Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 69. Menyelamatkan Yona


__ADS_3

DROOMM!


Aaaakkhh! Aaaakkhh!


Ledakan dahsyat akibat jatuhnya meteor es menimbulkan gelombang kejut dahsyat menerbangkan pasukan-pasukan Aliansi Hitam belasan kilometer jauhnya, sementara di lokasi jatuhnya meteor seluas 50 meter mereka hancur tak tersisa.


Sambaran petir yang menghancurkan, serta dingin es yang membekukan membuat Aliansi Singa Hitam mati berdiri dalam radius satu kilometer jauhnya.


Jantung dan darah membeku sekaligus dalam hitungan detik, sebagian yang selamat mereka yang berada di posisi lebih dari satu kilometer dari sumber jatuhnya meteor, itu pun jika mereka sempat menggunakan tenaga dalam untuk bertahan dari gelombang kejut berlapis-lapis yang menghempas mereka ratusan meter jauhnya dan tidak sedikit dari mereka yang mengalami cedera serius dan bahkan ada yang koma setelahnya.


DROOMM DROOMM


Petir terus menyambar-nyambar aura putus asa terlihat di mana-mana, Bordu bersama 4 petinggi lainnya dihempas ke berbagai arah, Bordu memiliki tenaga dalam besar dan dapat bertahan dari beberapa gelombang kejut susulan,


“Teknik Perisai pelindung!”


Teriak Bordu seraya berdiri memasang kuda-kuda dan menggenggam erat kedua tangannya bertahan namun kakinya terus didorong ke belakang oleh gelombang kejut terus-menerus disertai gemuruh kilatan petir yang tak henti-hentinya.


“Aaakkhh… Kenapa bisa jadi begini? Meteor apa ini? Aku benar-benar tidak bisa melihatnya, Aaaakkhh! Sungguh kilauan cahaya yang dapat membutakan mata, Hiak….” Teriak Bordu terus bertahan dalam kilatan petir, sementara pasukan di sampingnya terus di hempas oleh gelombang kejut puluhan kali lebih dahsyat dari topan badai.


Hhuuuuu…. TROOOOMM… BLIZ… BLIZZ… TROOOMM..


Aaakkhh!


Kilatan petir dahsyat terus menerus tidak henti-henti diiringi gelombang kejutan yang dapat menghancurkan apapun, kepanikan pasukan Aliansi Singa Hitam sejauh lima kilometer masih terasa.


"ya ampun! kita harus bergegas meninggalkan tempat terkutuk ini"


"Tidak bisa, kita sedang terluka parah"


Sekarang tidak terlihat lagi suasana garang dan semangat mengebu-gebu pasukan Aliansi Singa Hitam seperti sebelumnya tapi justru aura putus asa dan teriakan kesakitan terdengar di berbagai tempat.


Aaaakkhh! Aaaakkhh!


TROOOOMM… BLIZ… BLIZZ… TROOOMM..

__ADS_1


Duss…. Duss…. Duss….


Dewi Maut bersama Hyenanya melesat cepat dihempas hingga membentur bebatuan besar lalu tertimpa pula dengan Hyenanya yang telah terkulai pingsan,


"Aaaakkhh! Sial Khuk khuk" ia berusaha menyingkirkan Hyena besar itu namun sungguh sulit karena gelombang kejut terus menekan tubuh Hyena ke badannya.


“Aaakkkhh! Sial! Kenapa selalu ada masalah setiap kali harus memerangi manusia rendahan itu… sial! Meteor apalagi ini sampai-sampai menimbulkan petir dan hawa dingin mematikan secara bersamaan” Teriak marah berusaha menolak tubuh Hyena yang menimpanya, sementara mulutnya terus mengeluarkan darah segar karena luka dalam.


Tidak jauh dari meteor seorang bocah laki-laki telah menjadi bongkahan es, tubuhnya kini mengeluarkan api putih yang mampu melelehkan es yang terus-menerus membekukan tubuhnya,


Matanya perlahan melirik ke sekitarnya dalam gemuruh petir dahsyat dan cahaya silau yang membutakan mata.


Tangan kecilnya mencengram es dengan menggunakan tenaga dalam besar sehingga gelombang kejut yang dihasilkan sang meteor tidak mampu menghempasnya, darah segar kehitaman terus mengalis di seluruh tubuhnya setiap kali sambaran petir-petir ringan mengenai tubuhnya,


“Aaakkhh! Gawat, Yona….! Tubuh cahaya abadinya benar-benar terancam, aku tidak mengira dia menghadapi musuh di luar kemampuannya, Aaakkhh… Wadah induk tenaga dalamnya yang benar-benar dahsyat… aku benar-benar tidak mampu mendekatinya, apa yang harus kulakukan… seandainya saja tingkat ku mencapai tingkat besi aku masih mampu mengatasinya, sekarang tingkat tubuhku benar-benar tidak mampu mengatasi hukum dewa petir secara langsung… Aaakkhh…”


Bocah delapan tahun itu berusaha bertahan dengan segala kemampuannya, matanya tidak mampu melihat tubuh peri mungil yang kini telah menjadi bongkahan es yang terus mengeluarkan petir hebat dari dadanya.


DROOMM! WUUIISSS…. BLIZ! BLIZ! KREEKK! DROOOOMMM


“Perisai Surgawi! Khuk! Khuk.. Yona.. Seandainya disaat seperti ini ada pilihan untukku, yang membolehkan kutukar nyawaku dengan keselamatan mu pasti akan ku terima tawaran itu dengan senang hati, karena untuk saat ini biarpun nyawa kukorbankan belum tentu aku bisa menyelamatkan mu”


Juli meneteskan airmata kesedihannya, ia tidak pernah merasakan putus asa seperti ini sebelumnya kekhawatirannya justru bukan pada keselamatan hidupnya namun pada seorang anak peri yang berada di depan matanya.


Penyesalannya muncul di benaknya saat mengenang beberapa bulan lalu, saat ia membiarkan Yona jauh darinya kala itu, “Aakkhh… Aku sungguh menyesal, aku sungguh menyesal... Aku tidak menduga peri kecilku sangat menderita selama ini, dan aku sunggu tidak menduga tubuh abadimu bisa bertahan terhadap hukum dewa petir yang mengamuk diluar Wadah Induk Tenaga Dalam mu sejauh ini, kesakitan yang kau hadapi jauh di atas penderitaan dan kesakitan yang pernah kujalani selama ini”


Juli menyeka air matanya perasaan dan pikiran logikanya berkecamuk, wajah senyum Yona selalu terngiang dalam pikirannya, sehingga saat mengingat ia harus kehilangan Yona membuatnya semakin nekat mengambil keputusan gila.


DROOOM BLIZ! BLIZ! DROOOM


Di antara sambaran petir yang meyambar sampai membuat setiap tubuh kecilnya hancur, Juli terus berusaha bergerak merangkak mendekati tubuh Yona,


“Aaakkhh, Teknik Hukum Ruang, iya... dengan teknik ini aku berpindah padanya, resiko aku akan meledak saat menyentuh tubuhnya, tapi aku tidak memiliki pilihan lain, hanya itulah pilihan bagiku untuk saat ini” semakin mendekati Yona tubuh Juli terus tersambar petir teriakan kesakitan Juli mulai terdengar keras.


“Aaaakkhh... Hukum Ruang!”

__ADS_1


Wuss


Juli langsung menghilang dan muncul dalam bongkahan es bersama Yona, sambaran petir terus memasuki paksa Wadah Induk tenaga dalam Juli hingga retak dan hancur,


BHOM! BROOOMM!


Dua ledakan dahsyat Wadah Induk Tenaga Dalam Juli sungguh membuat gempa hebat di Benua Barat, dalam keadaan kesakitan yang tidak terbayangkan Juli masih bisa melihat wajah peri kecilnya yang selama ini jauh darinya,


Kaki dan tangan kanan Juli yang bersentuhan langsung dengan tubuh Yona perlahan hancur oleh dua hukum yang berlawanan, namun Juli tetap meraihnya walaupun harus berhadapan langsung dengan hukum dewa petir dan hukum dewa es secara bersamaan.


“Peri kecilku… mungkin saja tubuhku akan menghilang, namun ku harap jiwaku bisa bertahan untuk melihat senyum mu untuk terakhir kalinya” gumam Juli pelan hingga menyadarkan Yona dalam komanya.


Dalam kilatan petir dahsyat Yona perlahan membuka matanya, tanpa bicara apapun antara sadar dan tidaknya Yona bergerak cepat memeluknya erat sosok yang dirindukannya selama ini, hantaman petir dari dada Yona kini langsung berhadapan dengan Dada Juli hingga menembus punggungnya, satu paru-paru Juli hancur lebur menyisakan dada kiri yang tersisa.


BROOMMM!


“Aaakkh…” di antara kesakitan dahsyat Juli merenggangkan pelukan dan menggoreskan pola segel kuno pada dada Yona yang telah rusak sampai lima persen dari sebelumnya, Juli dapat menggoreskan dengan baik, ia tidak tahu dari mana kekuatan tangannya muncul,


Kekuatan Juli muncul tidak terlepas dari menghilangnya Hukum Dewa Petir secara misterius dalam tubuh Yona dan dirinya,


"Sepertinya ada yang menyerap kekuatan petir ini dari dalam tubuh Yona dan tubuhku, kekuatan misterius ini bahkan dapat menyerap hampir 80 persen petir tersisa ke dalam wadah induk tenaga dalam ku yang telah hancur, berarti itu berasal dari tubuhku dan tubuh Yona"


Setelah Juli berhasil menyegel kembali tubuh Yona kaki, tangan serta tubuh bagian kanannya hancur lebur, tagan kirinya masih merangkul tubuh Yona dengan erat, Yona perlahan beransur-ansur membaik, petir dan es tadinya keluar dari wadah induk tenaga dalam Yona kini telah teratasi kembali, namun tubuhnya masih terkulai lemas tidak sadarkan diri dalam rangkulan tangan kiri masternya.


Malam mulai remang-remang kembali, lapangan luas kini menjadi hamparan es sejauh mata memandang, tidak ada manusia tersisa sejauh dua kilometer jauhnya.


Juli terlihat hangus total, di sela-sela kehancuran tubuhnya ia menggunakan jiwa untuk menjelajahi Wadah Induk Tenaga Dalamnya yang telah membentuk pulau dan kini telah hancur,


Juli penasaran dengan sang penolongnya yang berasal dari dalam Wadah Induk Tenaga Dalamnya dan menjadi misteri di saat kehancuran tubuhnya.


Di dalam wadah induk tenaga dalam Juli masih terlihat secercah cahaya, tumbuh tumbuhan dan air laut terlihat menjadi gelombang raksasa, sejenak pandangannya teralihkan pada seorang bayi peri kecil mungil yang terbentuk dari empat hukum dewa yang berbeda, bayi ini sudah terbentuk pada saat ia pertama kali memasukinya beberapa bulan lalu.


Juli senyum senang melihat bayi peri mungil, “Ah! Rupanya kau yang membantu ku menyerap dua hukum dewa? Sebenarnya siapa kau ini? Di mana letak tubuh aslimu? Aku tahu kau hanya ilusi dalam Wadah Induk Tenaga Dalam ku, tapi aku sangat berterimakasih pada mu telah membantuku menyelamatkan Yona, tapi sepertinya kau sudah tidak bisa lagi berkunjung kemari karena tubuh ini akan hancur dan aku juga akan mati seperti yang lainnya” Juli senyum bahagia tatapan matanya tidak lekang dari bayi mungil yang terus bergerak dalam tidurnya.


Wussss…

__ADS_1


**


__ADS_2