Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 72. Hana Vs Yona


__ADS_3

“SERANG!”


Teriak lantang Rioh memimpin pasukan Teratai Langit, Rioh sadar pertempuran ini akan sulit di menangkan tapi setidaknya misi utama mereka untuk membawa pulang jasad Juli kemungkinan bisa dicapai.


Disisi lain, Dewi Maut juga terlihat bersemangat dalam penyerangan kali ini, ia segera menerjang maju menyerang Rioh dengan segenap kekuatannya, hal itu disebabkan karena adanya dukungan penuh dari Yona yang notabenenya seorang Dewi.


“Bantai mereka! Jangan biarkan mereka hidup!” Teriak Dewi Maut melompat tinggi ke udara diiringi tebasan pedang ke arah leher Rioh selaku memimpin Pasukan Kota Teratai Langit.


“Tebasan Pedang Maut!”, Teriak Dewi Maut mengeluarkan energi pedang membentuk tebasan tebasan udara ke arah leher Rioh,


Wuss.. wus... wus...


Rioh menyadari kuatnya tekanan energi tebasan, ia segera memutar tongkat sihirnya untuk berlindung, “Perisai Angin!” Teriak Rioh, dalam sekejap sebuah perisai angin terbentuk secara sempurna di depannya.


Trang! Trang!


Drooom... Drooom...


“Sihir Elemen Angin! Tembakan angin beku!” Teriak Rioh membalasnya, seketika angin di sekitarnya membeku membentuk anak panah tajam berjumlah ratusan,


"Apa!" Mata Dewi Maut terbelalak, belum sempat ia berkomentar, Rioh sudah menembakkan anak panah angin itu ke arah Dewi Maut dengan membabi-buta,


Swus swis swus swiss..


"Putaran Pedang Maut!"


Dewi maut dengan cekatan memutar pedangnya menangkis sengit laju anak panah udara yang membidiknya, benturan anak panah udara dengan pedang Dewi Maut menimbulkan ledakan dahsyat yang pada akhirnya mamacu pertempuran sengit keduanya, serta di iringi dengan benturan senjata pasukan lainnya dalam medan pertempuran itu.


DROOMM…


“Pertahanan posisi!” terdengar teriakan Bahri saat berhadapan menyerang Bamli yang menjadi lawan seimbangnya, mereka terus bertarung sengit hingga membuat gemuruh di atas hamparan es.


Trang! Tring!


Bamli si Iblis Timur mahir menggunakan Tombak Golok sementara Bahri si Pedang Pembelah Gunung sangat terampil dalam berpedang, dua seni beladiri beradu tanding menimbulkan percikan api dalam suasana dinginnya malam.


“SERANG!”


Disisi lain, Rioh seorang penyihir ia sangat lihai dalam pertempuran jarak jauh sehingga ia terus menjaga jarak dari lawan bertarungnya, tapi justru sebaliknya Dewi Maut terus mencoba bertarung jarak dekat karena itu keahliannya, pertempuran keduanya terlihat alot tapi membutuhkan area yang luas.


Di sisi lain, para petinggi Kota Teratai Langit terus dikepung oleh puluhan pasukan Aliansi Singa Hitam dari berbagai sisi, akan tetapi, walaupun kalah jumlah para petinggi Kota Teratai Langit terus mengamuk di dalam kepungan musuh bagaikan sekawanan singa di antara kepungan serigala.


"Jangan menyerah! Ayo maju"


Trang! Tring! Trang! Tring!


Pertempuran sengit terjadi di berbagai tempat, namun yang paling menarik perhatian tertumpu pada pertarungan Hana melawan Yona, pertarungan dua Dewi khayangan terlihat bertempur mati-matian, cahaya indah warna warni menyelubungi keduanya.


Hana terlihat sangat serius dengan serangan-serangannya, ia terus memutar kedua pedangnya menyerang Yona dengan teknik Dewa-Dewi tertinggi, walaupun Hana belum termasuk kategori mahir dalam teknik sulit itu namun cukup untuk mengalahkan beberapa orang ahli sekaligus.

__ADS_1


“Tarian Dewi Bidadari – Putaran seribu mata pedang!”


Putri Hana terus melompat tinggi menyerang Yona dari arah udara dengan serangan serangan pedang yang bertubi-tubi dan mematikan sehingga tubuhnya melayang di udara dengan kepala berada di posisi bawah,


Trang! Tring! Trang! Tring!


"Tarian Bidadari mu masih belum cukup untuk menyentuh ujung rambut ku" ucap Yona seraya mematahkan serangan Hana hanya menggunakan jari-jarinya saja dengan santai.


Syut! Syut! Syut!


Semakin cepat Hana menebas sepasang pedangnya semakin cepat pula jari-jari Yona menangkisnya, sehingga kekaguman Hana terhadap kehebatan Yona timbul dibenaknya.


‘Aku benar-benar tidak menduga Dewi cantik jelita ini memiliki jari yang bahkan menyaingi dua pusaka langit bumi ku, apa seorang Dewi akan selalu sekuat ini, kalau begini terus bagaimana aku bisa mengalahkannya, aku bahkan telah mengeluarkan semua jurus rahasia Dewi Bidadari namun semua bisa dipatahkan dengan mudah! Siapa sebenarnya dia ini? kenapa dia menghafal setiap gerakan ku’ batin Hana terus mengeluarkan jurus-jurus kombinasi lainnya.


Yona terlihat tidak serius dalam melakukan penyerangan terhadap Hana, pikirannya terlihat kalut namun Yona bisa mematahkan semua serangan Hana bahkan tanpa melihatnya sekalipun,


‘Anak ini? Bagaimana dia menguasai teknik leluhur tuanku, walaupun tekniknya belum katagori sempurna tapi ini sudah sangat hebat mengingat umurnya yang terhitung sangat muda, tapi sepertinya aku tidak begitu tega membunuhnya disini, apa lagi dia masih seperguruan dengan tuan ku, namun aku juga harus memberinya sedikit pelajaran’ batin Yona seraya mengubah pola jurusnya.


“Tebasan Pedang Kaisar Langit Bumi”


Yona mengangkat telunjuknya tiba-tiba membentuk energi pedang angin raksasa di udara, ia mengayun ringan jarinya, bersamaan bergeraknya energi pedang angin raksasa keberbagai arah dan menimbulkan topan badai besar hingga menghempas apapun di sekelilingnya termasuk seluruh pasukan yang sedang bertarung di atas hamparan es.


BHOSSSSS…..


Aaaakkhh! Aaaakkhh!


"Awas!"


"Badai Topan! Apa yang terjadi?"


"Tidak! Dewi mengamuk lagi!"


Semua pasukan di kedua pihak panik, pada bersamaan posisi Hana masih berada di udara ingin melakukan penyerangan terhadap Yona namun kali ini ia terhempas jauh akibat gelombang kejut dahsyat, Hana dengan cepat menjungkirbalik di udara dan mendarat sempurna hampir 200 meter jauhnya,


Pandangan mata Hana terbelalak saat melihat gerakan ringan teknik Kaisar Langit Bumi di peragakan di depan matanya, ‘Tidak! Tidak mungkin itu jurus Kaisar Langit dan Bumi, bagaimana gerakan kecil saja dapat menghempas apapun padahal dia hanya menggunakan jari-jarinya saja, ini sungguh perbedaan kekuatan yang terlampau jauh, antara langit dan bumi’ Hana menatap tajam Yona yang terlihat mulai serius.


Yona perlahan mengeluarkan Panah Peri Api dan Es dari cincin ruangnya, aura pembunuh yang sangat kuat serta deru angin kencang mulai terasa, semua orang menjadi pucat,


Yona perlahan terbang melayang di udara, panahnya di bidik ke arah kota, matanya memancarkan cahaya emas tubuhnya kembali mengeluarkan kilauan cahaya.


“Aku ingin lihat! Apakah kota kalian mampu bertahan dari busur Dewa Peri ku ini?” tanya Yona menarik tali busur, dua anak panah tercipta sekaligus dari tenaga dalam, deru angin sangat kencang mengamuk disekitarnya hingga membuat semua orang menelan ludah ketakutan.


"Gawat! Aku yakin panahnya dapat menenggelamkan kota, atau setidaknya dapat menghancurkan lembah teratai langit"


"Itu Busur Dewa, kekuatannya tidak terukur"


"Benar!"


Rioh sebelumnya terhempas jauh bersama Dewi Maut karena gelombang kejut yang ditimbulkan teknik pedang Yona, kini matanya terbelalak saat melihat Busur Dewa pada tangan Yona sedang membidik kota Teratai Langit, wajah Rioh berubah pucat karena ia tahu resiko besar itu, Rioh berusaha bangkit seraya melambai-lambaikan tangannya kearah Yona dengan putus asa.

__ADS_1


“Dewi Yang Mulia! Jangan kau bunuh anak-anak dan bayi tidak berdosa di kota ini, kalau kau mau membunuh bunuh lah aku situa bangka yang tak berharga ini” teriak Rioh bertekuk lutut meletakkan tongkatnya di depan seraya memohon pada Yona.


Yona dapat mendengar suara kakek tua yang memelas padanya, ia mengendurkan tali busurnya matanya teralihkan pada penyihir tua yang sudah bertekuk lutut padanya, kesempatan itu di manfaatkan oleh Dewi Maut untuk menikam Rioh yang sedang tidak dalam keadaan waspada dari arah belakangnya.


Swusss… aaaakkhh!


Pedang Dewi Maut melesat cepat menusuk punggung Rioh menembus dadanya, akan tetapi Rioh tetap menunduk memohon pada Yona agar tidak melepaskan anak panahnya ke arah kota,


“Yang Mulia Dewi! Aku mohon padamu! Khuk, khuk, jangan kau hancurkan kota itu, mereka baru beberapa hari merasakan kebebasan, aku akan menyerahkan hidupku kepadamu namun kumohon padamu untuk tidak menghancurkan kota itu” terdengar ucapan serius Rioh yang sekarat membuat semua petinggi Lembah Teratai Langit menjatuhkan diri berlutut dan meletakkan senjatanya menyerah, dengan air mata mulai berlinang.


"Kami menyerah!"


"Kami menyerah!"


Kesempatan itu kembali dimanfaatkan oleh Aliansi Singa Hitam untuk membunuh para petinggi yang sedang menyerah, namun sebelum pedang-pedang mereka memenggal kepala para petinggi Aura Pembunuh Yona membuat mereka ter-mundur beberapa langkah dengan keringat dingin membasahi tubuh.


“Berhenti kalian! Aku tak ingin ada yang bertindak pengecut!" bentak Yona marah, kini pandangan matanya dialihkan pada Dewi Maut,


"Dewi maut! Aku lupa menanyakan sesuatu padamu sebelumnya” terdengar ucapan Yona dengan tatapan dingin sampai-sampai membuat Dewi Maut menelan ludah.


Dewi Maut dengan gemetar bertekuk lutut menundukkan kepalanya, “Yang Mulia Dewi, tolong tanyakanlah hamba akan menjawabnya” Suara Dewi Maut terdengar lembut.


Yona perlahan turun dari terbangnya ke sisi jasad Juli, “Dewi Maut! Aku ingin bertanya padamu, apa jabatan anak ini di dalam organisasi mu?” Tanya Yona penuh selidik.


Sontak Dewi Maut berkeringat dingin namun ia tetap memberi hormat dengan berlaku santainya untuk menutupi kegugupannya, akan tetapi raut wajahnya terlihat berpikir-pikir terhadap jawaban yang akan diberikannya,


‘Apa? Jabatan anak hangus itu? Siapa dia? Apa dia salah satu anak anggota dari Klan Singa Hitam? Ah aku benar-benar tidak mengenalinya, tapi jika kulihat dari logatnya dia menyayangi anak itu, baiklah aku akan membuat alasan yang bagus untuknya’ batinnya timbul ide.


“Ah! Anak itu anak angkat ku, dia sangat baik dan patuh pada orang tua, aku memeliharanya semenjak bayi, aku sungguh bersedih atas kematiannya” Dewi Maut menangis terisak pilu menundukkan kepala untuk meyakinkan ceritanya.


“Bohong!” Hana memotong pembicaraan Dewi Maut dari kejauhan, wajah Hana semakin murka dengan alasan yang di buat-buat oleh Dewi Maut, Hana kini mulai curiga kalau sebenarnya Dewi cantik jelita itu di manfaatkan oleh Dewi Maut dengan cerita-cerita bohongnya.


Yona mengangkat tangannya memberikan isyarat agar Hana diam, “Adik kecil! Kau diam saja, ini belum saatnya kau bicara, pertanyaan ku belum selesai” potong Yona cepat menghentikan bicara Hana, Yona mengalihkan pandangannya kembali pada Dewi Maut.


“Boleh saya tahu siapa nama anak ini?” Tanya Yona menatap tajam Dewi Maut hingga membuat Dewi Maut salah tingkah sampai-sampai keringat dingin terus membasahi punggungnya, dalam waktu singkat itu Dewi Maut sampai beberapa kali menoleh pada Bamli yang kini ikut berlutut dengan perasaan bingung ketakutan.


“Cepat jawab!” bentak Yona mulai marah hingga cahaya keemasan di tubuhnya semakin menyala-nyala dan itu cukup untuk membuat Dewi Maut terkencing di celana.


“Zeki! I-Iya.. Namanya Zeki” ucapan spontan Dewi Maut menebak asal, hingga membuat Yona ter-mundur dua langkah dan menghela napas panjang dengan wajah murka.


Kini sorotan mata Yona teralihkan pada Hana yang dari tadi terlihat ingin sekali berbicara padanya, “Sekarang giliran mu, bicaralah! Aku ingin mendengarnya” Yona menancap panah Dewanya di atas es hingga retak, pandangan mata tajam tertuju ke arah Hana.


Hana menatap Rioh dengan tatapan sedih, kalau bukan karena Rioh maka tidak ada yang tahu bagaimana kejadiannya mengerikan selanjutnya akan terjadi, mungkin saja saat ini Lembah teratai langit telah tinggal nama, kemudian Hana menatap Jasad Juli di samping Yona yang masih dalam posisi duduk setengah membeku oleh bongkahan es, Hana menjatuhkan diri berlutut di depan Yona, kini ia mengetahui keputusan apa yang harus di ambil untuk saat ini.


“Dewi Agung! Saya Menyerah, Saya juga memiliki permohonan pada mu! Kami datang kemari ingin mengambil Jasad Wali Agung kota Teratai Langit untuk dikuburkan secara layak, apapun bayarannya kami semua pasti akan membayarnya bahkan dengan nyawa kami!” jelas Hana melunak dan mulai sedih hati, kedua tangannya di genggam erat penuh harap.


Yona menghela napas panjang, wajahnya kembali sedih saat menoleh ke arah tuannya, “Wali Agung? Yang ini? kalau begitu cobalah sebutkan siapa namanya” tanya Yona lirih.


“Wali Juli! senior ku”

__ADS_1


**


__ADS_2