Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 11. Alam Liar Bumi Barat


__ADS_3

Alam Liar Bumi Barat


Alam Liar Bumi Barat merupakan daratan luas yang dikuasai oleh bangsa siluman dan hewan ghaib, wilayah ini hampir tidak di jumpai manusia kecuali meraka yang datang sebagai Pemburu.


Alam Liar Bumi Barat terkenal sangat kejam berbagai macam mahkluk saling bertarung satu sama lainnya untuk mempertahankan eksistensi, yang lemah akan menjadi mangsa yang kuat akan menjadi raja hal ini telah terjadi selama berabad-abad lamanya.


Bumi Barat dahulu kala merupakan wilayah manusia hanya semenjak kedatangan Bangsa Siluman wilayah ini berubah tangan, namun demikian, di daratan ini masih banyak di jumpai reruntuhan bangunan-bangunan bangsa manusia zaman dahulu serta berbagai macam peninggalannya.


Di Reruntuhan Bangunan Naga Hitam pada wilayah Tengah Bumi Barat, sejak ratusan tahun lalu reruntuhan ini telah di huni oleh koloni Siluman Kera Bertanduk yang juga merupakan salah satu jenis siluman paling ganas dan berbahaya di kawasan tersebut.


Siluman Kera Bertanduk di wilayah ini rata-rata Berpangkat Perak, dan ada pula beberapa yang telah berpangkat Emas, mereka pun biasanya bergerak dalam koloni sehingga akan sangat sulit bagi Pemburu mana pun untuk bisa lepas dari mereka.


Semenjak Pintu Portal muncul di wilayah kekuasaan mereka ribuan Pemburu telah di bantai di dalamnya, tengkorak dan tulang belulang manusia berserakan diberbagai tempat, untuk sekilas, tempat ini mirip dengan lahan pembantaian manusia.


Beberapa saat yang lalu kawasan ini kembali muncul puluhan Portal di berbagai tempat dan puluhan Pemburu keluar dari dalamnya, para siluman Kera Bertanduk telah berkumpul lebih dari sepulu ribu ekor guna untuk memburu para Pemburu yang memasuki wilayah mereka secara bersamaan.


Hana salah satunya, ia seorang anak perempuan kecil berumur 7 tahun keluar seorang diri di salah satu Pintu Portal, ia terus bergerak mengendap-endap di wilayah itu untuk menghindari serangan para siluman Kera Bertanduk, sementara Risa serta rekan lainnya keluar dari Portal yang berbeda-beda yang berjarak satu kilometer lebih jauhnya antara Pintu Portal satu dengan lainnya, sehingga mereka sulit bertemu satu sama lain.


Hana terdampar di daerah penuh hutan belukar, ia melihat banyak sekali pohon-pohon besar di daerah itu, sehingga ia mengira memanjat pohon merupakan ide terbaik untuk menghindari para siluman Kera bertanduk, karena umumnya mereka berjalan di tanah dengan menggunakan kedua kakinya,


‘Sepertinya memang benar, di sini lebih aman dari pada di tanah, pohon tinggi ini juga memberikan kesempatan bagiku untuk memantau ke segala arah’ batin Hana seraya bersembunyi diantara salah satu cabang pohon.


Hana tidak mengetahui kalau bangsa Kera Bertanduk memilik indra penciuman yang sangat tajam, sehingga dalam berburu Kera bertanduk bukan hanya mata yang berguna namun juga hidungnya, akan tetapi saat ini para kera lebih tertarik untuk membantai puluhan orang penunggang Hyne yang menjadi tantangan tersendiri bagi mereka,


Satu kilometer dari arah selatan Hana, Aboki terlihat sangat panik ia terus berteriak-teriak memanggil anak buahnya agar berkumpul, “Para Pemburu Hyena! Berkumpul kemari semua, kita akan bergerak secara berkelompok!” Teriaknya, ia sekarang bersama dua puluh anggota yang telah bergabung bersamanya.


Duk duk duk duk duk


Seorang anggota dari kejauhan memacu Hyena dengan cepat menghadap Aboki, ia membawa laporan penting, “Bos Aboki! Celaka, anggota kita yang keluar lewat pintu sebelah sedang diserang oleh Kera Bertanduk!” lapornya cepat.


Aboki marah mengepal tangannya, “Katakan padaku apa pangkat Kera itu?” Tanya Aboki bersiap siap membantu.


“Perak bos, ada satu dua pangkatnya emas bos!” Lapornya cepat.


Aboki menelan ludahnya “Apa? Perak? Ada pangkat emas lagi ya? Kalau begitu mari kita tinggalkan wilayah ini, kita tidak mungkin hidup disini, Oya, mana si Cunguk! Apa si Cunguk masih hidup?” Tanya Aboki pada bawahannya.

__ADS_1


Cunguk kebetulan ada di situ, ia langsung menghadap, “Saya di sini Bos! Ada perlu apa bos?” Tanya Cunguk dengan penuh antusias.


Aboki langsung senyum saat melihat Cunguk masih hidup, “Cunguk! Katakan pada ku berapa lama kalau kita mau keluar dari wilayah Kera ini menggunakan Hyena?” tanya Aboki cepat karena ia terlihat memiliki rencana.


Cunguk mulai menerawang sambil minum sedikit air, “Heee… Kurajah kurejen.. Wateka wateken.. Fueeeh..!” Cunguk membaca mantra dan menyemburkan air dari dalam mulutnya ke wajah Aboki.


Brruuurrr!!


“Apa ini?!” Aboki naik pitam “Cunguk! Apa yang kau lalukan? Kau pikir aku ini perkutut moyang mu? Huh?!” Bentak Aboki marah, ‘Kalau bukan dia sedang ku butuhkan disini, pasti sudah ku penggal kepalanya’ Batin Aboki menahan marahnya.


Cunguk menundukkan kepalanya “Bos Aboki! Itu tadi untuk menyelamatkan mu dari roh-roh jahat, jadi jangan naik pitam begitu dong, niatku kan baik..” Cunguk membela diri.


Wajah Aboki merah padam, “Cunguk! Ini dunia pendekar.. bukan dunia kuntilanak.. hantu blauu.. atau apa lah Itu.. jadi tidak lah perlu kau sembur aku begini.. macam perkutut kurang mandi saja kau buat aku.. apalagi alasan mu untuk mengusir roh roh jahat… mengerti?” Aboki marah dengan sikap anak buahnya.


Cunguk mengangguk-anguk tanda mengerti, “Ooo.. ya.. ya.. jadi kita kemana bos?” tanya Cunguk penasaran hingga membuat yang lain tertawa karena sikap bodohnya.


Hahaha…


Semua orang tertawa namun Aboki terlihat sangat marah “Cunguk! Katakan berapa lama kita keluar dari sini…” Tanya Aboki mengingatkan Cunguk lagi.


Cunguk menarik nafas panjang dan menatap Aboki dengan tatapan serius, “Tiga hari… ini pun menggunakan Hyena, jalan paling cepat itu.." Cunguk Menunjukkan ke arah pintu portal, "Ya.. kita tinggal bertahan dari Kera Tanduk sambil menunggu pintu terbuka besok, Setelah itu kita pulang.. itupun kalau kita masih hidup..” Jelas Cunguk seolah sangat sangat berpengalaman.


Tiba-tiba, seribu siluman Kera Bertanduk setinggi tiga meter berpangkat Perak terendahnya secara bersamaan bergerak menyerbu kearah Aboki dan kawanannya, hingga membuat mereka semua bergidik dan kaget bukan main, akan tetapi Aboki belum hilang kontrol sehingga dengan cepat ia memberi komando.


“Semuanya…!!! Kabur…!!” Teriak Aboki segera memacu Hyena nya berapi-api yang diikuti oleh pasukannya yang lain.


Aaaaaiinnggg….!!!


Aaaaiiinnngg…!!


“Lari selamatkan diri mu…” teriak Cunguk segera memacu Hyena miliknya, Akhirnya kejar kejaran dengan siluman kera bertanduk pun terjadi.


Duk duk duk duk duk


Para siluman juga tidak mengenal lelah, mereka seakan tidak lelah mengejar para Hyena berlari, Hyena bukanlan pelari tangguh namun kali ini mereka terlihat serius untuk menyelamatkan nyawanya.

__ADS_1


Aiiingggg! Aiiingggg!


**


Di reruntuhan bangunan yang telah berlumut, Husen, Dolah, Yuyun dan Ruyu mereka terlihat beristirahat bersama, tubuh mereka penuh luka hal itu sudah jelas akibat sebuah pertempuran sengit.


Husen membalut tanganya yang luka namun ia terlihat tidak bersemangat “Kita masih beruntung, tadi lawan kita hanya siluman Tikus berpangkat putih, biasanya siluman tikus hanya makanan siluman lain di wilayah ini” Jelas Husen yang terlihat berpengalaman.


Dolah terlihat sangat murung “Aku belum pernah melihat siluman Kera Bertanduk setinggi enam meter, pangkatnya pun emas.. aku rasa aku akan mati jika sekali lagi berhadapan dengannya, untung tadi aku sempat melompat ke sungai..” Dolah terlihat menggigil ketakutan.


Yuyun juga terlihat pucat “Kakek! Bagaimana dengan Risa dan Hana, sepertinya mereka keluar di porta yang sangat berjauhan dengan kita, ini pun waktu sudah menjelang magrib, sebentar lagi malam.. kurasa para kera akan memburu kita dimalam hari” Yuyun ketakutan.


Sementara itu Ruyu memilih mencari kayu bakar untuk persiapan api unggun disekitar reruntuhan itu, Husen yang telah banyak asam garam di alam liar memanggil Ruyu,


“Ruyu! Ini bukanlah alam dalam kubah pelindung, di sana kita membuat api unggun untuk agar terhindar dari Hewan Ghaib, tapi di sini yang paling menakutkan di malam hari adalah Siluman Kalong, siluman ini akan menghisap darah mu hingga habis, apalagi kita menghidupkan api unggun itu seperti menarik mereka kemari” Jelas Husen pada Ruyu yang belum berpengalam.


**


Di sebuah tebing batu curam


Risa dan Mija sedang merusaha mendaki ke puncak daratan, mereka berdua penuh dengan goresa hingga darah bercucuran terlihat dari setiap batu pijakan pendakiannya.


Mija membuka jalur pendakian dibukit terjal itu sementara Risa hanya mengikuti jalur yang telah dibuat, “Risa hati hati lah! Aku rasa Siluman Biawak masih menunggu kita dibawah, aku benar-benar tidak menyangka siluman itu berpangkat tiga putih dan kita tidak mampu mengalahkannya” Mija terlihat kecewa.


Risa terlihat sedih “Bagaimana dengan Hana ya, dimana dia sekarang, kau tadi bilang kalau Yuyun, Ruyu dan Dolah ikut juga ya? Apa mereka baik-baik saja” Ucap Risa putus asa ia tindak menyangka kalau pintu keluarnya akan begitu banyak, sebelumnya ia berpikir akan keluar bersama Hana nyatanya tidak.


Mija terus memanjat ke puncak dataran hari sudah menjelang magrib, “Sudahlah Risa! Sekarang kita harus bergegas sebelum malam, aku harap mereka tidak sepertiku yang keluar bersama Anggota Hyena, untung aku bisa menghabisinya tepat waktu dan kabur dari sana” harap Mija mempercepat pendakiannya, begitu juga dengan Risa walaupun terlihat murung namun ia masih cekatan.


**


Di depan Pintu Portal Reruntuhan Kota Naga markas besar para Siluman Kera Bertanduk.


Juli dan Bowo berdiri di depan Pintu Portal, mereka berdua baru keluar dari Pintu Portal namun di hadapannya telah dikepung oleh dua ribu Siluman Kera Bertanduk berpangkat Perak dan Emas, sampai Bowo gemetar hebat, lututnya seakan copot dari pahanya, “De…Dewa apa yang harus kita lakukan?” Tanya Bowo telah pucat seakan tidak memiliki darah lagi.


Juli senyum senang sambil merenggangkan pundaknya, ia perlahan melangkah maju dengan santainya, “Mari Kita Berburu… Hahahah”

__ADS_1


GRROOOOORRRR!!!


**


__ADS_2