Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 47. Aira Si Peramal Tua dari Gunung Bulan


__ADS_3

Di luar Gua Iblis.


Tidak jauh dari depan gua Boris berdiri pucat menyaksikan pertempuran besar-besaran yang sangat mengerikan antara petingginya melawan ribuan manusia-manusia tidak berkepala sungguh kejadian itu diluar dugaannya.


Beberapa saat yang lalu Boris sempat berpikir bahwa dirinya telah berhasil kabur dari bocah monster serta telah terbebas dari segala ancaman mautnya, namun nyatanya tidak, hal ini semakin membuatnya kacau.


Boris sejenak terpaku keheranan saat melihat ribuan manusia tanpa kepala dibawah penerangan cahaya rembulan membantai pasukannya,


‘Dari mana datangnya monster-monster itu? Tunggu dulu! Bukankan itu semua seragam anak buah ku! Apa yang terjadi pada mereka semua? Kenapa mereka menjadi mayat-mayat hidup tanpa kepala? Ah! Celaka, aku mengerti sekarang, ini semua pasti ulah anak monster kecil tadi' batinnya mencoba mencari celah untuk melarikan diri.


Tapi rencananya menjadi sia-sia saat melihat ratusan pasukan tanpa kepala dari berbagai sisi secara bersamaan terus menyerang Boris secara membabi buta, Boris dengan terpaksa harus bertempur berbaur bersama para petinggi lain untuk menyelamatkan nyawanya.


Pertempuran kali ini sangat sulit bagi Boris dan petingginya untuk dapat meloloskan meloloskan diri dengan selamat, karena selain mayat-mayat ini berjumlah ribuan juga para mayat-mayat hidup ini terus memulihkan diri walaupun mayat-mayat itu telah dipotong menjadi bagian-bagian kecil,selain itu kemampuan mayat-mayat ini juga jauh diatas kemampuan mereka semasa hidupnya.


“Grok.. Grook..”


Suara-suara tenggorokan menyeramkan terus terdengar dalam pertempuran itu hingga membuat beban mental tersendiri bagi Boris dan petingginya.


“Si.. Sialan! Mereka benar-benar iblis” terdengar suara keluhan Boris saat ia menjadi semakin putus asa karena kekalahan petinggi petingginya.


**


Dalam Gua Iblis.


Juli menutup hidung dengan kain bajunya, ‘Sial, bau tempat ini sungguh mengganggu ku’ batin Juli seraya menyeka keringat yang terus membasahi keningnya, bau busuk yang menyengat sangat mengganggu kosentarasi dalam mengobati beberapa gadis yang terluka parah di tepi sumur iblis.


Seorang gadis cantik berwajah penuh memar akibat pukulan yang terlihat berbeda dengan gadis-gadis kurus lainnya perlahan ia menghampiri Juli dengan wajah sembab,


“Tuan kecil! Adikku sedang terluka parah dalam penjara, mau kah tuan menolong ku, hik! Hik!” pintanya dengan tangis tersendu-sendu sesekali ia menyeka air matanya.


“Hm…” Juli menganguk pelan, sebenarnya ia sadar sangat banyak orang yang sekarat disana dan itu hampir di seluruh penjara, tapi Juli tetap tidak ingin mengecewakan siapapun yang datang meminta bantuan padanya maka Juli tanpa berpikir panjang menyetujuinya.


Juli senyum hangat menatap wajah gadis itu dengan lembut, “Kakak yang baik! Katakan dimana tempatnya? Tenang saja aku pasti membantu kalian semua” Juli bertanya dengan nada lembut.


“Adik ku ada di…” belum sempat gadis itu menunjuk ke arah penjara tempat tujuannya, tiba-tiba seorang remaka laki-laki berusia 13 tahun berlumuran darah membawa sebatang ranting kecil dengan terburu-buru ia menghampirinya sambil menangis terisak-isak.


“Kak Helga! Kak Helga! Adik telah meninggal!” remaja itu terus berlari menubruk memeluk Helga yang kini berdiri dengan mata terbuka lebar karena syok berat.


“Huh…” Perlahan Helga merenggangkan pelukan remaja laki-laki itu dengan tatapan tak percaya dengan pendengarannya, namun air matanya terus berlinang,

__ADS_1


“Yori! Apa yang kau katakan tadi? Aku tidak men.. mendengar.. dengan baik! Hik.. hik..” Helga mulai terisak tangis, ia sangat berharap pendengarannya salah.


Yori terus menangis sambil menyeka air matanya, “Kak Helga, Adik telah meninggal dunia!” Yori berkata pelan namun itu bagai sebuah petir di telinga Helga sampai ia terjatuh tersungkur berlutut di tanah dan menangis sejadi-jadinya.


Juli hanya berdiri terpaku sejenak menundukkan wajahnya ia sadari di tempat ini banyak sekali anak-anak yang bernasib sama seperti yang dialami oleh Helga dan Yori.


Juli kembali memerintah Mado, Hantu Muka Putih dan Toru untuk segera membawa semua orang terluka untuk diobati olehnya.


Pada saat itu, dalam keadaan berduka Yori berjalan menghampiri Juli dengan tubuh lemas sambil menangis, “Tuan!” panggilnya pelan di sela-sela isak tangisnya.


“Hm…?” Juli heran melihat anak suku Padri dalam keadaan berduka menghampirinya, Juli pun memberi hormatnya,


“Eh! Senior apa yang..” belum habis kalimat Juli ingin ucapkan, anak itu telah berlutut di depannya, hingga membuat Juli semakin kaget,


“Sudahlah senior, bagunlah tidak perlu berlutut begitu” Juli segera memegang bahunya untuk membangunkan Yori dari sikap berlututnya.


Yori bersikeras tidak ingin bangkit, “Nama ku Yori! Aku ingin menjadi muridmu!” pintanya dengan suara pelan dan menahan air mata, wajahnya ditunduk menatap sebuah ranting kering yang telah berlumuran darah yang kini diletakkan di depannya.


Juli semakin kaget “Eh! Senior Yori, saya minta maaf, apa yang bisa dipelajari oleh suku Padri pada ku, sungguh kalian suku yang sangat jenius dibidang alat dan mesin”


Juli menolaknya dengan nada lembut, karena selain waktu yang tidak tepat mengangkat seorang murid disituasi begini, Juli juga sadar teknik suku Padri menggunakan palu dan kapak besar bahkan suku ini termasuk salah satu suku terkuat di bumi.


Yori perlahan menyodorkan sebuah ranting kering berlumuran darah itu pada Juli dengan kedua tangan dan menundukkan kepalanya, hal itu semakin membuat Juli tercengang,


‘Budaya ini…? Tidak… Seharusnya budaya memohon dengan kebaikan orang yang telah meninggal itu hanya terjadi di dua ratus tahun kemudian, kejadian ini pernah terjadi padaku di kehidupan sebelumnya’ batin Juli menahan napas dan tidak memberi komentar apapun terhadap sikap Yori.


“Tuan! Adik kecilku berpesan sebelum ia meninggal kepadaku, jika tuan menolak mengangkat ku sebangai murid mu, maka adikku menyuruhku menyerahkan tongkat kecilnya untuk mu sebagai pertimbangan, tuan akan mengerti setelah melihatnya” ucapan Yori itu membuat Juli bangai disambar petir.


Mata Juli terbuka lebar, perlahan Juli mengambil ranting kering yang diserahkan padanya, ia mengerti dengan sekilas lihat, “Jiwa murni dalam tongkat?! A.. apa adik mu telah menguasai Teknik Suara Takdir?” tanya Juli dengan jantung berdetak kencang mata Juli mulai berair ia perlahan memegang kepalanya.


Yori heran dengan pengetahuan calon guru di depannya, ia hanya mengaguk pelan tanpa menjelaskan lebih lanjut biarlah ranting itu yang menjelaskan secara langsung pada calon gurunya pikir Yori.


Juli terlihat tak menentu, ia cepat bertanya kembali, “A.. Apa adikmu itu bernama Aira?” tanya Juli dengan jantung seakan berhenti matanya terbuka lebar.


Yori semakin kaget, ia bertanya pelan pada Juli, “Bagaimana tuan bisa tahu nama adikku?” Yori menjawab pertanyaan Juli dengan pertanyaan baru.


Juli menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap ranting di tangannya, air mata tak terasa membasahi pipinya mengenang kehidupan sebelumnya,


“Ah, Aira Si Peramal Tua dari Gunung Bulan, kenapa aku menemukan sesosok berwatak guruku ditempat seperti ini” Guman Juli berlinang air mata mengenang kehidupan sebelumnya.

__ADS_1


Enam ratus tahun mendatang di Dataran Nasib Bumi Tengah.


Seorang wanita tua buta memimpin perang tiada akhir, ia melaju dengan cepat dalam lautan siluman seorang diri, tangannya terus bergerak cepat diantara kerikil tajam menyayat daging namun itu semua tidak membuatnya patah semangat walaupun ribuan tebasan pedang dan golok menghujam tubuh tuanya.


Wanita tua itu tetap menerjang maju menghancurkan siluman-siluman dengan tongkatnya tanpa pandang bulu, ia seorang peramal terhebat pembela umat manusia kala itu Aira Si Peramal Tua dari Gunung Bulan.


Kedatangan wanita tua buta terkuat itu terjun langsung ke medan perang bukan tanpa alasan, tapi bantuan itu sangat menentukan punah tidaknya umat manusia, misi besar yang diembannya tidak dapat dilaksanakan oleh sembarang orang, misi besar itu ialah membebaskan seorang pendekar besar yang menjadi panutan umat manusia kala itu.


Perempuan buta itu terus menggila mengejar sebuah kereta kuda dalam barisan ribuan siluman tingkat Keajaiban dibarisan depan bersama beberapa manusia lain dari Bumi Tengah


“Maju! Jangan biarkan Guru Besar dibawa oleh para siluman!” Teriak wanita buta itu terus menerjang menyerang tanpa rasa takut sedikit pun.


“Serang”


“Nyonya Aira! Mundurlah kita tidak mungkin bisa melepaskan guru..” Teriak seorang bangsa peri lagit yang telah tidak sanggup lagi bertempur.


“Ingat lah.. sebelum raga dan nyawaku terpisah aku akan terus menyelamatkan beliau walaupun ribuan nyawa harus kukorbankan..” Teriak Aira Si Peramal Tua dari Gunung Bulan terus memimpin perang dibarisan paling depan.


“Serang! Selamatkan guru besar”  


Terdengar suara teriakan bantuan suku padri yang muncul secara tiba-tiba dari balik bayangan, ribuan Suku Padri menyerang mengamuk dengan palu-palu besarnya hingga pertempuran besar-besaran terjadi selama seminggu tidak henti-hentinya,


Seorang wanita tua buta berhasil membebaskan gurunya pada hari kedelapan pertempuran dengan harga yang tidak murah, lebih lima ribu pendekar tingkat kaisar dan ribuan suku Padri termasuk nyawa peramal tua itu sendiri melayang.


Pesan terakhir yang selalu diingat oleh gurunya, “Guru! Pimpin lah umat manusia, jangan lengah, umat manusia bergantung padamu sekali kau lengah ribuah nyawa akan melayang! Guru maafkan aku perjuangan ku hanya sampai disini” Juli dapat mendengar kata-kata itu dengan Jelas ditelinganya.


Juli sang Dewa Tiada Tanding berhasil diselamatkan, tapi lautan jasad manusia setia padanya telah terbujur kaku menjadi lautan yang tidak bertepi di depan matanya,


“Aira! Kau memang si tua bangka yang sangat bodoh yang pernah menjadi muridku! Kenapa kau mengorbankan begitu banyak nyawa untuk keselamatan ku” ucap orang tua paruh baya itu menyeka air matanya.


Setelah itu kemurkaan Dewa Tiada Tanding menumpas habis seluruh siluman dalam penyerangan itu selama tujuh hari tujuh malam hingga tidak seorang siluman pun tersisa, air matanya terus berlinang,


“Apapun yang ku lakukan saat ini tidak pernah membuat orang-orang yang kucintai kembali” gumamnya setelah melihat Jutaan siluman tingkat kaisar dan keajaiban dan bahkan tingkat Dewa dibantainya seorang diri.


Juli menyeka Air matanya mengenang kehidupan sebelumnya, “Senior Yori! Bawakan aku pada adik mu!” ajak Juli dengan nada serius,


Yori bangkit menundukkan kepalanya memberi hormat, “Baiklah Guru!” ucapnya menunjuk jalan, sementara Helga sedang larut dalam tangisannya.


**

__ADS_1


__ADS_2