
"Apa dia memerlukan rawatan?" Tanya seorang pria.
"Dia telah menerima rawatan." Ujar Xia. Pria itu pun menganggukkan kepalanya dan langsung pergi.
Xia merghulurkan pil peningkat qi pada Nin Jun, Cisin dan Putra Fu Yi. "Telan lah, pil ini bisa meningkatkan qi kalian." Mereka mengikut apa yang di katakan Xia. Nin Jun dan Putra Fu Yi terkejut dengan hasilnya.
"Aku merasa kembali bertenaga. Tidak merasa lelah lagi." Ujar Putra Fu Yi.
"Iya, aku juga. Sangat menakjubkan Xia." Ucap Nin Jun. Cisin dan Xia saling tersenyum.
Xiruo selesai bermeditasi. "Apa kau udah merasa baikan, daripada tadi?" Xia bertanya dan memeriksa denyutan nadi Xiruo.
"Dada ku udah tidak sakit lagi. Terima kasih Xia, kau udah banyak membantuku dari awal lagi. Jika aku tidak bertemu mu dari awal, pasti aku udah lama tersingkir."
"Aku juga, terima kasih Xia."
"Tidak usah berterima kasih padaku, kita kan teman."
"Kalian di sini rupanya, dari tadi aku mencari kalian?" Tegur seorang pria. Mereka semua memandang pria itu. "Oh iya, kenalkan nama ku Duan. Aku senior kalian dan ini token untuk kalian, aku tidak sempat memberinya pada kalian tadi. Kalian udah hilang... selamat ya." Senior Duan tersenyum.
Mereka mengambil seorang satu token yang tertulis lulus pertahanan. Melihat token itu membuat mereka tersenyum. Senior Duan pun berlalu pergi setelah memberi token itu.
"Xia." Xiruo bangun dari duduknya dan langsung memeluk Xia yang berdiri di hadapannya.
Putra Fu Yi yang melihat langsung menarik Xiruo. "Beraninya kau memeluknya seperti itu. Apa kau tidak tau siapa dia?" Marah putra Fu Yi, membuat orang melihat mereka yang membuat bising
"Shhhuutt.. Fu Yi mengapa denganmu, berisik tau." Xia menarik Xiruo dan memeluknya kembali. "Jangan hiraukan dia."
"Terima kasih Xia. Aku akan menjadi teman baik mu kelak." Ujar Xiruo.
Ketika mereka mau pergi dari situ, ada seorang peserta yang terlihat cedera parah. Di angkat oleh beberapa petugas perubatan.
"Beri laluan..." teriak salah seorang. Semua orang memberi laluan.
"Bagaimana ini, dia kehilangan banyak darah dan terlihat tangannya patah? Guru Chee tak ada di sini"
"Sebentar aku panggil guru Lee."
Xia yang melihat, keadaan pria yang terluka itu merasa kasihan. Dia pun mendekat. "Apa aku bisa membantu merawatnya?"
"Siapa kau?"
__ADS_1
"Ermm.. aku calon pelajar baru di sini. Aku tau sedikit ilmu perubatan."
"Tolong jangan bicara seenaknya. Kau baru calon pelajar di sini, jangan sok hebat. Huh.. pergi sana jangan ganggu tugas kami."
"Berani kau.." Putra Fu Yi mengangkat tangannya.
Xia dengan pantas menghalang. "Tidak usah membuat keributan Fu Yi," Mereka pun melangkah keluar dari situ.
"Mengapa kau menghalangku, dia pantas di beri pelajaran. Kau hanya mau membantu merawat, tetapi di layan seperti ini." Marah Fu Yi.
"Maaf, apa kau bisa merawatnya?" Tanya guru Lee yang secara tidak sengaja mendengar Putra Fu Yi berkata dengan agak kuat tadi.
"Guru Lee." Mereka memberi hormat.
"Aku perlu memeriksa keadaannya dahulu baru lah bisa mengetahuinya." Xia merendah diri.
"Baiklah, ikut lah dengan ku."
Xia pun mengikut guru Lee dan sambil berkata, "Kalian tunggu di sini aja ya, nanti aku kembali."
"Aku ikut dengan mu." Ujar Fu Yi, Xia tidak bisa menghalangnya.
Mereka pergi kearah peserta yang cedera tadi.
Putra Fu Yi menggenggam tangannya, dia mau belasah pria itu. Xia memegang tangan Putra Fu Yi dan memandangnya. Xia menggelengkan kepalanya.
"Murid kurang ajar.. aku yang memanggilnya kemari, apa kau mau mengusir ku juga?" marah guru Lee.
"Maaf guru.. tapi.."
"Udah.. minggir kau." Guru Lee memandang Xia. "Maaf dengan kelakuan murid ku tadi." Xia hanya tersenyum di balik cadarnya.
"Jika dia bisa menyembuhkannya, aku mau kau berlutut memohon maaf padanya." Kata Putra Fu Yi.
"Cihh, jika tidak bisa. Kalian kembali kan token yang kalian dapatkan dan jangan belajar di sini."
"Kau.."
"Udah Fu yi.. aku terima tantangnnya, Guru Lee menjadi saksinya." Guru Lee menantan tajam pelajarnya.
Xia mendekat dengan pria yang terlantar itu dan memeriksa denyutan nadinya. Xia menggeluarkan jarumnya dan menusuk di beberapa titik di tubuh pria itu untuk menghentikan darah yang keluar. Setelah itu Xia memberi dua pil penambah darah. Setelah itu Xia memberi dia minum air pemulih jiwa.
__ADS_1
"Aku akan memberi mu pil pemulih tulang, kau akan merasa sakit. Apa kau sanggup?" Xia bertanya pria itu.
"Iya aku bisa menahannya." Pria itu berkata.
"Kalian bantu aku memegang dia, jangan sampai dia terjatuh. Tapi jangan sentuh di bahagian yang ada jarumnya" Xia memanggil dua pembantu perubatan yang memerhati Xia merawat tadi. Xia memberi pil itu pada pria yang sakit tadi.
Setelah menelan, pria itu menjerit kesakitan. "Arggghhh" Pria itu mula memusing tubuhnya, dia tidak dapat menahan rasa sakit yang di alaminya. Dua pembantu tadi, cuba menahan supaya pria itu tidak terjatuh.
Perlahan-lahan rasa sakit di alaminya mula berkurangan. Pria itu berhenti menjerit Xia memeriksa lagi denyutan nadi pria itu dan menekan bahagian yang patah tadi ternyata udah bercantum kembali
"Bantu aku duduk kan dia." Xia meminta bantuan lagi dari pembantu perubantan tadi. "Beri dia minum air ini." Pembantu perubantan itu pun mengikut arahan Xia. "Beri pil ini."
Setelah selesai memberi pil dan membaringkan kembali pria yang sakit itu. Xia pun mencabut kembali jarumnya.
"Bagaimana keadaan nya?" Tanya Guru Lee.
"Dia udah mula baikan. Sekarang dia sangat lelah, biar dia beristirehat dahulu. Dia pasti akan pulih." Guru Lee pun memeriksa keadaan pesakit itu.
"Iya.. nadinya udah stabil." Ujar Guru Lee.
Pria yang kurang ajar dengan Xia tadi langsung memeriksa denyutan nadi pria yang terluka itu. Seperti tidak percaya, bagaimana calon murid seperti gadis ini bisa merawat dengan baik.
Pria itu pun mengalah dan langsung berlutut di hadapan Xia dan memohon maaf pada Xia. "Maafkan aku yang bicara tidak sopan saat bicara dengan mu tadi."
"Iya udah.. kita berdamai aja. Aku pamit dulu, soalnya udah di tunggu teman dari tadi."
"Terima kasih." Mereka berkata serentak pada Xia.
Xia pun melangkah pergi ke arah teman nya yang lain.
"Maaf membuat kalian tunggu lama. Mari kita pergi dan merayakan keberhasilan kita menjadi murid sekta Gaodu." Mereka pun bersorak gembira.
Ketika mereka mau keluar, Xia teringatkaan sesuatu setelah memandang senior Duan. "Sebentar, sepertinya kita melupakan sesuatu." Mereka mengikuti Xia dari belakang.
"Maaf menggangu Senior Duan." Xia menegur senior Duan
"Eh.. kalian ada apa mencari ku?"
"Bila acara rasmi, untuk kami di angkat menjadi murid sekta Gaodu?"
"Maaf, aku lupa memberitahu kalian tadi. Acaranya berlangsung lagi lima hari dari sekarang. Kalian bisa pulang sekarang. Sekali lagi aku mohon maaf."
__ADS_1
Mereka pun keluar dari sekta Gaodu dan menuju ke rumah makan berhampiran.