
Malam dingin diterangi cahaya bulan purnama.
Boris berserta petingginya bertempur mati-matian melawan pasukan tanpa kepala hingga membuat mereka kelelahan dan penuh luka tebasan disekujur tubuhnya, teriakan kesakitan melingking-lengking terus terdengar mengisi ruang udara malam.
“Busyu! Jagalah sisi kanan! Aku sudah tidak sanggup lagi bertahan” teriak orang berwajah sangar berambut kuning yang mirip dengan gorila.
“Dasar Gorila bodoh kau Wurat! Itu saja tidak sanggup kau hadapi, aku seorang diri menghadapi ratusan manusia tanpa kepala seorang diri” Teriak Busyu yang bernasip sama dengan wurat, iapun terlihat penuh luka tebasan disekujur tubuhnya.
Sementara petinggi lain terlihat lebih menyedihkan dari kedua orang ini, kecuali Boris itupun karena ia selalu berlindung di belakang punggung bawahannya,
“Kalian bertahan lah! Aku tidak percaya mereka jauh lebih kuat dari pada sebelumnya” Boris terus berlindung di belakang anak buahnya sesekali dia melakukan penyerangan dalam kepungan lautan manusia tak berkepala.
Tidak jauh dari sana, Irawan dan kesepuluh pendekar suku Padri telah pulih kembali setelah menelan Pil Penyembuh dan Pil Penawar Racun Dewa Chindril yang diberikan oleh Hana, kini semua pahlawan Suku Padri itu tercengang melihat kenyataan baru di sekitarnya.
Ribuan manusia tanpa kepala berlari melewati suku Padri menyerang Boris beserta petingginya dengan membabi buta, Irawan serta sepuluh pahlawan suku Padri sungguh terkejut, mereka berdiri diantara ribuan manusia tak berkepala tapi mereka tidak diganggu sedikitpun.
“A.. Apa yang terjadi? Ada apa dengan orang-orang tanpa kepala ini? Apa mereka musuh?” Irawan penasaran, namun ia dapat melihat mereka semua sedang menyerang Boris dari kejauhan, hal itu karena postur tubuh Irawan standar Suku Padri lebih tinggi dari manusia biasa.
Hana menatap Irawan, “Kalau seandainya mereka musuh, apa kalian masih berpikir bisa berdiri santai disini?”.
Irawan senyum, ia baru saja mengenal Hana namun dari gaya bicaranya, Hana tidak bisa dianggap anak tujuh sederhana biasa,
“Ah! Adik Hana, bisa kau jelaskan siapa mereka? Kami disini semua penasaran” Irawan benar-benar terlihat penasaran.
Hana mendengus mengeleng-gelengkan kepalanya,
“Ini perbuatan senior ku, dia selalu berbuat sesuka hatinya dan tidak pernah mau mendengarkan orang lain, aku tidak tahu perkataan siapa yang mau didengarnya” Jelas Hana dengan nada sedikit kesal.
Bima diri tadi hanya mendengar kini ia bisa melihat api hitam membakar gua dari kejauhan, Bima mengerutkan keningnya,
“Hana! Aku melihat api hitam di dalam gua, apa kau pikir itu juga ulah senior mu?” Bima sangat penasaran.
Hana memperlihatkan telapak tangannya lalu dia mengeluarkan sedikit api hitam dari jiwa Naga Kegelapan miliknya semua orang tercengang hingga mereka mundur satu langkah.
“Api Hitam?” Suara terkejut mereka terdengar serentak.
__ADS_1
Hana menarik napas panjang, “Apa api seperti ini? ini hanya api hitam biasa, namun jika seseorang tidak bisa mengendalikannya maka api ini akan terus membakar apapun hingga tak tersisa, akan tetepi ini jauh berbeda dengan api senior ku, api itu namanya api kegelapan yang bahkan levelnya jauh diatas api ini, kalian mengertikan seberapa mengerikan dia” jelas Hana mengeleng-gelengkan kepalanya.
Semua orang menelan ludah, keringat dingin mulai membasahi punggung mereka,
“Apa dia sedang membakar semua orang-orang tak berdosa di dalam sana?” tanya seorang bertubuh tinggi besar memakai helm pelindung berbentuk tanduk kerbau.
Hana menyeringai, “Senior ku itu paling marah bila seseorang menindas rakyat tidak berdosa, dia bahkan mirip seorang moster ganas bagi mereka yang menindas orang lemah, dan ia juga bisa menjadi malaikat pelindung bagi sahabat-sahabatnya, namun begitu, aku sendiri tidak begitu suka dengan jalan pikirannya” jelas Hana terlihat serius.
Bima senyum, “Aku menyukai orang seperti mu dan dirinya, dan aku tahu siapa orang yang paling ditakutinya, kalau kau mau merubah peraturannya maka kau carilah orang yang paling ditakutinya” Jelas Bima dengan sangat yakin.
Hana ikut senyum, “Apa maksud paman Ayah dan Ibunya? Itu sudah lama tiada” jelas Hana singkat karena dia telah bertanya langsung sebelumnya pada Juli.
Bima senyum, “Bagaimana dengan gurunya? Apa gurunya masih hidup?” tanyanya penasaran, kkerena semua orang sekuat itu setidaknya gurunya seorang Dewa dan itu tidak mungkin seorang Dewa bisa dengan mudah dibunuh.
Mata Hana terbuka lebar, “Aku tidak berpikir sebelumnya, aku kira dia belajar sendirian, karena tidak ada seorang pun yang mampu mengajarinya di bumi ini, pemahamannya bahkan menyamai Dewa-Dewa di Bumi Tengah, dan aku yakin dia bukanlah salah satu murid dari Dewa-Dewa terkuat itu” Hana menggaruk dagunya mulai menerka-nerka.
Drumm Bruumm!
Terdengar suara pertempuran dikejauhan, pandangan mata Irawan terfokus pada Boris dan Petingginya dalam kepungan, ia melihat Boris yang semakin terdesak namun sepertinya ribuan orang itu agak kesulitan menjangkau Boris secara bersamaan, Irawan perlahan mengangkat palunya,
Bima mengangkat tangannya menghentikan Irawan, namun Irawan sudah bergerak terlalu jauh dari mereka,
“Irawan tunggu! Gawat! Ayo pahlawan Padri, kita kemari untuk menyelasaikan misi ini, dan lebih bagus kalau kepala Boris kita hancurkan bersama” Bima langsung menerjang maju mengikuti Irawan.
Mendengar ajakan Bima semua Pahlawan Padri bergerak serantak menerjang maju mengangkat palunya seraya berteriak lantang.
“Hancurkan kepala Boris Iblis Barat!”
“Serang!”
Semua orang bertubuh tinggi besar berzirah perang dalam sekejab saja telah berhasil menerobos lautan manusia tanpa kepala hingga sampai dihadapan Boris dan petingginya yang terlihat sangat kelelahan.
“Boris! Sekarang ajal mu telah tiba!” Teriak Irawan segera melompat tinggi menyerang kepala Boris dengan hantaman palu besarnya.
Wusss...
__ADS_1
“Apa!”
Boris terkejut saat melihat hantaman palu besar mendarat dari atas kepalanya, Boris segera mengeluarkan Jurus pemungkasnya sambil memutar tombak goloknya kearah hantaman palu.
“Tebasan Udara Tombak Golok!”
TRANG!
Dua senjata pusaka beradu di udara menyebabkan gelombang kejut yang sangat dahsyat hingga menerbangkan siapapun di sekelilingnya, Boris sungguh tidak menyangka bahwa Irawan putra mendiang Raden akan sekuat ini dan itu jauh dari perkiraannya.
BHOOMM!
Ledakan dua kekuatan tenaga dalam dahsyat membuat orang-orang tidak berkepala beterbangan ke segala arah dalam radius sepuluh meter,
"Pertahanan Tubuh Abadi!"
Bima menggunakan tenaga dalamnya untuk mempertahankan posisinya dari gelombang kejut dansyat sembari berusaha menerjang maju menyerang para petinggi Boris lainnya yang telah terlihat terhuyung-huyung.
“Teknik Tertinggi! Hantaman Udara!”
Teriak Bima menyerang Wurat si Gorila salah satu petinggi yang paling kuat diantara semua, Wurat sudah tidak sanggup lagi menghindar sehingga hantaman palu tepat mengenai dadanya,
Duk! wusss...
Wurat melesat cepat terbang jauh menghantam puluhan manusia tanpa kepala sekaligus, jatuh menghantam tanah bebatuan.
BRUUUK...
Wurat mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya, “Aaaaakk! Aku tidak meyangka penyerangan tiba-tiba bisa membuat ku seperti ini” Wurad mulai berusaha menangkis tebasan pedang pasukan tanpa berkepala yang kini mulai mengelilinginya.
“Tidak!” Wurat mengangkat kedua telapak tangan untuk menangkis serangan yang menuju kearah kelapanya, tapi kali ini Wurat bingung karena tidak ada satupun serangan datang dari orang-orang tanpa kepala padanya.
“Kenapa? Kenapa mereka tidak menyerang ku lagi?” Tanya Wurat bingung, dengan mulut terus memuntahkan darah ia mencoba bangkit duduk, tiba-tiba, di depan matanya terlihat sesosok anak kecil yang sedang tersenyum padanya.
"Si.. Siapa Kau?"
__ADS_1
**