Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 25. Dewa Mindril


__ADS_3

Hana cepat menghampiri Juli yang terlihat di titik terlemahnya, “Bertahan lah! Aku akan mencoba menyembuhkan mu” Hana tanpa berpikir panjang ia langsung mengeluarkan botol kaca yang berisi Air Mata Abadi dari cincin ruangnya


Air Mata Abadi ialah air yang dapat membuat tubuh peminumnya selalu dapat meregenerasi (Menyembuhkan) diri dari luka apapun sehingga peminumnya akan memiliki tubuh abadi dan sangat sulit dihancurkan karena air itu akan bekerja sepanjang hidupnya,


Di dunia ini keberadaan Air Mata Abadi di pertanyakan bahkan oleh sebagian orang menganggapnya sebuah mitos yang digolongkan kedalam salah satu pusaka keajaiban dunia.


"Senior..."


Hana segera memangku kepala Juli perlahan, kemudian Hana menuangkan cairan Air Mata Abadi dengan hati-hati kedalam mulutnya, setelah seperempat botol diberikan oleh Hana tapi penyembuhan Juli masih juga lambat,


‘Apa?! Sudah lebih seperempat aku memberikan air ini padanya namun belum juga bisa menyembuhkan secara sempurna, apa tubuhnya sedemikian keras sehingga harus memberikan separuhnya’ Batin Hana kaget dan ia kembali memberikan Air Mata Abadi itu sampai separuh botolnya baru Juli bisa menyembuhkan diri dengan baik.


Wusss


Semua api kegelapan kini kembali bersemayam ditubuhnya, Juli mulai membuka matanya perlahan dan ia berangsur membaik kembali


"Ah.. Hana.. kamu baik-baik saja?" tanya Juli begitu menyadari ia berada di pangkuan Hana, perlahan ia bangkit duduk seraya memperhatikan tubuh yang sudah sembuh kembali.


“Hahaha, Aku berhasil Hana, sekarang aku dengan mudah bisa menyegel siapa saja yang telah ku kalahkan ke dalam Neraka Para Dewa” Juli senang saat melihat telapak tangannya yang telah bisa mengendalikan api kegelapan dengan sempurna.


“Hm.. Syukur lah!” Hana menyeka air matanya senang.


Tanpa sengaja Juli melihat ke arah tangan Hana yang masih memengang botol kaca berisi air merah bercahaya yang hampir kosong didalamnya.


“Hana! Apa kau menggunakan cairan itu untuk menyembuhkan ku?” tanya Juli kaget “Bukankah itu cairan yang sangat berharga, apa keluargamu tidak memberitahu itu padamu?” sambungnya.


Hana senyum hangat, “Ah! Tidak masalah, selama senior sembuh aku sangat bersyukur walaupun kehabisan air ini” Hana terlihat senang dan menempatkan sisanya kembali kedalam cincin ruang miliknya.


Juli memukul kepalanya, ‘Air Mata Abadi itu salah satu yang menjadi bagian tubuh Hana dimasa depan, tetapi dia bahkan telah memberikan ku separuhnya, aku berharap aku bisa membalas budinya walaupun aku telah berhutang banyak kepadanya di dua kehidupan’ batin Juli merasa tidak enak hati.


“Mari kita keluar dari sini?” Ajak Hana yang tidak lagi ingin melihat Juli bernasib sama seperti sebelumnya.


Juli senyum, “Hana! Ini baru ruang utama kita belum memasuki ruang lainnya, siapa tahu di depan kita memiliki hal yang menarik” ucap kembali bergerak menuju ke ruangan selanjutnya.


Hana bangkit dari tempat duduknya dan segera mengikuti Juli dengan perasaan khawatir, “Di sini saja sudah sangat berbahaya, aku khawatir kalau kita tidak bisa selamat di ruangan selanjutnya, apalagi sangat banyak jebakan” Jelas Hana memperhatikan sekelilingnya.


Ruang selanjutnya terlihat sangat luas di tengah ruangan terdapat sebuah singgasana mewah terbuat dari emas, sesosok raja yang telah menjadi tulang berulang duduk gagah di atas singgasananya.


Di tangan sesosok raja memegang sebuah batu tablet bertuliskan,


Li Mindril urbadu basna bolu BaUn,


Mo Wila Suirta Buela Na


Li Wila miyindir marua urbadu


Wistri li ma urbadu li piarta

__ADS_1


Wula Mo sunta ziurli yanur li wu laima


Juli membacanya dengan sangat fasih hingga Hana tercengang, ‘Dengan kehebatan dia setingkat ini tidak mungkin kepintarannya bisa di sandingkan dengan siapa pun di dunia ini, bahkan aku ragu Ahli Kitab Khairil dari Istana Langit bisa membacanya selancar Juli’ pikir Hana heran dan ia sangat yakin bahwa Juli tidak mengarang-ngarang untuk membacanya karena Juli tidak terlihat seperti orang yang suka dengan pujian.


“Senior.. Bisakah kau menerjemahkan untukku” pinta Hana dengan nada serius.


“Baiklah!” Juli tanpa berpikir panjang langsung menerjemahkannya


Aku Mindril Dewa Kono Suku BaUn


Kau telah mengarungi ruang waktu,


Aku telah membantai ribuan dewa,


Di tanganku Para Dewa ku permainkan,


Bila kau berkenan menjadi murid ku maka sujud lah


Juli menerjemahkan dengan lancar membuat Hana ingin sekali bersujud di depan Dewa Kuno itu untuk bisa diangkat menjadi muridnya, namun melihat Juli yang menemukan Dewa itu pertama dan bisa menerjemahkan maksud dan tujuan Hana enggan untuk mendahuluinya.


“Senior Juli! kau sungguh sangat beruntung, ini kesempatan besar mu untuk menjadi murid Dewa terkuat” Hana terlihat senang karena kesempatan itu tidak datang kedua kalinya.


Juli senyum, “Aku tidak mau menjadi muridnya dan tidak pula mau bersujud padanya dan tidak juga kubiarkan kau menjadi muridnya Hana” ucap Juli senyum.


Hana terkejut “Kenapa demikian, senior.. kau tahu tidak, pasti ada rahasia besar setelah kita sujud padanya dan pengangkatan murid akan segera terjadi, aku rasa pasti ada kitab-kitab tinggi dan berbagai hukum akan diwariskan pada mu, setelah itu kau akan menjadi generasi manusia terkuat setelahnya” Jelas Hana memberi masukan pada Juli.


Juli senyum “Aku tidak mau siapapun menjadi guruku lagi, karena aku telah memiliki guru yang jauh lebih hebat darinya, guru yang melarang ku sujud pada siapapun kecuali pada tuhanku, guru yang sangat santun padaku, guru yang setiap saat memikirkan keselamatan ku, kurasa aku tidak perlu lagi mencari guru lain, bukan..?! Mengenai pusaka-pusaka atau kitab-kitab yang disimpannya aku pasti akan merampasnya, hehehe” ucap Juli senyum senang.


HAHAHA


Tiba-tiba terdengar suara tawa dari tulang belulang raja Mindril diiringi aura pembunuh yang sangat pekat dan mengerikan sampai membuat gelap seisi ruangan.


“Senior! Tubuhku gemetar hebat aura pembunuh Dewa itu sangat kuat.. aku tidak bisa bertahan lagi” Hana mencoba bertahan dari aura pembunuh dari jiwa Dewa Mindril.


Wham! Wham!


Juli pun tidak tinggal diam ia pun mengeluarkan Aura pembunuhnya, Aura pembunuh Dewa Mindril beradu dengan aura pembunuh yang di keluarkan Juli hingga membuat Hana semakin tidak dapat bernafas, “Hana! Sekarang menjauh lah, aku akan mencoba mengalahkannya..” teriak Juli yang mulai menggunakan teknik penyegelannya.


“Tehnik Penyegelan Jiwa”


Teriak Juli mulai mengeluarkan Api Kegelapan dari tangannya mencoba menyegel jiwa Dewa Mindril namun segel jiwa Juli sepertinya tidak berpengaruh banyak padanya,


‘Sial Dewa Mindril ini sangat kuat, jiwanya saja bahkan tidak mampu ku segel ini sangat mengerikan, aku harus segera menyuruh Hana meninggalkan tempat ini, kalau tidak nyawanya akan terancam’ batin Juli mulai cemas.


“Hana! Sekarang pergilah lah ini sangat berbahaya” teriak Juli menahan rasa sakit karena saling beradu kekuatan tenaga dalam dengan Dewa Mindril.


“Tidak! Aku tidak mau melihatmu mati lagi.. kita akan melawan bersama-sama” Hana bertekad dan dia tidak segan-segan lagi menggunakan peralatan dalam Cincin Ruang Pusaka Sembilan Dewa, ia langsung menggunakan Perisai Surgawi untuk melindungi dirinya bersama Juli.

__ADS_1


“Teknik Perlindungan Perisai Surgawi!” Teriak Hana langsung membentuk bola perisai yang sangat kuat di sekelilingnya.


Huuuuuuu….


HAHAHAH


Angin berhembus kencang hingga menciptakan gelombang angin kuat, kerangka Dewa Mindril kini bangkit berdiri dengan sebilah Pedang Dewa Kegelapan berada di tangannya.


“Hahaha, Wularqu mira i warraiya wirnu… Urbadu … (Baru ini ada tikus menentang.. Dewa..)” ucapnya sambil mengayunkan pedangnya kearah Juli dengan kecepatan tinggi.


Wuuusss..


TRANG!


DROOOOM


Hantaman Pedang Dewa Kegelapan berbenturan dengan Perisai Surgawi hingga menimbulkan gelombang kejut dahsyat, namun Pedang Kegelapan terus menekan Perisai Surgawi Hana hingga membuat lantai pijakan Hana retak,


“Aku tidak menyangka tubuh Hana bisa menopang kokoh saat menangkis tebasan Pedang Dewa Kegelapan.. inilah kekuatan Hana yang sesungguhnya” batin Juli saat melihat Hana menahan pedang Dewa Mindril,


Walaupun sebenarnya Jiwa Dewa tidak sekuat tubuh aslinya, namun tetap juga Jiwa seorang Dewa itu tidak boleh dipandang sebelah mata.


Juli senyum pahit saat melihat Hana mulai mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya tekanan itu pasti amat berat bagi anak-anak berusia tujuh tahun,


“Senior! Sepertinya aku tidak bisa bertahan lama terhadap tekanan pedang dewa ini” ucapnya terus bertahan hingga lantai pijakan kakinya hancur berantakan.


Juli mengalihkan pandangannya pada Dewa Mindril, “Mo ila Arluya Vartana!! (Kau hanya Jiwa Gentayangan!!)”


Teriak Juli seraya melesat cepat menghantam tengkorak Dewa Mindril dengan pukulan dahsyat.


Wusss


Braaakkk!


BROOOOMMM!


Kerangka Dewa Mindril terpental jauh membentur dinding istana,


“Hahaha, sur boru urda… virla moura vla urbadu (Hahaha, kalian akan terkutuk… jika berani merampas milik Dewa)” kutuk Dewa Mindril yang mulai sulit untuk berdiri karena segel jiwa Juli.


Juli menoleh kearah Hana yang kini masih bisa bangkit kembali, “Hana kau baik-baik saja?”


“Ah! iya aku baik-baik saja” Hana menganguk pelan tetapi matanya mulai kabur sehingga ia tidak bisa melihat apapun dan setelah itu ia pun jatuh ke lantai tidak sadarkan diri.


“Hana.. Hana…!!” Juli mulai cemas.


“Hahaha.. Imo morsiwa Orsiwa Urbadu Onartu ziga... (Dia keracuna Racun Dewa Ular Iblis…)”

__ADS_1


“Apa?!”


**


__ADS_2