberi hormatnya.


Kakek Husen senyum senang namun ia beserta rombongannya terlihat enggan untuk duduk di kursi mewah yang terukir indah dari emas permata,


“Ah, Hana, aku sangat senang kalian baik-baik saja di sini, oya, dimana wali kotanya? Kami ingin berbicara dengannya” tanya Husen mengalihkan pandangannya pada Irina yang terlihat sangat berwibawa di antara semuanya.


Juli menghampiri Husen dan menarik tangannya dibawa ke arah kursi, “Sini kakek! Silahkan duduk saya sungguh senang kita bisa berkumpul lagi, duduklah dulu baru kita bicara” Juli juga mempersilahkan yang lain untuk duduk pada kursi yang telah tersediakan.


Hana senyum melihat tingkah Juli memperlakukan mereka yang terlihat enggan untuk duduk, hal itu sebenarnya lumrah bagi mereka, memasuki istana indah itu saja sudah membuat mereka tegang apalagi harus duduk di kursi emas permata,


“Kakek, kalian kebetulan sekali disambut langsung oleh wali tertinggi kota ini” Hana menunjuk dengan mulutnya ke arah Juli sebagai seorang wali.


Hahaha hahaha


Sontak semua rombongan itu tertawa bersama sambil memegang perut namun mereka tidak memberi komentar apapun, hanya saling pandang dan tertawa lagi, batin mereka mengatakan bahwa ini semua hanya lelucon belaka.


“Oya! Di mana wali kotanya” Husen masih penasaran, ia benar-benar tidak mengerti situasi kota Lembah Teratai Langit.


“Ada di sini?” Jawab seorang anak perempuan kecil sembari memasuki ruangan istana,


Anak kecil itu memegang sebatang tongkat kayu indah berpakaian kebesaran Wali kota ia nampak cantik dan menawan, begitu para tamu menoleh padanya ia segera memberi hormatnya, kemudian semua orang dalam ruangan itu berdiri serentak memberi hormat balasan.


Pertemuan pun berjalan sesuai rencana, dalam pertemuan itu mereka terus mengatur dan merancang berbagai strategi pertahanan dan penyerangan, sementara Juli pamit karena ada sesuatu yang harus dilakukan di luar istana.


**


Malam hari seribu pasukan suku Padri menjaga tembok perbatasan istana dari penyusup, obor-obor dinyalakan di setiap tempat untuk penerangan kota, para warga telah diumumkan untuk tidak mendekati tembok perbatasan karena peperangan akan segera terjadi.


Sekitar dua kilometer di depan pintu gerbang Kota Lembah Teratai Langit tenda-tenda berjumlah puluhan ribu berjajar dengan jumlah pasukan ratusan ribu berjaga-jaga, cahaya rembulan sabit serta ribuan api-api unggun menerangi hamparan luas itu, ribuan pasukan pemburu terlihat riang gembira dengan berbagai gurauan kesenangan di dalamnya.

__ADS_1


Hahaha


“Besok, pagi-pagi kita akan bersihkan mereka semua, sepertinya barang rampasan akan banyak kita dapatkan, hahaha”


“Aku malahan lebih tertarik dengan gadis-gadis muda suku Padri, mereka tinggi besar dan kekar tubuhnya, hahaha”


“Hahaha, itu sungguh sempurna, tapi yang paling penting kita harus menyapu bersih semua pasukannya”


Riang tawa pasukan penjaga terdengar menggelegar, mereka tidak menyadari dalam bayangan seorang anak laki-laki berusia delapan tahun berjalan santai diantara ratusan ribu pasukan penjaga.


“Bolehkah saya bergabung, hehehe” tanya anak kecil ikut tertawa.


Sontak semua orang terdiam mata mereka kini teralihkan pada anak kecil yang berpakaian gembel, mereka saling pandang mencari tahu asal anak itu.


“Kapan dia ada di sini?”


“Aku tidak tahu, tiba-tiba dia sudah ada di dekat kita”


Seorang pemburu mendekati anak itu dengan senyuman ramah yang dibuat-buat, “Bocah siapa namamu? Apa kamu tersesat di sini?” tanyanya menyeringai.


Anak itu senyum ramah, “Juli, ya.. begitulah mereka memanggilku, aku kebetulan lewat tempat ini jadi kulihat di sini banyak orang... jadi aku singgah sebentar, siapa tahu di sini ada makanan yang bisa ku makan, apalagi kulihat di sini banyak daging daging kambing segar yang sudah dibakar, sungguh bikin air liur ku meleleh” Juli senyum senang.


HAHAHA


Semua orang terbahak-bahak mendengar perkataan anak-anak kelaparan bodoh, hal itu sebenarnya sering terjadi di Kerajaan Embun Barat, karena kelaparan kebanyakan anak-anak tidak menyadari bahwa diri mereka sering terjerumus ke perangkap ular,


pasukan pemburu saling pandang dan mengedipkan mata satu sama lainnya ingin mengerjainya dengan penuh kelicikan.


Seorang pemburu mengambil sedikit daging kambing panggang yang berada di dekat api unggun, lalu menyodorkannya pada Juli.


Juli mencoba meraih daging yang diberikan, kemudian pemburu itu langsung melemparkan daging itu ke arah temannya sembari ketawa-tawa.


“Hahaha, bocah kemari lah! Ini dagingnya, berusahalah untuk mengambilnya” tawa orang yang menangkap daging dengan gembira ria.


“Hahaha” Juli pun tertawa, “Sungguh permainan ini sangat mengasyikkan”, Juli melesat cepat ke arah pemburu yang memegang daging.


Wuusss Bukk..


Grookk…


Pemburu itu dengan cepat melempar dagingnya ke arah kawannya, sementara kepalanya sendiri di cabut oleh Juli dari tubuhnya kemudian di tendang jauh terbang menghilang dalam kegelapan malam.


Juli terkekeh, “Hahaha, Bukankah ini sangat menyenangkan? Terus mari kita main-main lagi”


Juli gembira melihat ekspresi wajah semua orang yang melihatnya dengan mata melebar dan mulut terbuka.


“Apa!”


“Apa yang terjadi?”


“Dia anak iblis”


Ucapan keterkejutan mereka terdengar saat melihat Juli mencabut kepala salah satu rekan mereka dan menendang kepalanya hingga melesat jauh dan meninggalkan seonggok tubuh yang masih terduduk di tempatnya.

__ADS_1


“Hahaha, Mari kita bermain lagi, sekarang giliran paman gendut duduk lah di sana dengan daging mu, aku akan mengambilnya” ucapan Juli terdengar ngeri dan ia terus melesat cepat ke arah pemburu gemuk yang sedang pemegang daging itu,


Pemburu gemuk terbelalak dia berusaha bangkit dan mencabut pedangnya, “Tung-…” belum habis kata-katanya diucapkan,


Wusss Aaaookk!!


Kepala pemburu gemuk itu sudah terbang meninggalkan tubuhnya, sontak semua orang terkejut dan marah, mereka segera mencabut pedang dan menyerang Juli dengan membabi buta.


“Kurang ajar kau anak setan, mampus kau!”


“Serang Anak iblis ini”


Teriak marah, mereka segera menebas Juli dengan pedangnya, aura pembunuh yang dipancarkan mengisi udara, Juli terlihat senyum kini ia kembali mencabut pedangnya dan menebas angin kearah pasukan Pemburu.


Wuuusss…


Tebasan angin Juli menimbulkan gelombang sabit padat yang memiliki daya potong dahsyat sehingga dalam sekali tebas puluhan orang merengang nyawa.


Brooomm….


Tebasan Juli menimbulkan ledakan dahsyat yang sampai-sampai menimbulkan keributan besar di seluruh perkemahan.


Tang! Tang! Tang!


“Ada penyerangan! Ada penyusup!”


“Semuanya keluar!”


Teriakan-teriakan pasukan terdengar semua orang mulai mempersiapkan diri karena ada penyerangan yang terjadi, mereka terus berkumpul pada satu titik penyerangan di tengah tengah basis mereka.


Juli bisa melihat para pemburu terus berdatangan namun mereka seperti enggan mendekatinya satu persatu, bibirnya senyum senang melihat keributan yang di timbulkan.


“Bangkit lah!”


Suara Juli terdengar pelan, tiba-tiba dalam bayangan malam seekor makhluk bersayap memiliki ekor panjang berduri dan berkepala sepuluh keluar dalam bayangan malam, monster ukurannya setinggi 12 meter dan panjang 18 meter ia dikenal dengan sebutan Dondon si Iblis.


ROOAAARR!


Semua mata terbuka lebar, kini mereka mulai terkejut dengan munculnya monster besar di tengah-tengah mereka, sebagian bahkan mundur beberapa langkah ke belakang enggan untuk maju, namun sebaliknya para pemburu ahli justru terus berdatangan dengan semangat tinggi dan menggebu-gebu,


“Apa yang kalian tonton menyingkirlah, ini urusan kami” Teriak seorang berpakaian dari kulit beruang menunggang Hyena berpangkat perak.


“Benar! Memburu siluman itu kegemaran kami! Mari kita penggal Dondong gagal evolusi ini”


“Sarang! Jangan biarkan makhluk ini kabur!”


“Hahaha, setiap yang sudah datang kemari jangan biarkan kabur!”


Sekitar 40 ahli terus memanah dan menyerang Dondon dengan membabi buta, sebagian menyerangnya menggunakan pedang dan kapak, dan Hyena terus menggigit dan mencakar kaki-kaki, Dondon terlihat mengamuk terus menggigit siapapun yang mendekatinya, sehingga pertempuran sengit tidak terelakan.


Juli berdiri agak jauh dari sana yang di kawal oleh Boris dan petingginya,


“Sekarang, kita akan mengurangi Jumlah mereka, cepat kalian serang dan sebarkan teror, buat mereka mengenang malam ini.. hahaha” Juli terlihat senang.

__ADS_1


“Baik Yang Mulia”


**


__ADS_2