Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 126. Amran dan Gurunya Kakek Boman


__ADS_3

Matahari pagi keluar dari peraduannya, menyinari hamparan padi menguning di lereng bukit Lembah Angin, pantulan cahaya matahari dari berbagai tumbuhan menimbulkan warna-warna indah yang menggelora jiwa. Suasana sejuk dan berkabut tipis membuat orang menarik selimutnya kembali, kicauan burung hutan sambut-menyambut menyanyikan suara alam begitu merdunya.


“Ciat! Jurus Bangau Terbang!”


“Hiak! Jurus Bangau Menusuk Awan!”


Dalam kabut tipis lereng bukit terdengar suara anak-anak berlatih silat. Anak ini berumur 10 tahun berbadan tegap berpangkat tiga putih sedang giat berlatih pedang yang dibimbing oleh tua renta berpangkat satu kuning.


“Amran! Loncatanmu kurang tinggi, saat menggunakan Jurus bangau menusuk awan! Belajarlah sungguh-sungguh karena dunia persilatan tidak kenal ampun”, Seorang kakek tua mengajari muridnya sambil menghisap pipa dengan santai.


“Baik Guru!”.


Amran terus memutar pedang kayu mencoba melompat setinggi mungkin untuk menyempurnakan ilmu pedang bangau putih. Ilmu pedang ini dulunya sempat menggempar dunia persilatan beberapa puluh tahun yang lalu, namun semenjak Boman Si Pedang Bangau menghilang belasan tahun lalu, ilmu pedang ini sudah tidak lagi terdengar.


“Boman! Si Pedang Bangau! Jangan lari!”


Tiba-tiba belasan orang berpangkat perak berlari cepat kearah gebuk. Kakek tua yang dipanggil Boman segera menyimpan pipanya, wajahnya terlihat pucat pasi.


“Bula Buli! Dua bersaudara?”


Kakek Boman terkejut saat melihat dua orang paruh baya memimpin belasan orang berseragam hitam bergerak ke tempatnya.


Amran menghentikan permainan pedang, ia tertarik pada belasan orang yang dilihatnya.


Semua orang bisa mengenali kelompok ini dengan sekali lihat, karena mereka semua menggunakan bros berlambang burung Cabak Iblis.


“Tua Bangka Boman! Kenapa kau tidak menyambut panggilan kami? Sudah kukatakan, kita akan menyerang Gunung Dawai beberapa hari lagi, kenapa kau masih saja disini? Padahal kau tahu konsekuensinya jika membangkang!” kata Bula menjelaskan,


Bula memiliki postur tubuh lebih tinggi dari semua orang di kelompok ini, bahkan melebihi saudara kembarnya Buli.


Bula dan Buli keduanya memegang pedang besar yang bersesuaian dengan ukuran tubuhnya, keduanya dikenal di dunia persilatan sebagai “Bula Buli Si Penghancur Gunung.”


“Aku tidak bisa pergi, belakangan ini tubuhku sakit-sakitan, maafkan aku tidak bisa ikut,” kakek Boman memberi alasan, walaupun ia tau mereka tidak mau mendengar alasan apapun darinya.


“Kalau demikian, seperti adat! Kami akan membawa kepalamu dan muridmu untuk menghadap ketua Sekte Cabak Iblis”.


Buli mengalihkan pandangan pada Amran yang hanya berdiri di depannya melihat situasi.


“Kalian penggal saja anak itu, sementara Boman serahkan pada kami saja.”  Perintah Buli pada anak buahnya, Buli segera mencabut pedang, bergerak cepat menyerang Boman menggunakan jurus terbaiknya.


Gerakan Pertama! Pedang Penghancur Gunung!


Bangau Putih melebarkan sayap!


Pertarungan sengit dua lawan satu, Bula dan Buli dua bersaudara penyerangannya menitik beratkan pada kekuatan tenaga, sementara Kakek Boman pada kecepatan dan ketangkasan.

__ADS_1


Pedang beradu di udara, Kakek Boman berusaha mengalahkan Bula Buli bersaudara dengan cepat, ia mulai khawatir terhadap keselamatan Amran muridnya yang dikepung belasan orang.


“Amran lari lah! Aku akan berusaha menahan mereka sebisa mungkin.” Kakek Boman mencungkir balik ke belakang menjaga jarak dari Bula Buli bersaudara.


Amran sangat terdesak dalam kepungan, ia bahkan hanya menghindar dari tebasan pedang musuh, ‘Sial! Ini akan sulit, aku hanya memiliki pedang kayu, dan ini sangat sulit dalam melumpuhkan lawan.’ Batin Amran, ia sesekali melirik ke arah gurunya yang juga terdesak.


Bula Buli bersaudara sangat bersemangat dalam menyerang kakek Boman, selain tenaga dalam dua bersaudara lebih tinggi dari Kakek Boman, mereka juga memiliki senjata yang jauh lebih baik.


“Boman kau sudah tua, tapi kau masih sangat lincah, tapi bagaimanapun itu, hari ini adalah hari kematianmu.” Bula bersaudara bergerak cepat menyerang kakek Boman kembali.


Tahap kedua Pedang Penghancur Gunung!


Buli memutar pedangnya dengan cepat, pusaran angin mulai tercipta di sekelilingnya, kekuatan pusaran angin itu dapat membuat tubuh kurus kakek Boman termundur beberapa langkah, kakek Boman berusaha keras menggunakan tenaga dalamnya untuk bertahan.


Tiba-tiba Bula menyerangnya dari arah samping. “Tua Bangka lihat kemana kau! Lihat serangan!” teriak Bula sembari menebas dengan seluruh kekuatannya.


Pertahanan Bangau Putih!


Traaaang!


Pertahanan kakek Boman tidak mampu menahan pedang Bula yang penuh tenaga, tebasan ini mengenai tubuhnya dan terpental beberapa meter jauhnya, ia mengalami luka dalam serius dan memuntahkan darah dari mulutnya.


“Hanya setingkat ini saja kekuatan kakek Boman si pedang bangau putih, hahaha, sungguh kasihan”.


Galak tawa Bula dan Buli bersaudara menggelegar memecahkan konsentrasi Amran yang sedang dikepung belasan orang berpangkat kuning.


Jurus Bangau Putih Memecah Awan!


Gerakannya sangat cepat hingga mampu merobohkan dua musuh sekaligus dengan tusukan pedang kayu, dia pun harus membayar mahal atas kenekatannya, sebuah luka tebasan terlihat di punggungnya.


“Sial! Kekuatanku belum sanggup untuk mengalahkan mereka, tapi aku harus berjuang menyelamatkan guruku!” Amran berusaha maju ke arah gurunya.


“Amran lari lah, kau tak patut mati di sini!”


Kakek Boman bisa melihat dirinya sudah tidak memiliki peluang untuk hidup karena luka yang dimiliki, akan tetapi berbeda cerita dengan Amran.


“Amran ingatlah! Di dunia ini kalau kita tidak kuat, maka tidak ada pertolongan dari siapapun, sekarang lari lah aku akan membuka jalan untukmu, untuk terakhir kalinya”.


“Tidak Guru!” teriak Amran histeris, ia dapat menduga bahwa gurunya akan melakukan tindakan bunuh diri.


Kini kakek Boman menatap semua orang dengan tatapan serius, ia kembali berdiri dengan sisa-sisa tenaganya.


“Bula Buli bersaudara! Aku akan melawanmu hari ini! Bersiaplah!”


Melihat keseriusan kakek Boman, Bula Buli bersaudara kembali menggunakan jurus terbaiknya.

__ADS_1


“Baiklah Boman! Aku sudah lama menantikannya, gunakan kekuatan terhebatmu! Majulah!”


Mereka berdua kini bersiap menerima serangan Kakek Boman, tapi Boman justru membalik arah serangannya ke arah belasan orang pengepung Amran.


Bangau Putih Membelah Awan!


Gerakan Kakek Boman cepat berusaha membebaskan muridnya, dalam kondisi tidak prima ia hanya mampu merobohkan tiga orang saja dan ini belum cukup untuk membuat Amran terbebas dari kepungan. Kakek Boman sendiri telah kehabisan tenaga dan tidak mampu lagi bergerak.


“Guru!” teriak Amran putus asa, pandangan matanya berapi-api dan penuh dendam terhadap pasukan Sekte Cabak Iblis.


Di sisi lain, Bula Buli terkejut saat menyadari pergerakan Kakek Boman bukan untuk melawannya, tapi justru mengincar belasan pasukan lemah lainnya, hal ini membuat mereka menjadi murka.


“Kurang ajar kau Boman! Berani bertindak pengecut seperti itu! Sekarang matilah!”


Bula Buli bersaudara dengan cepat menebas Kakek Boman yang telah sekarat.


Grooor! Grooor!


Tiba-tiba bumi menjadi gelap untuk sesaat, makhluk raksasa misterius terbang di langit, bayangannya menutupi bumi. Bula Buli terkejut, segera melompat mundur beberapa langkah menghentikan serangannya, mata keduanya sekarang terarah ke langit biru.


“Naga!”


“Ada Naga!”


Semua orang ketakutan saat melihat naga raksasa di langit, bisa dikatakan makhluk ini menyerupai naga dan lebih besar daripada naga aslinya.


“Naga raksasa terbang! Dia menuju ke semenanjung paus!”


“Benar, tapi mungkin saja naga itu terbang ke Gunung Dawai! Gawat! Jika makhluk sebesar itu campur tangan, Aliansi Lembah Hantu dan Sekte Cabak Iblis akan kesulitan dalam peperangan ini.


“Tapi baguslah! Dia hanya lewat saja! Kalau sampai monster itu campur tangan di tempat ini, maka kita semua akan mati”.


Berbagai ekspresi ketakutan terhadap monster terbang terdengar dari mereka. Sekarang mereka baru terlihat tenang kembali begitu menyadari naga itu hanya numpang lewat saja.


“Sudah! Sekarang mari habisi Boman dan muridnya!”. Teriak Bula dengan penuh semangat.


“Berhenti! Jangan buang-buang nyawa kalian! Sebaiknya kalian pulang saja! Sebelum terlambat!” suara merdu seorang gadis terdengar di telinga mereka.


“Siapa kau! Tunjukkan dirimu!”


Semua orang terlihat bersiaga, karena seseorang yang bisa mengirim suara lewat udara bukanlah pendekar biasa.


Sosok Dewi cantik jelita berpakaian mewah muncul di antara fatamorgana kabut bersama seorang anak kecil bertongkatkan kayu kering.


“Putri Yara, cacing-cacing ini urusanmu?”

__ADS_1


**


__ADS_2