
Putri Yara memesan beberapa makanan ringan untuk Kakek Boman dan Amran sementara dirinya dan Juli hanya memesan teh saja. Dalam ruangan itu, semua orang heboh atas kejadian barusan, sebagian orang bahkan membesar-besarkan kejadian tadi.
“Adakah kalian lihat! Tetua Marus sampai terkencing-kencing di celana! Apa pula mereka mengatakan bahwa Sekte Singa Hitam merupakan sekte paling ditakuti, tapi hari ini mereka bahkan lari terbirit-birit karena takut dengan seorang anak ingusan, hahaha.”
“Iya! Mereka cuma gertak sambal! Dengan anak kecil saja keok!”
Berbagai macam senda gurau terdengar di ruangan itu, Juli dapat menduga bahwa kejadian ini akan berbuntut panjang, dan dia telah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.
Benar saja, tidak sampai setengah jam, ratusan orang berlambang singa hitam memasuki restoran Angsa Langit, bahkan sebagian besar menunggu di luar restoran. mereka umumnya berpangkat kuning dan perunggu, hanya beberapa orang yang berpangkat di atasnya.
Marus berjalan paling depan, kali ini dia didampingi oleh dua orang berpangkat emas, tubuh mereka tinggi besar serta brewokan.
“Tetua Marus! Katakan siapa yang telah berani mengganggu kita! Biar aku yang mengurusnya!” salah seorang yang berbadan tinggi besar bertanya pada Marus, semua orang di dalam ruangan itu menjadi hening dan ketakutan, tidak ada lagi gurauan dan sendawa seperti beberapa saat sebelumnya. Mereka menyadari ini kawanan tawon yang siap menyerang kapan saja.
Marus membusungkan dada, keangkuhan kembali terlihat, ia menunjuk ke arah meja yang ditempati Juli, “Kajo! Habisi anak kecil itu! Sepertinya dia menguasai sihir, selebihnya, Aku ingin wanita cantik itu hidup-hidup, dan jangan sampai membuatnya terluka.” Kata Marus dengan senyum riang.
Menatap bocah kecil itu, orang yang berbadan besar yang di panggil Kajo menjadi heran dan seakan tidak percaya dengan misi yang diberikan.
“Tetua! Apa kau serius? Dia itu hanya anak kecil yang Bahkan tidak terlihat memiliki kekuatan sedikit pun, bagaimana aku bisa melawannya, reputasi ku akan hancur jika begini!” Kajo enggan untuk melaksanakan tugas yang diberikan.
Ruangan sejenak menjadi hening, Kajo terlihat berpikir-pikir sembari menggaruk dagunya. “Bocah kemarilah! Minta maaf pada Tetua Sekte Singa Hitam, dengan begitu aku akan mengampuni nyawamu, dan urusan ini selesai,” Tawar Kajo dengan nada lantang.
Juli menatap Kajo dengan tatapan bodoh, “Kenapa badut-badut ini banyak sekali? Kenapa mereka tidak mencari nafkah ke tempat lain saja! Pergilah kalian, Tidakkah kalian tahu bahwa tempat ini sudah dilarang untuk bertarung antar sekte!” selesai berkata demikian, Juli kembali minum teh dengan santai.
Untuk persiapan pertempuran yang mungkin terjadi, Juli perlahan mengeluarkan beberapa pisau dari balik baju. Pisau itu kecil, sangat sesuai dengan ukuran tangannya.
Melihat tindakan Juli yang santai dan bahkan berani mengolok-olok mereka, membuat semua orang jadi takjub. Mereka tidak menduga bahwa Juli memang memiliki nyali besar. Tapi mereka tidak tahu pasti, apakah anak ini benar-benar bernyali, ataukah anak gila yang tidak tahu cara memilih lawan.
Melihat tingkah Juli yang menjadi-jadi, Boman semakin panik, ia segera menghampiri Marus dan memberi hormatnya, “Ketua Sekte Singa Hitam, anak ini masih sangat muda dan egois, tolong jangan diperpanjang masalah ini, Aku hanya takut kekacauan besar akan segera terjadi, jika tetua sekte terus memperpanjang masalah ini”. Kakek Boman mencoba melerai pertikaian sebisanya.
Akan tetapi kemarahan Marus semakin menjadi-jadi, dia dapat menduga bahwa rombongan Putri Yara telah kena mental, sehingga takut berhadapan dengan pasukan yang berjumlah ratusan.
“Minggir kau tua bangka!”
Marus bergerak cepat, menendang Kakek Boman hingga terlempar beberapa meter jauhnya sebelum menghantam meja tamu yang lain.
“Wah! Akhirnya Marus menunjukkan jatidirinya, dia sungguh kuat.”
“Benar! Pantas saja, dia kan Tetua sekte!”
Semua orang mulai mengemukakan pendapat mereka setelah melihat Kakek Boman diterbangkan oleh tendangannya.
“Tidak! Guru!”
Amran menjadi marah, ia segera mencabut pedang dan menghunus ke arah Marus, “kurang ajar! Berani beraninya kau menyerang guruku, majulah!” setelah berteriak demikian, Amran langsung menyerang Marus dengan teknik Bangau Putih.
“Bangau putih menebas awan!”
Ciat!
__ADS_1
Belum sempat ujung pedang menuju sasaran, tiba-tiba dengan cepat sebuah tendangan dari Bajo langsung mengenai perut Amran, hingga ia terpental beberapa meter menubruk meja tamu.
“Uwah! Bajo hebat!”
“Benar! Itu tendangan tanpa suara! Itu sangat kuat dan cepat!”
Seluruh ruangan jadi heboh, sebagian mendukung tindakan Bajo sebagian bahkan mengatakan bahwa Bajo adalah seorang pengecut yang hanya berani menyerang secara diam-diam , namun apa pun itu pertarungan tidak bisa dihindarkan lagi.
Melihat Boman dan Amran telah dikalahkan dengan mudah, Juli bangkit berdiri, “Biarkan aku sedikit berolahraga dengan mereka! Tenagamu belum dibutuhkan untuk saat ini Putri Yara.” Juli menoleh ke arah Yara, guna mencegahnya ikut campur.
“Berhenti!”
Tiba-tiba seorang anak berumur delapan tahun, masuk dengan dada dibusungkan, seolah dialah yang terkuat dalam ruangan itu. Anak ini tidak tahu apa yang terjadi dalam ruangan, ia hanya bertindak sombong saja seperti biasanya dilakukan di berbagai tempat.
‘Apa ini? Apa ini ramai-ramai, apa ada lomba tidur-tidur? Apa yang dilakukan Kakek Boman? Kenapa pula dia tidur di lantai, eh! Amran juga tidur tiduran, sungguh pemalas, atau mungkinkah ini sebuah pertunjukan? Ah aku tidak peduli yang penting aku bisa makan enak! Mumpung ada yang traktir’, Batin anak itu penuh semangat mencoba masuk diantara kerumunan pasukan Sekte Singa Hitam.
Begitu Kakek Boman melihat anak kecil ini memasuki ruangan, semangat kembali pulih, ia bangkit berlutut dari tempatnya jatuh, dan memberi hormat seraya berteriak lantang, “Tetua Agung telah datang! Tetua Agung! Marus mencoba menyerang kami, agar tidak mengalami kerugian besar, tolong Tetua Agung melerai pertikaian ini.” Teriakan itu membuat kaget seluruh ruangan.
“Apa! Tetua Juli Yang Agung!”
“Bocah Dewa turun tangan sendiri! Gawat!”
“Pantas saja anak tadi sangat berani, rupanya dia didukung langsung oleh Tetua Agung dari Lembah Teratai Langit!”
“Benar! Ini bukan sesuatu yang bisa di singgung oleh Sekte Singa Hitam saat ini! Jika Marus nekat maka bisa dipastikan Sekte Singa Hitam akan tamat hari ini.”
Semua mata tertuju pada anak berusia delapan tahun yang baru muncul di pintu restoran Angsa Langit, tatapan mata anak itu menyapu seluruh ruangan. Dia tidak lain adalah Lie.
‘Dunia yang aneh! Asal ada sedikit makanan gratis untuk mengenyangkan purut ku, aku hanya perlu sedikit adegan seperti Kakek Boman,' lie mencoba berperan sebaik mungkin, tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Siapa yang berani berbuat masalah di tempatku! Adakah mereka ingin hidup!” suaranya kecil hampir tidak terdengar, namun sebagai seorang ahli seperti Marus dan ahli lainnya dapat mendengar dengan jelas.
“Apa! Dia benar-benar tetua kecil agung! Bahaya!”
“Kita tidak boleh di sini, atau kita semua akan di habisi olehnya”.
Mendengar semua orang berkata dengan nada serius, lie kembali berkeringat dingin, lututnya bergetar hebat, tadinya dia berpikir ini hanya main peran-peran untuk mendapatkan jatah makanan.
‘Ja.. jadi ini benar! Celaka ada ratusan pasukan Sekte Singa Hitam, aku bukannya dapat jatah makanan, sepertinya aku akan mati konyol hari ini.’ Batin Lie mulai kena serangan mental dahsyat.
Begitu juga sebaliknya, tubuh semua orang dalam ruangan itu bergetar hebat, Marus yang telah berkeringat dingin segera membungkuk memberi hormat, “Oh! Tetua Agung! Ini hanya sedikit kesalahpahaman di sini, kuharap Tetua Agung tidak mengambil hati. Maklumlah,ini cuma pertikaian biasa.” Tubuh Marus menjadi lemas, hingga kakinya bergoyang hebat.
Begitu juga dengan Lie, ia tidak menduga rupanya ini cikal bakal pertempuran serius, di luar telah dikepung oleh ratusan pasukan Sekte Singa Hitam, Lie mencoba menggerakkan kaki tapi lututnya menjadi lemas dan mati rasa.
Lie ingin mengatakan sesuatu namun mulutnya berat, hingga mata Lie ikut terpelotot karena frustasi yang mendalam, leher tidak bisa digerakkan lagi, hingga tatapannya lurus ke depan berpapasan dengan kepala Marus yang membungkuk di hadapannya.
“Te.. te.. tetua Agung! Kumohon jangan memelototi seperti ini!”
Marus melihat Lie memelototinya dengan mata merah, sontak ia terkejut, rasa frustasi mendalam kembali naik ke ubun-ubun, tanpa terasa ia terkencing-kencing di celana karena hormon tubuh sudah tidak bisa mengendalikan sarafnya.
__ADS_1
‘Celaka! Inikah mata mengerikan itu yang kudengar! Setelah mengeluarkan kekuatan mata, ia akan membantai semua orang, ce.. celaka, aku sudah salah menyinggung orang,' batin Marus yang hampir kehilangan kesadarannya.
Menurut rumor yang beredar, Tetua Juli memiliki tatapan mata yang menakutkan, dan hal itu tepat di wajah Marus, Marus jelas tidak mau kehilangan nyawa karena kekonyolannya. Dia langsung menjatuhkan diri dan berlutut minta ampun.
“Tetua Agung! Ampuni kami! Ampuni kami!” Marus membenturkan kepalanya beberapa kali ke lantai tanda penyesalan.
Lie telah tegang berdiri, mulutnya senyum ketakutan, sehingga menimbulkan kengerian tersendiri bagi siapapun yang melihatnya.
“Lihatlah! Senyum itu! Sangat mengerikan!”
“Benar! Aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri, sekarang, rumor yang beredar tidak se-mengerikan dari yang sesungguhnya! Aku bahkan terkencing-kencing hanya melihat senyumannya saja!” beberapa orang mulai berbisik-bisik sesama dengan perasaan mulai putus asa.
Sementara Lie karena ketakutan yang mendalam, kakinya sudah tidak mampu menopang lagi tubuh, ia mencoba meraba-raba untuk mencari kursi yang kebetulan dekat dengan pintu keluar.
“Tetua agung memberikan isyarat agar kita keluar!”
“Cepat! Pergi dari sini! Ini kesempatan sekali seumur hidupmu!”
Semua orang berpikir, bahwa ketua Agung mengampuni nyawa mereka untuk kali ini dan menyuruh mereka keluar.
“To.. tolong!”
Suara Lie tergagap dan serak hingga terdengar mengerikan, sontak semua orang dengan wajah pucat lari tunggang langgang keluar dari restoran Angsa Langit, sambil berteriak minta ampun, seolah itulah jalan kehidupan satu-satunya.
“Terima kasih Tetua Agung! Terima kasih!”
Semua berlari tunggang langgang hingga hanya tersisa rombongan Juli dan para pelayan restoran. Pelayan tua langsung menyambut Lie dengan senyum hangat.
“Silakan! Silakan!” kepala pelayan tua membungkuk-bungkuk mempersilahkan Lie duduk.
Karena kaki Lie telah kaku sebab ketakutan, Lie hanya bisa meminta tolong pelayan tua untuk menolongnya mengambil kursi.
“To… Tolong ambilkan Kursi! Kursi!” pinta Lie dengan terbata-bata, Pelayan tua langsung mengambil kursi dan meletakkan di belakang punggungnya.
Lie pun langsung jatuh terduduk di atas kursi, jantungnya seakan berhenti berdetak karena ketakutan yang mendalam.
Melihat kehebatan Tetua Agung, Kakek Boman langsung berlutut memberi hormat, “Tetua Agung terima kasih telah menyelamatkan kami”. Amran juga mendekati dan berlutut mengikuti gurunya.
Hahaha,
Juli memegang perut menahan tawa sebelumnya, kini setelah semua pergi ia bisa tertawa terpingkal-pingkal, sementara Putri Yara terbelalak melihatnya seakan tak percaya dengan adegan ini.
“Apa mereka semuanya bodoh ya! Padahal jelas mereka sama-sama takut! Sama-sama terkencing-kencing,” Putri Yara senyum kikikan dan kembali minum teh dengan santai.
“Badut-badut itu memang lucu! Hahaha!” Juli tertawa terpingkal-pingkal, hingga stres sebelumnya langsung hilang seketika.
Kakek Boman melirik kearah Juli yang masih tertawa terpingkal-pingkal, “Apa-apaan dia, tidakkah dia takut terhadap tetua Agung”. Katanya yang bisa didengar oleh Amran muridnya.
“Benar guru!” Jawab Amran terus menundukkan kepalanya.
__ADS_1
**