KEMBALINYA SANG KAISAR

KEMBALINYA SANG KAISAR
09. Karena Kau Bukan Mereka


__ADS_3

“Baik Jenderal.”


Api berkobar di pedang Jenderal Wang Sui dan Komandan Xing Mi.


“Pedang api iblis tingkat 2” Jenderal Wang Sui mengeluarkan serangan andalannya. Pedang api iblis tingkat 2 hanya bisa dilakukan oleh kultivator dengan ranah langit minimal tingkat 2. Seketika api abu-abu dengan kepekatan warna lebih tinggi semakin berkobar di pedang Jenderal Wang Sui.


Jenderal Wang Sui terus menebaskan pedangnya, Dia meningkatkan energinya menjadi 60%, namun tetap saja tidak ada satupun serangannya yang mengenai Kakek Han Yu.


Jenderal Wang Sui meningkatkan energinya menjadi 80%, kepekatan warna api pada pedangnya pun semakin meningkat.


“Sreng sreng trang” Pedang jenderal Wang Sui, Jenderal Xing Mi dan Kakek Han Yu terus berbenturan. Gabungan serangan Jenderal Wang Sui dan jenderal Xing Mi sangat apik, namun gabungan kekuatan mereka tetap saja tidak dapat melemahkan serangan Kakek Han Yu.


Peluh keringat membanjiri badan pasukan iblis. Panas pedang dan pengerahan tenaga besar-besaran membuat keringat mengalir semakin banyak.


“Menyerahlah kalian!”


“Bodoh, tidak akan mungkin kami menyerah.”


“Tarian kematian.” Jenderal Wang Sui berputar dengan pedang di tangannya. Sebuah pusaran api sangat besar bergerak ke arah Kakek Han Yu. Pusaran itu berputar menyelubungi Kakek Han Yu. Duri-duri yang terbuat dari api abu-abu bermunculan. Duri yang ikut berputar dalam pusaran angin itu bergesekan dengan tubuh Kakek Han Yu.


“Akh.” Sebagian duri jurus tarian kematian mengenai Kakek Han Yu. Namun tidak banyak melukainya karena Kakek Han Yu mengeluarkan jurus perlindungannya.


“Dinding es.” Kakek Han Yu segera mengaktifkan dinding es, salah satu jurus yang membentuk dinding perlindungan. Dinding es yang melingkupi Kakek Han Yu sangat kuat karena menggunakan energi yang cukup besar. Duri-duri yang bergesekan dengan dinding es mulai tumpul.


“Kakek tua ini ternyata kuat sekali, bahkan salah satu jurus terkuatku pun tak mampu mengalahkannya.” Batin Jenderal Wang Sui. Dia pun meningkatkan energinya, akhirnya duri-duri yang sebelumnya tumpul menjadi runcing kembali, bahkan tingkat ketajamannya meningkat.


“Sring sring sring byar.” Suara gesekan antara duri api dan dinding es semakin keras, beberapa bagian dinding api mulai rusak dan meleleh.


“Lumayan juga kau Jenderal, he he” Kakek Han Yu meningkatkan kekuatan dinding es nya.


"Peluru es." Ribuan peluru yang terbuat dari es tercipta. Peluru kecil yang tercipta segera melesat ke pusaran api dan kemudian membelah menyebar ke seluruh pusaran api. Tak berselang lama pusaran itu pun membeku membentuk seperti cerobong asap yang tinggi.

__ADS_1


“Pecah!” Pusaran yang membentuk cerobong asap itupun pecah menjadi kepingan kecil dan segera mencair.


“Baiklah kalau begitu, sudah saatnya pertempuran berakhir.”


“Wilayah es” Kakek Han Yu membuat sebuah daerah perang dari es. Siapapun yang masuk daerah ini tidak akan bisa keluar sebelum orang yang mengaktifkannya kehabisan tenaga. Dengan wilayah es, suhu di daerah peperangan turun drastis. kekuatan api juga berkurang.


“Komandan!”


“Siap.”


Jenderal Wang Sui dan Komandan Xing Mi mengarahkan pedang apinya ke wilayah es. Mereka berharap es yang melingkupi daerah pertempuran mencair. Karena tidak ada perubahan Jenderal Wang Sui meningkatkan pemakaian energinya menjadi 100 %.


“Gawat, energiku sudah mencapai puncaknya” Batin Jenderal Wang Sui.


“Pecahan es” Seketika jutaan pecahan es berbentuk kerucut berjatuhan dari langit, dengan suhu yang sangat dingin dan lantai yang licin tidak ada pasukan iblis yang berhasil menghindar.


“Tameng Api” Jenderal Wang Shui berhasil menciptakan tameng dari energinya. Namun tameng tersebut hanya bisa melindungi dirinya saja.


“Tua bangka si****. Kau akan segera mati!”


“Aku mati? Bukannya seluruh pasukanmu sudah habis?”


“Tidak ada jalan lain, melakukannya atau tidak aku tetap akan mati, setidaknya namaku tetap tercatat baik di kerajaan.” Batin Jenderal Wang Sui, Dia pun kemudian memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya. Pil itu berfungsi mengumpulkan seluruh energi di dalam tubuhnya ke dalam dantian, kemudian memadatkannya menjadi ukuran yang sangat kecil.


“Mau meledakkan diri? Jangan harap.”


“Array perlindungan.” Kakek Han Yu membuat Array perlindungan yang melingkupi Jenderal Wang Sui.


“Si****.” Jenderal Wang Sui sudah tidak bisa mengendalikan energi di dalam dantiannya. Energi yang besar di dalam dantiannya sudah mulai memberontak untuk meledak.


Jenderal Wang Sui tidak ada pilihan lain. Jika ia hidup akan dianggap gagal melaksanakan tugas dan akan mendapat hukuman mati, sedangkan jika dia berhasil membunuh lawannya, ia akan terkenang sebagai pahlawan di dunia iblis.

__ADS_1


Jenderal Wang Sui memilih mengakhiri hidupnya dengan meledakkan diri. Dia berharap bisa membunuh lawannya. Namun semua usahanya sia-sia karena sudah ada array yang menahan ledakan tubuhnya.


“Duar duar duar.” Ledakan terus menerus dari tubuh Jenderal Wang Sui. Ledakan itu berusaha menembus array, namun karena array yang dibuat Kakek Han Yu sangat kuat, ledakan hanya terjadi di dalam array.


Setelah Tubuh Jenderal Wang Sui menjadi kabut darah dan ledakan yang terjadi sudah berhenti, Kakek Han Yu menarik kembali array yang dibuatnya. Bau amis segera menyeruak dari tempat ledakan. Terlihat darah tercecer dimana-mana.


Tempat yang sebelumnya begitu gaduh dengan ledakan berubah menjadi sunyi.


“Keluarlah!” Kakek Han Yu tahu, sejak awal dia dan Jenderal Wang Sui diikuti oleh seseorang. Dia pun memanggil seseorang yang berada sekitar 1 KM darinya dengan menggunakan sedikit energi jiwanya.


Seseorang keluar dari balik pohon, dia berjalan pelan menuju Kakek Han Yu. Dia adalah bocah yang dibawa Kakek Han Yu dari Desa Anhui.


Bocah itu kemudian berjalan lebih dekat ke depan Kakek Han Yu. Matanya menatap dengan penuh tanda tanya ke mata Kakek Han Yu.


"Kenapa engkau membawaku?" Bocah itu heran mengapa dia dibawa oleh Kakek-kakek di depannya, mereka adalah musuh. Menurutnya dia seharusnya sudah dibunuh bukan diselamatkan.


"Karena kamu bukanlah mereka."


"Maksudnya?"


"Kamu adalah manusia dan mereka iblis, jelas jauh berbeda."


"Apa perbedaannya?"


"Manusia dan iblis sama-sama memiliki akal dan nafsu, namun sifat manusia lebih mengedepankan akalnya dibanding nafsunya sedangkan iblis lebih mengedepankan nafsu dibanding akalnya."


"Selama ini aku hanya melihat manusia dan iblis sama saja, bedanya hanya fisiknya. Jika manusia memiliki warna tubuh cerah, iblis berwarna gelap, manusia tidak memiliki tanduk, iblis memiliki tanduk."


"Manusia sering meminta bantuan kepada raja iblis untuk menghancurkan saudaranya sendiri, bukankah itu membuktikan manusia dan iblis sama saja?"


"Manusia memiliki mata untuk bisa melihat kebaikan, memiliki telinga untuk mendengarkan kebaikan, memiliki kaki untuk berjalan menuju kebaikan dan memiliki tangan untuk memberikan kebaikan."

__ADS_1


__ADS_2