Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2

Kembalinya Kaisar Langit Dan Bumi 2
Episode 123. Akhir Cerita Lima Pemimpin Pasukan Cabak Iblis


__ADS_3

Di lapangan luas lima orang berpangkat emas dikepung oleh ribuan orang, kelima orang ini sangat tangguh sampai membuat ribuan orang yang mengepungnya menjadi kewalahan.


Walaupun kelima ahli ini mampu bertahan hampir dua jam dalam kepungan, tapi kondisi mereka juga terlihat sangat buruk, tubuh kelimanya mengalami luka tebasan serius, dan banyak kehilangan darah.


Dalam kepungan,mereka terlihat seperti singa luka yang terus berjuang di antara amukan serigala.


Dari kejauhan, seorang anak berusia delapan tahun senyum gembira yang dikerumuni banyak pendekar, pakaiannya robek-robek karena bekas tebasan pedang, akan tetapi tidak terlihat satu goresan pun di kulit halusnya.


“Nak Juli! Sepertinya kami sangat sulit menaklukkan lima orang ini! Apa kamu punya ide?”.


Seorang kakek tua terlihat bingung terhadap tindakan yang akan diambil. Ia menyadari kalau seandainya lima pemimpin ini dilepaskan, maka dapat dipastikan bencana bagi mereka akan terulang kembali.


Melumpuhkan kelima orang sekaligus juga sangat sulit, apabila dipaksa, maka korban yang berjatuhan di pihak mereka tidak akan terhindari.


“Tenang saja, tubuhku telah sembuh berkat obat yang ketua Iriansyah berikan, aku tidak menduga pil yang Anda berikan sungguh mujarab”. Juli senyum hangat pada semua orang yang mengkhawatirkan keadaannya.


“Tidak masalah Pahlawan kecil!”


“Iya! Tidak masalah! Ini tidak sebanding dengan pengorbananmu untuk kami”


Sebenarnya, dari semula Juli memang tidak terluka sama sekali, beberapa kali tebasan yang dilakukan terhadap tubuhnya dengan menggunakan pedang tingkat perang, malahan pedang itu menjadi retak.


Akhirnya ia mengambil darah siluman dari cincin ruang dan dioleskan pada bagian tebasan, perbuatannya ini jelas tidak terlihat karena kepulan debu membumbung tinggi saat itu.


Metode ini sengaja dilakukan oleh Juli untuk meningkatkan emosi orang-orang dalam membangkitkan semangat juang bagi penduduk Lembah Kuning yang telah putus asa kala itu.


“Nak! Aku sendiri tidak tahu bahwa obat itu semujarab ini bagimu, tapi, menurut pengalamanku tidak pernah kejadian seperti ini sebelumnya, mungkin ini juga berkah dari Tuhan!”. Tetua Iriansyah menjadi senang, walaupun ia sendiri tidak tahu bagaimana Juli bisa sembuh secepat itu.


“Baiklah kek! Aku sudah sembuh, sekarang kelima orang itu serahkan saja padaku”, Juli senyum penuh percaya diri, seolah ia mendapatkan kekuatannya kembali.


Iriansyah mengurutkan kening, wajahnya terlihat ragu. “Nak! Walaupun mereka terluka! Tapi mereka tetaplah seorang ahli tingkat tinggi, Aku khawatir itu akan mencelakaimu”. Iriansyah mencoba menasehati.


“Tenanglah kakek! Aku bisa mengalahkan mereka dengan teknik yang ku pelajari baru-baru ini, pokoknya percayalah padaku! Lagi pula mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku saat mereka masih prima, apalagi sekarang! Mereka bahkan tidak sanggup untuk berdiri”. Jelas Juli senyum gembira.


‘Anak ini memang monster, sebenarnya perkataan ini hanya tepat diucapkan oleh dirinya seorang, karena ia memang mampu mempermainkan kelima pemimpin pasukan Cabak Iblis dengan mudah, sementara ribuan orang lain tidak akan mampu melakukan itu’. Batin ketua Iriansyah.


Juli bangkit berdiri dan mengangkat tangannya, “Semua berhenti! Kalian semua mundurlah, biar aku yang menghadapi kelima orang itu, percayalah padaku, mereka telah terluka parah, dan aku bisa dengan mudah mengatasinya”. Tatapan mata Juli penuh semangat.


Semua pengepung langsung melompat mundur beberapa langkah memberi jalan kepadanya, awalnya mereka terlihat ragu, tapi ketua Iriansyah meyakinkan mereka bahwa Juli mampu melakukannya.


Juli menghampiri kelima pemimpin pasukan Sekte Cabak Iblis, yang terlihat sangat kelelahan.


“Bagaimana? Kita teruskan atau berdamai?”. Tanya Juli dengan senyum gembira.

__ADS_1


Juli menghampiri Singa tunggangan Bajok yang telah terluka parah dan tidak mampu berdiri, beberapa tusukan tombak merobek bagian perutnya, Juli bisa melihat bahwa singa ini tidak akan bertahan lama walaupun tidak dibunuh.


“Segel Kutukan Neraka Dewa!”


Gerakan Juli cepat,meletakkan telapak tangan tepat di kepala singa.


Whuuuz.


Beberapa detik kemudian Singa itu berubah menjadi asap hitam menghilang di udara, semua mata terpana melihat kejadian ini, akan tetapi tidak ada yang tahu, ini Pertanda baik atau buruk.


Bajok si Raja Rimba menjadi sangat murka, ia dapat menduga bahwa singanya telah binasa di tangan anak delapan tahun yang kini telah menjelma menjadi momok menakutkan.


“Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau melakukan sihir kegelapan seperti itu?”. Bajok berkeringat dingin.


Juli perlahan mendekati kelima orang pemimpin pasukan Sekte Cabak Iblis, tatapan mata Juli mampu membuat mereka mengeluarkan keringat dingin.


“Jangan mendekat! Bocah! Kalau kau mendekat kami akan melawanmu!”.


“Rambo! Cepat kau tahan dia! Kami tidak mampu melawannya saat ini”.


“Adik baik! Ampuni kami, aku yakin kamu anak yang baik, ampunilah kakak ini”.


Semua orang dapat menyaksikan, bahwa lima pemimpin pasukan Sekte Cabak Iblis menakuti Juli sekarang. Mereka melihat Juli dengan pandangan yang berbeda, tidak seperti waktu pertama mereka bertemu.


“Kalian minum cairan ini dengan patuh, atau kalian bernasib sama seperti singa yang barusan kalian lihat!”. Juli senyum gembira seperti anak yang tidak berdosa.


Rambo naik pitam terhadap sikap sombong Juli, diantara semua saat ini, dialah yang paling baik keadaannya.


“Bocah! kau kira dengan mengalahkan kami, kalian akan selamat! Ingat! Sekte Cabak Iblis tidak akan membiarkan kalian hidup! Kami memiliki rencana jauh lebih besar dari pekerjaan kalian”.


Setelah mengatakan demikian, Rambo menyerang Juli dengan kecepatan tinggi.


“Mampus kau bocah!”


Semua orang tidak menduga Rambo akan bertindak senekat itu, tanpa Rombo sadari, bukan saja serangannya yang gagal, tapi justru telapak tangan Juli telah menempel di jidatnya.


“Neraka Para Dewa! Diaktifkan!”


Whuuz!


Rambo menghilang bagai ditelan udara, semua orang terkejut, mereka tidak menduga Juli menyembunyikan kekuatan yang sangat mengerikan.


“Pahlawan kecil bisa sunglap! Luar biasa”

__ADS_1


“Seperti Almarhum Pak Karno! Yang telah meninggal di makan siluman di luar kubah pelindung puluhan tahun lalu!”


“Iya, aku ingat, yang, ayo tebak? Ini jadi apa! Jadi apa! Prok! Prok! Prok!, Yang itu ya?”.


“Bukan! Bukan yang itu, itu Pak Tarno! dari lembah angin”


Kebanyakan dari mereka adalah rakyat biasa, sehingga mereka tidak mengetahui teknik-teknik tingkat tinggi, layaknya teknik kegelapan “Neraka Para Dewa”.


“Juli! Kalau kekuatanmu sehebat ini, kenapa pula kau tidak menggunakan sebelumnya!”. Tanya Iriansyah penasaran dengan sikap misterius Juli.


“Ah! Aku benar-benar lupa! Padahal kalau seperti ini, kan lebih gampang, aku tinggal mengirimkan saja mereka semuanya ke Neraka Para Dewa, mereka akan terbakar Api Hitam, sampai seluruh tubuhnya hancur, namun, mereka tidak akan mati!”.


Juli sengaja membesarkan sedikit nada suaranya agar didengar oleh empat orang pemimpin lainnya, Juli ingin menambah beberapa kalimat lagi untuk meyakinkan mereka.


“Dimana botol cairan itu berikan padaku!”


“Tidak! Untuk ku!”


“Aku duluan!”


Di luar perkiraan semua orang, mereka berempat mulai merebut cairan itu di tanah  dan menegak Cairan Kutukan Budak Darah dengan perasaan putus asa.


Sementara Dewi Cabak Iblis meminum dua botol sekaligus, Juli dan pasukan lainnya hanya bisa tertawa menyaksikan tingkah konyol mereka.


Setelah keempat pimpinan pasukan Sekte Cabak Iblis minum Cairan Kutukan Budak Darah, Juli mulai mengetahui memori mereka semua.


‘Apa! Cabak Iblis dan Aliansi Lembah Hantu ingin menyerangnya Pegunungan Seribu Dawai! Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi! Di kehidupanku sebelumnya, di sanalah “Sariek Beude” ditempa. Raja Darwan benar-benar antek siluman yang keji, baiklah! Aku harus memberikan Peta ini pada mereka untuk mengulur waktu, lagi pulan ini cukup untuk memancing mereka kemari, dengan demikian aku memiliki waktu untuk  mengatur strategi ku nanti!’pikir Juli.


Juli memberikan peta harta karun bangsa kerdil pada Bajok dan kemudian melepaskan keempatnya, mereka pun lari terbirit-birit tanpa menoleh ke belakang.


“Nak! Kalau mereka dilepaskan itu sangat berbahaya”.


Pertamanya ketua Iriansyah menjadi sedikit dilema, Karena melepaskan mereka berempat adalah malapetaka bagi rakyat Lembah Kuning.


Saat Juli menjelaskan bahwa penduduk Lembah Kuning telah berpindah ke Kota Lembah Teratai Langit, mereka pun bahagia mendengarnya.


Untuk sementara waktu, Juli menawarkan mereka agar istirahat di Kota Singa Selatan guna pemulihan tenaga, akan tetapi mereka menolaknya dengan halus, dan memilih berangkat ke Kota Teratai Langit untuk memastikan keberadaan keluarganya.


“Baiklah! Kalau memang kalian berencana tinggal di sana, tolong serahkan lencana ini pada walikota, dia akan memberi kalian pekerjaan yang layak dan tempat tinggal, selamat jalan”.


Sebelum perpisahan, Juli memberikan sebuah lencana emas pada Iriansyah, lencana itu berukir kata “Teratai Langit”, Juli berpesan agar Iriansyah menyerahkan lencana ini pada walikota Aira.


**

__ADS_1


__ADS_2