Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 128. Buli vs Juli


__ADS_3

Juli mengeluarkan sebilah pedang pendek dari cincin ruang sesuai dengan ukuran tubuhnya, Juli senyum begitu melihat Buli yang berusaha bangkit kembali dari tempatnya terpuruk jatuh.


“Namamu Buli kan?” Tanya Juli pada manusia setengah monster.


Dengan nada berat Buli menjawab, “Iya! Kok kamu tahu?” Tanya Buli penasaran, Sepengetahuannya ia belum berjumpa dengan Juli sebelumnya.'Apa aku sangat terkenal’ Batin Buli dengan senyum  penuh makna.


“Dodol lu! Dari tadi semuanya teriak buli-buli! Kenapa pula aku tak tau? Hehehe,” Juli semakin penasaran dengan tingkah manusia setengah monster ini.


“Lha! Kalau sudah tahu, kau pikir kau bisa selamat dariku?” Buli bersiap menyerang Juli kembali.


Juli senyum mendekati Buli, berbicara setengah berbisik, “Hm.. Kamu itu sepertinya biasa membuli orang ya? Sekarang giliran mu untuk merasakannya, hahaha.” Juli tawa terkekeh.


“Sial! Kok kamu tahu?” Buli semakin penasaran, memang selama ini Buli sering membuli bawahannya, tapi inilah dunia persilatan, dunia para Pemburu Kegelapan.


“Iya tau dong! Bahkan Orang tuamu saja memberikan namamu ‘Buli’ kalau tidak, kan pasti dipilih nama yang indah lainnya, seperti Marco, Yosyi, atau apalah! Yang lebih keren, hehe.” Juli tertawa menutup mulutnya.


“Bukan! Bukan begitu, nama kami bukan Bula-Buli, Cuma si Autor sialan itu sulit sekali mengingat nama kami, makanya dikasih nama suka ati. Lagian, coba kamu pikirkan! Masak Bula-Buli! Orang tua mana yang semalas itu untuk mencari sebuah nama untuk anaknya! Jatuh martabatku gara-gara panggilan Bula-Buli ini, nama asliku “Berly”.itu kembaran ku namanya “Burshel”, tau namaku di tulis apa? Bula-Buli bersaudara, sial!, udah ku protes dua kali, tapi tatap saja Autor sialan itu parah kali dalam mengingat nama, dari pada nama kami di panggil “beri” dan “buset”, ya sudahlah Bula-Buli saja,”. Monster itu terlihat menggaruk-garuk kepala dengan wajah kebingungan.


“Iya juga sih, aku juga tau! Pokoknya kalau Autor ada penyakit lupa nama orang, Seperti Yara, Nama Aslinya “Yasira Amanda” ditulis “Yara”! Ampun deh! Nie orang, tapi masih mending, dari pada yang lain hanya dipanggil hanya “hai-hai” saja, Ingat! kau bisa saja menghilang dalam tiba-tiba kalau terus memaksa, soalnya dia nggak ada konsep semacam Lis nama gitu, jadi hati-hati, jika kau memaksa nama seperti apa tadi? Aku ikut kelupaan! Tolong tulis Bang Autor”. Juli mengingat-ingat.


“Buli!”


“Nah kan, salah lagi! Berly! scroll keatas dikit napa! Dasar! kristal yang dipakai juga kristal jadul, layar kristal kekecilan, kenapa nggak ke aula utama sana, di sana ada kristal umum ukurannya besar”. Buli bergerutu sendiri, sementara Putri Yara kebingungan memperhatikan mereka yang sedang sibuk berbicara setengah berbisik-bisik.


“Juli! Bukankah kau katakan tadi rencanamu ingin memperlihatkan teknik pedang, kenapa pula kau terlihat setengah bisik-bisik dengan manusia setengah monster itu?Apa yang kau rundingkan dengannya.” Putri Yara bingung atas sikap mereka.


Mendengar teguran Putri Yara, Juli melompat mundur beberapa langkah, “Ma.. maaf Putri Yara, aku hanya sedikit menakut-nakuti mereka tadi, Hehe, Buli! Aku Sungguh tidak ingin membunuh ras manusia yang telah berada diambang kepunahan, tapi kau telah bergabung dengan pasukan Iblis, dan aku akan menghentikanmu”. Juli menjelaskan dengan tatapan dingin.


“Bocah! Jika kau menyayangi nyawamu, maka pergilah! Aku tidak tertarik dengan bocah ingusan sepertimu, aku hanya tertarik bermain dengan gadis cantik itu!” Buli menuju ke arah Putri Yara.


“Orang lemah! Jangan banyak bicara, majulah!” Juli menghunus pedangnya dengan santai.


Buli menjadi marah, ia Memberikan isyarat pada pasukannya untuk menyerang terlebih dahulu.


Grooor!


Pasukan Cabak Iblis langsung menyerang Juli secara brutal, mereka menggunakan cakar-cakar tajam dan beracun untuk melumpuhkan lawan.

__ADS_1


Buli memanfaatkan situasi, ia langsung menyerang Juli dengan sangat cepat di setiap celahnya.


“Bagus! Majulah semua!” Juli menyambut pedang dan cakar mereka dengan santai dengan tenaga tubuhnya saja. Juli sengaja bertarung tidak menggunakan tenaga dalam, agar teknik pedangnya dapat dipelajari oleh Putri Yara.


“Perhatikan cara menahan dan menyerang, kau tak perlu menggunakan tenaga dalam untuk ilmu pedang ini, cukup dengan mata jiwamu saja, ini namanya Teknik Bidadari Awan!” Juli menjelaskan sembari memperhatikan Yara yang juga sedang memperhatikan dirinya.


Melihat Juli seolah meremehkan pasukan Cabak Iblis, Buli menjadi semakin murka, gerakannya dipertajam melebihi gerakan sebelumnya.


“Gerakan Ke-empat! Pedang Membelah Gunung!”


Pedang Buli berubah menjadi 5 bilah sekaligus, secara bersamaan menebas ke beberapa bagian tubuh Juli yang berbeda. Untuk menutup celah agar Juli tidak bisa menghindar, beberapa cakaran pasukan aliansi segera menghujaninya.


Gerakan pertama! Jiwa Pedang Bidadari!


Gerakan Juli bukan mundur, tetapi secara bersamaan pula dia menangkis semua tebasan pedang dan cakaran, sekaligus menggores leher mereka semua dalam waktu bersamaan.


Mata Putri Yara terbelalak, “Teknik yang mustahil! Jika dia mau membunuh maka mereka semua akan mati dalam satu serangan. Teknik pedang ini sungguh gila!” Putri Yara Kehabisan kata-kata dalam menukil keterkejutannya.


Semua pasukan Cabak Iblis merasakan dingin di leher, darah mengalir dari goresan yang telah diciptakan oleh musuhnya.


“Tidak! Ini tidak mungkin, kecepatan gerakannya seimbang dengan kita, tapi tekniknya dalam melukai kita semua diluar akal sehatku, itu benar-benar sesuatu yang tidak masuk akal, gerakan pedangnya bisa menangkis, secara bersamaan menyerang! Teknik penghancur gunung tingkat keempat yang ku banggakan bahkan seperti tikus di depan singa yang sesungguhnya, ini sungguh menggelikan.” Gumam Buli berkeringat dingin.


Putri Yara kehabisan kata-kata, matanya bisa merekam gerakan Juli, tapi untuk mempraktekkan mungkin butuh sepuluh tahun paling cepatnya.


Juli melompat mundur beberapa langkah, “Bagaimana Putri Yara! Itu gerakan pertama, sekarang lihatlah gerakan kedua!” Juli senyum santai menunggu pasukan Cabak Iblis menyerangnya lagi.


Benar saja, Buli dengan marah menggunakan seluruh kemampuannya untuk menebas Juli secepat yang dia bisa, dan disusul oleh pasukan Cabak Iblis lainnya. Hawa pembunuh yang dikeluarkan sangat pekat hingga menekan siapapun yang berada di sekitarnya.


“Mau mempermainkan kami bocah, dalam mimpimu!”


Tebasan kali ini, jauh lebih brutal dari sebelumnya, Buli mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyerang Juli dengan pedang. Bisa dikatakan ini serangan terbaik sepanjang hidupnya.


Gerakan Kelima! Pedang Penghancur Alam!


Gerakan Kedua! Bidadari Maut!


Juli bergerak dengan lincah menusuk bagian-bagian vital diantara celah kelemahan mereka dengan tepat. Kali ini mereka benar-benar tidak mampu bergerak, badan mereka mematung seperti arca. Buli tidak percaya sama sekali dengan kekalahan ini, dalam sekali gebrakan saja mereka telah berhasil dilumpuhkan dengan sempurna.

__ADS_1


“Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa memiliki teknik yang sangat sulit dipelajari, seumur hidupku baru kali ini aku melihatnya.” Buli jatuh berlutut serta jantung mengeluarkan darah hitam.


Hal senada juga dirasakan oleh seluruh pasukan Cabak Iblis lainnya. Perlahan tubuh mereka kembali ke bentuk semula.


“Hah! Buli! Aku berharap kalian bisa bertahan sampai gerakan ke-10 saja, tapi kalian bahkan terbunuh di langkah pertama, jurus kalian sungguh menyedihkan.” Juli menoleh ke arah Putri Yara.


Putri Yara telah berlutut di tempatnya, Dia memberi hormat pada Juli, hal ini membuat Juli sedikit terkejut dengan sikap Yara, akan tetapi sebelum Juli sempat berbicara Putri Yara menundukkan kepalanya.


“Ketua Kecil dari Timur! Terimalah aku sebagai muridmu.” Putri Yara memohon.


Kali ini, Putri yang benar-benar mengakui Juli sebagai orang paling jenius di dunia. Betapa tidak, seumur hidupnya ia tidak pernah melihat orang yang memiliki kemampuan mendekati teknik pedang yang diperlihatkan Juli hari ini.


Putri Yara kini sadar, bertemu dengan Juli merupakan satu anugerah paling besar yang pernah dia dapatkan seumur hidup, dan kesempatan ini tidak mungkin di lewatkan.


‘Ah pantas saja, Putri Rihanna menyebutnya sebagai senior, rupanya, tingkat ilmu pengetahuanku saja tidak ubah seperti katak di bawah tempurung bila berhadapan dengan guru.’ Putri Yara membatin.


Juli mengibaskan tangannya, “Sudahlah bangun! Aku sudah menerimamu sebagai murid, tapi dengan satu syarat, kau itu tidak perlu sombong, bersikaplah rendah hati, tapi jangan rendah diri”. Juli tawa kikikan seolah ia tidak menganggap hal ini sama sekali.


Pada dasarnya, Putri Yara tidak menyukai sikap Juli, namun lambat laun setelah mengenalnya lebih jauh, Juli sebenarnya orang yang sangat perhatian terhadapnya, bahkan untuk hal-hal kecil, seperti saatnya makan.


Dari segi umur Juli adalah anak-anak biasa, tapi dari segi kedewasaan putri adalah yang terlihat anak-anak di hadapannya, dalam perjalanan Juli banyak memberikan petuah-petuah hidup pada Putri Yara, Sebelumnya, iya berpikir bahwa petuah-petuah Juli hanya omong kosong anak-anak belaka, tetapi lambat laun ia baru menyadarinya setiap perkataan Juli dapat memberikan pencerahan bagi perkembangan kekuatan jiwa.


‘Aku tidak menduga, Guru yang ku anggap anak-anak, rupanya adalah Mahaguru Filsafat terhebat di dunia, aku sangat beruntung memanggil dia sebagai guruku.’ Batin Putri Yara dengan penuh kekaguman terhadap guru barunya.


“Baiklah! Karena kau sebagai muridku, sepatutnya Aku akan memberimu hadiah, tapi ingat, kalau suatu saat kau berbuat jahat, aku tidak akan mengakuimu sebagai muridku.” Juli mengeluarkan beberapa kristal hijau dari cincin uangnya.


Kristal hijau yang dikeluarkan dua butir tingkat tiga dan belasan butir tingkat dua, kemudian Juli menyerahkan kepada Putri Yara.


“Nah untuk sementara waktu kau makanlah ini semua, setelah itu cobalah untuk serap, mulailah menyerap dari kristal hijau tingkat dua, dan aku akan membawa pulang kakek Boman dan cucunya sesaat lagi, tunggulah aku di sini!”.


Putri Yara senyum melihat tingkah Juli, yang terlihat luar biasa di matanya, “Baiklah Guru!” Putria Yara menjawabnya dengan semangat.


Juli senyum hangat, “Tenang saja! Kau akan aman di sini!” Juli kembali bergerak cepat dan menghilang dalam tebalnya kabut.


Seluruh pasukan Cabak Iblis serentak bangkit berdiri dan berbaris dengan rapi di depan Putri Yara. Mereka terlihat seperti arca, tubuh mereka mengeluarkan asap hitam di sela-sela pori-porinya.


“Bula-buli bersaudara! Apa yang kamu lakukan? Apa kalian hendak menyerangku.”

__ADS_1


“Tidak Yang Mulia, kami ditugaskan untuk menjagamu.” jawab mereka serempak.


**


__ADS_2