
“Tuan Boris! Tuan! Gawat!”
Teriak seorang bertopeng merah berlari cepat memasuki gua napasnya terengah-engah tidak teratur seraya memberikan hormatnya, Boris dan petinggi lainnya menoleh kearah Hanter pembawa berita buruk itu dengan perasaan heran.
Boris menyeringai, “Apa si Toru bodoh itu tidak sanggup melawan 10 orang Suku Padri, sehingga dia terus berkali-kali menyuruh para pemburu rendahan untuk melaporkan situasi bodoh ini padaku? Huh?” bentak Boris dengan tatapan dingin.
Pemburu itu gemetar ketakutan namun dia tetap menyampaikan informasi yang dibawanya,
“Bukan! Bukan begitu, tapi diluar saat ini kondisi benar-benar tidak terkendalikan, petinggi Toru telah dikalahkan oleh seorang anak kecil, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku bahkan tidak tahu dia masih hidup atau tidak” lapor bawahannya dengan suara gemetar.
“Apa kata mu? Hahaha!” Boris tertawa terbahak-bahak saat mendengar penjelasan bawahannya, dia mendekati pemburu pembawa berita dengan tatapan dingin,
“Apa kau mau bercanda dengan ku? Huh? Apa kau pikir aku telah kehilangan akal sehat sehingga aku mempercayai omong kosong mu itu” Boris memegang kerah bajunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi sampai Pemburu itu sulit bernafas.
“Tu.. Tuan Boris aku berkata seperti yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri” ucapnya dengan suara tercekik
Boris mengeringai, “Hm benarkah!” tanya Boris seraya melemparkan pemburu itu ke dalam sumur besar yang tak jauh dari tempatnya berdiri, pemburu itu dengan cepat ditangkap oleh paruh Dondon dan segera mengunyahnya hingga suara patah tulang belulang terdengar mengerikan.
“Hehehe” Dodep bisa senyum kembali setelah sempat marah karena wajahnya diludahi oleh seorang gadis kurus sebelumnya.
“Tuan Boris, angkau sungguh sangat pintar, aku yakin dia adalah penyusup yang mencoba menipu mu, karena jika kulihat dari wajahnya dia tidak mungkin anggota kita, pemburu itu pastilah menyusup yang ingin menyelamatkan gadis-gadis ini, hahaha” Tawa Dodep senang.
Boris menyeringai, “Busyu, Wurat, Cupan, Kuira, Biosa, Busta, kalian semua pergilah periksa di luar, aku harap kalian tidak gagal seperti si Borut” Perintah Boris pada enam petingginya untuk mengamankan kondisi di luar gua yang terdengar terus bergemuruh.
“Baiklah!”
“Baik Tuan!”
Terdengar suaran para petinggi segera memberi hormatnya pada Boris, setelah itu mereka bergegas berlari melompat keluar gua guna untuk memantau kondisi pembasmian pemberontakan.
Boris menarik napas lega perasaanya kembali tenang, “Dodep! Sekarang kau siapkan pengorbanan, bulan purnama telah berada di puncaknya” Boris memerintahkan Dodep yang telah bersiap dengan sebilah pisau untuk memenggal leher gadis-gadis suci untuk ditampung darahnya.
Dodep tersenyum dia langsung menyeret gadis kurus yang meludahinya,
“Kau! Beruntung kali ini.. aku hanya harus memenggalmu.. kalau tidak kau pasti akan ku bu…” Belum habis kata-kata Dodep bicara.
__ADS_1
Swuuss kriik krikk
Tiba-tiba, sebuah untaian rantai telah didera melilit pada batang leher Dodep dari arah belakangnya, “Apa ini?” teriak Dodep kaget, ia berusaha melepaskannya seraya menoleh kearah belakangnya, tiba-tiba di belakangnya terlihat seorang anak kecil berusia delapan tahun sedang menginjak ujung rantai yang melilit leher Dodep.
“Siapa dia!” Tanya Boris cepat, bukan hanya Dodep, Boris pun kaget saat melihat seorang anak kecil berusia delapan tahun telah berada dibelakang Dodep secara tiba-tiba yang lebih mengherankan kehadirannya bahkan tidak disadari oleh Boris dan Dodep.
Anak kecil itu pandangan matanya menyapu seluruh penjuru penjara yang berisi anak-anak dan gadis-gadis malang yang terletak di sekeliling sumur raksasa, air matanya tak terasa jatuh berderai membasahi pipi,
“Tidak ada yang lebih menyakiti hatiku selain melihat anak-anak dan wanita-wanita lemah kau perlakukan mereka lebih rendah dari binatang, sekarang aku akan memperlihatkan neraka sesungguhnya pada kalian berdua..” Juli terlihat sangat murka seraya mengeluarkan Mado, Hantu Muka Putih dan Toru dari Neraka Para Dewa.
Wussss Wussss Wussss
Brukk! Bruk! Bruk!
Ketiga Orang itu terlihat berasap-asap hitam yang terus keluar dari tubuhnya, ketiga orang itu langsung sembah bersujud kepada Juli dengan ketakutan yang sangat tinggi, sementara Juli justru tidak memperdulikan tiga orang bersujud padanya namun ia segera mengambil ujung rantai yang melilit leher Dodep yang diinjak dengan ujung kakinya, Dodep berusaha melepaskan rantai itu dari lehernya namun itu sungguh diluar kemampuannya.
Krek!
Juli langsung menyentak rantai Dodep dengan hentakan dahsyat lalu mengayun tinggi dan membantingnya tepat ke hadapan Boris hingga membuat boris harus melompat mundur beberapa langkah.
“Uughh! Tu… tuan Boris tolong Aku…” Suara Dodep kesakitan terdengar seraya meminta tolong pada Boris, akan tetepi Boris tidak sebodoh itu untuk mencampur urusan yang dia sendiri belum tentu bisa lolos dari anak monster di depannya.
Pandangan mata Juli tertuju kearah penjara dan gadis-gadis malang yang berada di depannya, raut wajah Juli menjadi sangat murka hingga Gua Iblis gempa karena tidak mampu menahan kemurkaannya.
Dengan tatapan dingin Juli melihat kearah Mado, Hantu Muka Putih dan kau Toru, yang lagi bersujud didepannya,
“Sekarang kalian habisi semua pasukan penjaga di gua ini, lalu lepaskan semua orang yang ada di sini, sementara aku akan membuat perhitungan pada dua kawan kalian ini” titah Juli dengan aura pembunuh yang membuat ruangan itu gelap.
Ketiganya terus bersujud tidak berani mengangkat kepalanya, “Dewa yang berkuasa, kami siap melakukannya” Ketiganya mundur perlahan sambil menjaga sujudnya, tubuh mereka bergetar hebat mata mereka telah menghitam semua, tidak terlihat lagi gaya-gaya congkak mereka seperti yang dulu.
Juli menyeringai, “Kalian bertiga ingat lah! Aku tidak patut untuk sembah sujud kalian, jadi tidak usah kau ulangi itu lagi, namun jika kalian lalai dalam perintah kalian langsung kuseret kembali” perintah Juli dengan tatapan serius.
Mereka menunduk, “Baik Dewa agung” Jawab mereka serempak dan segera pergi melaksanakan tugas seperti yang diperintahkan, tidak lama jeritan para pemburu yang mencoba melarikan diri dari tempat itu kembali terdengar.
“Tidak.. Tolong… Ampun…”
__ADS_1
Pandangan mata Juli terkunci pada Moris yang kini bisa melihat perbedaan level diantara mereka,
“Si.. siapa kau” Tanya Boris mulai berkeringat dingin sambil mengeluarkan Tombak Pedang dari cincin ruangnya.
“Kakak! Bertahan lah, kakak jangan mati.. kegelapan ini tidak akan lama”
Tiba-tiba terdengar suara gadis-gadis malang mencoba menyadarkan sahabatnya yang terlihat telah terluka parah hingga pingsan akibat tebasan golok sebelumnya, kini mereka semakin ketakutan terhadap aura kemurkaan Juli walaupun pada dasarnya Juli tidak sedang menekan mereka, saat Juli menyadari kejadian itu ia segera menarik aura pembunuhnya.
Juli mengalihkan pandangannya pada gadis malang itu yang kini saling berpelukan karena ketakutan dan saling menolong sesamanya, Juli menarik napas panjang perlahan Juli datang menolong mereka,
“Ah! kakak kakak! Maafkan aku telah menakuti kalian, biarkan aku melepaskan belenggu kalian”
Juli perlahan melepaskan belenggu besi pada leher gadis-gadis kurus itu bagaikan mematahkan ranting kering saja.
Krik! Krak!
Semua mata terbelalak namun Juli tidak terlihat menakutkan bagi mereka, karena selain Juli berwajah imut tutur kata juga lembut sehingga mereka merasa nyaman ditolong oleh anak kecil itu yang terlihat tidak ada pamrih diatasnya.
“Adik! Terimakasih banyak hik hik!”
“Trimakasih dik! Hik.. hik..”
Juli senyum hangat air matanya tanpa terasa keluar saat melihat tubuh kurus tinggal tulang berulang itu saling menolong satu sama lainnya saling merangkul dalam kesengsaraan, hingga air matanya menetes tidak karuan,
“Ah! kakak kakak! Maafkan aku datang agak terlambat” Juli menyeka air matanya.
Moris dari kejauhan melihat kesempatan besar ia memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri, apalagi Juli sedang sibuk mengobati dan luka-luka tebasan yang mengoyak danging dan tulang yang dirasakan para gadis-gadis kurus itu.
Moris melihat Dodep yang telah pingsan terkulai Moris menjadi berkeringat dingin, dia segera mundur dari tempat itu dan terus melompat keluar dengan perasan sangat frustasi dan ketakutan.
“Sial! Siapa anak ini, bagaimana anak yang tidak berpangkat memiliki kekuatan merobek belenggu baja tebal seperti merobek kertas saja, kekuatannya diluar nalarku, tidak.. kurasa dia benar-benar Dewa, kurang ajar aksiku ini memancing para Dewa, padahal hanya selangkah lagi aku bisa menguasai kekaisaran ini” Boris Marah sambil terus melompat keluar menjauhi tempat itu.
Dodep kembali siuman, ia dapat mersakan tulang-tulangnya patah sehingga ia tidak bisa berdiri, “Bangsat si Boris! Dia benar-benar mengkhianati ku, bagaimana cara ku bergerak? Tulang-tulangku telah remuk semua, padahal ini kesempatan ku untuk kabur selagi bocah iblis itu sedang sibuk mengurus para gembel sialan itu” gumamnya kesal ia mencoba merangkak pergi namun Juli terlihat tidak memperdulikannya sama sekali.
**
__ADS_1