
“Kurang ajar bocah setan! Kau pasti penganut ilmu setan sehingga kau menjadi sekuat ini”
Hantu Muka Merah sangat marah, ia mengangkat tangannya memberikan isyarat pada pasukan pemanah untuk bersiap-siap memanah Juli yang terlihat sedang mempermainkan batu berasap hitam dengan tangan kirinya.
“Tunggu! Muka Merah!”
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari dalam kereta kuda, Hantu Muka Merah segera menurunkan tangannya kembali,
“Baik Pangeran”
Juli senyum tidak memperdulikan mereka semua, ia bahkan bergerak menghampiri Hantu Muka Kuning yang lagi diobati oleh dua pasukan penyembuh kerajaan.
Syut! syut!
Secepat kilat Juli mencengkram dua tempurung kepala pasukan yang lagi sibuk mengobati Hantu Muka Kuning,
“Tolong… Tuan kecil jangan...” terdengar teriakan mereka sebelum Juli mencabut kedua kepala pasukan penyembuh itu dari batang lehernya hingga menyisakan tubuh kejang-kejang tidak bernyawa.
“Apa yang dilakukan anak iblis itu? Ini gawat kalau kita tidak bertindak” Teriak marah Hantu Muka Merah mulai berkeringat namun dia masih menahan emosinya.
Raut wajah Juli ceria kini dia mulai menyeret paksa Hantu Muka Kuning yang kesakitan ke dalam telapak tangannya yang membuat semua orang tercengang dan menelan ludah.
“Apa yang dia lakukan?”
“Ada apa dengan anak setan itu? Dia semakin menjadi-jadi”
“Ada apa lagi? Apa yang terjadi? Bocah iblis menyarap Hantu Muka Kuning ke dalam telapak tangannya?”
“Anak itu monster apa yang harus kita lakukan? Dia bahkan tidak menunggu pangeran bernegosiasi dengannya, dan sekarang dia terus bertindak sesuka hatinya”
“Ilmu Hitam apa itu?”
Semantara Hantu Muka Merah meremas tangannya hingga berdarah, kemarahannya semakin meluap-luap melihat tingkah Juli.
“Saudara ku!”
Teriak Hantu Muka Merah histeris saat melihat Juli menyerap paksa Hantu Muka Kuning ke dalam telapak tangannya hingga tak tersisa, seandainya saja Pangeran Kesembilan tidak melarangnya maka Juli telah diserang habis-habisan olehnya.
Wajah Juli senyum senang setelah menyerap Hantu Muka Kuning, kini ia sambil mengambil dua kepala pasukan yang telah dicabutnya serta mempermainkan kepala itu seenak hatinya ia bahkan tidak perduli dengan niat baik pangeran yang ingin bernegosiasi denganya.
Pangeran Kesembilan baru menjenguk keluar kereta kuda matanya sudah terpelotot melihat sikap Juli yang sangat menghina keberadaannya,
‘Apa? Apa yang dipikirkan bocah monster ini, berani-beraninya dia mempermainkan kepala anak buahku? Apa dia tidak mengenaliku’ batin Pangeran wajahnya langsung merah padam saat melihat tindakan Juli yang terhitung mengerikan terhadap pasukan dan petinggi keparcayaannya.
Pangeran berusaha menekan kemarahannya kemudian ia memberikan hormatnya dengan terpaksa hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya,
__ADS_1
“Anak muda siapakah dirimu?” tanya pangeran tampan yang berusia 25 tahun ia terlihat sangat necis dan sering mengenakan baju kebesaran kerajaan di kesehariannya.
Juli senyum, “Pangeran, katakan apa rencanamu kemari? Sehingga kau menyerang anak-anak di wilayah ku ini?” tatapan mata Juli tajam tidak terlihat seperti anak seusianya.
Pangeran ke-sembilan orang yang sangat licik dan arogan, ia tahu kapan dirinya harus maju dan kapan saatnya ia harus mundur, saat ia melihat kemampuan Juli yang begitu mengerikan itu bukanlah saat yang tepat bagi dirinya untuk nekat, jadi dia sedikit melonggarkan keegoisannya untuk saat ini.
“Anak muda, aku datang kemari ingin menjenguk kawan lama, bolehkah kau memberikan kami jalan dan kita akhiri kesalah pahaman ini” tanya Pangeran ke-sembilan sedikit membungkuk merendahkan diri.
Juli menyeringai, “Katakan siapa yang kalian cari? Mungkin aku bisa membantumu” tanya Juli pada pangeran ke-sembilan dengan nada pura-pura penasaran.
“Senior!” Belum sempat Pangeran ke-sembilan menjawab pertanyaan Juli, tiba-tiba suara anak kecil perempuan terdengar memanggil dari arah belakangnya,
“Senior! Jangan kau permainkan kepala itu, buang sana aku jijik melihatnya” tegur Hana seraya menghampiri Juli dengan wajah sedikit kesal.
“Eh! Baiklah!”
Tanpa berdebat Juli segera melempar kepala itu ke sisi jasadnya yang telah terbujur kaku, “Oya Hana, kenapa kau lama sekali? Aku telah menyiapkan berapa orang untuk latihanmu, hehehe” ucap Juli melirik ke arah Hana dengan senyum sebisanya.
“Ah!”
Pangeran semakin terkejut dengan kemunculan Hana yang bisa membuat Juli patuh, Pangeran memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Hana dan ia dapat menduga kalau Hana adalah bosnya.
“Ah! Nona manis! Aku pangeran ke-sembilan di kerajaan ini, tadi kebetulan ada selisih paham yang terjadi di sini, aku harap nona tidak memperpanjang masalah dan kami berjanji akan membayar kompensasi atas kesalah pahaman ini, bagaimana nona manis?” Tawar Pangeran dengan nada lembut.
Selir Wie dari tadi hanya mendengar pembicaraan Juli dan Pangeran, namun begitu ia melihat Hana berada di sana ia langsung bergegas menuruni kereta kuda dan mendekati Pangeran ke-sembilan yang sedang bernegosiasi,
“Apa? Putri Kaisar Langit?”
“Ah yang benar saja”
“Apa Kita perlu bersujud?”
“Tidak usah bro, itu bukan putri kaisar kita”
Semua orang yang ada di sana tercengang, mereka tidak menduga bahwa anak perempuan dihadapannya merupakan buronan nomor satu bagi para petinggi siluman dan kekaisaran-kekaisaran dunia selama ini.
Panggilan itu bukan hanya mengejutkan pangeran dan pengikutnya tapi juga membuat Hana pucat pasi, iya tak menduga penyamarannya kali ini terbongkar oleh seorang selir, Hana mencoba melihat wajah selir itu dan mengingat-ingat.
“Eh! Bukankah kau, Dayang Wie yang mengkhiatiku kala itu hingga semua rahasiaku diketahui oleh semua orang” Hana menjadi marah saat mengingat pengkhianatan Selir Wie di Kekaisaran Langit.
Selir Wie menyerigai, “Tuan Putri, saya telah dihukum dan dibuang ke Bumi Barat, jadi pengkhiatanku telah tertebus, jadi tidak ada yang perlu di bicarakan lagi” Selir Wie kenal baik sikap Hana sehingga ia mengetahui segela kelemahan Hana,
Perlahan pandangan Selir Wie teralihkan pada Juli yang sedang berdiri santai belum melakuakan tindakan apapun, ‘Hm.. dia pasti salah satu dari lima Pasukan Malaikat Kerajaan Langit, konon beredar kabar pasukan ini berda di tingkat Dewa, dan yang bisa mengaktifkan mereka hanya kaisar sendiri, aku tidak menyangka kaisar bahkan mengirim salah satu pasukan terbaik Kerajaan Langit kemari untuk melindungi Putri Rihana, jadi ia sudah pasti sangat kuat, tapi pasukan malaikat tidak bisa berbuat banyak selama Hana tidak mengizinkannya untuk bertindak’ batin Selir Wie menduga-duga.
Juli melihat pangeran dan selir wie dengan tatapan bodoh, “Pangeran tuli! Apa kau tidak mendengar apa yang kutanyakan tadi? Apa perlu kau ku copot telinga mu? Hehehe” tanya Juli sambil tawa kikikan.
__ADS_1
Pangeran segera memberi Hormatnya pada Hana, “Ah! Maaf Tuan Putri, Pengawal mu sungguh tidak pintar menjaga sikap dan etikanya, mohon tuan putri memberikan pengertian untuk pengawalmu” Pangeran Justru memprofokasi Juli pada Hana dan mengacuhkan Juli yang berbicara padanya.
“Pekkkakkk!”
Swuusss…
Gerakan cepat tangan Juli mengcengkram tengkorak pangeran dan meremasnya hingga tengkoraknya hancur bertaburan.
Bruukk..
Terdengar suara ledakan yang membuat semua isi kepalanya keluar berceceran, dan hanya menyisakan badan yang masih berdiri tegak, “Hehehe… Kepala Pangeran bodoh tidak layak berada di depan ku!” Juli senyum gembira seraya menendang tubuh pangeran hingga terpental jauh jatuh puluhan meter dari tempatnya, lalu ia kembali melihat tangannya yang kini mulai berasap hitam.
“Apa?!”
“P-Pangeran!”
“Pangeran di bunuh!”
Semua orang terkejut sampai mereka syok berat, mereka tidak menduga Juli akan meyerang seorang pangeran sebrutal itu, biasanya seseorang akan berpikir dua kali untuk menyerang seorang pangeran tapi kali ini di depan mata mereka Juli melakukannya dengan sadis.
Selir Wie matanya melebar, seketika itu juga menjadi frustasi berat, mulutnya tergagap ia tidak menyangka Pasukan Malaikat akan sekejam itu ia segera menjatuhkan diri berlutut pada Hana untuk menghentikan tindakan brutal Juli.
“Putri k-ku mohon padamu, hentikan dia, aku tahu dia Pasukan Malaikat Kerajaan Langit yang dikirim untuk menyelamatkan mu, jadi t-tolong lah” Pinta Selir Wie tergagap memohon padanmya, raut wajah Hana kembali berubah, kini tatapan matanya tertuju pada Juli dengan sorot mata tajam dan penuh selidik.
“Katakan yang sebenarnya? Apa kau Pasukan Malaikat?” Tanya Hana dengan wajah berbeda dari sebelumnya wajah hana benar-benar terlihat serius.
“Heh! Kau bicara apa? Aku tidak mengerti”
Juli sebenarnya tahu siapa yang dimaksud tapi Juli memang bukan pasukan itu, namun jika di kehidupan sebelumnya Juli pernah menjadi sebagai Pasukan Malaikat Hana selama puluhan tahun dan ia tahu betul tingkat pasukan malaikat.
Hana senyum pahit mengangguk-angguk sambil memukul kepalanya, “Aku sungguh bodoh! Aku benar-benar tidak menduga sebelumnya, aku memang sempat curiga mu bahwa kau pasukan yang dikirim oleh ayahanda namun begitu melihat kemampuan mu yang begitu tinggi aku tidak percaya bahwa pasukan malaikat sejenius dirimu, sekarang sedikitnya aku bisa tahu rumor itu memang benar adanya”
Hana menatap Juli tajam sehingga Juli salah tingkah dan mulai berkeringat dingin, sejenak pandangan mata Hana tergiang pada tatapan mata Ratu Rihana yang sangat tegas dan dikaguminya di kehidupan sebelumnya.
Juli melambaikan kedua tangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya ia terlihat berkeringat dingin, otaknya terus berpikir mencari jalan keluar, “B-bukan! Aku bukan orang yang kau maksud, aku juga tidak mengenal wanita ini, siapa tadi pasukan malaikat?” tanya Juli sambil mundur karena Hana terus mendekatinya.
Hana tiba-tiba berhenti mendekati Juli, senyum bibirnya mekar kembali, “Entah kenapa, aku sangat mempercayai mu, kurasa didunia ini hanya kau lah yang mampu menipu ku” ucap Hana kini mengalihkan pandangannya pada Selir Wie.
“Selir Wie, sayangnya dia memang bukan pasukan malaikat, pasukan malaikat tidak bisa memiliki pengetahuan seperti dirinya, dia itu senior ku, jadi aku tidak bisa memerintahnya, karena jika ku perintahkan juga dia pasti tidak mau mendengarkan ku” Hana kini menundukkan kepalanya.
Juli menjadi ceria kembali, ‘Itu lah Ratuku kalau saja wataknya bukan demikian maka aku sudah lama mati’ Batin Juli kini menatap Hantu Muka Merah yang telah terbakar emosi hingga membuatnya menjadi patung.
Sementara Selir Wie kini merangkak kearah Juli dan bersembah sujud, “Ampuni hamba? Ampuni hamba tuan kecil?” Ucapnya mengiba sambil menangis-nangis.
Juli menyeringai, “Minta maaf sana sama monyet!” ucap Juli yang mulai melangkah mengahadapi Hantu Muka Merah bersiap melakukan perang.
__ADS_1
“Bangkitlah!”
**