Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 105. Juli VS Lima Pengawal Istana Kekaisaran Bumi Tengah


__ADS_3

Langit biru di Kota Embun biasanya terlihat indah dan terkadang awan-awan putih membentuk rupa-rupa yang beragam, dan itu tentunya sesuai dengan imajinasi Masing-masing bagi mereka yang melihatnya.


Berbeda dengan sekarang, sekarang di langit biru telah berdiri seorang anak berusia delapan tahun dengan sebilah pedang bercahaya ditangannya. Anak kecil ini dikepung oleh lima orang dewasa yang memiliki aura pembunuh mengerikan.


Tatapan lima orang itu tajam dan penuh amarah, seolah mereka ingin menelan anak kecil itu hidup-hidup.


“Bocah! Kalau saja kau berasal dari bangsa manusia, kami pasti sangat bangga, akan tetapi kau ini bangsa siluman dan bangsa itu harus kami musnahkan di muka bumi!” Seorang gadis cantik jelita memberi tanggapannya.


Anak berusia delapan tahun ini senyum dingin, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit yang luar biasa akibat teknik terlarang yang digunakannya, akan tetapi semangat juang dimatanya membuktikan penderitaan yang dialami sekarang bukanlah apa-apa baginya.


“Putri Yara! Kau salah, aku ini bukan siluman tapi manusia biasa seperti dirimu, dan umurku juga basih delapan tahun, tapi apa perkataanku ini penting buat kalian sekarang? Karena kalian berencana ingin memusnahkan orang yang berkaitan dengan Putri Rihana maka aku akan termasuk didalanya, lagi pula, aku tidak berencana melepaskan kalian”


Juli mulai mengeluarkan kekuatan inti petir dalam ranah jiwanya. Kelima manusia tingkat dewa inipun menjadi semakin marah, mereka yakin kalau bocah didepannya itu sedang merencanakan sesuatu, dan pastinya apapun itu bukanlah hal yang menguntungkan mereka.


“Beraninya kau menipu kami siluman! Tidak ada anak manusia yang memiliki teknik-teknik iblis seperti mu, kau itu siluman terkutuk! Kau masuk ke kubah pelindung bersama Dewa Iblis Lembah Langit, dan kami juga tahu kalau Raja Embun Barat juga salah satu bawahan Dewa Iblis, kau jangan sok suci siluman! Aku juga tahu kalau raja sengaja menciptakan pintu portal dengan Artefak kuno untuk mengirim semua manusia ke Tanah Parasit” Seorang kakek tua buntung membentak Juli dengan penuh emosi.


Juli menundukkan kepalanya dan mulai berpikir, “Apa Benar Raja Embun Barat bawahan siluman? Tapi kalau kulihat dari sepak terjangnya memang masuk akal” Juli menggaruk dagu mencoba berpikir jernih.


‘Di Kehidupanku sebelumnya, banyak orang yang terbantai disini, bisa dikatakan kubah pelindung ini bukanlah sebuah pelindung namun perangkap kutukan, aku tahu cara melepaskan kutukan ini, tapi apa aku akan baik-baik saja setelah pertempuran ini? Tidak aku harus selamat, kalau tidak sangat banyak rakyak yang akan mati, aku tidak mau lagi menyaksikan anak-anak dan bayi meninggal dipangkaun ibunya, aku seorang kaisar! Tantangan ini hanya debu dimataku’ Batin Juli dan mulai memaksa diri menggunakan hukum Dewa Es.


Pada saat Juli termenung, kesempatan itu dimanfaatkan oleh lima orang tingkat dewa untuk menyerangnya secara diam-diam.


“Tebasan Pedang!”


“Cakar Hantu!”


“Tarian Pedang Iblis!”


Semua manusia dewa itu menyerang secara bersamaan menggunakan hukum ruang, Juli terus memutarkan pedang menangkis dan menyerang dari lima arah sekaligus. Pertempuran yang menggentarkan bumi serta menyebabkan gelombang kejut dahsyat kembali terjadi.


Hana tergeletak berada beberapa kilometer jauhnya dari tempat pertempuran para dewa, namun goncangan tanah dan gemuruh dahsyat hampir tidak terlepas darinya.


Hati hana perih saat melihat Juli dari kejauhan, Juli bertarung bagai singa buas melawan lima dewa seorang diri.


“Senior! Kenapa bisa begini? Kenapa dunia ini begitu serakah? Kenapa orang baik selalu harus menerima petaka? Aku tidak mau seniorku mati karenaku, kenapa dunia begitu egois! Padahal aku tidak minta dilahirkan untuk menjadi seorang putri, tidak pula aku mau merebut tahta, apa yang kuinginkan hanyalah kebebasan, bebas seperti burung, tapi masih adakah kebebasan itu?”


Hana menjadi putus asa, apalagi saat melihat Juli berjuang dengan gigih memperjuangkan nasibnya. Juli telah menerima belasan tebasan, namun dia terus meraung dilangit menyerang dengan berbagai teknik-tekniknya.


“Ayo semuanya habisi bocah iblis ini! Jangan biarkan dia beristirahat” Teriak marah Pria Bertopeng biru.

__ADS_1


Setelah bertarung selama dua jam Juli terlihat sangat kelelahan, kelima dewa telah menyegel ruang disekitar area pertempuran sehingga hukum ruang tidak bekerja disini.


“Apa kalian pikir menyegel ruang dengan menggunakan artefak murahan itu dapat menghentikan langkahku?” Juli terus menyerang dengan pedangnya.


Lima Dewa terlihat terdesak oleh sambaran petir dan tapak es, mereka tidak menyangka akan terdesak oleh anak berumur delapan tahun.


“Bocah iblis! Kuakui kau sangat hebat, aku kira dengan menyegel ruang kami dapat memanfaatkan pertarungan fisik, namun tidak taunya kau memiliki teknik tingkat dewa yang sulit kami pahami” Kakek Tua Buntung semakin marah.


Dalam pertarungan Juli memang menang, akan tetapi, tubuhnya mulai terkelupas dan terkikis oleh dua hukum Petir dan Es.


‘Aku telah mencapai batasku, tidak! Aku harus mempertahankan kesadaranku, aku harus menggunakan kekuatan penuhku, walaupun aku harus hancur tapi kali ini aku benar-benar harus menggunakan tenaga dalam dewa leluhur’ Batin Juli dan ia mulai meyimpan pedangnya dan bersiap menggunakan teknik lainnya.


“Sekarang! Saatnya kita mati bersama” Senyuman Juli dingin matanya terpaku pada kakek tua buntung seolah Juli tidak ingin melepaskannya.


Juli menggingit lengannya hingga mengeluarkan darah kehitaman, Api Hitam Putih terlihat menyala-nyala pada darahnya.


Kali ini kelima dewa itu merasa ngeri, mereka dapat menduga kalau anak didepan mereka ini tidak sedang bercanda.


“Gawat! Ini berbahaya, anak iblis ini mau melakukan sesuatu yang akan merengut nyawa kita”


“Benar! Sepertinya dia ingin bunuh diri bersama kita”


Kelima Dewa mau melarikan diri, namun mereka tidak yakin bisa melakukannya. Rasa putus asa kini mulai terlihat diwajah kelima dewa. Putri Yara menyadari anak didepannya ini bukanlah anak biasa namun setiap tindakannya sangat mematikan, dan Jika Juli bertindak kali ini maka bisa dipastikan semuanya akan mati atau setidaknya luka parah.


“Putri Yara!” Panggilan panik dan putus asa Suru si Darah Iblis saat melihat Putri Yara mengorbankan diri untuk mereka.


“Tidak ada waktu untuk berdebat! Kita semua telah terluka parah, ini kesempatan satu-satunya untuk selamat, cepat bawa pulang Putri Rihana bersama kalian” teriak Putri Yara yang kini mulai merasakan ajal akan segera menjemputnya.


“Majulah bocah! Sekarang aku lawanmu!”


Putri Yara mencabut pedangnya dan mengeluarkan seluruh tenaga dalam berencana menahan serangan bocah misterius didepannya.


Juli senyum dingin, matanya menatap tajam Putri Yara yang terlihat ketakutan dan panik,


“Apa kau pikir dengan mengorbankan nyawamu mereka bisa kabur? dariku"


“Celaka! Cepat lari, gunakan artefak ruang waktu cepat!” Teriak panik Kakek Tua buntung karena saat melihat Juli sudah seperti momok menakutkan baginya.


Dalam keadaan putus asa, keempat Dewa melesat cepat menjauh dan menggunakan Artefak Ruang Waktu untuk berpindak ketempat pembaringan Hana.

__ADS_1


Juli menjadi murka dan dia melesat cepat terbang kearah Hana namun Putri Yara menghadang langkahnya.


“Takkan kubiarkan kau melewatiku!” teriak Putri Yara mencoba menahan laju pergerakan Juli dengan pedangnya.


“Tinju petir!”


Juli meninju perut Putri Yara, Putri Yara bergerak cepat menagkis tinju Juli dengan pedangnya. akan tetapi ini bukan tinju Juli sebelumya, tinju ini mengandung tenaga Dewa Petir.


Tubuh dewa setingkat Yara bukanlah sesuatu bagi tinju Dewa Petir ini. Pedang pusaka milik Putri Yara patah menjadi dua dan tinju itu melesat cepat menembus perutnya.


“Tidak! Putri Yara!”


“Putri Yara!”


Semua mata terbelalak kaget, tidak ada diantara lima Dewa yang menyangka bahwa anak delapan tahun itu akan semengerikan ini. Rasa putus asa yang mendalam kini mulai mereka rasakan, apalagi saat melihat bocah kecil itu mulai bergerak kearah mereka.


“Celaka anak itu sangat kuat, kalau dari pertama anak itu menggunakan kekuatan penuhnya aku bahkan tidak berani melangkah sejauh ini”


“Tidak ada gunanya! Cepat angkat Hana dan kita pergi dari sini sebelum terlambat”


Pria bertopeng hijau segera mengankat tubuh Hana dan ingin membawanya pergi, akan tetapi Hana memberontak dan menegakkan posisi tubuhnya untuk berdiri, dan merekapun membiarkannya.


"Lepaskan aku, biarkan aku berdiri" Hana menatap kelangit ketempat Juli berada, air mata Hana mengalir deras.


“Senior! Senior Juli! Jangan bunuh dia, dia itu satu-satunya kerabat setiaku yang masih tersisa, Biarkan aku pergi, aku akan baik-baik saja, senior! Jangan mengejar lagi” Teriak tangis Hana. Hana tidak rela melibatkan Juli terlalu jauh, karena itu dapat membunuhnya.


Hana menatap punggung Putri Yara yang terlihat buruk dan ia dapat menduga Putri Yara akan segera menghembuskan nafas terakhirnya, namun ini bukan salah Juli akan tetapi salah mereka yang sengaja merancang perselisihan ini.


Hana pada dasarnya sangat menyayangi Putri Yara, begitu Juga sebaliknya, namun suasana politik kerajaan memaksa Putri Yara untuk mencari dan menyelamatkan Hana. Putri Yara sendiri tidak mengetahui kalau dirinya dijebak hingga berakhir maut di tangan Juli.


Juli perlahan menarik tangannya dari perut putri Yara. Putri Yara beberapa detik mempertahankan kesadarannya sebelum jatuh ke bumi.


“Putri Yara mati!”


“Kita bukan lawan bocah itu, ayo pergi!”


Mereka menelan ludah, serta tidak ada satupun dari mereka berencana balik untuk mengambil tubuh Putri Yara, ketakutan telah memenuhi ruang hati mereka, kini mereka malah kabur lewat artefak portal yang diciptakan.


Juli ingin mengejar Hana, namun tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan lagi dan iapun jatuh ke bumi tidak lama setelahnya.

__ADS_1


"Hana, Tunggu aku"


**


__ADS_2