KEMBALINYA SANG KAISAR

KEMBALINYA SANG KAISAR
BAB 286 : PERUBAHAN (ENDING 1)


__ADS_3

"Berita hari ini, kemarin malam sebuah petir yang sangat besar menabrak tanah dengan keras hingga menyebabkan kerusakan pada tanah tersebut. Untungnya petir menabrak tanah yang jauh dari pemukiman penduduk, oleh karena itu tidak ada seorangpun yang menjadi korba atas kejadian ini. Saat ini, para ahli sedang bergegas menuju ke lokasi kejadian untuk memeriksa--".


Suara laporan berita itu berasal dari sebuah toko yang sedang menjual tv, mereka meletakkan tv mereka di depan sambil menyiarkan berita untuk menunjukkan kepada para pelanggan bahwa mereka menjual tv yang bagus.


Saat ini di depan tv yang dilindungi oleh tembok kaca tersebut, seorang anak laki-laki berusia sekitar 20 tahun dengan rambut hitam pendek dan mata hitam berdiri disana.


Ia hanya memakai baju kaos berwarna hitam dan celana panjang berwarna hitam juga, oleh karena itu anak laki-laki tersebut sama sekali tidak menarik perhatian.


Anak laki-laki itu berdiri di depan tv selama beberapa saat untuk menemukan tanggal dan waktu yang disiarkan di TV tersebut "Apakah sudah 2022? Waktu berjalan dengan sangat cepat, siapa yang berpikir aku sudah pergi sejauh itu".


Setelah mengatakan hal tersebut, anak laki-laki itu pergi ke sebuah gang di samping toko sebelum menghilang.


Saat ini, di sebuah sekolah dasar yang terletak pada suatu desa dekat dari kota kecil tersebut, seorang pria tua yang memiliki janggut putih panjang sedang sibuk mengajar anak-anak SD di depannya mengenai pelajaran Matematika.


Ketika suara alarm yang menunjukkan sekolah sudah berakhir, para murid berteriak senang.


Pria tua itu hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum pahit, ia sudah menjadi guru dari murid sekolah dasar ini selama puluhan tahun sehingga ia tidak terkejut lagi dengan murid-murid yang senang terhadap suara alarm yang menunjukkan bahwa waktu sekolah sudah berakhir.


"Kalian bisa kembali ke rumah kalian masing-masing sekarang, jangan lupa kerjakan PR yang sudah aku berikan kepada kalian", kata pria tua itu dengan tegas.


"Kami mengerti, Guru Lanzar! Terima kasih sudah mengajari kami hari ini", kata anak-anak itu yang berlarian pergi dari kelas.


Lanzar sedikit menggelengkan kepalanya terhadap sikap anak-anak ini, tetapi ia kembali tersenyum. Ia senang melihat anak-anak yang bersemangat seperti ini, oleh karena itu ia bisa bertahan menjadi guru sekolah dasar selama puluhan tahun.

__ADS_1


"Pak Tua Lanzar, aku rasa kau sudah terlalu tua dan bisa berhenti dari sekolah ini, bukankah kau sudah memiliki cucu? Lebih baik pensiun dan merawat cucumu setiap hari, apalagi anakmu juga sudah bekerja", tiba-tiba seorang pria tua lain datang mendekati Lanzar yang baru pergi dari kelasnya.


Lanzar menatap pria tua tersebut lalu tersenyum, pria tua ini tidak lain adalah rekan kerjanya yang sudah bekerja lama di sekolah ini juga.


Mereka sama-sama mengajar di sekolah yang terletak jauh di desa, bahkan guru yang masih muda sekalipun tidak tertarik untuk mengajar di tempat seperti ini. Namun baik itu Lanzar dan rekannya ini sama-sama memiliki semangat tinggi untuk mendidik anak-anak, jadi mereka pergi ke sekolah yang jauh di pedesaan ini.


"Pak Tua Bangau, walaupun aku sudah tua tetapi semangatku masih belum tua. Selain itu namamu sangat aneh, siapa orang yang menamai anak mereka dengan nama seperti Bangau?", tanya Lanzar.


"Itu orang tuaku!", kata Guru Bangau.


Setelah itu mereka saling tertawa, sebagai teman dekat maka mereka sudah sering berbicara dan tertawa seperti ini.


Namun sosok seorang pria berusia sekitar 20 tahun dengan rambut hitam yang berdiri di gerbang sekolah menarik perhatian mereka, pria itu juga menatap mereka sambil tersenyum.


"Kebetulan sekali, aku merasakan hal yang sama! Apakah ia dulu murid kita?", tanya Bangau ragu-ragu.


"Kalau begitu kenapa kita tidak mendekatinya, bagaimanapun ia akan menyapa kita kalau ia benar-benar murid kita", kata Lanzar.


Bangau mengangguk, saat mereka menatap kembali ke arah gerbang sekolah maka mereka menemukan bahwa pria itu sudah menghilang, padahal mereka baru mengalihkan perhatian selama beberapa menit tapi pria itu sudah menghilang yang membuat Lanzar ataupun Bangau bingung.


...----------------...


Di suatu restoran pada kota kecil, 2 orang pria dan 1 orang wanita sedang duduk dan makan siang bersama.

__ADS_1


Pria yang ada di sisi lain berkata dengan terkejut mendengarkan penjelasan pria dan wanita di depannya "Karter, Trei, kalian akan menikah tahun ini?".


Karter mengangguk "Apa untungnya aku membohongimu, Tano? Bagaimana denganmu? Apakah kau tidak menikah juga?".


Trei yang ada di samping ikut menatap Tano, bagaimanapun ia tahu bahwa Tano ini adalah teman dekat Karter.


Tano sedikit tersenyum "Aku akan menunggu sampai perusahaan milikku menjadi nomor 1 di negara ini, mungkin 5 tahun lagi. Ketika itu terjadi, maka itu baru saat yang tepat untuk menikah".


"Kau masih sangat berambisi, Tano! Namun aku rasa itu memang seperti dirimu, jika tidak berambisi maka kau tidak cocok lagi di sebut sebagai Bos Racun yang akan menjatuhkan semua musuhnya dengan kemampuan bisnis hebat seperti sedang meracuni musuhnya", kata Karter.


"Kalau begitu, sosok yang dikenal sebagai Bos Harem yang terkenal dengan kekayaan serta banyak wanita di sekitarnya akan menikah, hal itu pasti tidak kalah mengejutkan", kata Tano mengejek Karter.


Saat 2 orang itu sibuk berbicara, Trei yang ada di sisi lain menemukan seorang pria muda berusia sekitar 20 tahun yang sedang makan dari meja yang cukup jauh dengan mereka menatap ke arah sini sambil tersenyum.


Trei tidak bisa untuk tidak menarik Karter di sampingnya dan berkata "Karter, apakah kau mengenal pria yang duduk disana? Aku merasa seperti mengenal pria itu, tapi tidak peduli seberapa banyak aku berpikir maka aku tidak bisa mengingatnya".


"Siapa?", tanya Karter yang menatap ke arah dimana Trei menunjuk. Ketika melihat pria muda itu, Karter tidak bisa untuk tidak berkata "Kau benar, aku merasa seperti pria itu adalah temanku, namun aku tidak bisa mengingatnya sedikitpun".


"Kalau begitu kita hanya perlu bertanya padanya", kata Tano yang berdiri dari mejanya.


Karter dan Trei ikut berdiri, bagaimanapun apabila pria muda itu adalah rekan bisnis atau benar-benar teman lama mereka maka tidak sopan untuk tidak menyapa.


Namun saat mereka baru berdiri yang membuat perhatian mereka teralihkan sebentar dari pria itu, saat mereka melihat ke arah meja itu lagi maka meja tersebut sudah kosong.

__ADS_1


"Dimana pria itu?", ini adalah pertanyaan yang ada di pikiran Karter, Tano dan Trei.


__ADS_2