
'Sepertinya, aku harus memberi mereka pengajaran.' Xia berkata di dalam hatinya.
"Maaf kami hanya lakukan untuk kebaikan mu Xia." ucap Renyu.
"Erm.. untuk kebaikan ku!! Dengan mengikut arahan Putra Ren Zie.. emm?? Kalau begitu, kalian harus mengikat kontrak dengan nya bukan dengan ku???"
"Kami..."
"Kalian harus di beri hukum... Aku akan pulangkan kembali mutiara kalian.."
"Jangan!!!" Ucap Zu dan Renyu serentak. Mereka tidak mau memutuskan ikatan dengan Xia.
"Xia!!! Mereka tidak bersalah, Aku lakukan untuk membetulkan hubungan kita. Maafkan mereka."
"Ren Zie, jangan ikut campur urusan aku dengan mereka."
"Tapi.."
"Tidak usah ikut campur Ren Zie.."
Putra Ren Zie terdiam, Ming hanya memandang mereka terkelu.
"Xia maafkan kami.. Kami semua udah berbincang dan ini jalan terbaik untuk kebaikan hubungan kalian berdua."
"Kami semua?? Huhh.. maksud mu Leo dan Nagin juga??"
Leo dan Nagin keluar dari ruang dimensi.
"Xia!!!"
"Haa.. ha. ha.. bagus.. bagus.. kalian semua berpakat untuk berbohong dengan ku." Ucap Xia.
"Kami bukan..." Nagin mau berkata tetapi Xia memotong ucapan nya.
"Baiklah.. mulai detik ini, aku akan bebaskan kalian semua."
"Jangan!!!" Mereka berempat berkata serentak dan langsung berlutut di hadapan Xia.
"Kami janji tidak mengulanginya lagi Xia. Maafkan aku, aku yang bersetuju untuk membantu Putra Ren Zie. Hukum aku.. mereka tidak bersalah. Aku rela di hukum, tapi jangan putuskan ikatan kita." Ucap Nagin cemas.
"Xia, apa kau tau?? Mengeluarkan satu mutiara yang udah lama berada di badan mu itu, sangat sakit. Kamu tidak bisa bertahan, jika mengeluarkan semua sekali. Xia.. Maafkan mereka.. mereka sudah janji tidak mau mengulanginya lagi.." pujuk Ren Zie.
'Aku terpaksa lakukan nya untuk mendidik mereka supaya setia padaku.. Maafkan aku.. kalian harus di beri pelajaran biar, kelak kalian akan mengingati saat ini ketika membuat suatu keputusan.' Ucap Xia dalam hatinya.
Xia langsung mengeluarkan satu mutiara merah.
"Xia..!!" Mereka berteriak.
__ADS_1
'Arrgghhh.. sakitnya.. baru mau mengeluarkan satu, sangat sakit.. Aku harus bertahan...' ucap Xia di dalam hatinya. Akhirnya Xia berjaya mengeluarkan satu mutiara.
"Mutiara merah ini milik siapa??" Tanya Xia setelah berjaya mengeluarkan satu mutiara.
"Xia.. Maafkan kami.. kami janji tidak akan membuat keputusan sendiri lagi.. Kami akan berbincang dahulu dengan mu sebelum melakukan sesuatu." Rayu Renyu.
"Benar Xia.. Maafkan kami.." Zu
Xia mengeluarkan satu lagi mutiara dan Xia memuntahkan seteguk darah. Xia dapat merasakan kesakitan yang berganda.
"Xia..!!" Mereka semua menghampiri Xia yang terjatuh setelah mengeluarkan satu lagi mutiara.
"Jangan dekat.. Kalian pengkhianat.. kalian telah mengkhianati kepercayaan yang aku berikan pada kalian." Xia langsung berdiri kembali.
"Mutiara biru ini milik siapa??" Ada dua mutiara yang masih terapung di udara. Pemiliknya tidak mau mengambilnya.
Renyu dan Nagin mula menangis, dan mereka berdua langsung memeluk Xia.
"Xia.. Maafkan kami.. Maafkan kami.." mereka berkata sambil menangis dan memeluk Xia.
'Ermm.. Maafkan aku juga.. Aku hanya mau mendidik kalian.. Aku tau kalian melakukan untuk melihat ku bahagia. Aku lakukan ini agar kelak kalian tidak akan membuat keputusan yang salah dan mudah termakan rayuan orang lain.. Aku tidak tega melihat kalian menangis begini...' Xia berkata di hatinya dan akhirnya Xia membalas pelukan Renyu dan Nagin.
"Berjanjilah pada ku, kalian tidak akan mengulangi nya lagi?"
"Kami janji!!!" Mereka berempat berjanji. Renyu dan Nagin melepaskan pelukannya. Leo dan Zu berdiri di samping mereka.
Nagin langsung masuk ke ruang dimensi bintang untuk mengambil air sungai pemulih jiwa dan pil penyembuh. Dia langsung memberikannya pada Xia.
"Apa kau tidak apa - apa Xia?" Ucap Ren Zie yang merasa khawatir dengan Xia.
"Aku tidak apa - apa."
"Xia.." Nagin memanggil Xia, sambil memandang atas. Xia memandang ke atas juga dan tersenyum.
Xia menggunakan qi nya untuk menarik mutiara itu turun. Kini kedua mutiara itu berada di atas tangan Xia.
"Erm.. Nagin.. Renyu.. apa kalian tidak mau mengambilnya kembali??"
"Tidak!!" Nagin dan Renyu berkata serentak.
"Aku harap, kalian bisa mengingati janji kalian. Aku tahu kalian lakukan ini semua demi melihat aku bahagia tapi kalian harus ingat risikonya. Jika kemarin Putra Ren Zie mati?? Menurut kalian, aku akan bahagia??"
Mereka semua terdiam dan memikirkan apa yang di beritahu Xia. Apa yang di katakan Xia ada benarnya.
Xia menelan kembali kedua mutiara yang di keluar kan tadi.
"Aku harap, kalian bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi sekarang. Apa kalian mengerti?"
__ADS_1
"Iya Xia.." Mereka berkata serentak.
"Ermm... Kalian istirehatlah. Setelah aku merawat Putra Ren Zie, kita akan pergi ke Istana ayah Xi."
Mereka pun masuk ke dalam ruang dimensi bintang.
Xia langsung memeriksa denyutan nadi Putra Ren Zie. Tidak ada yang aneh pada denyutan nadinya, semuanya normal sahaja.
"Sebentar ya.. Aku terlupa mau memanggil jiejie dan taman ku.. Ming tolong panggilkan mereka masuk."
Ming langsung keluar dan memanggil mereka masuk. Ketiga guru Xia pun masuk sekali.
"Guru Chee, ada yang ingin aku tanyakan.. " Xia memanggil gurunya setelah melihat guru Chee masuk kedalam kamar. Guru Chee pun mendekati Xia.
"Ada apa - apa masalah pada luka Putra Ren Zie ketika guru merawatnya?"
"Tidak ada.. luka nya tidak terlalu dalam. Aku telah memberi obat salep yang mujarab. Dalam beberapa hari saja luka nya akan membaik."
"Terima kasih guru.. Sekarang aku akan memberikan pil pemulih padanya." Xia pun mengeluarkan pil dan memberikan pada Ren Zie, serta air pemulih jiwa.
Setelah Putra Ren Zie menelan pil itu, Xia pun menyuruhnya untuk bermeditasi sebentar.
Sementara menunggu Putra Ren Zie bermeditasi guru Chee bertanya pada Xia. "Xia apa kau yang membuat pil itu sendiri?"
"Iya guru, aku yang memurnikan sendiri pil itu."
"Patutlah, guru melihat pil itu terlihat lebih bagus dari yang pernah guru lihat sebelumnya."
Xia tersenyum dan mengeluarkan sebotol kecil pil penyembuh dari cincin ruangnya. Xia memberikan nya pada guru Chee.
"Guru di dalam botol ini terdapat lima pil penyembuh. Guru ambillah, dan gunakan sebaiknya."
"Apa kau memberi pil ini pada ku?"
"Iya, pil ini untuk guru."
"Terima kasih Xia, aku sangat menghargainya." Ucap guru Chee dengan tersenyum lebar. Kedua guru Xia yang melihatnya, merasa cemburu pada guru Chee. Tapi mereka gembira bisa mendapatkan murid yang jenius.
Xia hanya tersenyum dan berjalan mendekati jiejie dan temannya.
"Jiejie sebentar lagi, Aku mau ke Istana ayah Xi. Apa Jiejie mau mengikut ku?"
"Aku mau mengikut mu."
"Xia.." Putra Fu Yi memenggilnya.
"Erm.. Ada apa Fu Yi?"
__ADS_1
"Apa kau udah memiliki anak?"
Xia tersenyum melihat Putra Fu Yi. "Iya.. Ada dua."