
Syoosshh!!
“Tebasan Pedang Bidadari”
Rooaarr!! Rooaarr!!
Tebasan angin para Pemburu saat menggunakan pedang pusaka menjadikan mereka lebih percaya diri dan bertenaga, sehingga dalam waktu singkat puluhan Siluman Bangkai dapat ditebas dengan mudahnya.
“Ayo… maju!” Teriak Bomo memimpin, ia menerjang maju menebas siluman manapun yang mencoba menghalangi jalannya.
"Tebasan Gunung Hantu!"
Syut.. syut..
Rooaarr!! Rooaarr!!
Raungan putus asa para Siluman Bangkai mulai terdengar diberbagai tempat akibat kematian konyol rekan-rekannya yang maju menyerang secara membabi-buta, karena semakin nekat mereka menyerang semakin banyak siluman yang berjatuhan walaupun para siluman telah berusaha keras untuk melumpuhkan para Pemburu dari semalam.
“Serang!”
Terdengar teriakan para Pemburu mulai menyerang menerobos dalam kawanan Siluman Bangkai dengan semangat juang tinggi
Grooaaarr!
Siluman Bangkai hampir tidak bisa menyentuh para Pemburu, hal itu bukan sepenuhnya karena kehebatan para Pemburu itu sendiri melainkan setiap serangan siluman selalu terhentikan oleh hantaman batu-batu kerikil kecil yang melesat cepat dari atas atap Istana Misterius terhadap titik vital mereka.
"Aku merasa para siluman ini lemas dengan sendirinya ketika hendak menyerang ku, apa ini efek dari pedang pusaka?" Tanya Mija, karena ia selalu memperhatikan setiap Siluman Bangkai yang menyerangnya secara diam-diam selalu mati dengan misterius.
"Iya! Aku pun merasakan hal yang sama, saat cakar Siluman Bangkai hampir mencapai batang leher ku.. tiba-tiba ia mematung sendiri dan aku memiliki kesempatan untuk menebas lehernya dengan mudah" Risa menjelaskan keanehan yang terjadi setiap saat.
"Benar! Aku tidak menyangka efek pusaka tingkat ini mampu memberi kepercayaan diri begitu tinggi, kalian tau tidak?! Aku bahkan telah mengalahkan seekor Siluman Bangkai Pangkat Perak saat dia tiba-tiba mematung di depan ku" jelas Ruyu terlihat antusias dan kini ia telah berani melompat menyerang ke dalam kawanan para siluman sendirian.
Aaaoorr..!!
“Tebasan Pedang Rajawali”
“Serang cepat..! Kalau begitu ini kesempatan kita untuk menang! Mari habisi siluman-siluman ini..” teriak Dolah antusias,
‘Setelah aku memiliki Pedang Pusaka ini aku dapat mengalahkan para siluman dengan mudah, aku sangat beruntung karena dihadapan Pedang Pusaka ini para siluman bahkan bisa mati secara misterius dengan sendirinya” Batin Dolah terlihat bersemangat, ia kembali menerobos dalam kerumunan Siluman Bangkai dengan perasaan senang.
Tarian walet merah!
Syuss! Syuss!
Grrooaarr!
“Ayo Maju! pukul mundur siluman-siluman terkutuk ini!” Teriak Ruyu yang kini ikut menerobos menebas tiga siluman sekaligus yang telah mematung saat menghalangi jalannya.
__ADS_1
Sementara itu Juli berada di atas atap Istana Misterius terus mengawasi para Pemburu agar nyawa mereka tidak terancam oleh Siluman Bangkai, setiap Siluman Bangkai yang mengancam nyawa para Pemburu Juli langsung melumpuhkan siluman itu dengan batu-batu kerikil yang berada di tangannya.
"Hukum Ruang Waktu"
Setiap batu kerikil yang disentil oleh Juli ke dalam ruang waktu akan tetap mengenai sasaran tepat dititik saraf siluman target walaupun sangat jauh keberadaannya.
ROOAAR! ROOAAR!
Juli senyum melihat perkembangan pertempuran, “Hm.. Aku akan membiarkan kalian berjuang kali ini.. dan aku hanya memastikan kalian semua tidak terluka.. Namun satu hal yang aku heran.. Apa yang dipikirkan Hana sampai saat ini ia tidak menyerang juga? Apa mungkin dia takut menyebarkan teror api hitamnya? Kurasa dia telah menguasai pikiran Naganya dengan sempurna sampai-sampai dia penuh perhitungan dalam menyerang, hehe.. pemula..” gumam Juli menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara di Angkasa Hana baru bisa menguasai cara pengendalian Naga sehingga ia terus menyesuaikan pemikirannya dengan makhluk tunggangannya
“Begini kah! Saat aku bisa menguasai semua memori dan perasaan Naga Kegelapan, aku bahkan bisa mengendalikan geraknya dengan kesadaran ku, aku bisa melihat dengan matanya, mencium dengan hidungnya, mendengar dengan telinganya dan dapat merasakan semuanya dengan inderanya seolah Naga Kegelapan ini adalah diriku seutuhnya, namun aku malahan ketakutan menggunakan semburan api hitam ku, jika aku menyemburkannya aku takut api ini tidak akan padam dan memakan apapun yang ada di bawah ku, karena aku belum pandai cara mengendalikan api ini” Gumam Hana terlihat bimbang.
GROOOOAAARR!!
Raungan Naga Kegelapan yang dapat menarik perhatian semua Siluman Bangkai di bawahnya, Hana terlihat larut dalam pikirannya untuk mengambil keputusan.
Groooaarrr!!
Setelah berpikir beberapa waktu Hana kembali bisa tersenyum, “Baiklah! Telah aku putuskan, aku harus mencobanya.. Aku akan menyerang mereka mulai dari barisan paling belakang” Gumam Hana langsung membelokkan Naganya kearah barisan belakang musuh.
wus wus wus
Huuuuu…. Huuuuu….
ROAR!! ROAR!!
Kek! Kek! Kek!!
Huuuuuu Huuuuuu
Api hitam hembusan Naga Kegelapan sangat cepat membesar membumbung tinggi membakar para Siluman berpangkat perak dan perunggu, api jenis ini tidak bisa dipadamkan sampai objek habis terbakar oleh sebab itu sulit bagi siluman yang telah terkena percikan api hitam untuk bisa keluar hidup-hidup.
Kek! Kek! Kek!!
Roaaarr!! Roaaarr!!
Sementara para Siluman Bangkai berpangkat rendah memilih melarikan diri daripada harus berhadapan dengan Makhluk yang bukan lawannya sama sekali.
“Bagus Hana.. Maju terus!”
“Hana Maju!”
Sorak senang Pemburu memberi semangat begitu melihat Siluman Bangkai telah kalang kabut ketakutan karena teror Naga Kegelapan yang terus mengejar membakar kawanan siluman.
Roar! Roar!
__ADS_1
Para siluman mulai memutar haluan mereka untuk melarikan diri kearah hutan guna menghindari semburan api Naga Kegelapan, karena bagaimana pun membakar hutan bukan lah ide yang baik bahkan para siluman pun tidak pernah melakukan hal semacam ini.
Hana senyum, keraguannya terhadap bahaya semburan api hitam kini hilang di benaknya, ia bahkan merasa senang setelah membakar ratusan Siluman Bangkai dalam sekali serang,
“Baik lah! Kali ini siluman-siluman ini tidak akan ku biarkan lolos..”
“Serang! Mari kita bantu Hana!”
“Ayo! Kepung mereka dari arah barat”
“Baik!”
Para Pemburu bekerja sama menyerang dari berbagai sisi agar siluman berlari dalam kelompok besar sehingga Hana dapat menyerang dengan mudah, para siluman yang panik mereka bahkan tidak sadar bahwa sedang digiring ke jurang kematian.
“Sudah! kalian telah menggiringnya dengan baik, sisanya serahkan pada ku”
Hana terlihat mulai bersemangat dalam berburu, ia terus mengejar kawanan Siluman Bangkai yang telah putus asa dalam melarikan diri dari, namun sayang tidak satupun dari mereka bisa lolos dari semburan api Naga Kegelapan yang sangat mematikan.
Roar.. Roar...
Setelah gempuran habis-habisan selama satu jam dibantu oleh Juli tanpa sepengetahuan mereka, akhirnya Siluman Bangkai berhasil dikalahkan.
Kita menang! Kita menang!
Hidup Hana!! Hana keren!!
Semuanya para Hunter bersorak gembira, kini mereka berhasil memenangkan peperangan dan tidak sedikit batu siluman didapatkan walaupun hanya tingkat rendah dan tingkat menengah tapi itu cukup untuk membuat mereka bahagia.
“Semuanya! Ini waktu sudah menjelang sore.. pintu portal telah terbuka! Ayo kita kembali ke pintu portal utama yang berada di Reruntuhan Kuno” ajak Juli pada seluruh Pemburu yang masih sibuk mengumpulkan kristal siluman.
“Eh! Sejak kapan kau berani memerintah kita? Tidak kah kau tahu itu sarang Siluman Kera Bertanduk” protes Ruyu karena ia beserta Pemburu lain sedang sibuk megambil Kristal Siluman pada jasad Siluman Bangkai.
Juli senyum, "Baiklah terserah! berarti kalian tinggal, hehehe" kata Juli segera melangkah pergi meninggalkan mereka.
“Eh! Tunggu sebentar!”
“Iya sebentar lagi”
“Ayo! Senior tunggu aku”
“Saya pun ikut”
“Hey.. Kalian tunggu lah.. tanggung ni..”
Hana dan Bomo segera mengikuti Juli tanpa membantah sedikit pun, Juli hanya senyum ia terus berjalan menuju ke Reruntuhan Kuno dengan santainya,
“Hehehe.. kalian cepatlah jangan membantah! Bukankah mereka hanya menakuti tinju ku?” Suara Juli terdengar untuk kedua kalinya.
__ADS_1
**