
“Teknik Mata Dewa Tahap ke tiga!”
Mata Juli berubah menjadi hitam pekat, pola tulisan kuno bangsa Ba-U tercipta dimatanya, bersamaan dengan pergerakan Dewi siluman berhenti seketika saat menebas Juli, efek bagi tubuh Juli juga sangat berat, dan itu bisa terlihat tubuh Juli sekarang ini terkikis lebih cepat dari sebelumnya.
‘Sebelum aku menghilang sepenuhnya, aku harus memerintahkan Penunggang Malam untuk menjaga kekaisaran ini, jika tidak bangsa siluman terus berdatangan dan membantai semuanya.’ Juli sadar ia tidak mampu lagi melindungi siapapun, dan satu-satunya cara memberikan tugas ini pada mereka yang lebih mampu.
Di sela-sela kehancuran tubuhnya, Juli berteriak lantang ke arah ratusan ribu suku penunggang malam dari kejauhan.
“Wairka irjule wirta mirje, ha in, de u vijie arlaju he e le! Waisai Irle!” Bangsa Agung! Selama kepergian ku, Jagalah, sebelum perisai terbentuk kembali! Wasiat Leluhur!”
“Irle!”
“Irle!”
Teriakan Juli membuat ratusan ribu Bangsa Penunggang Malam mengamuk, mereka bergerak cepat ke arah Juli. Sebagian terbang, sebagian memacu hewan tunggangan secepat mungkin, aungan singa dan serigala serta pekikan suara bebagai makhluk buas sampai menggetarkan bumi.
“Irle suirma jam syer lae!” “Dewa Leluhur! Bertahanlah buyut datang membantu!”
Hawa pembunuh yang dikeluarkan oleh ratusan ribu suku penunggang malam sangat pekat, menekan siapa pun di wilayah Gunung Dawai. Kemarahan mereka terhadap bangsa siluman menjadi sumber malapetaka bagi kerukunan dua bangsa itu.
Dewi Siluman Iblis yang sedang menebas Juli sebelumnya tiba-tiba tubuhnya tidak bisa bergerak, pedangnya berhenti tepat di leher Juli, energi pedang Dewi Siluman Iblis membuat kulit leher Juli terkelupas dan mengeluarkan darah hitam.
“Bocah manusia! Bagaimana caramu menghentikan ku? Padahal kau sudah tidak lagi memiliki tenaga dalam sedikitpun?” Dewi Siluman berusaha bergerak untuk mencekik anak sekarat di depan matanya, tapi tangan Dewi Siluman benar-benar tidak bisa digerakkan.
“Bocah! Siapa kau sebenarnya? Kenapa tubuhku bisa begini? Apa yang kau lakukan padaku, akan ku cingcang tubuhmu hingga ibumu pun tidak mengenalimu lagi, dasar bocah manusia!”
Dewi Siluman mengeluarkan Boneka jiwa dalam cincin ruang, “Boneka Iblis! Bunuh anak manusia ini!” teriak Dewi Siluman Iblis cepat, ia takut Juli akan melakukan hal buruk lain terhadapnya.
Boneka jiwa berbentuk iblis mencabut pisau yang terselip di pinggang, dan langsung bergerak cepat menusuk jantung Juli yang sudah tidak mampu lagi bergerak.
Ahk!
Juli masih bisa tersenyum, walaupun rasa sakit yang dideritanya sangat mengerikan, darah hitam terus keluar dari mulut, dan tidak peduli dengan Boneka Jiwa milik Dewi Siluman yang terus menikam jantung, tubuh Juli sangat keras, sehingga perlu usaha keras untuk menghancurkan jantungnya.
Dalam keadaan lemas, Juli perlahan meletakkan telapak tangan kiri di dada Dewi siluman Iblis. “Segel Jiwa kutukan, Aku mengutuk tubuh Iblismu! Semua budidaya dari sumber kejahatan akan kuhapuskan! Kembalilah ke bentukmu yang sesungguhnya!”.
Setelah Juli mengatakan demikian tangan kirinya mengeluarkan rantai hitam melilit erat tubuh Dewi Siluman Iblis. Siluman Iblis sangat marah, ia mencoba meronta namun tidak berhasil, kini malah semua hawa pembunuh dan budidaya Dewi Siluman dikuras habis-habisan oleh rantai tersebut.
“Bocah terkutuk!”
Dewi Siluman menjadi murka, begitu melihat Boneka Jiwa mulai berhenti menyerang Juli karena Dewi Siluman Iblis tidak mampu mengendalikannya lagi. Dalam keadaan terdesak Dewi Siluman Iblis menggunakan tenaga dalam Sang Dewi untuk menghancurkan segel.
__ADS_1
“Tenaga Dalam Dewi Iblis!”
Dewi Siluman Iblis mengeluarkan tenaga dalam yang sangat besar guna memecahkan segel kekangan, namun sungguh diluar perkiraan, kekuatan sebesar itu bahkan hanya mampu untuk menggerakkan tangan saja.
“Sial!”
Dengan kekuatan yang dia punya, Dewi Siluman Iblis menggunakan untuk mencengkeram leher Juli dan berniat untuk mematahkannya sekaligus, tapi kekuatan tangan Dewi Siluman Iblis kembali dikuras oleh rantai api hitam.
“Kenapa bisa begini! sialan!”
Dalam keadaan panik, Dewi Siluman mengangkat Juli tinggi-tinggi dan menggunakan tenaga dalam untuk terbang ke langit, Ia berniat untuk membenturkan Juli dengan Segel Aray kutukan Iblis, karena pada umumnya siapapun yang berbenturan langsung dengan aray kutukan, maka tubuhnya akan hancur tak tersisa, Dewi Siluman Iblis tidak mau melewatkan kesempatan ini.
Juli dalam keadaan sekarat di bawa terbang tinggi ke langit, ia langsung bisa menebak niat busuk Dewi Siluman Iblis.
“Berniat menghancurkan ku sendirian? tidak semudah itu, tapi kita akan hancur bersama-sama”.
Dalam keadaan terdesak, Juli kembali mencengkeram pergelangan tangan Dewi Siluman, cengkeraman tangan Juli tidak sekuat seperti saat primanya, akan tetapi Juli bisa membuat tenaga dalam Dewi Siluman Iblis menjadi tidak terkontrol, sehingga laju terbang menjadi tegak lurus seperti peluru menghantam ke arah sisa-sisa kubah pelindung dan Aray kutukan iblis.
“Apa yang kau rencanakan bocah gila!”
“Kita akan menabraknya bersama-sama! Kau akan dihancurkan oleh Kubah Pelindung dan aku akan dihancurkan oleh Aray Kutukan Iblis, kita sama-sama akan binasa di sini.”
Drooom!
“Lepaskan aku bocah!”
“Tidak akan! Kau tidak akan kubiarkan selamat dengan mudah!”
Setelah benturan keras, kondisi tubuh Juli sangat buruk, tapi ia masih bisa senyum melihat kepanikan Dewi Siluman Iblis. Mereka terus diterbangkan cepat ke luar wilayah kubah pelindung tanpa terhentikan.
“Kenapa dengan tubuhku! Kutukan apa ini?”
Tingkat kekuatan Dewi Siluman Iblis terus terkuras, ia mencoba bergerak lagi tapi kekuatannya semakin lama semakin melemah, dan yang paling buruk tingkat budidaya tubuhnya terus menurun drastis.
“Bocah! Apa yang kau lakukan padaku, kenapa kau tidak membunuhku saja”. Dewi Siluman semakin melemah hingga tenaga dalam habis total, dan sekarang mereka mulai jatuh ke bumi.
Juli memejamkan mata menahan rasa sakit, “Dewi Siluman iblis! Sepertinya kita berdua akan jatuh ke dalam kawah gunung, dan itu akan menjadi pemakaman terakhir kita, bersiap lah!”.
Dewi Siluman sangat frustasi saat melihat kenyataan ini, kawah gunung yang sangat luas dan dalam. Ia tentu mengenal kawah ini.
“Kawah Gunung Kematian! Kenapa pula kita bisa terlempar sejauh ini. Ini pasti mimpi, aku pasti bermimpi.” Tenaga dalamnya terkuras habis bersamaan dan Dewi Siluman Iblis jatuh tidak sadarkan diri.
__ADS_1
**
Di Gunung Dawai pertempuran antara sariek Beude dengan siluman terus berlangsung sengit, apalagi saat menyadari Ratu Iblis yang mereka takuti kini telah dihadang oleh Tetua Kecil.
Serang!
Serang! Jangan menyerah!
Semangat juang Sireik Beude yang tersisa kembali bangkit, walaupun tidak sedikit dari Sariek Beude yang telah gugur.
“Sariek Beude! Bangkit lah!” teriak Sariek Din yang telah terluka parah, ia mencoba bangkit untuk melanjutkan perlawanannya.
Drap drup drap drup
Tiba-tiba bumi menjadi gempa, suara derap langkah hewan buas dalam jumlah besar mulai terdengar, teriakan keras kembali mengisi udara.
“Irle!”
“Irle!”
Langit terasa gelap, ratusan ribu Suku Penunggang Malam berdatangan membunuh siapapun siluman yang menghalangi jalannya, tatapan mata mereka berapi-api, kemarahan yang tidak terbendung terpancar dari mata mereka.
“Sur didi uyur ere! (jangan tinggalkan satu siluman pun)”.
Kemunculan bangsa penunggang malam dalam skala besar benar-benar diluar perkiraan bangsa siluman, bahkan dalam mimpipun mereka tidak mengira akhirnya akan berhadapan dengan suku paling merepotkan di bumi ini.
Ute-e menjadi panik dan segera terbang menjauh berencana melarikan diri, “Semuanya! Kita mundur dulu, aku akan mencari Ratu! kesempatan menang sangat tipis jika ratu tidak ada, Para Jendral! Lekaslah pergi” Ute-e tidak menunggu mereka menjawab, ia langsung terbang ke arah Dewi Siluman menghilang.
Seluruh Dewa siluman manjadi panic, mereka sadar jika peperangan dilanjutkan maka jatuh korban di pihak mereka akan tidak terhitung jumlahnya, apalagi melihat Suku Penunggang Malam sedang terbakar api amarah, dan ini tentu saja bukan hal yang baik.
Ku-le menjadi pucat, dia bisa melihat peperangan ini bukan lagi peperangan antara bangsa siluman melawan Sireik Beude, akan tetapi peperangan antara dua bangsa besar, yaitu Bangsa Siluman melawan Bangsa Penunggang malam.
Sekte-sekte Aliran Hitam dan Siluman tingkat emas ke bawah yang terlanjur masuk ke kubah pelindung sebelumnya, kini mereka menjadi sasaran amukan suku Penunggang Malam.
Tidak lama waktu berselang, bangsa Wewe Gamut juga berdatangan untuk membantu Sareik Beude dan membantai Sekte Aliran hitam secara membabi buta.
Para siluman dan sekte Aliran Hitam pertamanya berada di atas angin, sekarang mereka lari kocar-kacir, apalagi para petinggi Siluman juga telah terbang melarikan diri.
“Kurang ajar! Mereka berani mencelakai Buya! Bunuh mereka semua! Jangan sisa seorang pun!”
Teriak perintah sesosok wanita Wewe Gemut bringas, ia tidak akan melepaskan seorang pun musuhnya tanpa memenggal kepala. Seperti di komando ribuan suku Wewe Gemut langsung membantai Pasukan dari Sekte Aliran yang tersisa.
__ADS_1
**