
Setelah kepergian mantan Pasukan Cabak iblis ke Kota Lembah Teratai Langit, Juli kembali ke Kota Singa Selatan untuk mengadakan rapat darurat.
Di atas menara utama Kota Singa Selatan, telah dihadiri oleh petinggi-petinggi Kota Singa Selatan, Seperti Ade, Ardan, dan Kuntok, serta beberapa orang lainnya seperti Dewi Yara dan Mina.
“Mina! Aku memiliki urusan penting, aku akan mengalihkan tempat ini padamu, aku harap kau bisa membimbing mereka dengan baik!”
“Baiklah tuan! Sebelumnya bolehkah tuan melepaskan semua segel tenaga dalamku! Aku rasa dengan kekuatan penuh, aku bisa dengan leluasa bergerak!” Mina menundukkan kepalanya memberi hormat.
Juli senyum mendengar permintaan Mina yang tidak sesederhana kedengarannya, ini sangat beresiko jika Juli memberikan akses tenagadalam penuhnya, bisa jadi Mina akan berubah menjadi iblis yang sebenarnya, sebab dalam tubuh mina masih ada kesadaran aslinya.
“Baiklah Mina! aku bisa saja mengembalikan jiwamu seperti semula, tapi ingatlah! Sekali berkhianat, kau akan berakhir selamanya di neraka kegelapan!”.
Juli menulis tulisan kuno di udara, tulisan itu membentuk lingkaran aray, dari dalam lingkaran jiwa Mina keluar dan masuk kedalam tubuhnya dengan cepat.
Tiga petinggi melihat teknik tulisan misterius dengan kekaguman, mereka mengira ini hanya teknik sihir saja yang mungkin dilakukan oleh penyihir-penyihir tingkat atas.
Tapi ekspresi Putri Yara sangat berbeda, matanya terbelalak menatap pola aray itu dengan seksama, seolah matanya sulit untuk dipindahkan.
“Juli! Bukankan ini teknik segel Jiwa! Bagaimana kau melakukannya? Dewi Umyan dari Bumi Tengah telah mempelajari teknik ini selama ratusan tahun, namun dia belum bisa menguasainya dengan sempurna, bagaimana mungkin kamu memiliki pengetahuan melebihi Dewi Umyan di bidang segel! Dia Dewi segel terhebat di dunia!”. Dewi Yara berkata sungguh-sungguh.
Juli senyum hangat. “Ah! Si Tua Bangka Umyan! Ya! Si tua bangka yang bandel! Kalau aku menemuinya akan ku suruh dia Scott jump”. Gumamnya pelan.
Gumam Juli ini justru membuat Putri Yara semakin penasaran tentang indentitas Juli yang sebenarnya.
Juli mengenang kehidupan pertamanya. ‘Di kehidupan pertamaku! Dia tersegel dengan kutukannya sendiri saat uji coba segel Dewa Kegelapan, ratusan tahun kemudian aku berhasil membebaskannya, setelah itu dia kuangkat jadi muridku yang ke-92, si Tua Bangka itu memang maniak segel, dan tidak pernah jera walaupun beberapa kali hampir mati karenanya’ batin Juli, senyum hangat terlihat di bibirnya.
Mendengar Juli memanggil Dewi Umyan dengan sebutan “Si Tua Bangka Umyan” raut wajah Dewi Yara berubah drastis, walaupun ia sendiri tahu kalau Juli sebenarnya seorang anak yang misterius, tapi Dewi Umyan bukanlah seseorang yang sebanding dengannya.
“Apa katamu! Si Tua Bangka Umyan? Kau tidak tahu! kepada siapa kau memanggil sebutan itu?” Tanya Dewi Yara cepat. dia jelas tidak setuju atas sikap Juli yang terlihat kurang ajar.
Juli menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kau tahu! Kalau Dewi Umyan berada disini dia akan berlutut padaku, dan meminta ku untuk mengangkatnya jadi murid, percayalah!” Juli senyum terkekeh seakan bercanda.
Juli tahu, kalau Dewi Umyan yang mereka takuti itu sebenarnya sangat mudah dijinakkan, apalagi oleh Juli, memperlihatkan segel-segel tingkat tinggi saja sudah cukup untuk membuat Dewi Umyan terpana.
Di kehidupan sebelumnya, Dewi Umyan sembah sujud pada Juli untuk diangkat menjadi murid, namun karena kasihan Julipun menyetujuinya.
Belum sempat Putri Yara bereaksi terhadap jawaban Juli, tiba-tiba Mina mulai meremas kepalanya yang terasa sakit.
"Sakit!"
“Tenangkan dirimu dulu Mina!”.
Juli menenangkan Mina agar tidak mengamuk, Mina mulai menenangkan diri dan perlahan ia menguasai diri kembali, Pandangannya kini terarah pada Juli yang berada di hadapannya.
“Tetua Kecil dari Dunia Timur! Apa yang kau lakukan padaku?” Mina memeriksa tubuhnya yang terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Tetua Kecil dari Dunia Timur! Te.. Tetua Kecil!"
__ADS_1
Panggilan Mina mendapat petunjuk baru bagi Putri Yara, sebelum ke Barat, Putri Yara terlebih dahulu mendatangi Bumi Timur untuk mencari Putri Rihana.
Putri Yara berapa kali bertanya kepada penduduk tentang rumor anak yang memiliki kekuatan hebat, karena Yara berpikir anak yang terhebat itu pasti Hana di usia 7 tahun.
Jawaban semua penduduk semua sama, "Kalau ada anak kecil yang kuat, dan mampu melawan Dewa itulah Tetua Kecil kami, tetua Juli namanya", Ungkapan para rakyat dengan penuh emosional, sampai meneteskan air mata.
Namun alangkah terkejutnya Putri Yara, beberapa kota besar di Bumi Timur patung-patung besar didirikan, bahkan di bumi timur kekaisaran sendiri tidak berani menyinggung sosok yang sangat sakral itu, sosok "Wali Kecil".
Sejenak tubuh Putri Yara merinding, aku tidak menduga anak dalam dongeng dunia timur ada di depan mataku, aku rasa dongeng itu tidak berlebihan. tentang perjalanan seorang "Wali Kecil menginjak bumi menantang langit, menebar kebaikan, menghancurkan kezaliman".
Putri Yara mulai teringat wajah patung raksasa di kota Anggrek Salju sangat mirip dengan wajah Juli. kini sejuta pertanyaan berada dalam kepala Putri Yara, hanya saja waktunya tidak tepat untuk mempertanyakan hal itu.
“Mina! Kau sekarang adalah bawahanku! Kau telah ku kembalikan ke tubuh aslimu, kau hanya memiliki dua pilihan, ku kirim kembali atau bekerjasama denganku” Tatapan Juli dingin, membuat rasa frustasi Mina beberapa waktu datang kembali menghantui.
“Aku dari klan Iblis! Tingkatan ku lebih tinggi darimu! Bagaimana aku bisa menerima perintah dari seorang manusia”. Mina tetap meninggikan statusnya sebagai bangsa Iblis.
“Mina! Percayalah! Aku cuma butuh sedikit waktu untuk menginjak kepala Dewa Iblis, kalau kau masih angkuh dengan suku dan ras, maka kau seharusnya tahu, bahwa ras kalianlah yang paling rendah diantara semua, tapi sudahlah! aku tidak mau berdebat masalah ini dengan anak kecil iblis seperti dirimu, tapi seperti kataku, kau hanya perlu mengikuti perintahku saja, tidak lebih.” Juli menatap Mina tajam dan penuh ancaman.
Mina menelan ludah, dia tidak memiliki pilihan lain selain harus mengikutinya.
“Baiklah! Saya akan menuruti, sejauh tidak mengkhianati bangsaku sendiri”. Mina menundukkan kepalanya.
Juli bisa mengerti hal itu, karena pada dasarnya klan siluman pun dimanfaatkan oleh Sembilan Dewa Kegelapan untuk terlibat dalam peperangan ini. Bisa dikatakan, ini rancangan Dewa Kegelapan.
“Baiklah! Seperti kukatakan sebelumnya, kau Mina menjadi pemimpin disini dan bekerja samalah dengan Ulyi si Ratu Wewe Gemut, aku mau kalian membangun wilayah Reruntuhan Kerajaan Kerdil melebihi masa kejayaannya”.
Juli mengalihkan pandangannya pada Ardan, kakek tua Bangsa kerdil itu terlihat lebih berisi dalam beberapa hari ini, senyuman ceria, menandakan tidak ada masalah besar yang dihadapinya selama ini.
“Kepala pelayan Ardan, aku melihat sudah banyak penduduk di Kota Singa Selatan, kau perlu mendatanya dan pastikan mereka mendapatkan makanan dan tempat tinggal yang layak, Aku akan memberimu beberapa bekal nantinya, namun, sejauh ini bagaimana dengan persediaan makanan kita?”.
“Ah! Yang Mulia! Jumlah penduduk sekarang lebih dari 5000 orang, dan akan terus bertambah, karena setiap harinya terus berdatangan pengungsi-pengungsi dari berbagai daerah. Mereka mengatakan bahwa kunang-kunang emas lah yang menyuruh datang mereka kemari, mengenai persediaan makanan aku ada sedikit solusi”.
‘Eh! Sepengetahuanku cuma beberapa keluarga yang kusuruh kemari, tapi tidak masalah, mungkin mereka mengira di sinilah tempat teraman untuk saat ini, dan memberi alasan bahwa kunang-kunang emas yang menyuruh mereka kemari’. Batin Juli.
“Baiklah! Perlakukan mereka dengan baik! Katakan bagaimana solusinya”.
Juli telah merancang semuanya dengan kompleks, begitu Ardan mengatakan ia memiliki solusi, Juli ikut tertarik untuk mendengarnya.
Ardan mengusulkan untuk membeli beberapa kebutuhan keluar daerah seperti makanan dan bahan pakaian, Ardan juga telah memiliki beberapa koneksi dengan pengangkut barang antar daerah.
Juli mengetahui ini ide yang baik, akan tetapi, sekarang ini jalur darat dan jalur laut tidak aman, perampokan dan pembunuhan terhadap pembawa barang tiap hari terjadi, Juli tidak ingin mengorbankan banyak nyawa orang-orang lemah demi membeli barang atau mengantar barang ke tempatnya.
Sebaliknya, Juli memerintahkan Ardan untuk pergi ke Istana Wewe Gemut di kedalaman rimba Reruntuhan Suku Kerdil untuk melakukan kerjasama di bidang pangan dan pertanian.
Ide ini membuat Ardan bagai disambar petir, ia tidak berpikir akan hidup setelah menemui suku Wewe Gemut yang terkenal kejam dan suka makan manusia.
“Yang.. Yang mulia! Titah paduka akan saya laksanakan”.
__ADS_1
Perasaan dan pikiran menjadi kacau, Ardan hanya bisa mengupat dalam hati, akan tetapi Titah seorang raja harus tetap dilaksanakan. Juli tertawa terbahak-bahak, dia sengaja membiarkan Ardan dalam dilema, agar ke depannya ia bisa lebih berani dan mandiri.
Juli mengeluarkan beberapa cetak biru dari cincin ruang, dan mulai menyampaikan rancangannya untuk masa depan, semua orang terlihat cermat mendengarnya. Mereka tidak mengira Juli bisa secerdas itu, hal-hal yang telah dirancang oleh Juli bahkan tidak ada dalam mimpi mereka sekali pun.
Ade diberikan beberapa cetak biru senjata, dan beberapa cetak biru bangunan yang harus dibangun, seperti gedung Akademi, Laboratorium untuk meningkatkan kualitas obat-obatan dan hasil pangan nantinya.
Juli menjelaskan pada mereka panjang lebar sampai mulutnya berbuih-buih, serapan mereka amatlah rendah, hingga Juli harus mengajarinya selangkah-demi selangkah.
Putri Yara bahkan tidak bisa berkata apapun lagi tentang Juli, ia terus dibuat terkejut dengan berbagai tindakan diluar imajinasinya.
Setelah rapat selesai, Juli mengajak Dewi Yara berangkat kesebuah tempat yang memakan waktu beberapa hari, untuk mempercepat Juli menggunakan tunggangannya.
“Tyrannosaurus langit! Bangkitlah”
Seekor Tyrannosaurus bersayap raksasa muncul di hadapan semua orang, ukuran tingginya mencapai tiga lantai bangunan panjangnya lebih dari 25 meter.
“Mons.. monster!”
**
Sudah beberapa hari Ardan terlihat bingung, beberapa wasiat telah ditulis untuk anak istrinya. Wajahnya terlihat tua beberapa hari dan pikirannya kacau, sehingga tidak seorang pun diperbolehkan untuk menemuinya.
“Kepala pelayan Ardan! Mari kita pergi, kereta telah siap!”
Seorang gadis berumur belasan tahun memberi hormatnya, dari gaya berpakaian ia terlihat anak gadis kampung biasa, Tapi siapa sangka kalau gadis ini dijuluki, “Dera si Dewi Pedang Maut!”.
Gadis ini sebelumnya bekerja sebagai jasa pengawal angkutan barang antar kota, belakangan ini, banyak terjadi penyerangan oleh aliran hitam terhadap barang perdagangan, mereka tidak melakukan dalam kelompok kecil melainkan dalam skala besar, hal ini membuat Dewi Pedang Maut memilih istirahat dan mencari pekerjaan lain.
Dera sebenarnya ingin pergi ke Kota Teratai Langit, pada saat itu dia kehabisan bekal dan singgah di Kota Singa Selatan, tanpa diduga bahwa kota ini sangat membutuhkan jasanya dalam pengawalan, dan akhirnya Dera pun menyetujuinya.
Dera pada dasarnya tidak mengetahui tentang Wewe Gemut, namun ia pernah mendengar rumor mengenai orang hilang di reruntuhan kota kerdil, bagi Dera ini justru membuatnya bersemangat untuk mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya.
Ardan keluar dengan wajah lesu, “Ah! Pendekar, mari kita berangkat, berapa banyak orang yang akan mengawal perjalanan ini?” tanya Ardan ingin tahu.
Dera menoleh ke arah belakangnya yang hanya terdapat kereta kuda kosong,
“Kurasa kali ini hanya kita berdua! Tapi jangan takut, aku akan melindungimu dengan segenap kemampuanku”, kata Dera meyakinkan.
“Apa?”
Ardan telah mengumpulkan lebih dari100 orang sebelumnya, hari ini yang hadir hanya seorang gadis belia. Kini keselamatannya semakin tak terjamin, tapi apa daya, kalau dia tidak mengindahkan titah dari raja, maka dia akan menjadi kepala pelayan yang gagal.
Dengan wajah pucat akhirnya ia berangkat, tangannya terus melambai ke arah keluarga seakan dia pergi untuk selamanya.
“Dasar! Raja sialan!” Ardan mengupat dalam hati.
**
__ADS_1