
Di Perbatasan Wilayah Barat
Tiga aliansi telah berkumpul membangun tenda-tenda besar untuk tempat peristirahatan sementara sebelum melakukan penyerangan,
Klan Singa Hitam, Klan Iblis, Klan Hyena, para pasukan terlihat hilir mudik melakukan penjagaan di kawasan itu, sementara 5 para petinggi sedang melakukan rapat di tenda utama yang berukuran sangat besar dan luas.
Seorang pria bertubuh tinggi besar memakai baju dari kulit singa duduk di kursi utama di dalam ruang tenda, badannya kekar sepasang golok terselip di punggungnya ia akrab di sapa dengan Bordu si Singa Merah berpangkat bunga putih salah satu dari lima petinggi Klan Singa Hitam, kini ia bertindak sebagai pemimpin rapat di dalam tenda ini.
“Dengarkan kalian para petinggi semua, kali ini misi kita sangat mudah, hanya melenyapkan sepuluh ribu orang bodoh dan jangan biarkan mereka selamat, aku heran dengan sikap para pemimpin klan yang mengutus kita dalam jumlah sebanyak ini, apa yang mereka pikirkan? Berarti ini adalah perang tingkat menengah” tatapan dingin Bordu menyapu seluruh isi ruangan hingga membuat tempat itu terasa gelap.
“Tidak Bordu! Aku tidak tahu apa maksud mereka? Tapi yang jelas pemilik Lembah Iblis bukan lagi Boris, itu yang ku dengar, namun perlu kau ingat seseorang yang mampu mengalahkan Boris itu bukanlah orang sembarangan” Jelas seorang yang berbadan kurus berambut merah, sebatang Tombak Golok di sandarkan pada kursi tempat duduknya, dia dikenal dengan Bamli si Iblis Timur berpangkat dua emas dari Klan Iblis.
“Heh! Boris dan petingginya itu sekumpulan bocah idiot yang berpikir bisa menguasai dunia bermodalkan sepuluh burung Dondon yang dimenangkan dari hasil lelang sepuluh tahun lalu, apa itu tidak terlalu konyol dan bodoh!” Komentar seorang bertubuh gemuk dengan se-guci tuak di tangannya, dia dikenal dengan Boulan si Hunter Mabuk dari Gunung Cengkeh berpangkat tiga emas dari Klan Hyena.
“Hey Boulan! Kau ini tidak usah banyak bicara, siapapun dia yang bisa membereskan lebih sepuluh ribu pasukan dalam semalam itu bukan perkara gampang, apa kau pikir ketua mengirimkan kita sejumlah ini untuk memerangi kodok? Kurasa kau akan tahu setelah berhadapan dengan mereka, namun apapun itu kita harus ‘memenggal kepala ular dulu baru kita kunyah badannya’ jadi kuharap kau serius nantinya” Seorang berpakaian penyihir bertongkat tengkorak iblis langit yang dipegang pada tangan kirinya, dia dikenal dengan sebutan Maneho Si Penyihir Kegelapan berpangkat emas dari Klan Singa Hitam.
“Kalian diam lah! Apapun itu, yang jelas 10 ribu lawan 500 ribu lebih itu namanya pembantaian, taroklah dia bisa membantai 10 ribu dalam waktu semalam, jadi bagaimana 500 ribu orang? Apa dia sanggup melakukannya? Sungguh dewa pun tidak akan sanggup malakukannya, percayalah! Kita akan menyapu mereka hingga habis tak tersisa” Jelas seorang perempuan berseragam hitam dengan sepasang pedang di punggungnya, dia dikenal Dewi Maut dari Klan Hyena.
“Baiklah! Kita akan memerangi mereka besok pagi, sekarang kita perlu beristirahat karena pasukan kita baru saja melakukan perjalanan jauh, kita tidak perlu gegabah untuk itu! Lagi pula kita malam ini akan membuat perencanaan yang matang untuk penyerangan besoknya, satu lagi kirimkan mata-mata untuk melihat pasukan musuh memalui udara” Bordu memberi sarannya.
“Hahaha, baiklah serahkan padaku, aku akan mengirim pasukan burung hantu untuk mengawasi udara mereka malam ini, aku akan mengumpulkan banyak informasi malam ini tenang lah, hahaha” gelagat tawa senang Maneho.
“Baiklah! Kalau begitu penjagaan malam ini akan aku serahkan pada kau Dewi Maut, dan ku harap Klan Hyena sanggup menjaganya kali ini, hehehe, sementara besok kita akan membantai mereka semua hingga tak tersisa, yang paling penting kita harus merebut cincin ruang mereka” ucap Bordu senang.
“Baiklah Pengamanan serahkan saja pada ku!
“Hehehe, ingatlah janji kalian yang akan menyerahkan tempat ini kembali pada kami, karena tempat ini sungguh sangat penting bagi Klan Iblis, sementara sepuluh tempat lainnya tidak sebagus Lembah Iblis, serta aku ingin membunuh Wali Agung mereka yang konon menurut cerita warga yang pindah dari sana umur tetua agung masih seumur jangung, hehehe” jelas Bamli tertawa terkekeh.
“Lembah itu memang akan tenggelam, walaupun kita tidak menenggelamkan mereka, sebab menurut rumor yang beredar pangeran kesembilan menghilang setelah berangkat ke sana, jadi kalian sendiri bisa tahu bagaimana marahnya Raja bodoh itu bukan? Kurasa kalau kita telat kemari tentunya kita tidak melihat apapun lagi di sini, semuanya akan menjadi tanah gersang” Jelas Bordu yang membuat yang lain terkejut.
“Hahaha, Aku tidak menyangka suku Padri itu benar-benar menggali kubur mereka sendiri, tapi aku mendengar isu Organisasi Dewa Pil Dunia membantu mereka, apa-apaan mereka ini, kurasa mereka memang ingin berperang dengan pihak kerajaan, hehehe, kali ini organisasi itu secara tidak sengaja ikut terjerumus menantang Kerajaan Embun Barat, dan secara tidak sadar mereka telah menentang Kekaisaran Purba, Hahaha, riwayat mereka benar-benar akan tamat kali ini, hahaha” Maneho dari Klan Singa Hitam tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha”
**
__ADS_1
Di Kota Istana Kota Teratai Langit.
Di istana megah itu kini di datangi oleh dua petinggi penting, mereka memakai baju putih bercorak hitam indah berlambang Pil dan Bola Dunia, siapapun yang melihat bisa menebak mereka dua dari Organisasi Dewa Pil Dunia.
Seorang Gadis berumur 25 tahun berpenampilan cantik dan menarik, sebilah pedang tingkat bumi dipegang erat pada tangan kirinya, wajahnya anggun senyuman seakan tidak lekang di bibirnya, siapa yang melihatnya pasti akan terpana, dalam dunia pengobatan wanita ini sangat tersohor hingga kemanca-kerajaan, Irina Dewi Obat berpangkat tiga perak.
Seorang lagi lelaki tampan berusia 30 tahun, sebilah pedang berkarat besar terselip di pungungnya, sekilas lihat saja semua orang akan tahu bahwa ia seorang pendekar besar berpangkat emas bintang dua, di bumi barat orang-orang memanggilnya Bahri si Pedang Pembelah Gunung.
Keduanya memasuki Istana Teratai Langit yang begitu indah, mata meraka berdua terus melihat isi ruang istana sesekali terdengar decak kagum keduanya.
“Istana Yang sangat mewah! Sepertinya ini bukanlah istana yang dulu, ukuran dan bentuknya seratus persen berubah” Irina terus melihat ke indahan luar biasa istana baru yang berwarna putih bersih.
“Iya, aku bahka merasakan mendatangi tempat ini seperti mendatangi suatu tempat yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya, padahal aku dulu sering kemari mengawal penjualan pil” Ucap Bahri membenarkan.
“Maaf! Apa dua senior telah lama menunggu ku?”
Tiba tiba terdengar suara anak kecil laki-laki berpakaian layaknya gembel, ia berjalan memasuki ruangan istana bersama seorang putri cantik jelita yang sebaya dengannya.
Irina dan Bahri kaget begitu mendengar suara tiba-tiba muncul di belakang mereka, “Ah! Iya kami baru saja sampai, dan seribu pasukan kami sedang beristirahat di aula utama” jawab Irina cepat sambil memberikan hormatnya pada dua anak itu.
“Ah! bolehkah saya bertanya siapa diantara kalian yang di juluki Wali Agung oleh penduduk di sini, karena aku dengar wali agung masihlah anak-anak” tanya Bahri tanpa basa-basi sehingga Irina menyiku lengan Bahri yang berdiri disampingnya.
“Ah! Mereka memanggil ku wali, tapi sudahlah itu tidak penting sama sekali.. mari kita duduk santai sambil berbicara” Juli mempersilahkan kedua orang bingung itu seakan tidak percaya.
“Ah, iya!”
Irina dan Bahri saling pandang, Hana yang berjalan mengikuti Juli terlihat sangat menarik perhatian Bahri,
“Wali Agung! Apa anak kecil cantik ini istrimu? Sungguh sangat cantik, tapi juga aneh anak-anak bau kencur sudah kawin.. mau jadi apa kalian ini” tanya Bahri ceplos,
Mendengar ucapan bahri Irina segera menginjak kaki Bahri hingga ia menjerit kesakitan “Aw! Sakit Irina” teriak Bahri kaget.
“Hahaha, Senior Bahri kau ini sungguh lucu, kenapa kau bicara begitu, dia ini… Hana seorang petinggi di sini termasuk keluarga ku” Jelas Juli senyum.
“O.. Adik kandung mu? Oo.. tapi kenapa tidak mirip ya?” tanya Bahri sambil memperhatikan Hana yang begitu cantik yang bahkan belum pernah ia melihat anak-anak secantik Hana seumur hidupnya.
__ADS_1
Juli menerutkan keningnya, “Bukan, dia bukan adik ku” jawab Juli singkat sambil terus berjalan ke arah kursi tamu yang berada di sisi kiri dan kanan ruang utama istana.
“Ini berarti dia itu tunangan mu kah Wali kecil, sungguh dia sangat cantik jelita dan sangat tidak cocok dengan mu” Bahri memberi penilaian lalu dia menghampiri Hana dengan senyum ramah,
“Anak manis, kau itu sangat cantik kau paling kurang layak jadi selir kaisar kelak, aku ada hubungan dengan kaisar kalau kau besar nanti aku akan memperkenalkan mu pada pangeran-pangeran, heheh, kalau wali ini tidak cocok dengan mu, kamu sendiri pasti tidak ingin menjadikannya suamimu, bukan?” tanya Bahri dengan nada serius.
Juli mendengarnya menjadi pucat dan salah tingkah, “Apa-apaan senior Bahri ini, bertanya sesuatu yang aneh pada anak-anak” gumam Juli mulai memukul kepalanya.
Namun Hana terlihat serius menanggapinya, “Senior Bahri! Siapa bilang senior Juli tidak layak jadi suamiku? Aku malahan sudah.. malahan… tidak! Aku tidak menyukai jadi selir kaisar.. Ratu kaisar saja aku tidak tertarik.. aku lebih tertarik jadi istrinya.. memang ada masalah dengan itu?” Tanya Hana cepat pada Bahri hingga Bahri dan Irina menjadi melongo, sementara Juli terus terbatuk-batuk dengan wajah pucat.
"Uhuk.. uhuk.. ehem.. ehem, Aduh!"
Juli menepuk jidatnya dengan perasan malu yang bercampur aduk, “Kalian ini sudah gila, ini kita sedang menghadapi perang bukan bicara lelucon yang tidak penting” suara Juli terdengar serius.
Hana menghentak kakinya karena marah, “Siapa bilang ini tidak penting, ini masalah hidupku aku tidak mau dilecehkah oleh senior Bahri ini, ia berani sekali menyandingkan aku dengan selir kaisar, seumur-umur inilah penghinaan terbesar yang pernah ku dengar” Hana terlihat sangat sensitif mengenai masa depan dan pernikahannya.
Bahri melongo, “Selir kaisar kamu tidak tertarik.. istri anak ini kau mau” bahri menunjuk kearah Juli yang kini telah berwajah pucat dan berkeringat dingin.
Hana melipat tangan di dadanya wajahnya terlihat sangat kesal, “Bisakah kau katakan dimana kekuarangan dia sehingga dia tidak layak untuk suamiku? Huh? Di mana senior?” Tanya Hana dengan nada marah dan serius.
Sementara Juli telah merah wajahnya, keringat dingin telah membasahi pakaiannya,
‘Kurang ajar berani-benarinya mereka mengerjaiku situa bangka ini, awas kau Bahri akan kusumbat mulut bau mu itu, kau sungguh tidak tahu sedang berbicara dengan siapa’ batin Juli yang mulai tidak kosentrasi, sementara itu Hana dan Bahri terus berdebat kusir.
**
“Dua bait dari sana…”
“Puasa katrok bak ujong, dudoe meusambong ngen uroe raya…”
“Takeubi ngen seulawuet meualon-along, peumeuah daisya lon wahe syehdara…”
“Puasa telah di penghujung lalu bersambung dengan Hari Raya…”
“Takbir dan salawat terdengar beralun-alun, maafkan kesalahan ku wahai saudara…”
__ADS_1
“Minal Aidil Walfaizin, Mohon Maaf Lahir Batin…”
**