
"Cermin, katakan! Siapa yang paling cantik di dunia ini", kata Rangda yang berdiri di depan cermin normal.
Saat ini cermin tersebut menunjukkan wajah Rangda sebab Rangda berdiri di depannya, melihat hal itu maka Rangda tersenyum penuh percaya diri "Cermin, kau benar-benar sangat tepat, bahkan kau bisa mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling cantik di dunia!".
Di belakang Rangda terdapat beberapa pelayan pria tampan, lebih tepatnya Rangda hampir mengumpulkan seluruh pria tampan yang menjadi pengikutnya.
Di antara para pelayan tersebut, ada seorang pria muda yang masih baru bekerja disini sehingga ia mengangkat tangannya "Nona, cermin itu sama sekali tidak tahu siapa yang paling cantik di dunia karena cermin hanya bisa menunjukkan sosok orang yang berdiri di depannya".
Wajah para pelayan lain langsung ketakutan, mereka bergerak menjauh dari pelayan baru tersebut seakan-akan melihat sosok yang bisa membawa bencana.
Ketika pelayan baru itu masih bingung, Rangda berbalik menatap dirinya dengan senyum ramah, walaupun sudah tersenyum ramah tapi wajah Rangda masih sangat buruk "Apakah kau pelayan baru disini? Kalau cermin ini salah maka katakan kepadaku, siapa yang paling cantik di dunia ini? Apakah itu aku?".
Pria itu menatap Rangda dengan aneh "Nona, apakah aku bodoh? Walaupun aku pelayan anda namun aku tidak akan berbohong, saat aku menatap wajah anda maka aku merasa akan muntah--".
"Brak!".
Sebelum pelayan pria itu bisa menyelesaikan perkataannya, Rangda memukul kepalanya hingga hancur. Lalu Rangda menatap ke arah para pelayan pria yang lain "Kalian, bersihkan mayat orang buta ini, ia bahkan sama sekali tidak bisa mengetahui kecantikan diriku".
Pelayan pria yang lain segera membersihkan mayat pria tersebut, meskipun seluruh tubuh mereka gemetar ketakutan tapi mereka masih melakukan tugas yang Rangda berikan sebab mereka lebih takut membuat Rangda marah.
Rangda menatap ke arah kepala pelayan sebelum berkata "Lain kali jangan hanya mencari pria tampan, tapi cari mereka yang bisa melihat dengan benar!".
Kepala pelayan membungkuk tubuhnya dengan gemetar "Aku mengerti nona, lain kali aku akan mencari pria yang lebih hebat berboho-- maksudku yang bisa melihat dengan jelas".
Rangda tidak memperhatikan kepala pelayan yang sedang berbicara tersebut, jika tidak maka kepala pelayan yang hampir salah berbicara itu pasti sudah mati.
__ADS_1
Lebih tepatnya seluruh perhatian Rangda mengarah menuju ke cermin karena ia menemukan dari cermin tersebut, bahwa Harad dan Anto sudah mati.
Rangda memegang cermin penuh rasa tidak percaya "Tidak mungkin! Bagaimana bisa Harad dikalahkan? Jika itu Anto, maka tidak aneh ia dikalahkan! Namun disini adalah Harad dan para Berserker, bagaimana mungkin mereka bisa kalah?".
Setelah beberapa saat, wajah Rangda menjadi semakin dingin, ia tahu bahwa musuhnya kali ini jauh lebih menakutkan daripada Harad. Mungkin Myro dan yang lainnya ini tidak kalah dari Barongan sendiri, sosok yang hampir membunuhnya.
"Kepala pelayan, beritahu seluruh pasukan untuk memperkuat penjagaan terhadap istana, selain itu sebarkan ke seluruh hutan bahwa siapapun yang bisa membunuh Myro maka akan mendapatkan pertemanan dari diriku. Selama mereka menjadi temanku maka aku tidak menyerang mereka, bahkan aku akan membantu mereka menjadi kuat seperti para Berserker. Bukan hanya itu, aku akan memberikan ribuan kristal emas seukuran jari sebagai hadiah bagi siapapun yang bisa membunuh Myro", kata Rangda dengan dingin.
Sebelum kepala pelayan pergi,. Rangda berjalan ke arah meja untuk mengambil sebuah kertas.
Ia mengulurkan tangannya dan menggunakan sihir hitam pada kertas tersebut, perlahan-lahan sosok Myro mulai digambar pada kertas itu.
Rangda melemparkan kertas tersebut kepada kepala pelayan "Ini gambar Myro, beritahu seluruh hutan secepat mungkin. Selain itu kalian para pelayan yang lain juga bisa pergi dari sini, aku akan beristirahat lebih awal hari ini".
"Baik, nona", teriak para pelayan yang mulai melarikan diri dari tempat ini secepat mungkin.
...----------------...
Saat ini Myro sedang mengumpulkan Cesi dan yang lainnya, sepanjang jalan maka Cesi menatap Myro secara ganas tanpa henti, namun Myro sama sekali tidak peduli terhadap kebencian Cesi pada dirinya.
Pona yang mengetahui semua itu berkata penuh penasaran "Myro, Cesi, apakah kalian saling bermusuhan?".
"Tidak, kami sama sekali tidak bermusuhan", kata Cesi yang tidak senang, tapi ia tidak berani mengatakan bahwa ia membenci Myro sebab kontrak dan racun yang ada di tubuhnya masih berada di tangan Myro.
Myro mengetuk tembok dengan ringan yang langsung menarik perhatian semua orang, lebih tepatnya hanya ada Cesi, Pona, Cindaku dan Zion yang sedang berdiri di sekitar Myro.
__ADS_1
"Zion, apakah kau mengenal para kepala desa yang lain di hutan ini?", tanya Myro.
Mendengar hal itu, Zion mengangguk "Kami sebenarnya cukup dekat, bagaimanapun kami dulu pernah saling membantu di medan perang melawan Rangda".
"Baiklah, kalau begitu kau bisa meyakinkan mereka untuk berkumpul! Selama mereka masih memiliki keberanian untuk melawan Rangda maka mereka bisa ikut bersamaku", kata Myro.
"Maksud tuan--", kata Zion yang ragu-ragu, namun ia sudah memikirkan bahwa Myro kemungkinan besar akan memulai perang besar-besaran melawan Rangda.
"Apa yang kau pikirkan itu benar, aku akan memulai perang melawan Rangda", kata Myro tanpa ragu sedikitpun.
"Tuanku, apakah kau yakin? Aku sama sekali tidak meragukan tentang seberapa kuat tuan, tetapi kekuatan Rangda sudah bisa dikatakan sangat menakutkan! Di masa lalu, aku pernah melihat Rangda yang bertarung melawan Barongan. Jika mereka bertarung maka seluruh dunia ini pasti gemetar, bahkan langit yang cerah akan berubah menjadi hujan badai akibat tindakan mereka", kata Cindaku yang mengingat kejadian masa lalu itu.
"Tidak perlu khawatir, aku yang sekarang bisa melawan Rangda. Apa yang paling penting yaitu aku membutuhkan orang-orang untuk melawan pengikut Rangda", kata Myro tersenyum percaya diri.
Di Dunia Kaisar, keberadaan Jendral Martial hanyalah masalah kecil, namun di dunia ini berbeda. Seharusnya keberadaan Jendral Martial sudah cukup untuk menggetarkan seluruh dunia ini, bahkan apabila Rangda adalah Raja Martial sekalipun maka Myro masih memiliki kepercayaan diri untuk melawannya.
Melihat Myro yang percaya diri, Cindaku tidak berbicara lebih banyak lagi dan merasa sedikit bersemangat. Bagaimanapun ia sudah sangat marah terhadap pemerintahan Rangda yang sangat kejam, sekarang ada kesempatan untuk menyerang balik sehingga Cindaku merasa bersemangat.
"Tuan, kalau begitu berikan aku waktu selama 3 hari! Aku akan memanggil ribuan harimau yang ada di seluruh hutan ini untuk membantu", kata Cindaku dengan tegas.
Myro mengangguk "Baiklah, aku memberimu waktu 3 hari, begitu juga Zion! Tidak peduli seberapa banyak yang kalian kumpulan, kalian harus berkumpul di tempat ini lagi setelah 3 hari. Walaupun ada mereka yang menolak untuk membantu, maka kalian bisa meninggalkan mereka, aku tidak tertarik untuk membawa mereka yang sudah tidak memiliki tekad untuk melawan Rangda lagi. Apakah kalian mengerti, Cindaku, Zion?".
"Baik!", jawab Cindaku dan Zion di waktu yang sama.
"Myro, kau akan pergi kemana selama 3 hari ini?", tanya Pona yang menyadari bahwa Myro sepertinya tidak berencana untuk ikut Cindaku ataupun Zion mengumpulkan pasukan.
__ADS_1
"Aku akan pergi meyakinkan 2 penguasa hutan yang lain, bagaimanapun manusia dan para harimau sama sekali belum cukup untuk bisa melawan Rangda", kata Myro yang memberitahu rencananya tanpa ragu "Untuk mengalahkan Rangda maka 4 penguasa hutan harus dikumpulkan, kecuali Anto yang sudah mati".