
"Baiklah Huan'er, Aku akan melakukan nya."Jika mereka hanya berdua, atau membuat penyamaran, Zan akan memanggil sahabatnya tanpa menggunakan gelaran.
"Setelah selesai, segera datang ke kedai makan yang itu". Tunjuk Putra mahkota Huan Zo. Jeneral muda Zan mengangguk kepalanya dan berlalu pergi.
Di dalam kedai makan mereka bertiga duduk di meja yang kasong. Diikuti Putra mahkota Huan Zo yang menyusul mereka dan dudak di sebelah meja Siumei.
"kamu mau makan apa"? tanya Sumer kepada anak itu.
"Apa pun akan ku makan, Aku tidak memilih makanan nona." Kata anak itu
Setelah pelayan tiba Siumei memesan makanan untuk tiga orang makan beserta air teh. Pelayan itu pergi setelah mengambil pesanan mereka.
"Siapa namamu dan berapa usia mu.?"
"Namaku miela, aku berusia 10 tahun Nona."
"Manis sekali nama mu semanis senyuman mu." Siumei tersenyum. " Tidak perlu memanggil ku Nona. Panggil kakak aja. Nama ku Xia dan dia kakak ku Cici." Cisin tersenyum kepada Meila bila nama nya diperkenalkan. Tidak berapa lama pelayan datang menyajikan makanan dan minuman yang mereka pesan.
Putera mahkota Huan Zo hanya mendengar dan melirik sejenak ke arah Siumei. 'Dia sangat cantik dan juga seorang kultivator. Walaupun baru tahap rendah tapi dilihat pada usianya lumayan bagus.' Putra mahkota Huan Zo berkata dibatinya berasa kagum. Tidak berapa lama kemudian, sahabat nya tiba.
"Apa tugas mu telah selesi Zan' er?" Soal Putra mahkota Huan Zo.
Zan meneguk air yang telah dituang oleh Huan Zo. "Iya dan aku juga memberitahu nya untuk menghukum pedagang itu dengan hukuman berat."
Siumie dan yang lainnya telah selesai makan.
"Miela apakah aku bisa bermain dirumah mu.?"
"Bisa kak. ayo ikut aku, kita pergi kerumahku! Ibu pasti gembira menerima tamu."
"Sebelum itu aku mau singgah di toko untuk membeli beberapa barang dulu."
Mereka pun pergi ke beberapa toko untuk membeli beberapa barang untuk dibawa ke rumah Miela. Siumei meletakkan semua barang yang dibeli nya kedalam cincin ruang agar tidak repot menjinjing barang.
__ADS_1
"Miela apa rumah mu jauh dari sini?. Soal Siumei
"Kalau kita bergerak sekarang, mungkin kita bisa tiba dirumah ku sebelum sore."
Siumei melihat langit, 'mungkin dalam setengah jam pejalanan' dalam setengah jam pejalanan' anggar Siumei dihatinya.
"Baiklah kita berangkat sekarang."
"Apa kakak Xia udah abis berbelanja?" Soal Miela hairan kerana dia tidak melihat Siumei membawa barang sama sekali, Walaupun telah beberapa toko yang Siumei masuk. Miela tidak melihat jika Siumei meletakkan semua barang belanja nya didalam cincin ruang karna dia tidak masuk ke toko bersama Siumei, dia hanya menunggu dia luar toko saja.
Mereka pun meneruskan pejalanan menuju ke rumah miela.
"Xia Lin aku dapat merasakan ada dua orang pria sedang mengikutimu dari tadi. Tetapi aku tidak merasakan aura kejahatan pada mereka." kata Nagin dipikiran Siumei.
"Makasih Nagin atas infonya. Kebetulan didepan jalan ada lorong memasuki kawasan perumahan.
"Miela, jiejie aku mau belok kekiri di lorong didepan itu." Siumei menunjukkan arah.
Mereke pun ikut kekiri tanpa banyak soal. Dipertengahan lorong Siumei terus berpusing, serta menarik Miela dan Cisin kebelakang nya. Dia melihat ada 2 orang pria terkejut melihat kearah mereka.
Mereka berdua terkejut kerna bisa ketahuan oleh Siumei. Cisin dan Miela juga terkejut.
"Maafkan kami Nona, jangan risau kami tiada niat jahat terhadap kalian. Kenalkan nama saya Huan dan ini sahabat saya Zan. Kami adalah pegawai kerajaan. Tadi kami melihat, seorang pedagang memarahi anak itu. Masa kami ingin membantunya, Nona telah maju menolong nya. Kami telah menangkap dan melaporkan kesalahan pedagang itu kepada pegawai keadilan untuk dihukum."
"Mekasih karna menagkap orang yang tidak berguna itu. Lalu mengapa kalian mengikuti kami?" Siumei memotong percakapan pria bernama Huan itu dengan tegas.
"Maaf sekali lagi atas kelancangan kami. Kami hanya ingin bersahabat dengan nona." Ujar Putra mahkota Huan Zo, Sebenarnya dia tertarik dengan gadis di depan nya, sejak dari mula pertemuan nya.
Melihat pria itu sopan, Siumei pun bersikap sopan kepada mereka. "Nama ku Xia, dia kakak ku Cici dan anak itu Miela, salam kenal dari kami. Ucap Siumei sambil mengepalkan kedua tangan nya, sebagai tanda hormat. Dia percaya bahawa kedua pria itu tidak ada niat jahat terhadap mereka.
"Salam perkenalan.." ucap kedua pria itu serentak. Sambil mengepalkan kedua tangan, tanda hormat.
"Sebenar nya kami ingin cepat pergi dari sini. Kelihatan hari akan menjelang sore, soalnya kami tidak ingin kemalaman tiba dirumah Miela."
__ADS_1
"Ermm... Apa kata kalian ikut dengan ku, menaiki kereta kuda ku yang ada tidak jauh dari sini."
"Xia'er, apa kamu percaya sama kedua orang pria itu.?" Bisik Cisin
"Ngak usah risau, kelihatan mereka orang yang baik."
"Bagaimana, apakah kalian mau mengikut ku.?" Tanya Huan Zo sekali lagi.
"Baiklah kami mengikuti mu. Meila beritahu pegawai itu, arah tujuan rumah mu."
"Tuan rumah ku berada dihujung desa ini" terang Meila.
"Tidak perlu memanggil ku tuan atau pegawai, panggil aja Huan lebih mesra. Mari ikut aku."
Mereka pun mengikuti Huan Zo. Kereta kudanya memang tidak jauh dari situ. Siumei, Cisin dan Miela duduk di dalam kereta kuda. Manakala Zan mengawal kereta kuda, Huan Zo pula menunggang kuda.
Setibanya dihujung desa. Zan memberhetikan kereta kuda didepan sebuah pondok yang kelihatan agak usang.
"Miela kita udah sampai di ujung desa. Dimana rumah mu.?" Soal Zan.
Miela pun menjenggukkan kepalanya keluar dan berkata. "Itu rumah ku." Tunjuk Miela ke arah pondok usang itu. Dia gembira kerana telah sampai dirumahnya.
' Kasihan Keluarga Miela. Apakah pondok usang itu pantas digelar sebuah rumah.' Zan berkata dihatinya, dia merasa sedih melihat keadaan tempat tinggal Miela. Mereka yang lainnya pun terkejut melihat keadaan tempat tinggal Miela. Dan semua nya pun menuju ke rumah itu.
"Miela, dimana ayahmu.?" Soal Siumei.
"Ayah ku udah tiada. Dia meninggal dunia saat aku masih berusia tiga tahun. Sekarang aku tinggal sama ibuku berdua.'
"Maaf, apa kakak bisa melihat ibu mu? Mana tau aku bisa mengobati nya."
"Tentu saja bisa kak. Sila masuk semua nya. Apakah kakak seorang tabib?"
Siumei tidak menjawab pertanyaan dari Miela. Dia hanya tersenyum melihat Miela. Lalu mengikuti Miela menuju ke kamar ibunya. Melihat sekeliling rumah yang sangan daif tanpa perabotan didalamnya. Banyak lubang lubang didinding dan atap rumah.
__ADS_1
'Beginikah kehidupan rakyat ku? Rumah yang tidak pantas didiami bahkan terdapat banyak lobang disana sini. Bagaimana keadaan nya semasa musim hujan dan dinging. Aku harus membantu rakyat ku yang hidup miskin seperti ini.' Putra mahkota Huan berkata dihatinya, terlihat kesedihan diwajahnya. Zan tau sahabatnya pasti kecewa.