
Dalam rawa gambut banyak terdapat tumbuhan pemangsa raksasa yang telah hidup ribuan tahun berpangkat bintang, tumbuhan ini merupakan pemangsa hidup monster-monster besar di Rimba Pemangsa Tanah Parasit ini.
Krieeeekkkkk…..!
Tumbuhan-tumbuhan pemangsa raksasa telah berevolusi semenjak ribuan tahun dan memiliki ketinggian mencapai 800 meter ketika menegakkan batangnya, ribuan cabang memiliki gigi-gigi besar tajam yang berguna untuk memakan dan mencabik-cabik hewan-hewan yang mendekatinya.
Juli dan Hana telah memasuki kawasan mengerikan ini, mata mereka terus waspada mengawasi lingkungan sekitar. Hana merasa ia bagaikan semut kecil di antara raksasa-raksasa besar yang terus bergerak dan menyerang secara sembunyi-sembunyi dan tak mungkin bisa di lawan.
“Senior! Apa tidak sebaiknya kita cari monster di tempat lain saja dulu, yang ini terlihat tidak mungkin bisa kita kalahkan, ukurannya saja ada yang menjulang ke langit sementara tubuhnya berada di kedalaman rawa-rawa yang tak terukur, ini benar-benar monster yang paling mengerikan dari yang pernah kulihat sebelumnya” Hana benar-benar pucat di hadapan monster-monster raksasa.
Juli menyeringai penuh siasat misterius yang menakutkan,
“Hehe, Hana aku memiliki cara mengalahkan tumbuhan raksasa ini, tumbuhan ini namanya Janeng Iblis tumbuhan yang sangat mematikan dan bisa membuat mangsanya tertidur, Janeng Iblis memiliki ratusan mata di bagian umbi raksasanya dan pada umbi itu pula terdapat Kristal Hijau yang sangat luar biasa, aku ingin kau membakarnya dengan api hitam mu dari udara, setelah itu pancing lah dia keluar dari rawa ini, dan aku akan menghabisinya saat itu” Juli mengatur strategi dengan penuh jebakan yang membuat jantung Hana berhenti berdetak.
"Apa?! Ki.. kita mengganggu monster raksasa ini?" Hana syok berat raut wajahnya menjadi pucat pasi, ia benar-benar tidak habis pikir mendengar strategi nekad Juli yang mencoba mengusik raksasa sebesar bukit besar,
“Senior! Aku sungguh tidak mampu mengendalikan api hitam ku sebesar Monster Janeng Iblis Raksasa ini, aku akan mati kehabisan tenaga dalam sebelum semuanya habis terbakar” Hana berkeringat dingin sembari mengusap wajahnya frustasi, padahal ia hanya membayangkan saja bagaimana cara agar bisa membakar monster sebesar Janeng Iblis ini.
Juli senyum hangat menepuk pundak Hana, “Jangan takut! kau pancing saja dia keluar tidak usah kau bakar semuanya sekaligus, setelah itu Janeng ini akan menjadi urusanku, percayalah! Ini panen yang benar-benar besar” Juli senyum senang, beberapa tumbuhan-tumbuhan di sekeliling Juli mulai merangkak dan menjulurkan kait ke arahnya.
Syut! Syut!
Juli terus menghantam ranting-ranting tumbuhan rawa-rawa yang mencoba menyerangnya secara diam-diam dengan tongkatnya. Hana merasakan tempat mereka saja sudah tidak aman apalagi harus memancing tumbuhan rakasa rawa itu untuk mengejarnya. Tapi ini sudah keputusan Juli yang harus di ikuti walaupun terlihat gila dan mustahil untuk dilakukan. Hana memegang dada mengeluarkan Naga Kegelapan dari dalam ranah jiwanya.
“Naga Kegelapan Bangkitlah!”
ROAAARRRRR....
Naga Kegelapan dipenuhi api dan asap hitam pekat menyelimuti tubuhnya, tumbuhan pemangsa kecil cenderung menghindar ketakutan karena naga itu bukan sesuatu yang bisa dilawan setingkat mereka.
Hana segera melompat ke atas punggung Naga Kegelapan, “Senior berhati hatilah! aku akan mengikuti perintah mu” Terdengar ucapan Hana diikuti lompatan terbang Naga ke udara dengan ringannya.
Hana melihat tumbuhan-tumbuhan pemangsa di sekitar mulai bergerak ke arahnya. Kemunculan Naga Kegelapan memang menakuti tumbuhan pemangsa kecil, tapi berbeda cerita dengan Tumbuhan Pemangsa besar yang justru membuat mereka dikawasan itu lebih agresif dari sebelumnya.
“Ingat untuk menjaga jarak, karena Janeng Iblis bisa saja membuatmu tertidur” Juli senyum pahit seraya melambaikan tangannya.
__ADS_1
Juli kini melihat tumbuhan pemangsa ganas terus berusaha menangkap Naga Kegelapan saat lepas landas, tapi karena tubuh Naga Kegelapan tercipta dari api hitam maka justru itu sebuah tindakan bunuh diri saat bersentuhan dengannya.
Naga Kegelapan berhasil terbang tinggi ke udara tanpa hambatan berarti, tapi itu belum lah aman dari serangan tumbuhan pemangsa, karena sekarang jenis tumbuhan lain menyerang dengan cara yang berbeda.
Tus.. tuss.. tus..
Tembakan tembakan duri-duri beracun dari tumbuhan pemangsa dari bawah terus dilancarkan bagai peluru senapan mesin ke arah Naga kegelapan yang ditunggangi Hana.
"Apa ini?" Hana kembali dikagetkan dengan hal baru misterius lainnya yang tidak kalah berbahaya.
Bunga Jarom Sisat merupakan tumbuhan indah berbunga jarum namun setelah terinfeksi dengan tumbuhan pemangsa ia berevolusi menjadi tumbuhan Bunga Jarom Sisat Pemangsa yang sangat mematikan, tumbuhan ini terus menembakkan mangsa di udara berdasarkan pergerakan yang dirasakannya secara terus-menerus.
Juli melebarkan matanya kaget, ‘Gila! Aku tidak menyangka di sekitar ini juga ada tumbuhan Penembak Duri si Bunga Jarom Sisat Pemangsa, kuharap Hana baik baik saja’ batin Juli terus menerjang maju menghantam beberapa tumbuhan yang mencoba menyerangnya, kini Juli merasa khawatir dengan adanya bunga misterius itu.
Hana sangat kaget begitu menyadari ratusan duri-duri sebesar ukuran tubuhnya terus ditembakkan ke arahnya dari bawah, walaupun tidak akurat namun dengan jumlah rentetan yang begitu besar sangat sulit baginya untuk bisa menghindar dalam waktu lama.
Tumbuhan Bunga Jarom Sisat yang aktif menembak duri-duri beracun dari bawah hanya sekitar seratus titik yang berada di sekitaran Janeng Iblis pada kawasan rawa-rawa, seolah tumbuhan ini sebagai pelindung udara sang Janeng Iblis.
Tus.. tus.. tus..
“Cepat! Bakar saja sebagian dan aku kan mengontrol api hitam agar tidak padam”
Teriak Hana terus meningkat kosentrasi menghindari ratusan duri yang di tembakkan ke arahnya. Sebenarnya Hana bisa mengentrol pergerakan Naga Kegelapan dengan kesadaranya sendiri, tapi karena situasi yang sulit maka ia menggunakan mode perintah langsung.
Huuu… Huuu…. Bam… Bam… Bam…
Naga segera menyemburkan Api Hitam ke arah Janeng Iblis dan berhasil mengenai ranting-rantingnya, di sisi lain Naga Kegelapan pun berhasil di tembak oleh tiga peluru duri beracun mengenai sayap dan lehernya.
"Aaakkhh! Pembakar Racun Diaktifkan!" Hana merasakan kesakitan karena Naga Kegelapan tercipta dari tenaga dalamnya. Duri-duri yang mengenai Naga Kegelapan langsung terbakar oleh Api Hitam sampai tak tersisa.
“Aaakkkkhh! Aku tidak menyangkan akan sesakit ini, tapi bagaimanapun misiku telah berhasil, sekarang saatnya untuk terbang menjauh dari jangkauan duri-duri beracun ini”
Hana terus menunggang Naga Kegelapan menjauh dari kawasan Janeng Iblis sembari meningkatkan pembakaran api hitam terhadap tumbuhan mosnter itu. Janeng Iblis semula tidak begitu merasakan terbakar karena hanya beberapa rantingnya saja yang terbakar, namun kini karena api hitam mulai membesar menjalar membakar cabang-cangan membuatnya terpaksa harus merespon aktif dan terus bergerak hingga menimbulkan gempa lokal.
KRIIEEEEEKKK!
__ADS_1
Terdengar raungan kesakitan, Janeng iblis mulai mengendap dalam rawa-rawa untuk memadamkan api hitam, tapi justru api hitam membakar bagian umbinya. Teriakan kesakitan kembali terdengar hingga Janeng Iblis memutuskan untuk mencari sumber api hitam, dengan kekuatan tenaga dalam yang sangat besar Janeng Iblis dengan mudah melacak keberadaan Hana yang berada di udara.
KRIIEEEEEKKK!
Raungan kemarahan terdengar, Janeng Iblis murka ia mulai merangkak keluar rawa-rawa mengejar dengan cambukan-cambukan cabangnya menghujam ke arah Hana secara membabi-buta.
"Apa!"
Hana melebarkan matanya dia sungguh tidak meyangka Janeng Iblis benar-benar akan mengejarnya seperti yang diceritakan Juli padanya. Hana terus berusaha menghindar dengan cara memaksa Naga Kegelapan untuk terbang tinggi menjauhi jangakauan ranting-ranting yang terus didera. Di samping itu Hana terus menpercepat Api Hitam membakar moster mengerikan dari berbagai sisi itu tubuhnya.
“Sial! Makhluk apa itu ukuran saja sebesar bukit besar, bekas tempat umbinya membentuk kawah besar di dalam rawa-rawa, ini sungguh gila, aku harus berusaha menjauhinya secepat mungkin” Hana kaget saat Janeng Iblis merangkak mengejarnya.
‘Pohon ini sungguh keras dan sangat sulit untuk membakar semuanya sekaligus, sepertinya kekuatan tenaga dalamku hanya mampu mengendalikan api hitam sebagian tubuhnya saja, sebenarnya apa yang direncanakan Senior dengan monster raksasa ini’ Hana mulai lemas namun ia terus membakar Janeng Iblis semampunya.
Di sisi lain, Juli terlihat lari cepat menangkap akar-akar raksasa Janeng Iblis dan berusaha naik ke atas umbi raksasa sebesar bukit besar sembari menghindari area api-api hitam yang terus membakar. Lumpur pada pada sisi umbi itu sungguh membuat Juli bisa tenggelam di dalamnya. Dengan cekatan Juli terus meraih akar memanjat umbi itu dengan cepat.
“Sial! Aku harus mergegas cepat mencari tempat yang aman dan tipis lumpur di umbi ini untuk melakukan proses pencabutan Kristal Hijau dengan teknik rahasia ku, kalau aku terlalu lama maka Hana akan terjatuh dari udara karena kehabisan tenaga dalam”
Juli terus mendaki dengan cepat menaiki umbi besar yang terus bergerak-gerak hebat layaknya gempa, pengagan tangan kanan Juli masih sangat lemah berbeda dengan tangan kirinya, sehingga dalam mendaki Juli terlihat lebih dominan menggunakan tangan kirinya,
“Sedikit lagi mencapai tempat datar, aku harus bergegas!”
Juli bisa melihat daerah atas umbi layaknya lapangan luas yang terbakar api hitam. Juli bergegas berlari terhuyung-huyung karena gempa di atas umbi Janeng Iblis, setelah Juli melihat tempat bersih yang juga terlihat beberapa tumbuhan parasit tumbuh di atas umbi ini, Juli segera menghantam tumbuhan pasit agar tidak menghambat pekerjaannya.
Mata Juli terus melihat ke barbagai arah di sekitar untuk memastikan tempatnya aman dari serangan tumbuhan parasit,
“Baik ini saatnya” Juli mulai menancapkan tongkatnya sembari menggigit ibu jari sampai berdarah. Juli segera menulis pola kuno di bagian tubuh Janeng Iblis dengan cepat, matanya terus mengawasi keadaan di sekirtar. Tulisan kuno Juli tidak sebagus biasanya karena ia menggambar di tengah-tengah gempa besar.
“Nah sekarang tulisannya sudah selesai tinggal menggunakan energi alam untuk mengaktifkannya, ini akan sulit” Juli mencabut tongkat dan terus memutar ujung tongkat sampai membentuk sebuah cahaya kecil di ujungnya,
“Ah! masih terlalu kecil energi alam yang terkumpul, aku harus memutarkan lebih kencang lagi” Juli terus memutarkan tongkatnya di antara gemba tempat pijakan kakinya.
Keberadaan dan pijakan kaki kecil Juli sungguh tidak terasa oleh tumbuhan raksasa Janeng Iblis, tapi bengitu Juli menancapkan tongkat yang telah mengandung energi alam pada pola yang telah di gambarnya, hal itu akan menjadi berbeda.
KRIIEEEEEKKK!
__ADS_1
**