Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 22. Memasuki Istana Misterius


__ADS_3

Tepi Hutan Perbatasan merupakan tempat yang jarang di kunjungi Siluman Kera Bertanduk selama ini, tapi karena keributan yang di timbulkan oleh Cunguk dan kawan kawannya telah mengundang para siluman untuk mendatanginya.


Groooaarr!


Groooaarr!


Suara raungan siluman Kera Bertanduk terdengar di kejauhan hingga membuat Aboki dan anak buah lainnya terdiam dari kegiatan tarian yang meraka lakukan.


“Suara Apa itu?” Tanya aboki sambil menghentikan pukulan Gendangnya, “Ada yang dengar suara apa itu? Apa itu suara siluman?” Tanyanya mulai menguping.


“Bos! Itu suara siluman!” Ucap salah satu Hunter yang sudah berpengalaman.


“Gawat! Sepertinya para siluman akan datang kemari, kita harus bersiap-siap untuk meninggalkan daerah ini di samping itu kita juga harus bersiap-siap untuk keluar dari tempat terkutuk ini disaat pintu portalnya terbuka” Jelas Aboki memperingatkan anak buahnya.


Tiba-tiba salah seorang yang di tugaskan untuk mencari informasi kembali ke tempat Aboki dengan penuh semangat, “Bos Aboki! Bos Aboki! Aku datang membawa berita buruk dan berita baik untuk kalian” teriaknya cepat pada Aboki dan mempercepat pacu tunggangan menghampiri Aboki,


“Bos! Tapi untuk informasi kali ini ada harganya Bos” pasukan itu mencoba membuka penawaran yang membuat Aboki langsung naik pitam, ia langsung bangkit berdiri.


Wuss


Bukk!!!


Aboki marah dan menendang Gentong yang masih tengkurap di depannya sampai terbang sepuluh meter jaraknya,


Bruukk!!


“Aaaakkk” suara kesakitan Getong membentur tanah terdengar, “Bos sialan, beginilah ulah si Aboki, habis manis sepah di tendang, nyesal aku gabung ke Klan pemburu ini.. sumpah!” ucap Gentong yang kini jatuh tersungkur berlumuran tanah.


Aboki mendekati pemburu pembawa berita dengan wajah bringas, “Apa kau bilang ‘Jujur’! Kau tidak melihat bagaimana sudah kondisi kami disini? Dan kau masih berani melakukan penawaran terhadap ku? Aku juga sangat stress di sini sampai-sampai hampir gila, kau lihat saja monster-monster yang ada di dekat sini.. malahan bukan kita yang berburu disini tapi kita lah yang menjadi mangsanya, untung ada si Cunguk memberikan ku ide bodohnya agar aku bisa tertawa sejenak, kini kau datang kemari dengan penawaran? Apa kata dunia? Memiliki anak buah seperti kalian saja sudah menjadi aib bagiku, tapi kau malah mau membuat tawarar menawar dengan ku” bentak Aboki marah.


Anak buah yang dipanggil “Jujur” berkeringat dingin, “Tapi ini sangat penting, terserah kau mau terima atau tidak tapi ini mengenai kelemahan Siluman Kera Bertanduk, aku tahu apa yang ditakutinya sekarang” jelas Jujur singkat.


“Oh! Begitu kah!” Senyum mekar langsung menghiasi mulut Aboki, “Katakan Jujur! Katakan pada ku apa tawaran mu dan apa pula kelemahannya?” Tanya Aboki mulai semangat untuk mendengarnya.


Jujur menyeringai, “Aku ingin jadi wakil ketua menggantikan si Cunguk, dan mengenai kelemahan Kera itu mereka akan takut dengan mengangkat tinju mu begini” Jujur mencontohkan langsung seperti dilihatnya.


HAHAHA


Semua pasukan tertawa terbahak-bahak, “Tidak mungkin! Tidak mungkin siluman Kera itu takut pada tinju, tapi karena yang berbicara itu kau Jujur, maka sudah pasti benar seratus persen, hahaha” tawa Aboki mendengar kelemahan Siluman Kera Bertanduk yang selama ini sangat mengganggunya.


Jujur menggaruk-garukkan kepala, “Bagaimana dengan tawaran ku tadi Bos?” ia penasaran dengan tawarannya.


Aboki mengangkat tinju tinggi-tinggi, “Mulai sekarang! Cunguk yang tidak berguna turun pangkat dan si Jujur jadi wakil yang baru…” teriak Aboki menyampaikan secara resmi pada semua bawahannya.

__ADS_1


HOREEE


HOREEE


Semua orang menjadi bersuka ria mereka sangat membenci si Cunguk, “Bagus si Cunguk turun pangkat, kalau tidak, rusak cerita dunia persilatan ini, coba bayangkan, orang lain bertarung mati-matian melawan siluman si Cunguk malah buat konser-konseran untuk menyenangkan bosnya, dan kita pula jadi mainannya, sialan si Cunguk, bagus dia turun pangkat! Aku setuju seratus persen” ucap si Gentong pada kawan-kawan lainnya.


Sementara si Cunguk menjadi sangat jengkel, “Bos ini bagaimana sih! Kok aku turun  pangkat?! Harusnya bos punya otak dong, pintar dikit gitu?” Cunguk protes merasa dirugikan.


Aboki terlihat berpikir-pikir sejenak, “Sudahlah! Kalian tidak udah bertengkar.. mulai sekarang kalian berdua menjadi wakil ku… beres kan.. hahaha” Tawa Senang Aboki saat mulai mengetahui kelemahan Siluman Kera Bertanduk, ia bahkan tidak peduli dengan satu wakil atau banyak wakil karena tidak menambah tunjangan apapun, di dunia ini bahkan untuk makan pun masing-masing cari sendiri.


“Apa?!”


“Du… Dua orang wakil?!”


Semua Hunter saling pandang karena dalam cacatan sejarah belum ada dua wakil dalam sebuah organisasi hunter, dan baru kali ini terjadi dan celakanya Aboki bahkan tidak terlihat peduli dengan hal itu ia justru lebih tertarik pada hal-hal lainnya.


Aboki melangkah maju dengan semangat baru, “Mulai sekarang! Mari kita keluar dari tempat persembuyian kita.. dan ayo lawan para siluman Kera bertanduk!” Teriak Aboki segera meniup mulutnya memanggil Hyena miliknya.


Cuiiit… wit…


Kha.. Kha.. Kha..!


Seperti di komando para Hyena segera berlari kearah pasukan Aboki, “Sekarang saatnya kita serang Kera-Kera bodoh itu… Cepat naik tunggangan kalian ingat satu Hyena untuk dua orang, satu orang angkat tinju kalian tinggi-tinggi satu orang lagi serang siluman! Paham!” Teriak Aboki pada anak buahnya yang terlihat antusias.


“Angkat Tinju kalian!”


“Ayo! Bergerak! Hidup Aboki!”


“Hidup Partai Hyena!”


Dengan mata tajam penuh semangat Jujur memacu Hyena paling depan memimpin Jalan sementara Aboki dan anak buah lainnya mengikutinya dengan tinju diangkat tinggi-tinggi, kini dengan semangat membara mereka bergerak langsung ke reruntuhan kota yang menjadi basis utama para Siluman Kera Bertanduk.


**


Di Reruntuhan Istana Misterius


Juli beserta yang lainnya kini berkumpul di depan pintu gerbang, mereka bahkan tidak mengerti dengan jalan pikiran Juli yang terhitung sangat gila, kini tatapan mata Juli justru tertarik pada pintu gerbang Istana misterius yang tidak bisa terbuka walaupun dengan berbagai usaha.


“Nak Juli! Ayo kita tempat perlindungan, tempat ini sungguh tidak aman” Ajak kakek Husen karena melihat memang Istana ini tidak bisa di masuki oleh siapapun.


Hana berdiri didekat Juli, ia melihat Juli sedang membaca tulisan itu dengan suara yang hampir tak terdengar,


“Wirnai Swarna mi.. li hidi Ji swir yuna.. (Tiada pintu disini.. celah kecil di bawah bumi)” Juli terdengar membaca tulisan kono itu pelan hingga tidak seorang pun dapat mendengarkannya kecuali Hana.

__ADS_1


Hana kaget bukan main saat mendengar Juli membaca tulisan kuno, perlahan ia mendekati Juli, “Senior! Apa kau bisa membacanya?” bisik Hana pelan, ia bisa menebak sepertinya Juli tidak menginginkan orang lain mengetahui kemampuannya.


Juli senyum perlahan menoleh kearah Hana, “Disini dijelaskan untuk memasukinya hanya lah untuk Bangsa Bunian Barat, salah satu bangsa yang telah punah ribuan tahun dulu, bangsa itu kedudukannya setara dengan Bangsa Ringata.. dan ukuran tubuhnya lebih kecil dari suku kerdil utara” Bisik Juli pada Hana yang berdiri dekat dengannya.


Semua orang yang berada di sana menjadi heran terhadap Hana dan Juli, terutama Risa yang sekarang ini ia sangat dekat dengan Hana dan tahu persis perangainya,


“Hana, kalian terlihat akrab, apa adik Juli bisa menjadi teman yang pantas untuk mu?” Tanya Risa ingin tahu karena selama ini Hana bahkan jarang bicara dengan kawan sebayanya.


Hana terlihat pucat dan merasa tidak enak dengan pertanyaan itu disisi lain ia juga harus menjaga perasaan Juli agar tidak tersinggung padanya,


“Ah bukan begitu kakak Risa, kebetulan Senior Juli malu mengatakannya pada kalian jadi dia berbisik pada ku” Jelas Hana sangat meyakinkan.


Juli senyum pahit, ‘Ah! Rupanya Ratu Rihana dari kecil sudah pandai berbohong, pantas lah aku selalu ditipunya di kehidupan sebelumnya’ batin Juli rada jengkel.


“Senior Juli apa kau tahu cara masuk ke dalam istana ini?” tanya Hana penasaran.


Juli senyum, “Jelas aku bisa masuk, tapi jalannya ada di bawah batu pijakan kita, mari kita angkat!” ajak Juli berkata pelan sehingga tidak terdengar yang lainnya.


“Ah! benarkah!” teriak Hana terlihat kaget bukan main, hal itu menyebabkan semua orang semakin tertarik untuk mengetahui apa yang anak-anak kecil itu bicarakan.


Juli kini mengalihkan pandangannya pada semua orang yang melihatnya dengan tatapan penasaran,


“Begini! Saya akan masuk ke dalam istana ini, jika kalian ingin masuk silahkan saja” ucap Juli sambil mencabut salah satu ubin batu di kakinya yang menjadi lantai halaman istana, setelah Juli mengangkat batu itu sebuah terowongan kecil menuju ke arah istana langsung terlihat jelas.


“Apa?!”


“Itu sebuah pintu masuk!”


“Tapi ukurannya sangat kecil!”


Semua orang kaget saat melihat jalan masuk ke lorong bawah tanah dengan ukuran pintu kecil yang hanya bisa dimasuki oleh anak berusia sembilan tahun maksimalnya.


Hana senang melihat ke jeniusan Juli yang belum pernah ia temukan anak seperti Juli sebelumnya, “Kakek! Paman dan kakak semua jaga pintu ya, aku dan Senior Juli akan masuk ke dalam terowongan ini” kata Hana senang saat memikirkan petualangan barunya itu.


“Apa?! Kalian mau ke sana, itu sangat gelap dan berbahaya, Jangan masuk Hana” Komentar Yuyun khawatir.


“Jangan masuk! Siapa tahu di sana banyak jebakan, kalau kalian mati kami tidak dapat mengambil kalian di dalam sana” Kakek Husen ikut memberi tanggapan walau pun sebenarnya ia pun ingin masuk ke dalamnya namun terowongan itu memang tidak muat untuk ukuran tubuhnya.


Juli senyum sambil melangkah masuk kedalam terowongan, “Hana kemari lah ikuti aku, hehehe.. jangan khawatir kakek Husen, paman-paman dan kakak-kakak, karena aku dulu memiliki rumah dalam batang pohon besar.. dan aku tahu cara kerjanya… hehehe” Jawaban dan tawa kikikan Juli semakin membuat mereka bertanya-tanya mengenai status Juli yang sebenarnya.


Juli dengan santai memasuki terowongan kecil dan gelap itu dengan cara merangkak di dalamnya lalu di susul oleh Hana. Sementara itu Husen, Bomo, dan lainnya hanya bisa berdiri terpaku dengan pikiran mereka masing-masing.


“Ada apa dengan anak-anak ini.. si Juli itu benar-benar gila rupanya, kini Hana pun ikut-ikutan gila” ucap Dolah penasaran, sementara Bomo hanya melihat saja ia bahkan tidak berani berkomentar sepatah kata pun.

__ADS_1


**


__ADS_2