KEMBALINYA SANG KAISAR

KEMBALINYA SANG KAISAR
BAB 119 : PENYERBUAN


__ADS_3

Istana Rangda terletak di sebuah gunung yang sangat tinggi dengan banyak jurang di sekitar gunung, selama seseorang terjatuh ke jurang tersebut maka tidak ada kemungkinan untuk hidup kecuali mereka sudah mencapai tahap Transcendent yang membuat mereka bisa terbang.


Lalu di antara gunung tersebut, maka terdapat sebuah kota besar yang mengelilingi seluruh gunung sebagai pusatnya.


Kota ini dulunya merupakan sebuah kota besar dan makmur milik manusia, namun sejak hilangnya Barongan maka manusia juga kehilangan kekuasaan mereka atas kota ini yang membuat iblis menjadi penguasa kota ini sekarang.


Di sekitar kota saat ini, terdapat berbagai iblis dengan tanduk di kepala mereka atau naga tulang dan hewan aneh lainnya yang terbang di atas langit.


Pada kota ini terdapat 4 gerbang utama yang menjadi jalan untuk pergi ke kota, setiap gerbang ini juga di jaga oleh banyak kekuatan utama milik Rangda sehingga tidak mungkin untuk menembus gerbang dengan mudah. Lebih tepatnya, belum ada seorangpun yang berhasil menyerbu kota ini.


Apalagi beberapa hari belakangan ini, Rangda memberikan tugas kepada seluruh pengikutnya untuk memperkuat penjagaan yang menyebabkan semakin sulit untuk menembus gerbang kota ini.


Di gerbang utara kota, para iblis sedang duduk di depan gerbang besi besar yang menahan setiap orang dari pergi ke kota Rangda.


Para iblis ini duduk dengan bosan di sekitar gerbang, bahkan di antara mereka ada yang sedang bermain kartu atau apapun untuk membuang waktu mereka.


Seorang iblis dengan kepala ular yang merupakan pemimpin penjaga gerbang utara ini adalah orang yang memiliki ide untuk memulai permainan kartu ini sambil menggunakan uang ataupun makanan sebagai bayaran pihak yang kalah kepada yang menang.


Di meja kartu iblis ular, terdapat seorang iblis dengan kepala elang yang berkata "Pemimpin, kenapa kita harus berjaga di gerbang ini setiap hari? Bukanlah lebih baik pergi ke kasino dan bersenang-senang daripada menghabiskan waktu yang membosankan untuk bermain kartu disini? Tidak ada seorangpun yang berani menyerang Yang Mulia Rangda, hanya orang gila yang berani melakukan hal tersebut".


Pemimpin kepala ular meletakkan kartunya di atas meja penuh rasa percaya diri seakan-akan sudah menang "Jika aku bisa menolak maka aku pasti sudah menolak, namun jika aku melakukan itu maka Yang Mulia Rangda akan memenggal kepalaku. Oleh karena itu, walaupun tidak ada seorangpun yang bisa menembus gerbang ini maka kita masih harus menjaganya, jangan berpikir untuk melarikan diri kecuali kalian siap untuk mati".


Iblis kepala elang itu menggelengkan kepalanya "Benar-benar membuang waktu, bahkan aku yakin tidak ada orang yang berani menyerang wilayah ini. Jika ada yang berani maka aku akan menggunakan kepalaku sebagai bayarannya--".

__ADS_1


"Slab!".


Sebelum iblis kepala elang itu bisa menyelesaikan kata-katanya, sebuah panah terbang yang langsung menusuk kepalanya.


Iblis kepala elang membuka matanya lebar-lebar penuh rasa tidak percaya, ia tidak pernah berpikir bahwa ada orang yang benar-benar berani menyerang kota ini.


Perlahan-lahan tubuh iblis kepala elang jatuh mati ke tanah, sampai akhir ia masih tidak mengetahui tentang siapa orang yang membunuhnya.


Ketika semua orang masih terkejut terhadap kejadian yang begitu tiba-tiba, ribuan panah kembali ditembakkan dari arah hutan ke para penjaga gerbang utara ini.


Pemimpin kepala ular adalah orang yang sadar paling awal, ia membalikan meja kartu di depannya lalu bersembunyi di balik meja agar terhindar dari serangan panah sebelum berteriak "Serangan musuh! Serangan musuh! Seluruh pasukan harus segera bersiap bertarung, jangan biarkan musuh--".


Sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya, sebuah pedang menebas meja yang melindungi dirinya lalu membuat luka goresan pada lehernya.


"Slash!".


Tubuh pemimpin iblis kepala ular jatuh ke tanah, sebelum hidupnya benar-benar hilang maka ia bergumam penuh rasa bingung "Sebenarnya siapa di dunia ini yang memiliki keberanian untuk menyerang Yang Mulia Rangda?".


Orang yang menebas pemimpin kepala ular itu tidak lain adalah Cesi, ia menatap pemimpin kepala ular dengan dingin sebelum menebas para iblis yang ada di sekitarnya dan masih hidup.


Tidak lama kemudian, ribuan Centaur, manusia, petarung Amazon, dan harimau muncul dari hutan dan menyerang para iblis dengan gila.


Para iblis yang sebelumnya sibuk berjudi sama sekali tidak siap terhadap serangan yang tiba-tiba ini, bahkan beberapa orang di antara mereka sama sekali belum memakai baju besi dan di bunuh lebih dulu oleh pasukan Myro.

__ADS_1


Ketika pasukan Myro sibuk melawan iblis, maka Myro berjalan ke arah gerbang besi raksasa yang melindungi kota.


Myro dapat merasakan bahwa gerbang besi ini bukanlah gerbang besi sembarangan, bahkan kekuatan Transcendent sekalipun tidak akan bisa menghancurkan gerbang besi ini. Nampaknya Rangda menghabiskan banyak waktu dan harta untuk membuat 4 gerbang yang melindungi kota.


Walaupun gerbang besi ini sangat kuat, tapi dihadapan Myro maka tidak jauh berbeda dari kertas.


Oleh karena itu, Myro menarik pedangnya dan menebas gerbang tersebut "Tebasan Malam tanpa Akhir tahap 1, Tebasan tak Terlihat".


"Slash!".


Gerbang besi itu segera terbagi menjadi 2 dan runtuh oleh tebasan pedang Myro, ribuan pasukan Rangda yang berjaga di balik gerbang itu sangat terkejut sebab sejak puluhan tahun mereka bertugas sebagai penjaga gerbang maka belum pernah ada seorangpun yang bisa berhasil membuka gerbang ini.


Myro tidak peduli terhadap para prajurit musuh yang terkejut ini, ia hanya melambaikan pedangnya menuju ke arah pasukan musuh "Semua pasukan serang! Jangan biarkan seekor semut pun dari pasukan musuh hidup!".


"Aaaaa!", teriak pasukan Myro penuh semangat, baik itu Centaur, harimau, petarung Amazon ataupun manusia sangat bersemangat sekarang sebab mereka bisa melihat masa depan dimana Rangda dijatuhkan.


Ketika para prajurit Myro sibuk melawan prajurit musuh, Myro kembali menyimpan pedangnya dan berjalan menuju ke arah istana Rangda


Lagipula seperti yang orang-orang sering katakan, semut melawan semut dan manusia melawan manusia. Oleh karena itu, Myro tidak perlu repot-repot melawan para semut ini.


Di belakang Myro maka Cesi dan Pona mengikuti, sedangkan Zion, Penthesilea, Cindaku dan pemimpin Centaur sibuk memimpin kelompok mereka untuk melawan pasukan musuh yang membuat mereka tidak bisa mengikuti Myro menuju istana Rangda.


...----------------...

__ADS_1


"Nona Rangda, musuh menyerang! Gerbang Utara sudah dihancurkan oleh musuh, saya sudah memberitahu pasukan dari gerbang lain untuk membantu tapi saya tidak tahu apakah mereka bisa datang tepat waktu untuk membantu Gerbang Utara", lapor kepala pelayan Rangda dengan panik.


Namun wajah Rangda sama sekali tidak terkejut mendengar hal tersebut, bahkan ia berkata tidak peduli "Musuh yang menyerang Gerbang Utara itu hanyalah masalah kecil, masalah besarnya akan segera datang secara langsung ke istana ini!".


__ADS_2