KEMBALINYA SANG KAISAR

KEMBALINYA SANG KAISAR
BAB 99 : KEMBALI MENJADI MANUSIA


__ADS_3

Myro menarik nafas dan bersiap untuk melangkah maju, tapi Cindaku bergerak lebih dulu.


Dengan kaki harimau yang sudah diperkuat miliknya, sosok Cindaku langsung menghilang. Hampir seluruh orang yang ada di sekitar sama sekali tidak bisa melihat gerakan Cindaku, kecuali Myro dan Cesi.


Di mata Myro saat ini, gerakan Cindaku terlihat sangat jelas, bahkan bisa dikatakan sangat lambat. Walaupun kultivasi Cindaku yang sekarang lebih tinggi daripada Myro, namun dari segi jumlah inti kultivasi maka Myro tidak terkalahkan. Oleh karena itu, kekuatan Myro sama sekali tidak bisa disesuaikan dengan Saint King tingkat rendah yang lain.


"Cakar Kematian!", teriak Cindaku yang bergegas menuju Myro sambil mengangkat cakarnya.


Setelah cukup dekat dari Myro, Cindaku menebaskan cakarnya tanpa ragu.


Menghadapi cakar kematian yang sangat kuat dari Cindaku, Myro sama sekali tidak panik melainkan menarik pedangnya dengan hati-hati "Tebasan Malam tanpa Akhir tahap 1, Tebasan tak Terlihat".


"Slash!".


Gerakan tebasan Myro terlalu cepat sampai-sampai Cindaku tidak bisa melihat gerakannya sedikitpun.


Karena tidak bisa melihat gerakan Myro, Cindaku berpikir bahwa ia ditakdirkan mati di bawah tebasan Myro.


Tetapi ketika ia menutup matanya maka rasa sakit yang ia tunggu tidak pernah muncul, Cindaku membuka matanya kembali untuk menemukan bahwa tidak ada luka di tubuhnya sehingga ia kembali menebas Myro.


Cindaku yang sedang bertarung tidak banyak berpikir kenapa tebasan Myro tidak melukai dirinya, ia hanya berpikir bahwa Myro mungkin salah arah ketika menebas.


Tetapi saat cakar Cindaku mengenai Myro maka sesuatu yang mengejutkan terjadi, cakar tajam Cindaku langsung lepas dari tangannya. Lebih tepatnya, Cindaku menemukan terdapat sebuah jejak tebasan pada cakar miliknya, ternyata Myro tidak menebas pedang itu ke arah dirinya atau salah arah melainkan Myro memotong cakarnya.


Cindaku yang gagal memukul Myro segera mengangkat kakinya untuk menendang Myro "Jika aku tidak bisa mencakar mu maka aku hanya perlu menendang mu!".


Myro ikut mengangkat kakinya dan menendang ke arah Cindaku, 2 kaki itu saling bertabrakan.

__ADS_1


"Brak!".


Suara patah tulang terdengar sewaktu 2 kaki bertabrakan, Cindaku merasa seluruh tulang kakinya hancur. Ketika kakinya menabrak Myro maka ia merasa seperti sedang menendang sebuah besi yang sangat kuat.


Setelah kehilangan cakar dan kakinya, Cindaku masih menolak untuk mengaku kalah. Ia membuka mulutnya untuk menggigit Myro "Kalau cakar dan tendangan sudah gagal maka aku hanya perlu menggigit mu, aku pasti tidak akan kalah apabila itu tentang kekuatan gigitan".


Ketika taring di mulut Cindaku akan menggigit pundak Myro maka Myro mengangkat tinjunya dan memukul wajah Cindaku.


"Brak!".


Tubuh Cindaku berputar-putar di udara akibat pukulan tersebut sebelum jatuh ke tanah, ia memuntahkan seteguk darah bersama beberapa gigi taring yang ia banggakan.


Cindaku sekarang merasa putus asa, baik itu cakar, tendangan dan gigitan yang ia banggakan hancur dihadapan Myro, saat ini ia mengerti bahwa dirinya sama sekali bukan lawan Myro.


Melihat Cindaku yang kehilangan semangat bertarungnya, Myro tersenyum mengejek "Ada apa? Ayo berdiri! Bukankah kau tadi terlihat sangat bangga terhadap kekuatan milikku? Kau bisa menggunakan semuanya, di sisi lain aku juga akan menghancurkan kekuatan yang kau banggakan itu!".


Cindaku yang sudah putus asa langsung menerkam ke arah Myro, tanpa peduli pada luka di tubuhnya maka ia mencoba menyerang Myro memakai serangan kejutan "Jangan remehkan kekuatan harimau milik kami!".


"Brak!".


Tubuh Cindaku terbang sejauh puluhan meter sebelum menabrak sebuah pohon besar cukup keras, bahkan pohon itu langsung hancur akibat tabrakan tubuh Cindaku.


"Dengan ini maka sudah selesai!", kata Myro penuh percaya diri, ia yakin bahwa dengan serangan tadi maka Cindaku pasti sudah kalah.


Tidak lama kemudian, sosok Cindaku kembali terlihat dari balik asap akibat tabrakan.


Cindaku berbaring di tanah dengan banyak luka di tubuhnya, selain itu sosok Cindaku sudah kembali ke bentuk manusianya yang merupakan seorang pria dengan rambut hitam pendek.

__ADS_1


Melihat Cindaku yang sudah kalah, para harimau berhenti bertarung dan bergegas menuju Cindaku untuk membawanya pergi.


Para harimau ini tidak melarikan diri meninggalkan Cindaku melainkan mencoba membawa Cindaku bersama mereka, hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat setia


Zion yang sebelumnya sudah ketakutan kembali dikejutkan atas kemenangan Myro, tetapi ia kembali sadar sewaktu para harimau mencoba melarikan diri membawa Cindaku "Kalian semua, tuan Myro sudah memenangkan pertarungan ini! Sebagai pengikut tuan Myro maka kita tidak boleh mengecewakannya, jangan biarkan para harimau itu membawa kembali Cindaku pergi dari sini!".


Tanpa menunggu jawaban dari rekannya yang lain, Zion sudah melangkah maju lebih dulu dan menghentikan 10 hari secara bersamaan.


Para penduduk kota yang duduk ketakutan di tanah saling menatap, setelah itu mereka mengangkat pedang mereka penuh semangat "Aaaaa!".


Tidak aneh apabila para prajurit ini menjadi sangat bersemangat, lagipula pemimpin baru mereka yaitu Myro sangatlah kuat, tentunya hal ini membuat para penduduk juga semakin senang sebab semakin kuat Myro maka kemungkinan bertahan hidup mereka juga menjadi lebih besar.


Melihat para penduduk yang menghentikan para harimau melarikan diri, Myro sama sekali tidak peduli melainkan berbalik ke arah Cesi "Bawa tubuh Cindaku yang sudah menjadi manusia itu ke rumah Zion, jika diperlukan maka rawat sedikit luka-lukanya agar ia tidak mati. Tetapi apabila lukanya tidak terlalu buruk maka kau tidak perlu mengobatinya".


"Kenapa aku harus melakukannya?", kata Cesi dengan aneh, sebagai Kaisar Martial maka ia belum pernah melakukan ini.


Bahkan Cesi di Dunia Kaisar memiliki banyak pengikut serta muridnya sendiri, oleh karena itu selama ia membutuhkan sesuatu maka orang-orang ini akan melakukan hal tersebut untuk dirinya, ia belum pernah membawa orang yang terluka atau sesuatu seperti itu.


Myro menatap Cesi sambil memutar matanya "Apakah kau tidak membutuhkan lagi obat penyembuhan?".


Mendengar hal tersebut, Cesi hanya bisa merasa pahit sebelum pergi untuk membawa tubuh Cindaku, lagipula ia masih membutuhkan obat Myro.


Bersamaan dengan Cesi yang pergi, Myro menatap ke sebuah arah dan mengulurkan tangannya "Bukankah terlalu tidak sopan untuk melihat orang lain tanpa izin seperti itu, Rangda?".


"Booooom!".


Suara ledakan terdengar di tempat tersebut yang membuat para penduduk serta harimau terkejut, tapi mereka sama sekali tidak bisa menemukan asal suara ledakan itu yang membuat mereka tidak terlalu memikirkannya lagi dan kembali bertarung.

__ADS_1


Setelah memastikan bahwa tidak ada jejak Rangda lagi di sekitar, Myro juga pergi untuk menemui Cindaku buang dirawat.


Sebenarnya Myro sudah tahu mengenai keberadaan Rangda yang menonton, tapi Myro membiarkannya untuk terus menonton sampai pertarungan ini selesai agar Rangda menjadi semakin panik dan khawatir terhadap keberadaan Myro. Lagipula semakin seseorang merasa panik atau khawatir, maka di sana mereka akan semakin menunjukkan kelemahan yang ada pada mereka.


__ADS_2