
"Putra Mahkota Ren Zie, apa kau tahu tujuan ayah dan bonda memanggil mu ke sini?"
"Maaf ayah, anak mu ini tidak mengetahuinya."
"Ternyata kau masih mau berbohong dengan ayah dan bonda mu."
"Benar, anakmu ini tidak tahu." Putra Ren Zie terus menafikannya. Padahal Putra Ren Zie udah mengetahuinya, pasti ada kaitan dengan istrinya.
"Baiklah, ayah akan beritahu. Semalam bonda mu datang ke istana kamu dan mendapati kamar Putri Xia kosong. Bila bonda bertanya pada pelayan, mereka tidak tahu putri Xia di mana. Apa kau sembunyikan sesuatu dari ayah dan bonda?"
"Apa benar Putri Xia kabur lagi?" Tanya permaisuri Bei.
"Itu tidak benar bonda. Maaf kan anak mu ini karna tidak memberitahu pada kalian tentang keberadaan Putri Xia. Sebenarnya sudah seminggu putri Xia pergi berjumpa ayah angkatrya, kaisar Xi karna dia mendapat kabar nendanya sedang sakit. Putri Xia telah meminta izin dari ku untuk pergi ke sana dan aku juga mengizinkannya. Seperti yang ayah dan bonda tahu, Isteriku mahir dalam ilmu pengobatan."
"Mengapa kau tidak memberi tahu pada kami?" Tanya kaisar Bei lagi.
"Maaf kan anakmu karna tidak memberitahu ayah dan bonda. Sepanjang minggu ini, anakmu ini terlalu sibuk dengan urusan masalah rakyat. Kerna itu jugalah anakmu tidak bisa menemani Putri Xia pergi ke sana dan kabarkan pada ayah." Putra Ren Zie terus menyembunyikan hal yang sebenar dan dia juga tidak mengetahui di mana isterinya.
"Apa urusan mu telah selesai?"
"Iya ayah, semua udah anakmu ini selesaikan."
"Jika begitu baguslah, ayah mau kau pergi menemani istri mu dan bawalah dia pulang setelah urusan dia di sana telah selesai. Kamu perlu ingat, kamu harus memiliki keturunan jika mau kedudukan mu sebagai putra mahkota kukuh. Jika Putri Xia tidak bisa melahirkan anak untuk mu, maka kamu harus mengambil selir yang bisa melahirkan anak untuk mu atau jawatan mu sebagai Putra Mahkota akan tergugat. Ayah cuma mengingatkan saja karna banyak kabar angin yang membicarakan tentang kalian berdua. Apa kau mengerti?"
"Iya ayah." Putra Ren Zie juga pernah mendengar kabar angin itu. Ada yang berkata Putri Xia mandul, ada juga mengatakan Putri Xia telah guna - guna ilmu untuk menundukkan suaminya supaya tidak tertarik dengan wanita lain dan macam - macam lagi. Tetapi Putra Ren Zie tidak mau memikirkan nya.
"Baiklah kau bisa berangkat ke sana besok dan semua urusan yang masih belum kau selesaikan berikan tugas itu pada putra ke empat."
"Baiklah. Jika tidak ada apa-apa lagi, anakmu ini akan pamit karna banyak persiapan yang ingin di lakukan."
"Ermm.. pergilah."
Putra Ren Zie langsung kembali ke istananya dan setelah tiba di ruang kerjanya dia memanggil Xiong dan Ming.
"Bagaimana dengan hasil pencarian kalian? Apa ada sebarang berita tentang isteriku?"
__ADS_1
"Maaf, hamba dan para prajurit yang ditugaskan masih tidak menemui Putri Xia."
"Aku juga masih tidak merasa aura mereka."
"Gawat...!! bisa habis kita jika di ketahui oleh ayahku."
"Apa kaisar bertanya tentang keberadaan Putri Xia tadi?"
"Ya.. ayahku udah mula merasa curiga. Aku katakan istriku berada di kerajaan barat, tapi ayahku menyuruh ku pergi ke sana dan menjemput Putri Xia pulang. Bagaimana jika kita masih tidak menemuinya sekembalinya dari sana nanti?"
"Hamba berharap kaisar Xi bisa mengetahui di mana Putri Xia berada."
"Aku juga berharap begitu. Sudahlah.. Ming kau harus berkemas sekarang, aku mau bertemu Putra ke empat untuk menyerahkan tugas yang masih belum di selesaikan."
"Baiklah." Ming langsung pergi untuk memberitahu dan mengarahkan bawahannya agar bersiap sedia pergi ke kerajaan barat besok.
Putra keempat adalah anak kepada selir Wan yang bernama Putra Hao Ze. Selir Wan telah meninggal sejurus melahirkan Putra Hao Ze. Putra Hao Ze di lahirkan sebulan setelah Putra Jing Zhi lahir karna itulah dia dijaga oleh permaisuri. Mereka ibarat kembaran dan Putra Hao Ze rapat dengan anak permaisuri Bei.
Keesokan harinya Putra Mahkota Ren Zie pun berangkat ke istana barat. Perjalanan mengambil masa selama seminggu. Setibanya di istana ayah angkat istrinya, dia disambut oleh kaisar Xi.
"Hamba hanya singgah beristirehat di sini untuk beberapa hari, sebelum meneruskan perjalanan kami. Apa boleh?"
"Boleh, kau adalah menantu ku. Tidak perlu sungkan. Pasti kau lelah, istirehat lah dahulu." Kaisar Xi pun memanggil pengawal untuk mengiringi Putra Ren Zie pergi ke istana tetamu.
Ketika Putra Ren Zie mau pergi ke istana tetamu, dia terserempak dengan Kakek dan nenda Xia.
"Eh.. kamu Putra Ren Zie kan?" Tanya Nenda.
"Hormat pada Nenda dan kakek.. Iya aku Putra Ren Zie, suami Putri Xia,"
"Di mana Xia?"
"Dia tidak mengikutiku, aku hanya singgah di sini setelah melakukan beberapa tugas."
"Ooo.. pasti kau rindu dengan anak mu kan?" Putra Ren Zie terkejut mendengarkan ucapan Nenda Xia. Tapi dia cuba untuk bertenang.
__ADS_1
'Anak?? Anakku?? Apa anak Xia dengan ku?' Putra Ren Zie bertanya dalam hatinya.
"Ya.. ya.. aku sangat merinduinya. Apa bisa Nenda dan Kakek membawa ku kesana?" Putra Ren Zie memandang Ming, Ming juga terkejut mendengarkannya.
"Mari ikut kami.." Mereka pun pergi keistana Xiana. Nenda dan Kekeknya tidak tau bahwa Xia menyembunyikan kelahiran anaknya pada Putra Ren Zie.
"Mereka sangat lucu dan lasak, sampaikan kami tidak larat melayannya. Tapi kami sangat bahagia." Putra Ren Zie hanya tersenyum mendengarkannya.
'Mereka??? berarti lebih dari seorang?? Apa benar?' Putra Ren Zie menyoal di dalam hatinya.
Setelah tiba di luar Istana Xiana.
"Putra Ren Zie sebenarnya Kakek dan Nenda masih ada urusan lain. Kamu masuklah dan pengawal ini akan membawa kamu berjumpa anak mu." Kata Kakek Kaisar.
"Terima kasih pada kakek dan nenda, aku masuk dahulu. Selamat jalan." Mereka pun berpisah di situ.
Pengawal itu pun menghantar Putra Ren Zie ke kamar anaknya dan pengawal itu pun pergi setelah menghantar Putra Ren Zie, Ketika tiba di kamar anaknya, Putra Ren Zie melihat pelayan yang dia kenali. Pada awalnya pelayan itu tidak menyadari kehadiran Putra Ren Zie di situ, sehingga Putra Ren Zie menyebut namanya.
"Pelayan Lun!!" Pelayan Lun yang baru menidurkan Putra Ying Ming terkejut dengan kehadiran Putra Mahkota Ren Zie di situ. Putra Ren Zie memberi isyarat pada Ming untuk menahan pelayan Lun. Ming menarik pelayan Lun keluar dari kamar.
Putra Ren Zie melihat anak kecil yang sedang nyeyak tidur di atas kasur.
"Kamu sangat imut, apa kamu anak ku dan Xia?" Putra Ren Zie membelai rambut anak itu dan dia tersenyum senang.
Putra Ren Zie langsung keluar setalah itu. Banyak persoalan yang harus dia ketahui dari pelayan Lun.
Ketika di luar kamar, pelayan Lun telah berlutut ketakutan.
"Katakan padaku, apa dia anakku dengan Putri Xia? Jangan berbohong pada ku jika kau mau selamat." Putra Ren Zie berkata dengan tegas tetapi dia cuba mengawal suaranya supaya tidak mengejutkan anak kecil yang baru saja tidur itu.
"Maafkan hamba Putra."
"Katakan sejujurnya."
"Ya.. ya.. anak itu... Putra kepada Putri Xia... dan anda pangeran." Putra Ren Zie memandang Ming dan tersenyum puas. Tidak di sangka dia telah menjadi seorang ayah dan beraninya Xia menyembunyikan kelahiran anaknya.
__ADS_1
Ketika itu terlihat pelayan Wei Wei keluar dari kamar sebelah dan dia terkejut melihat Putra Ren Zie berada di situ, wajah Putra Ren Zie kemerahan sambil menatap tajam Wei Wei.