Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 145. Rencana Membangun Kembali Kubah Pelindung


__ADS_3

Dalam pertempuran sebelumnya, Dewi siluman iblis membentuk aliansi dengan organisasi Aliran Hitam, serta dibantu oleh empat Raja di Kekaisaran Purba, mereka berhasil menghancurkan Kubah Pelindung umat manusia di Kekaisaran Purba.


Kubah Pelindung ini telah melindungi manusia di Kekaisaran Purba selama ribuan tahun, tapi akibat keserakahan manusia itu sendiri, Kubah Pelindung ini hancur berantakan.


Pada saat yang bersamaan pula, Wali Agung juga berhasil menghancurkan Aray Kutukan Iblis yang dipasang di atas kubah pelindung. Aray Kutukan Iblis ini telah membunuh jutaan dan menyengsarakan seluruh umat manusia selama beribu-ribu tahun lamanya.


Runtuhnya Kubah Pelindung dan Aray Kutukan Iblis berdampak besar bagi kehidupan Kekaisaran Purba. Di satu sisi manusia sudah tidak membutuhkan kristal siluman untuk bertahan hidup, disisi lain Kekaisaran Purba kini sepenuhnya menjadi lahan pembantaian bangsa siluman.


Beberapa hari belakangan ini, siluman terus membantai umat manusia, mereka tidak membedakan antara Aliran Hitam atau pun Aliran Putih, Karena pada dasarnya siluman hanya melihat manusia sebagai sumber makanannya saja.


Kerajaan Embun Barat bersama tiga kerajaan lain, mereka bekerja sama dengan Bangsa Siluman untuk menghancurkan Kubah Pelindung, mereka berhasil menjalankan misinya dengan baik.


Keempat Raja menghancurkan batu-batu kristal yang menjadi fondasi kubah pelindung di empat sisi kerajaan, sampai membuat kubah pelindung mengalami keretakan hebat, dan hancur beberapa saat setelah berbenturan dengan Dewi siluman iblis.


Kini keempat kerajaan mulai menyesal atas perbuatannya, para siluman berbagai tingkat terus berdatangan ke wilayah kota kerajaan dan membantai siapapun yang dijumpai, tidak terkecuali di istana-istana kerajaan itu sendiri.


Keempat keluarga Kerajaan kini terancam, dan mengungsi ke istana Kekaisaran Purba melalui pintu portal kerajaan masing-masing, sementara rakyat jelata berlari tanpa arah tujuan, ratusan ribu bahkan sampai jutaan manusia menjadi korban pembantaian para siluman setiap harinya.


Para prajurit dan Jenderal yang tersisa mereka memilih untuk menyelamatkan diri, mereka tidak peduli dengan nasib rakyat lainnya, karena keselamatan keluarga mereka lebih utama dari yang lainnya.


Disisi lain, Suku Penunggang Kegelapan dan Wewe Gemut telah mengevakuasi dan menjaga manusia dengan seluruh kekuatannya, namun mereka tetap saja tidak mampu menyelamatkan manusia secara keseluruhan di Kekaisaran Purba yang begitu luas.


Sariek Beude sendiri yang telah menjadi rival bangsa siluman selama ribuan tahun juga tidak mampu menjaga Gunung Dawai, apalagi jika untuk menjadikannya damai seperti sediakala.

__ADS_1


Sariek Beude setelah peperangan ini menjadi semakin melemah di bidang pertahanan, hal ini disebabkan puluhan Sariek Beude telah gugur dan ratusan yang lain terluka parah dalam peperangan. Saat ini, seluruh Sariek Beude terpaksa mengungsi ke Kota Singa Langit di bawah perlindungan suku Wewe Gemut.


Walaupun suasana mencekam di berbagai tempat, tapi di kekaisaran Purba juga memiliki dua wilayah yang tidak bisa disentuh oleh siluman, yaitu Kota Lembah Teratai Langit dan Kota Singa Langit, ke-dua kota ini telah dipasang aray pelindung Kokoh, siapa pun yang memasuki akan hancur dalam waktu kurang dari 15 menit, kalau tidak mengikuti prosedur yang ada.


Putri Yara semula sangat terpukul dan sedih saat mendengar berita gurunya telah wafat, saat bertarung melawan Dewi Siluman Iblis. Akan tetapi, setelah melihat kesedihan yang sama juga pada jutaan orang suku penunggang malam, dan ribuan suku Wewe Gemut, serta ratusan ribu penduduk di kedua kota, dirinya semakin tertegun.


Putri Yara tidak menduga, Ratu Hebi Agung dari Suku Penunggang Malam turun tangan sendiri untuk mencari gurunya. Di bumi tengah sendiri tidak ada orang yang berani berhadapan langsung dengan Ratu Hebi, bukan saja ia sangat kuat setelah membangkitkan darah keturunan, tapi juga Ratu hebi dikenal dengan Ratu yang gagah berani, dan memiliki ratusan ribu manusia tingkat dewa di sisinya.


Bisa dikatakan suku Penunggang Malam dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan pesat, dan tidak bisa disaingi oleh bangsa mana pun di dunia. Kiprah dan sepak terjang suku Penunggang Malam telah membuat segala bangsa menakutinya. Di Bumi Tengah saja, mereka dianggap suku liar yang tidak boleh diusik oleh kalangan mana pun.


Setelah perang di Gunung Dawai yang berakhir dengan kehancuran Kubah Pelindung, Kalau saja suku Penunggang Malam tidak turun tangan, maka bisa dipastikan ratusan juta orang telah tewas dalam beberapa hari ini.


**


Suku Wewe Gemut sendiri sangat sibuk membagi-bagikan makanan dan air bersih pada seluruh pengunjung.


Ratu Ulyi selaku tuan rumah, pertamanya enggan menerima suku Penunggang Malam serta jutaan rakyat yang terus berdatangan ke tempatnya. Tapi saat Ratu Hebi mengatakan bahwa Juli adalah Leluhur mereka, dan jika Juli ada di sana, mereka pasti akan disambut dengan baik. Karena alasan itu lah, maka tidak ada alasan bagi Ulyi untuk menolak mereka, apalagi saat Hebi mengatakan mereka telah berminggu-minggu mengarungi dua daratan benua untuk sampai di Kekaisaran Purba.


Bencana kemanusiaan telah menyebar luas, dan tak terbendung di setiap pelosok, setiap harinya ribuan orang terus terbunuh oleh siluman. Kota Teratai Langit dan Kota Singa sesak dengan jutaan pengungsi.


Putri Yara memiliki tugas besar yang diembankan padanya oleh Juli, dan hal ini jelas tidak bisa dilakukan hanya dengan empat Dewa Siluman saja, apalagi saat mengetahui pemasangan Aray Pelindung sungguh sangat sulit walaupun sudah ada keterangan dan rincian detailnya.


Putri Yara akhirnya memutuskan untuk membuat pertemuan bersama orang-orang kepercayaan gurunya, guna mencari solusi tentang tugas yang diembankan padanya.

__ADS_1


Kini, dalam Istana Wewe Gemut, semua orang kepercayaan Wali Agung di Bumi Barat telah berkumpul membentuk aliansi, seperti, Ratu Hebi, Ratu Ulyi, Putri Yara, Putri Mina, Ade Walikota Singa Selatan, Aira Walikota Lembah Teratai Langit, dan Sariek Din, dan ratusan sosok-sosok tingkat Dewa lainnya.


Ratu Ulyi sebagai tuan rumah memimpin rapat, walaupun Ulyi bukan yang tercerdas diantara lainnya, tapi setidaknya ia memiliki kharisma sebagai Ratu Wewe Gemut yang ditakuti.


“Yang Mulia Ratu Hebi, Bisakah aku tahu tujuan Yang Mulai Ratu datang kemari? Apalagi saat melihat kalian yang sangat terburu-buru, sampai membuang-buang banyak energi untuk berpergian sejauh ini yang membutuhkan waktu selama berminggu-minggu, pasti ada hal urgent yang membuat kalian sampai begini, bukan?”. Ulyi si Ratu Wewe Gemut penasaran, apalagi kali ini yang mendatangi mereka seorang Ratu Pengelana Agung yang sangat ditakuti.


Ratu Hebi terlihat sangat cantik, pakaian kebesaran ratu Hebi memang terlihat sederhana, tapi bahan pakaian terbuat dari material misterius yang tidak dapat ditembus benda pusaka tingkat langit sekalipun.


Raut wajah Ratu Hebi tidak baik, apalagi saat hawa keberadaan Dewa Leluhur mereka menghilang dari jangkauan deteksinya.


“Ratu Ulyi! Kami bangsa pengelana yang memiliki ikatan darah kuat, beberapa waktu lalu, kami merasakan leluhur kami dalam masalah serius, dan aku bisa merasakan hawa keberadaan leluhur di Bumi Barat, jadi kami bergegas kemari, walaupun kami sampai kemari setelah menempuh perjalanan berminggu-minggu, dan kami sedikit beruntung bisa datang lebih cepat dengan bantuan pintu-pintu portal.”


Ratu Hebi menjelaskan, kalau dia juga telah memasang beberapa pintu portal antar benua untuk mempercepat pergerakan Suku Penunggang Malam, dan pintu portal ini dia peroleh dari Kota Anggrek Salju dari Bumi Timur.


Ratu Hebi tidak menyangka kedatangannya masih saja terlambat, dan tidak bisa menyelamatkan dewa leluhur Suku Penunggang Malam, penyesalan ini hanya bisa ia tebus dengan menjalankan perintah terakhir leluhurnya, yaitu melindungi Kekaisaran Purba hingga Kubah Pelindung terbentuk kembali.


Mendengar penjelasan Ratu Hebi, yang kemungkinan besar Juli telah tiada, semua orang dalam ruangan itu menundukkan kepala dengan kesedihan yang mendalam, sebagian besar dari mereka menangis tersedu-sedu.


“Guru! Luka serius dan sekarat, tubuhnya hancur, tangan dan kakinya telah berubah menjadi kunang-kunang surgawi, aku hanya berharap guru bisa meninggal dengan tenang, kalau kulihat penderitaan yang dialaminya sekarang, kematian lebih baik baginya.” Aira menangis tersedu-sedu menutup wajahnya, setelah membuka mata spiritualnya.


Semua orang yang mendengarnya, menjadi semakin dilema dalam kesedihan mereka. Butuh beberapa jam bagi mereka untuk dapat menguasai perasaannya masing-masing, sebelum mereka bisa melanjutkan rapat kembali, dalam membahas solusi membangun Kubah Pelindung baru.


**

__ADS_1


__ADS_2