KEMBALINYA SANG KAISAR

KEMBALINYA SANG KAISAR
BAB 291 : APAKAH KAU YAKIN? (ENDING 1)


__ADS_3

Pria berambut hitam pendek yang tidak lain adalah Myro ini menatap ke arah pria dengan payung tersebut, sebuah senyuman muncul di wajah Myro "Maaf sudah membuatmu menunggu, aku berpikir untuk menemui semua orang terakhir kalinya! Bagaimanapun kami mungkin tidak akan bertemu lagi".


Pria berambut hitam itu mengarahkan payungnya ke arah Myro agar hujan tidak mengenai Myro lagi, walaupun Myro bisa melindungi dirinya dari hujan dengan kekuatannya tapi Myro tidak melakukan hal tersebut sebab hujan menekan perasaan sedih Myro.


Masalahnya pria itu sama sekali tidak bisa duduk diam melihat Myro yang kebasahan oleh air hujan tersebut, ia berkata "Aku tidak masalah untuk menunggu selama beberapa hari, jangankan beberapa hari, menunggu beberapa tahun sekalipun hanya masalah kecil bagiku. Sebagai pemegang tahta maka kita bisa terus hidup sampai ada orang yang membunuh kita, tapi apakah kau yakin, Myro? Apakah kau tidak keberatan meninggalkan rekan-rekan mu seperti itu? Kau berbeda dari kami, sebagai pemilik tahta terakhir maka semua rekanmu masih hidup sedangkan kami para pemilik tahta yang sudah tua hanya bisa bangun ketika pemilik tahta terakhir yaitu ke 9 naik. Namun, saat kami bangun maka semua rekan dan keluarga kami sudah tidak ada lagi".


"Oleh karena itu, kau berbeda dari kami! Masih ada jalan kembali untukmu, apakah kau yakin untuk membiarkan semuanya berakhir seperti ini?".


Myro menggelengkan kepalanya sedikit "Turgo, aku tahu bahwa ini adalah pilihan yang terbaik. Bukankah pemegang tahta ke 4 mencoba membuat keluarganya sendiri juga? Namun apa yang terjadi padanya sekarang? Keluarganya hancur, ia memang bisa menekan kekuatan tahta selama beberapa tahun. Namun apabila sudah lebih dari 2 tahun maka tekanan tahta tidak bisa lagi di tekan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan pemegang tahta ke 4 ketika melihat anak dan istrinya membenci serta takut kepada dirinya akibat tekanan tahta tersebut. Bahkan aku mendengar bahwa istrinya sudah melarikan diri meninggalkan dirinya, bukankah lebih baik tidak pernah bersama daripada berakhir seperti itu?".


"Kau benar juga", kata Turgo dengan sedih "Aku mendengar bahwa pemegang tahta ke 4 mengalami kesedihan akibat masalah itu. Ia terus berdiam diri di rumahnya seperti orang bodoh, dengan keadaan seperti itu maka ia tidak bisa bertarung lagi. Padahal kita masih memiliki lawan 9 pilar, tapi sebelum bertarung maka 1 dari 9 tahta sudah tidak bisa bertarung lagi. Aku tidak yakin apakah kita masih bisa menang".


"Myro, ayo pergi! Pemegang tahta ke 1 kemungkinan besar sudah menunggu kita! Pertemuan pemegang tahta sudah di mulai, meskipun kita bangun pada waktu yang berbeda dan kau adalah pemegang tahta terakhir yang bangun, tapi kita harus bekerja sama untuk mempertahankan dunia ini, kami menunggu sampai semua pemegang tahta lengkap sebelum mengadakan pertemuan ini".


Myro melihat sedikit ke belakang, ia mengingat semua rekan lama yang sudah ia temui barusan. Setelah itu, Myro menutup matanya dan menatap Turgo lagi "Ayo pergi".


Ketika 2 orang itu berencana pergi, sebuah langkah kaki terdengar dari belakang mereka.


Langkah kaki itu terdengar sangat terburu-buru seperti sedang mengejar sesuatu.


Turgo yang sedang membagi payungnya dengan Myro menemukan bahwa Myro menghentikan langkahnya, Turgo tidak bisa untuk tidak berkata "Ada apa?".


Sebelum Myro bisa menjawabnya, sosok seorang wanita dengan rambut hitam panjang yang terkena hujan berlari mendekati mereka.


Wanita ini berusia hampir sekitar 20 tahun, namun ia masih memakai pakaian sekolahnya yang menunjukkan bahwa ia masih anak SMA.


Melihat wanita itu, Turgo sedikit terkejut "Kenapa wanita itu bisa datang kesini? Myro, bukankah kau seharusnya tidak menemui wanita ini?".

__ADS_1


Wanita itu tidak peduli dengan air hujan yang terus mengenai dirinya, ia berteriak marah kepada Myro "Guru, kenapa kau tidak datang menemui ku? Padahal kau datang menemui Zhi Li, Gristi, Rena, Kitsune, Shi Yan, Sun Wu, Feka, Monica dan semua orang, kenapa kau tidak datang untuk menemui ku juga! Padahal aku selalu berusaha mengejar mu dari kemarin, namun setiap kali aku datang maka kau pasti sudah pergi! Guru, kenapa? Apakah aku tidak cukup berharga untuk kau temui?".


Myro tidak melihat ke arah wanita itu sama sekali, ia hanya berkata dengan dingin "Aku tidak menemui mu sebab aku tahu, di antara seluruh orang maka hanya dirimu yang memiliki kemungkinan paling besar untuk tetap mengingatku. Bagaimanapun, di antara semua orang maka kau adalah wanita yang paling keras!".


"Lalu kenapa kau pergi? Paling tidak, ajak aku juga pergi bersamamu!", teriak wanita itu.


"Pergi!", kata Myro yang akhirnya menatap wanita itu dengan dingin "Kau sudah bisa hidup dengan baik di dunia ini, anggap semua ingatanmu tentangku hanya sebuah mimpi buruk! Selain itu kau tidak bisa ikut bersamaku, Kaisar Martial sekalipun tidak bisa menahan aura dari pemegang tahta, apalagi kau sekarang sudah menjadi orang normal".


"Aku pasti bisa menahannya, selama itu guru maka aku pasti bisa menahan rasa sakit apapun! Bukankah guru sendiri tahu, sudah berapa banyak rasa sakit yang harus aku tahan untuk bersama guru!", teriak wanita itu.


"Apakah kau yakin? Biarkan aku tunjukkan kepadamu bahwa aura dari pemegang tahta bukan sesuatu yang orang sepertimu bisa tahan" kata Myro dengan dingin, aura menakutkan muncul dari tubuh Myro.


Bahkan Turgo yang ada di samping Myro terkejut, ia melemparkan payungnya sebelum berteriak "Myro, apakah kau sudah gila? Menggunakan aura milikmu di sebuah kota seperti ini akan mempengaruhi terlalu banyak orang!".


Myro tidak memperdulikan perkataan Turgo, ia hanya memperkuat aura di tubuhnya.


Hanya akibat tekanan ini, wanita itu berlutut di tanah dan muntah, tekanan Myro yang sudah menjadi pemegang tahta bukan sesuatu yang bisa di tahan oleh manusia normal, bahkan Kaisar Martial sekalipun tidak bisa.


"Lihat, ini yang membuat kau tidak bisa bersamaku", kata Myro dengan dingin "Turgo, ayo pergi dari sini".


Turgo melihat Myro dan wanita yang berlutut di tanah itu sebelum menggelengkan kepalanya serta menghela nafas "Seperti yang kau katakan, lebih baik tidak pernah bersama daripada harus menunggu waktu dimana mereka meninggalkan kita, ayo pergi".


Saat Myro dan Turgo baru akan pergi lagi, wanita itu berdiri sambil berteriak "Tunggu!".


Myro tidak berencana untuk menunggu wanita tersebut, namun Turgo memegang pundak Myro sambil berkata "Bukankah paling tidak kau harus menghargai kerja keras wanita itu?".


"Apa maksudmu--", sebelum Myro bisa bertanya, ia terkejut sebab Myro menemukan wanita yang ada di belakangnya itu benar-benar berjalan mendekati dirinya.

__ADS_1


Walaupun masih ada tekanan dari pemegang tahta, wanita itu menggertakkan giginya hingga sebuah darah jatuh dari mulutnya.


Tidak diketahui berapa lama waktu berlalu, wanita itu berhasil berdiri di depan Myro meskipun harus menahan tekanan tersebut.


Wanita itu tersenyum di depan Myro dengan wajahnya yang seputih kertas "Lihat guru, aku masih bisa tetap bersamamu! Meskipun cukup sulit untuk menghadapi aura dari pemegang tahta ini, aku tidak akan takut ataupun melarikan diri akibat aura ini. Sebab, Guru-- Tidak, bagiku Myro jauh lebih penting dan berharga daripada rasa takutku terhadap aura ini. Oleh karena itu, biarkan aku tetap bersama--".


Sebelum bisa menyelesaikan kata-katanya, wanita itu kehilangan kesadarannya dan jatuh ke tanah.


Namun sebelum tubuh wanita itu bisa jatuh ke tanah, Myro menangkapnya, ia menarik kembali aura pemegang tahta tersebut. Turgo hanya mengamati semua itu dari samping sambil tersenyum "Benar-benar pria yang beruntung, bahkan ada seorang wanita yang bisa menahan rasa sakit dari aura pemegang tahta itu hanya untuk dirimu. Myro, bukankah sebagai seorang pria maka kau harus menghargai perasaan wanita itu?".


Hujan mulai berhenti, Myro mengangkat tubuh wanita itu di tangannya "Turgo, beritahu kepada pemegang tahta ke 1 bahwa aku tidak bisa ikut pertemuan hari ini, aku akan datang ke pertemuan berikutnya".


Mendengar perkataan Myro, Turgo mengangguk mengerti "Aku tahu, pemegang tahta ke 1 pasti tidak akan marah. Baiklah, aku pergi sekarang!".


Setelah Turgo pergi, Myro menatap wanita yang ada di tangannya itu.


Lalu ia mengangkat kepalanya menuju langit yang sudah mulai cerah dari hujan barusan, ada sebuah senyum lembut di wajah Myro "Kau benar-benar keras kepala dari dulu hingga sekarang".


(Tamat)


...----------------...


Berikutnya adalah ending 2 yang diulang kembali dari waktu beberapa menit sebelum Myro mendapatkan tahta, di ending 2 ini Myro akan mengambil jalan berbeda dari ending 1.


Apabila ada yang merasa bahwa ending ke 1 sudah cukup, maka tidak perlu lanjut ke ending 2.


Salam, Ark Vest.

__ADS_1


__ADS_2