Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 71. Perebutan Jasad Juli


__ADS_3

Di Tengah Hamparan Es


Dalam remang remang cahaya malam Yona menatap wajah tuannya yang telah kaku dengan senyuman yang masih menghiasi bibirnya, tuannya mencoba menghibur Yona seolah apa yang dialaminya semua baik-baik saja.


Setiap kali Yona menatap wajah tuannya dadanya menjadi sesak, air mata terus berderai isak tangis sesekali terdengar di sela-sela kesunyian malam,


“Tuan! Apa yang terjadi? Kenapa aku berada di sini? Tempat apakah ini?” gumamnya pelan terus mencari tahu dalam kebimbangan.


Yona menatap ke langit ia dapat melihat aray yang berlapis-lapis, gravitasi yang lebih berat dari biasanya namun bagi Yona gravitasi itu bahkan tidak berpengaruh sedikitpun terhadapnya, Yona teringat beberapa waktu lalu dia bertempur dengan Tiga Dewa Peri kegelapan seorang diri dan dadanya terkena pukulan Dewa Peri sampai membocorkan Wadah Induk Tenaga Dalamnya, ia perlahan meraba dadanya, wajah terlihat kaget begitu menyadari Wadah Induk Tenaga Dalamnya telah tersegel sempurna.


“Ah! aku telah pulih sempurna! di dunia ini tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya selain tuanku seorang” gumamnya pelan air matanya kembali berderai.


“Dewi Yang Mulia! Kami Aliansi Singa Hitam memberi hormat”


Tiba-tiba terdengar suara lembut seorang wanita cantik seraya bertekuk lutut di depannya didampingi seorang pria bertubuh kurus, dan di ikuti oleh ratusan orang berserangam perang di belakangnya.


Yona melihat sisa-sisa robekan pakaian yang dikenakan Juli juga serupa dengan seragam mereka, Yona tersenyum ia dapat menduga bahwa ini rekan-rekan tuannya pikir Yona.


“Kalian bangkitlah! Siapa kalian? Bisakah kalian menjelaskan bagaimana ini terjadi?” Tanya Yona dengan mata sembab ia bahkan tidak begitu memperdulikan mereka.


Wanita itu menundukkan pandangannya, “Yang Mulia, Saya Dewi Maut! Kami sedang menyerang suku Padri yang memberontak, mereka telah membunuh para penjabat dengan keji, menculik pangeran ke-sembilan, kami dari Aliansi Singa Hitam datang menuntut balas, namun kami masih tidak mampu melawan mereka, karena mereka memiliki ahli-ahli tingkat tinggi di dalamnya, Yang Mulia, kami harap Yang Mulia berkenan membantu” Pinta Dewi Maut dengan nada lembut.


Yona menyeka air matanya perlahan, tatapan matanya kini terarahkan pada Kota Teratai Langit yang memiliki aray kutukan di atasnya, “Hm, jadi tuanku ingin menyerang kota ini? Aku bisa melihat orang yang menciptakan Aray itu bukanlah ahli tingkat biasa, aku tidak yakin bisa membantu kalian membunuh Ahli tingkat tinggi itu, namun aku berjanji akan menenggelamkan kota ini sebelum fajar tiba” ucap Yona mengeluarkan aura emas yang menyala-nyala kemarahannya mulai terlihat.


Cahaya terang tubuhnya itu bahkan terlihat belasan kilometer jauhnya, tatapan mata Yona menjadi sangat dingin sehingga mengetarkan lutut Dewi Maut dan seluruh pengikutnya, Yona perlahan merenggangkan pelukannya ia bangkit berdiri dan perlahan berjalan ke arah Dewi Maut dan Bamli yang telah berkeringat dingin.

__ADS_1


Yona menatap mereka dengan tatapan yang masih mengandung kesedihan, “Katakan padaku berapa orang Ahli di dalam sana? Berapa banyak anak-anak yang harus diselamatkan? Aku tidak mau membunuh orang yang tidak bersalah di dalamnya” tanya Yona dengan nada serius.


Bamli menundukkan kepalanya, “Yang Mulia! Semua yang berada di sana adalah suku Iblis yang harus dimusnahkan, tidak mungkin bagi kita untuk membiarkan mereka lolos biarpun itu seorang bayi” ucap Bamli dengan nada serius.


Yona sedikit melebarkan matanya, “Oh… begitu ya!” ucap Yona tiba-tiba Yona dapat merasakan puluhan orang berdatangan dari arah belakangnya.


“Selamatkan Wali! Serang mereka!”


"Cepat! Serang!"


"Jangan gentar! Serang!"


Terdengar suara puluhan orang petinggi menyerang secara bersamaan ke arah Yona dan pasukan yang sedang bertekuk lutut di depannya, Yona bisa melihat penyerangnya rata-rata memiliki tingkat budidaya tubuh perak dan ada beberapa yang bahkan hanya anak-anak sebaya dengannya.


Yona menundukkan kepalanya, “Aku bisa melihat lawan yang menyerang kemari bahkan lebih lemah dari kalian, aku tidak mau menindas mereka, jadi kalian lawan lah mereka, namun begitu, aku tidak membiarkan satupun dari mereka kembali dengan selamat”


Dewi Maut senang mendengar keputusan Yona, karena apapun itu ia sendiri yakin dapat melawan dengan mudah seluruh penyerang pasukan Kota Teratai Langit, apalagi dibantu oleh seratus anak buahnya, dan Bamli yang memiliki kekuatan setara dengannya jadi melenyapkan semua pasukan musuh sekaligus bukanlah masalah.


“Dengan senang hati yang mulia!” Dewi Maut menoleh ke arah anak buahnya, “Semuanya serang! Jangan sisakan seorang pun” teriaknya penuh semangat.


Semua pasukan Aliansi Singa Hitam bangkit berdiri serentak mencabut senjata mereka dan menerjang maju menyerang Pasukan Teratai Langit yang berjumlah puluhan orang saja.


Pasukan Teratai Langit dipimpin oleh seorang penyihir tua renta, Rioh, beserta para petinggi mereka bahu membahu melakukan penyerangan sebagai tim garda terdepan,


Sementara dari kalangan anak-anak itu dikenal dengan 11 pasukan tombak yang di pimpin Muska dan Nuryin sebagai wakilnya. Mereka semua telah di lengkapi senjata berupa palu, kegagahan anak-anak itu bahkan tidak bisa dianggap remeh, semangat juang dan persaudaraan tinggi menjadi senjata ampuh bagi mereka.

__ADS_1


Hana sudah bisa berlari dengan kencang setelah masa drop-nya beberapa saat lalu, sepasang pedang merah dan biru berada di tangannya ia bahkan bisa berlari dua kali lipat lebih kencang dari pasukan lainnya sehingga tidak heran dalam menerjang maju Hana lah yang paling cepat dari lainnya.


Air mata di kedua mata terus berurai target serangan Hana bukanlah ratusan orang yang berlari ke arahnya, namun seorang peri cantik jelita yang berdiri di samping jasad Juli,


‘Aku bisa melihat! Anak bercahaya inilah yang menjadi pemimpin utama mereka, aku akan membunuhnya dengan tangan ku sendiri, aku bersumpah akan membalas dendam senior ku biarpun nyawaku taruhannya’ batin Hana terus menerjang cepat dengan aura pertarungan kebiruan terlihat jelas dari tubuhnya.


Yona bisa merasakan seseorang menggunci dirinya sebagai target dari kejauhan, ia melihat ke arah anak seusianya berwajah amat cantik jelita yang bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya, anak cantik jelita itu dengan nekat menyerangnya,


‘Seharusnya anak-anak seperti dia tidak menggangguku disaat mud ku sangat buruk, tapi jika mereka tetap keras kepala aku tidak yakin mereka akan selamat dalam sekali serangan ku’ Yona mengalihkan pandangannya menatap wajah Juli yang telah berbentuk arca di sampingnya.


“Tebasan Pedang Bidadari!”


Syut! Syut!


Hana dengan cepat melompat tinggi ke udara dan menukik cepat menebas ke arah Yona dengan putaran pedangnya,


"Aku tidak akan mengampuni mu!" Teriak Hana murka,


Yona dengan cepat menangkis dua pedang Hana sekaligus dengan jari telunjuk kecil mungilnya, tangkisan terkesan pelan namun membuka mata Hana saat melihat tenaga dalam besar yang terkandung dalam jari indah Yona sehingga menimbulkan benturan tenaga dalam yang sangat dahsyat.


DROOOMM!


Hana terhempas belasan meter ke udara namun dia cepat menguasai diri, ia berputar di udara dan mendarat dengan sempurna, ‘Siapa Dewi ini? Aku benar benar tidak menyangka seorang Dewi khayangan turun ke Bumi? Untuk mengatakan dia siluman aku tidak yakin, kurasa tidak ada orang di bumi yang memiliki kecantikan setara dengannya, tidak! dia satu-satunya makhluk tercantik di bumi, tapi aku tidak akan menyerah walaupun dia kuat, aku akan membunuhnya bagaimanapun caranya, takkan kubiarkan siapapun hidup setelah mambunuh seniorku’ batin Hana semakin serius ia kembali memutar pedangnya dengan teknik terbarunya.


Yona sesaat melabarkan matanya saat melihat teknik yang digunakan Hana, ‘Tarian Bidadari? Bukankan itu jurusnya mendiang leluhur Dewi Bidadari? Bebuyut gurunya Tuan ku? Kenapa jurus yang telah punah ribuan tahun masih muncul di sini, untung saja tenaga dalamnya tidak sekuat milikku, jika tidak, anak imut ini akan manjadi ancaman besar bagiku, aku benar-benar tidak bisa membiarkannya hidup, apalagi dia adalah musuh yang harus ku bunuh’ batin Yona mulai menatap tajam wajah cantik Hana.

__ADS_1


Di sisi lain semua orang terkejut melihat kehebatan Hana dan Yona saat pedang dan jari berhadapan, namun di satu sisi jelas Dewi Peri Utara jelas lebih unggul dari Maha Ratu Rihana Kerajaan Langit, di sisi lainnya Hana terlihat lebih lincah walaupun dengan tenaga dalam yang memadai.


**


__ADS_2