Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 95. Desa Rangkong


__ADS_3

Di sebuah desa kumuh di wilayah Kota Rubi bagian selatan Kerajaan Embun yang dikenal dengan Desa Rangkong. Wilayah ini pada umumnya memiliki tradisi leluhur yang kental, salah satunya menikahkan bayi saat mereka masih kecil untuk menjaga martabat keluarga.


Di wilayah ini tidak heran kalau anak-anak saja sudah ada pasangan hidup layaknya orang dewasa, dan umumnya mereka pun akan bertahan sampai tua tanpa memilih pasangan lainnya, kesetiaan pada pasangan dan komitmen hidup di daerah ini sudah menjadi suatu budaya yang mengakar.


Sepuluh tahun terakhir semenjak Walikota baru bernama Rulang memerintah ia memanfaatkan tradisi ini untuk merampas anak-anak perempuan dari orang tua mereka dengan alasan menikahinya, walaupun jumlah anak-anak yang menjadi istrinya sudah ribuan orang. Kedok pernikahan paksa ini terus dilakukan pada anak-anak perempuan yang belum memiliki pasangan hidup.


Para orang tua sadar anaknya di manfaatkan untuk hal misterius lain, namun tidak satupun para warga bisa selamat setelah mengunjungi anaknya di istana Walikota Rulang.


Untuk mengakali hal itu setiap anak yang baru lahir pun akan terus dinikahkan, cara ini digunakan untuk menghindari watak jahat Walikota Rulang.


Hana sebelumnya pernah melewati tempat ini dan dia pun sempat menjadi buronan walikota Rulang karena kecantikannya yang luar biasa.


Pemburuan terhadap Hana saat itu tidak tanggung-tanggung, walikota Rulang mengerahkan 1000 pasukan berpangkat kuning untuk menggeledah seluruh rumah warga sampai ratusan orang menjadi korbannya.


Hana tidak bisa meloloskan diri saat itu, oleh karena pengorbanan anak-anak miskin yang melindunginya sampai mengorbankan nyawa dalam menuntunnya untuk bisa kabur dari wilayah ini. Sebab itu lah dalam hatinya sangat dendam terhadap Walikota Rulang apa lagi mengingat banyak kejahatan yang dilakukannya.


Kini Hana kembali dengan orang paling dipercayainya, saat inilah ia bertekad untuk membalaskan dendamnya.


**


Puluhan orang tua dan anak-anak berkumpul di depan sebuah pintu Portal Putih yang muncul beberapa sehari lalu pada sebuah lapangan Desa Rangkong.


Wajah warga terlihat khawatir dan penuh harap. Pada kalung leher penempatan Nyawa, hampir semua warga sudah tidak terlihat lagi batu Kristal Siluman.


Seorang ibu tua berdiri paling dekat degan pintu portal wajahnya terlihat sedih tatapan matanya hampa.


“Kenapa mereka lama kali, apa mereka telah gagal? Kita sudah tidak memiliki orang yang mampu bertahan di dalam sana semenjak para pemburu desa kita di tangkap dan di bawa ke kerajaan, ini benar-benar sebuah petaka yang menimpa kita” Ucapnya sedih saat melihat puluhan anak-anak dan orang tua renta tidak berdaya membawa harapan.


“Nenek Wani, jangan merasa bersalah, kalau mereka tidak berhasil setidaknya kau sudah berusaha memberikan ide dengan segenap pengetahuan mu”


Suasana hening aura putus asa menyelimuti, semua orang hanya bisa berdiam tidak ada yang bicara, puluhan orang tua hanya bisa bersedih hati dan itu bukan untuk mereka, namun untuk anak-anak yang telah duduk berpasang-pasang menunggu kepulangan Pahlawan yang telah mereka kirim ke dalam portal putih ini.


“Istriku, aku masih kecil jadi tidak mungkin bagiku untuk melindungi mu”

__ADS_1


“Hm.. tidak masalah lagi pula hari ini atau besok kita akan tetap mati, alangkah lebih baik jika kita mati bersama sekarang, suamiku aku menyayangimu”


Terdengar suara putus asa sepasang kekasih anak-anak duduk mesra menunggu keajaiban terjadi dari pintu portal.


Wham! Wham! Wham!


Tiba-tiba dalam Portal Putih keluar belasan orang, kejadian itu membuat semua orang tercengang. Mereka bisa melihat orang yang keluar bukan saja sosok yang mereka tunggu tapi juga dua orang pria ber-zirah perang serta dua orang anak kecil yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. seorang anak laki-laki yang terlihat seperti gembel, dan seorang lagi anak cantik jelita yang tidak bisa dibandingkan dengan wanita manapun yang mereka kenal selama ini.


Hana beberapa saat lalu menggantikan pakaiannya yang kotor dengan pakaian sutra kekaisaran, sehingga para Dewi pun akan iri pada kecantikannya. Oleh karenanya tidak salah kalau semua mata tertuju padanya.


Mereka terkagum-kagum dengan kecantikan seorang dewi yang tidak terbayangkan oleh mereka, terutama laki-laki remaja, pandangan mata mereka tidak lepas darinya.


“Wuah… Cantik sekali…”


“Dia seorang Dewi!”


“Aku bersumpah akan melakukan apapun asal bisa mendapatkannya”


“Bidadari pun dia, aku akan tetap melamarnya”


“Tidak! Kalian berdua ngaur, tidak kah kalian lihat anak laki-laki di sampingnya, itu pasti suaminya”


“Hey! Itu budaknya, lihatlah, dari segi pakaian saja bisa kita tebak, dua orang berzirah emas itu pengawalnya dan dia lah nyonya mereka”


“Iya kau benar! Lagi pula orang luar jarang menikah di usia muda, adat kita berbeda dengan mereka”


“Benarkah! Kalau begitu kita masih ada kesempatan untuk merebut hatinya”


“Tapi lihatlah pangkatnya, itu emas, bisa saja dia lebih tua dari kelihatannya”


“Aku tidak peduli, aku tetap akan melamarnya… lihat saja nanti”


Anak-anak terus berdiskusi tentang Hana setengah berbisik. Mereka bahkan sampai lupa jika mereka sedang sekarat, tapi walaupun demikian mereka hanya bisa berbisik-bisik saja tidak berani berbicara nyaring karena dua orang dewasa disamping Hana juga berpangkat garang.

__ADS_1


Sorang nenek tua yang dipanggil Nenek Wani berdecak kagum melihat empat orang yang dibawa oleh Yome sosok gadis yang ditunggunya, ia benar-benar tidak menduga Yome mendapatkan sesosok yang mungkin menjadi penolong mereka.


“Yome! Apa kalian baik baik saja? Bisakah kau memperkenalkan ke tiga pendekar besar ini” tanya Wani menunjuk ke arah tiga orang yang sangat menyolok dan dia tidak begitu menghiraukan Juli yang terlihat diam saja.


Yome memberi hormatnya pada Nenek Wani, “Nenek! Mereka berempa ini para senior, dan yang paling tua diantara semua adalah senior Juli” Yone menunjukkan dengan ibu jari ke arah Juli sesuai dengan tata kerama adap sopan santunnya.


“Hahahah.. Maaf! Maaf! Orang tua ini sudah tua jadi sedikit rabun melihatmu nak, maafkan karena menurut dari tampang kau ini layaknya anak biasa saja” Nenek Wani tertawa ragu-ragu untuk mempercayainya.


Semua orang yang hadir disana saling pandang, mereka sadar ini pasti sandiwara belaka, tidak mungkin anak kecil tak berpangkat dituakan apalagi lebih tua dan itu pastilah mustahil. Namun begitu mereka tidak berani menanyakan lebih lanjut karena pangkat ketiga orang ini sungguh di luar nalar mereka.


Yome segera mengambil kantung kristal siluman yang diberikan oleh Pangeran Ke-dua dan Jendral Wirma lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.


“Lihatlah! Ini ada ribuan kristal siluman, ini akan tahan sampai lima tahun ke depan jadi berbahagia lah!”


Teriakan Yome membuat semua orang antusias, mereka terus bergerak menghampirinya untuk mendapatkan kristal siluman. Yome di bantu Nenek wani terus membagi-bagikan kristal siluman itu dengan cepat. Sorak sorai di lapangan itu terdengar hingga ratusan meter jauhnya.


Juli hanya senyum melihat kegembiraan mereka, terutama kebahagiaan pasangan-pasangan kecil saat mendapatkan Nyawa kembali.


‘Aku mengerti sekarang! Aku berada di wilayah selatan, dan aku rasa Hana pernah kemari sebelumnya, di kehidupan ku dulu aku pernah kemari dan aku bahkan tidak pernah menemukan orang lajang di sini, dan itu wajar karena mereka akan mendapatkan pasangan semenjak kecil, dan orang tua mereka akan selalu menjodohkan anaknya semenjak lahir, hehehe… Bahkan anak-anak yang tidak bersuami atau istri menjadi aib di wilayah ini, maka tidak heran wali kota bisa memanfaatkan kondisi itu’ batin Juli menggeleng-gelengkan kepala.


“Eh!” ucapan Juli sedikit kaget saat Hana memengang tangannya, ia langsung sadar saat melihat semua mata orang kini terpaku pada Hana,


“Hahaha, Hana sepertinya kau ini menjadi primadona mereka” tawa Juli lepas sampai Hana geram dan menginjak kakinya.


“Augh! Maaf! Maaf…” teriak Juli kaget.


“Sekarang bang Juli jangan jauh dariku, aku geli melihat pandangan wajah-wajah remaja kurus mesum itu”


Hana terlihat tidak nyaman, sementara Juli terus tertawa kikikan melihat wajah-wajah remaja bodoh yang siap-siap patah hati dibuat Hana.


Pangeran ke-dua dan Jendral, tidak henti-hentinya menggaruk garukkan kepala karena mereka berdua juga menjadi incaran mata nenek-nenek yang telah ditinggal pergi oleh suaminya.


“Gawat dah tempat ini, aku menjadi merinding jendral!” Bisik pangeran kedua berkeringat dingin.

__ADS_1


“Iya! Aku pun sama, sekarang aku malahan ingat istriku dirumah!”


**


__ADS_2