
Di dalam istana reruntuhan Kerajaan Kerdil Barat, terdapat ruang utama dengan ukuran lebih dari sepuluh hektar luasnya.
Dinding istana kokoh, dibangun dari batu pualam putih, dalam istana terdapat pilar-pilar yang dipahat berbentuk patung-patung pahlawan bangsa Kerdil dimasa kejayaannya.
Istana ini memiliki seribu ruangan umum, dan puluhan ruangan rahasia, baik terdapat pada tempat tertentu maupun tersembunyi di bawah tanah.
Bangunan ini memiliki dua puluh menara tinggi yang mengelilingi, dan satu menara utama yang terletak di bagian tengah istana, ukuran menara utama lebih besar dan tinggi daripada 20 menara lainnya.
Fungsi menara untuk pertahanan baik untuk pertahanan darat maupun udara, menara ini bisa juga digunakan untuk memantau pergerakan musuh saat peperangan terjadi.
Seorang anak berusia 8 tahun duduk di singgasana rusak,ditemani seorang wanita tua suku Wewe Gemut, di hadapannya terdapat ribuan suku Wewe Gemut bertekuk lutut memberi hormatnya.
Sorot matanya tajam menyapu seluruh ruangan, ia dapat melihat semua Wewe Gemut yang hadir memiliki kemampuan bersembunyi dengan baik.
“Bangsa Wewe Gemut! Aku Juli, Raja kalian untuk saat ini, Hari ini akan ku umumkan pada kalian, dari saat ini tidak ada lagi permusuhan antara suku Wewe Gemut dengan manusia, oleh sebab itu, Aku menginginkan tempat ini dikembalikan kepada masa kejayaannya. Dan, aku juga akan menghapus kutukan kalian, mulai hari ini dan seterusnya, kalian bebas keluar masuk dari wilayah Reruntuhan Kota Kerdil. Tapi aku menginginkan kalian tetap tinggal disini dan membantu mengembangkan pertanian di kerajaan ini. Ulyi akan menjadi menteri pertanian. Untuk ke depan jika Ulyi mampu mengolah, maka kerajaan ini akan kuserahkan kepadanya”. Juli berkata pelan, namun suaranya terdengar oleh seluruh penduduk Wewe Gemut.
“Huraaaa!”
“Huraaaa!”
Semua bangsa wewe gemuk bersorak gembira, selama ribuan tahun mereka terkekang, tidak melihat wilayah lain selain reruntuhan Suku kerdil kuno yang mereka tinggal ini. Hilangnya kutukan kuno seperti ini jelas membuat hati mereka bahagia.
Seterusnya, Juli mengungkapkan niatnya untuk membangun kembali reruntuhan kota kerdil, dan meminta persetujuan mereka agar suku kerdil diizinkan kembali ke kampung halaman dan diperlakukan setarakedepannya.
Juli melakukan ini karena ia tidak mau ada perselisihan antara suku kerdil dan Wewe Gemut dimasa depan, yang membuat pertikaian kembali terjadi.
Hal hal ini tentu saja ditentang oleh sebagian Wewe Gemut fanatik, akan tetapi Juli memberikan pandangan kepada mereka.
Kota ini telah dihuni oleh bangsa Wewe Gemut selama ribuan tahun lamanya, akan tetapi semua gedung-gedung bukannya membaik dan terurus, tapi justru berlumut tak terawat, bahkan terkesan seperti kota hantu.
Juli menyampaikan nasehat-nasehat dan pandangannya untuk saling menghargai dan melengkapi dalam kehidupan.
Nasihat ini, Juli peroleh dari gurunya, dan berhasil membuat mata Wewe Gemut terbuka dalam memandang kehidupan.
Pada dasarnya, suku Wewe Gemut bukan saja tidak pandai dalam membuat bangunan, mereka bahkan tidak mampu mengurus bangunan yang telah ada.
Selain itu, Wewe Gemut bangsa penggali tanah, gua-gua dan liang-liang sering kali dijadikan sebagai tempat tinggalnya.
__ADS_1
Setelah Juli berhasil membujuk mereka, Juli menyerahkan beberapa kristal untuk diletakkan di seluruh perbatasan wilayah Kerajaan Kerdil Kuno, untuk membuat Aray kutukan baru.
Juli juga memberikan beberapa botol cairan kutukan penguasa jiwa, dan beberapa botol kutukan lainnya pada Ulyi agar bisa diproduksi secara massal.
Dalam sekali lihat, Ulyi sudah mengetahui fungsi dan manfaat semua cairan sihir yang berada di tangannya, tanpa harus dijelaskan panjang lebar seperti yang lainnya.
Juli hanya bisa terkekeh, ia tahu bahwa Ulyi maniak sihir, jadi segala sesuatu yang berkaitan dengan sihir, ia akan cepat mempelajarinya.
Belum selesai Juli mengatakan rencananya, tiba-tiba seorang bangsa Wewe Gemut datang menghadap dengan nafas terengah-engah.
“Buya Leluhur! Aku melihat pergerakan ribuan pasukan Cabak Iblis menuju ke reruntuhan wilayah selatan, tempat yang leluhur dirikan beberapa hari lalu, aku rasa mereka ingin menyerangnya”.
Juli menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Nah sekarang aku dalam masalah, kali ini biarkan aku menghadapi mereka sendiri, Aku tidak mau kalian terlibat sekarang, tapi untuk ke depannya, aku memang melarang kalian untuk memakan manusia, tapi aku tidak melarang kalian untuk membunuh bagi siapa saja yang berencana menyerang tempat ini”.
Juli tertawa sembari bangkit dari singgasana, beberapa detik kemudian ia menghilang bagaikanhembusan angin, diganti kan dengan kemunculan Pemimpin Qore beserta puluhan Suku Wewe Gemut lainnya secara bersamaan di ruang itu.
“Bukankah kalian telah menghilang sebelumnya! Qore! Bagaimana kau bisa muncul di sini?”
Semua tahu Qore beserta puluhan teman bersamanya ini menghilang setelah terkena segel Juli saat pertempuran beberapa hari sebelumnya.
“Dewa! Tuan! Tolong jangan hukum kami, dimana dia? Di mana Dewa itu?”
Semua orang dalam ruangan itu kebingungan melihat reaksi Qore dan yang lain, tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka sebelumnya.
Hanya Aura kegelapan yang merembes keluar dari tubuhnya yang membuat Ratu Ulyi berkeringat dingin.
“Kutukan Neraka Para Dewa! Buya, siapa kau sebenarnya.”
**
Reruntuhan Kerajaan Kerdil wilayah selatan yang awalnya hutan lebat, kini telah berubah menjadi sebuah kota kecil bernama “Kota Singa Selatan”. Nama ini jelas terpampang pada sebuah pamplet besar di pintu gerbang kota.
Kota Singa Selatan, baru dibangun kembali dalam beberapa hari, bentuk bangunan agak berbeda dengan aslinya, bangunan ini dibuat lebih kokoh mengikuti gaya terbaru serta terlihat lebih rapi dan elegan.
Secara keseluruhan bangunan ini masih jauh dari kata sempurna, untuk menyempurnakannya pun membutuhkan waktu yang lama, tapi benih-benih permusuhan dari kerajaan serta berbagai aliran hitam mulai bermunculan.
Di sisi lain, dalam beberapa hari ini Kota Singa Selatan terus berdatangan ratusan pengungsi, mereka umumnya orang-orang lemah yang tertindas dari berbagai daerah di wilayah Kerajaan Embun Barat.
__ADS_1
Mereka berpikir tempat ini tempat yang aman untuk didiami, tapi dugaan mereka salah. Sekarang ribuan orang sekte Cabak Iblis telah bergerak ke kota singa untuk berperang.
Di ruangan atas menara utama, seorang pria kurus ditemani seorang gadis cantik jelita dan anak perempuan bangsa siluman. Ia berdiri tegak memantau pergerakan Pasukan Sekte Cabak Iblis. Raut wajahnya pucat, tatapannya terpaku pada ribuan pasukan yang bergerak serempak ke arah kota.
“Gawat! Putri Yara, Apa yang harus kita lakukan, jumlah mereka ribuan orang, kita pasti mati di sini! Aku tidak berpengalaman dalam strategi perang sama sekali.” Pria itu meminta pendapat pada gadis cantik di sampingnya.
“Ade! Aku rasa pertahanan kota ini sudah sangat kokoh, untuk membunuh mereka kau tinggal memanfaatkan busur di empat sisi menara pertahanan, selebihnya biar pasukan Kuntok yang berperang di garis depan”. Putri Yara memberi saran.
Putri Yara seorang jenius dalam strategi, akan tetapi ia terlalu malas mengemukan pendapatnya secara rinci, karena Putri Yara sangat bosan mengajari seseorang, apalagi tingkat Ade yang sama sekali tidak mengerti strategi perang.
Dalam sekali lihat Putri Yara bisa memprediksi peluang kemenangan dalam peperangan ini, apa lagi saat menyadari musuh umumnya rakyat biasa hanya berpangkat putih. Putri Yara memang kehilangan tenaga dalam akan tetapi bukan kemampuan fisiknya, jadi kalau dia terjun dalam peperangan bisa dikatakan ia hanya membantai mereka semua.
‘Aku jadi kepikiran, ada apa sebenarnya ini? Aku malahan ini semacam taktik yang digunakan, bagaimana seorang pemimpin membawa ribuan orang lemah kehutan kegelapan seperti ini, kalau bukan sebagai tumbal belaka, aku yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres disini’. Batin Putri Yara.
“Aku bisa melihat dengan jelas mereka dari kalangan rakyat biasa, untuk berperang dengan mereka bisa dikatakan kita masih ada peluang untuk menang, itupun jika aku dan Putri Yara turun tangan, tapi aku juga merasakan sedikit ganjil”, Bocah siluman itu memberikan pendapat yang juga hampir serupa seperti dipikirkan Putri Yara.
Sementara Ade terlihat sangat panik, ia terus meremas kepala kebingungan, “Aku tidak menyangka, di saat seperti ini yang mulia pergi, ini sungguh berat untuk kita hadapi, Baiklah! Kalau begitu, mari kita bersiap-siap untuk berperang!”. dengan wajah pucat Ade mulai mengambil keputusan.
Tiba-tiba dari arah pintu gerbang terdengar keributan, sehingga menarik perhatian ketiganya untuk memeriksa.
Didepan gerbang, seorang remaja berumur belasan tahun dengan dua golok terselip dipinggangnya sedang beradu mulut dengan kepala penjaga. Dari gaya membawa golok, siapapun bisa menebak kalau dia seorang pendekar golok ganda.
“Biarkan aku masuk! Aku Jecki si Golok Ganda dari Lembah Teratai Langit, walikota kami memiliki informasi yang sangat penting untuk disampaikan pada pimpinan kalian!” Teriak Jecki, berusaha menerobos penjaga pintu.
“Bersabarlah! Tunggu petinggi kami dulu! Lagi pula kau tidak bisa masuk ke tempat ini tanpa minum cairan merah ini,”
Seorang kakek menahan Jecky sembari memperlihatkan cairan kutukan budak darah padanya. Sontak pemuda itupun kaget, karena cairan ini sangat dikenalnya.
“Apa? Cairan budak darah! Siapa sebenarnya kalian?” Tanya Jecki penasaran.
“Ada apa ini rebut-ribut!” Mina bertanya pada Jecki, karena dia sudah pernah mertemu dengan Jecki sebelumnya.
“Eh! Nona? Kenapa anda berada di sini? Apa Nona pemimpinnya? Oya! Aku ada berita penting dari Wali Kota Lembah Teratai Langit”.
“Baiklah! Mari kita bicara didalam!”
**
__ADS_1