Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 78. Hana Berpetualang


__ADS_3

“Hey! Berhenti turun! Pelan-pelan!”


Perintah seorang komandan pasukan pada seorang kakek tua renta yang menjadi Joki kereta kuda, “B-Baik!” ucapnya pelan segera turun perlahan mematuhi.


“Hey! Tua bangka! Bukan kau saja! Siapa yang ada di dalam kereta, Woi, kalian turun juga, saat turun letakkan tangan di atas kepala” perintah kepala pasukan sembari memberi isyarat agar bawahannya menyiapkan busur untuk membidik orang yang akan turun dari kereta kuda.


“Baik kami akan turun!”


Tiba-tiba terdengar suara seorang anak kecil mulai membuka kain penutup pintu kereta, perlahan seorang anak cacat tangan memakai jubah hingga menutupi seluruh tubuhnya bergerak keluar, turunnya terlihat agak sulit karena ia ber-tongkat besi selanjutnya disusul oleh seorang pria kurus sakit-sakitan turun dari kereta kuda.


Semua pasukan tadinya bersiaga satu, kini mereka sadar kalau lawan mereka hanya dua orang sekarat yang tidak perlu diwaspadai,


“Oh! Kupikir kalian dua pendekar hebat, rupanya ayah dan anak cacat, hahaha, baiklah kalian berdua jalan kaki ikuti pasukan pengawal” perintah kepala regu pasukan pada pria kurus dan anak cacat itu.


Lima orang pengawal bergegas mencoba mengikat tangan pria kurus, tapi anak cacat itu bergerak cepat mengayun tongkatnya menghantam tiga kepala pasukan itu sekaligus.


Wuusss.. bruukk brukk! brukk!


Aaaakkhh...


Ketiga pasukan itu terpental jauh jatuh ke tanah dengan kondisi kepala hancur, anak itu melirik pada kakek tua renta yang bertindak sebagai Joki, “Kakek! Sekarang tugas mu telah selesai, dan bawa pulang paman Isura kembali” perintahnya cepat.


Anak cacat kembali menoleh pada pria kurus yang dipanggil Isura, “Paman! Kalian pulanglah! Sepertinya ini sudah tidak aman untuk kalian, terimakasih banyak telah membantu, mulai sekarang aku akan menghadapinya sendiri, khuk! Khuk!” perintah anak cacat terbatuk-batuk.


"Gawat! Apa yang terjadi" terdengar suara terkejut pasukan begitu menyadari rekan-rekannya mati mengenaskan karena serangan bocah cacat secara tiba-tiba, mereka benar-benar tidak menyangka bahwa bocah yang ditemuinya sangat mengerikan.


“Kepung mereka, Jangan biarkan mereka selamat” perintah ketua pasukan seraya mencabut pedangnya.


“Siap!” 


Belasan orang segera mengambil posisi mengepung, beberapa pasukan pemanah bahkan nekat menyerang langsung anak cacat yang telah membunuh rekan setimnya.


Swuss… swuss…


Juli bergerak cepat memutar tongkat menangkis anak panah, saat jeda anak panah beberapa detik anak cacat itu melompat tinggi menghantam mereka dengan tongkatnya, setiap pasukan yang terkena benturan tongkat dapat dipastikan mereka tidak akan selamat,


Aaaakkhh


Gerakan cepat anak cacat berhasil membunuh lima pasukan pengepungnya dengan mudah, di sisi lain keseimbangan tubuhnya agak terganggu saat dia harus berbalik badan menyerang ke arah pasukan lainnya, kesempatan itu di manfaatkan oleh pasukan kerajaan untuk lari ke pintu gerbang berniat mencari bantuan.


“Cepat lari… cari bantuan, kita tidak mungkin mengalahkan bocah setan ini, dia terlalu kuat” teriakan perintah kepala pasukan sembari berlari kencang meninggalkan pertempuran.


“I.. iya… ketua!”


Saat anak cacat melihat pasukan berlari mencari bantuan hal itu membuatnya senyum pahit, “Khuk! Khuk! Sial! Luka ini membuat ku tidak leluasa untuk bergerak cepat! Lompatan satu kaki ku masih tidak bisa ku kontrol sempurna sebab tubuhku masih terluka parah, namun aku harus menghentikan mereka sebelum sampai ke pintu gerbang” Juli mendorong kaki kanannya namun tubuhnya terasa amat kesakitan, “Aaaakkhh… aku tidak bisa memaksakan tubuh ku ini” gumamnya pelan.


Anak cacat melihat kearah Isura yang masih berdiri terpaku bersama seorang kakek tua renta yang sudah menaiki bangku Joki kereta kuda, “Apa yang kalian tunggu! Cepat pergi, sebentar lagi mereka akan kemari” perintah Juli cepat saat melihat kebingungan keduanya.


Dengan gemetar kakek tua itu memacu memutar arah kereta kudanya, “B-baik tuan kami akan pergi” ucapnya,


"Tunggu aku pak tua!" Isura segera melompat ke dalam kereta kuda ia mengerti bila tetap berada di sini adalah bunuh diri, “Tuan Juli! jaga dirimu baik-baik” teriaknya melambaikan tangan dengan perasaan khawatir.


Wuuusss…


Tiba-tiba sesosok anak perempuan memakai cadar berbaju lusuh melesat cepat melewati Juli mengejar pasukan yang mencoba melarikan diri, seraya menebas angin ke arah mereka.


“Tebasan udara!”

__ADS_1


Wusss….. wuusss...


Tebasan angin itu menciptakan angin padat membentuk sabit lebar dalam sekejap melesat cepat memotong apapun dalam radius 50 meter.


Brooomm!


Aaaakkhh! Aaaakkhh!


Dalam sekali tebas belasan pasukan terpotong menjadi dua bagian, Juli terbelalak menyaksikan kehebatan anak perempuan di depannya,


“Hana! Kau kemari?” suara spontan Juli terdengar kaget.


Anak perempuan itu perlahan mendekatinya sambil mensarungkan pedang biru miliknya, tatapan matanya mengandung kesedihan.


“Bang! Aku beberapa hari telah mencari mu kemana-mana, tadi pagi Aira mengatakan padaku kalau engkau berada di Bukit Merah, aku bergegas ke sana, beruntung dalam perjalanan aku menemui seorang ibu sekarat bersama dua orang putrinya yang sedang dirampok, lalu aku menolongnya konon ku ketahui mereka ingin pergi ke Lembah Teratai Langit karena saran dari mu, mereka juga mengatakan kalau engkau akan kemari, jadi aku segera menyusulmu” Jelas Hana dengan tatapan sedih.


Juli memalingkan wajahnya, “Hana.. aku sedang sekarat aku tidak mau menyusahkan orang lain, sekarang aku pun tidak bisa melindungi mu seperti yang dulu, Khuk khuk” Juli senyum pahit karena keadaannya tidak seperti sebelumnya.


Hana mengeleng-gelengkan kepadanya, “Bang! Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk terus mengikutimu walaupun kau akan membuang ku, akan tetapi jika itu juga bisa mengganggumu maka ambillah pedangku lalu bunuh lah aku, aku benar-benar kehilangan arah tanpa mu” Hana mengeluarkan padang biru menyodorkan pada Juli dengan tatapan serius.


Juli sedikit melebarkan matanya, ia benar-benar tidak menyangka Hana akan senekat itu,


“Khuk! Khuk! Hana, dengarkan aku, aku pergi takkan lama, aku hanya mencari batu kristal siluman untuk menyembuhkan luka ku, perjalanan kali ini sungguh sangat berbahaya, setelah itu aku akan menjemputmu dan mengajarimu kembali, percayalah padaku” Juli membujuk mencoba menyenangkan Hana.


Hana senyum pahit menundukkan wajah, air mata mengalir tanpa terasa membasahi pipinya, “Kau pikir diriku ini putri macam apa? Apa kau pikir aku akan membiarkan mu yang sekarat bertarung seorang diri melawan ribuan siluman demi mencari herbal untuk kesembuhan mu, sementara aku hanya menonton berpaku tangan tanpa menolong mu dan setelah kau berhasil aku memanfaatkan mu untuk melatih dan melindungiku kembali, aku sungguh tidak serendah itu” Hana merasa sangat terpukul dan bersedih hati.


Juli senyum mencoba menghibur, “Hana bukan begitu, kali ini lawan ku bukanlah siluman sembarangan, bisa jadi siluman tingkat legenda atau di atasnya, aku tidak memiliki tenaga dalam sedikit pun kali ini, jadi mustahil bagiku untuk menjamin keselamatan kita berdua agar bisa keluar hidup-hidup dari sana” jelas Juli lembut.


Hana menyeka air matanya, “Aku tidak peduli, aku akan mengikutimu walaupun ke neraka” ucap Hana penuh tekad.


Hana kembali senyum senang, “Baiklah! Kau harus berjanjilah untuk tidak meninggalkan ku lagi” Hana terlihat bersemangat bisa berpetualangan dengan Juli kembali.


“Hahaha, bukankah sudah kukatakan kalau aku bukan orang yang bisa memegang janji” ucap Juli terus mempercepat jalannya.


“Begitukah! Baiklah!”


**


Di depan Istana Kerajaan Embun.


Raja Darwan menelan ludah setelah mendengar jeritan demi jeritan dari dalam Portal Emas, ia dapat menduga para monster masih berkeliaran di dekat pintu portal sehingga jeritan terdengar olehnya.


“Celaka! Biro! Cepat seret masyarakat sampah ke dalam sana” teriak Raja memerintah jenderalnya untuk membawa masuk manusia-manusia tak berguna.


“Baik Yang mulia!” Jawab seorang jendral Biro memakai zirah perunggu, badannya tinggi besar berpangkat perak.


Wajah Biro terlihat tidak bersahabat, ia memberikan isyarat pada pasukannya untuk menyeret paksa semua orang masuk ke dalam portal kematian.


“Cepat! Seret mereka!”


“Cepat kalian masuk ke sana!”


Para pasukan kerajaan secara berkelompok-kelompok terus menyeret orang tua, anak-anak yang berjumlah belasan orang yang tersisa.


“Ampun! Ampun!”


"Ampuni hamba Yang Mulia! Ampuni Hamba"

__ADS_1


Terdengar teriakan ketakutan para warga miskin yang dijadikan tumbal, mereka terasa merinding hanya dekat dengan portal merah apalagi harus memasukinya.


Di saat semua orang enggan memasukinya, dua orang anak gembel bercadar yang hampir menutupi wajahnya berjalan bebas menghampiri Portal Merah, semua orang penasaran kini semua mata tertuju pada dua anak itu.


"Siapa Bocah ini?"


"Kenapa dia bisa kemari"


Terdengar pertanyaan para petinggi yang berada di sana, Raja Darwan justru menaruh curiga pada anak yang datang bukan dari tahanannya kini justru ingin memasuki portal tingkat emas.


“Bocah berhenti! Kenapa kalian menutup tubuh kalian, buka penutup wajah! Aku ingin melihat wajah kalian?” Perintah Raja Darwan menaruh curiga.


Seorang bocah menoleh ke arah Raja Darwan yang menghentikannya, “Raja, Bukan kah orang lain kau paksa masuk ke dalam portal ini, jadi kenapa tidak dengan kami?” tanya anak laki-laki cacat kini mulai bertongkat berjalan ke arah Raja Darwan.


Raja Darwan mengerutkan keningnya, “Hahaha, Bocah! Kau berani memanggilku 'Raja' begitu saja, sungguh tidak memiliki tata kerama, tapi sudahlah, kau buka penutup kepala dan bajumu aku mau lihat apa yang kau sembunyikan dari kami” bentak marah Raja Darwan sehingga semua mata kini teralihkan pada anak itu dengan berbagai pertanyaan.


“Anak gila! Apa yang dia pikirkan?”


“Entahlah, sekarang semua orang berlari ketakutan karena tidak bersedia memasuki portal itu”


“Hehehe, iya! Tapi anak ini justru datang sendiri ingin memasukinya, apa yang dipikirkan bocah itu”


“Kurasa dia sudah tidak lagi memiliki batu siluman, jadi dia nekat mencarinya di sana, hahaha”


“Iya! Dia bahkan membawa adiknya”


“Kalau aku penasaran ingin melihat wajahnya”


“Iya aku juga”


Terdengar beragam komentar pasukan yang berada di sana saat melihat dua orang anak tiba-tiba datang ke istana ingin masuk ke tempat pembantaian, tidak sedikit dari mereka menertawakan dua anak cacat itu.


Seorang anak laki-laki cacat segera melepaskan jubah dan penutup wajahnya agar tubuh dan wajahnya dapat dilihat jelas oleh Raja Darwan serta semua orang yang hadir di sana, begitu jubahnya diluncuti beragam komentar keterkejutan langsung terdengar.


"Panntat brasap! Mahkluk apa itu?"


"Apa dia manusia?"


“Apa itu? Dia terluka parah!”


“Ini sungguh mengerikan! Tubuhnya sudah tidak bisa lagi di sembuhkan”


“Apa-apaan ini, pantas saja dia mau membuang diri, rupanya dia sedang sekarat”


Semua mata kini terbelalak melihat luka di sekujur tubuh anak cacat yang bisa dikatakan sangat mengerikan, sehingga banyak di antara mereka yang menutup hidung dan sebagian menutup mata mereka,


Raja Darwan sendiri beberapa kali menelan ludah sembari menutup hidungnya, ia segera mengibaskan tangannya memberi isyarat angar anak itu segera pergi dari hadapannya,


“Pergilah kalian berdua! Lekaslah masuk ke sana, untung saja anak-anak seperti kalian tahu diri untuk tidak menyimpan bangkai di kerajaan ini” Raja Darwan terlihat ingin muntah saat melihat luka parah anak laki-laki cacat.


Anak cacat kembali mengenakan jubahnya sambil mengajak temannya, “Ayo Hana saatnya memanen!” bisiknya pelan seraya melangkah maju memasuki pintu Portal Merah yang di ikuti oleh anak perempuan misterius.


Semua pasukan memberi jalan, tidak ada yang berani menyentuh kedua anak itu takut tertular penyakit sehingga keduanya dapat leluasa memasuki portal emas yang sangat mengerikan itu.


“Dasar anak manusia tak berguna” gumam Raja Darwan pelan menggeleng-gelengkan kepalanya.


**

__ADS_1


__ADS_2